CEO Note # 57 : Dari Wisuda IPB : Inspirasi Untuk Lebih Mengasah Otak Kanan

Assalamualaikum wr.wb ,

Awal bulan ini saya mendapat surprise dari kawan-kawan Pengurus Himpunan Alumni IPB. Saya diundang untuk memberikan sambutan di acara wisuda IPB tanggal 17 Oktober 2018 mewakili Himpunan Alumni. Undangan ini saya sambut dengan antusias karena “back to campus” adalah kesempatan untuk recharging. Memperbaharui semangat dan mencari inspirasi baru setelah hari-hari terakhir ini otak saya penuh dengan hal-hal yang sarat berbau korporasi : RKAP, RJPP, Transformasi, Business Review, ………

Aura kampus  mulai terasa ketika dalam perjalanan ke Dramaga saya  melewati asrama mahasiswa TPB (Tingkat Persiapan Bersama) 300 meter dari pintu masuk Cangkurawok – pintu belakang kampus yang sering dipakai untuk menghindari kemacetan. Mahasiswa-mahasiswa berhamburan keluar dari asrama, pastinya memulai kegiatan kuliah atau praktikum pagi, atau mungkin menuju kantin buat sarapan dulu atau perpustakaan (mudah-mudahan) karena hari masih terlalu pagi kalau mau berkencan.

WhatsApp Image 2018-10-26 at 20.43.25.jpeg

Aklimatisasi saya memasuki kehidupan kampus ini berpuncak ketika – karena perjalanan sangat lancar – saya datang kepagian dan akhirnya saya minta kepada Pak Haji Ucup sopir saya untuk didrop di kantin yang berlokasi di belakang gedung GWW (Graha Widya Wisuda) – sesuai namanya disitulah wisuda sarjana selalu digelar setiap tahun. Di kantin itulah salah satu tempat nongkrong saya ketika mahasiswa untuk melakukan kegiatan  yang bersifat “akademik” maupun “non-akademik”. Masih terbayang ketika saya melakukan kegiatan “non-akademik” di bulan puasa bersama teman-teman berdagang kelapa muda di bulan puasa keliling area kos-kosan di Bara (Babakan Raya) menggunakan gerobak dorong. Kegiatan yang awalnya sangat  “profitable” karena kami menjadi “market leader” tapi lama kelamaan kami harus berbagi pangsa pasar karena banyaknya “New Entrant” yang masuk. Sungguh  tidak terlupakan……

Acara resmi dimulai – sebagaimana wisuda di tempat lain – dengan prosesi para Guru Besar maupun para dosen memasuki ruang wisuda di pandu seorang petugas – istilahnya kalau tidak salah “pedel” –  yang membawa tongkat yang ujungnya bermahkota seperti seorang Biksu dari Butongpay di dunia persilatan. Dengan penuh wibawa dalam balutan busana serba hitam dan bertutup kepala topi hitam segi empat – toga – parade guru besar tadi disambut oleh paduan suara mahasiswa dengan lagu “Bagimu Negeri” . Setahu saya dulu lagu penyambutannya adalah Godeamus Igitur (Latin). Rupanya sekarang sudah Godeamus sudah berakulturasi menjadi pribumi…………..

WhatsApp Image 2018-10-26 at 20.44.12.jpeg

Maksud  dan tujuan saya untuk “Recharging” dengan memasuki kampus ini benar-benar tercapai ketika mendengarkan sambutan Pak Rektor yang memperkenalkan 10 karakter yang akan sangat diperlukan ketika dalam bekerja nanti : 1) Pembelajar – yaitu menjadikan belajar sebagai nafas kehidupannya dimanapun dia berada, 2) Jujur/integritas – yang akan membuat seseorang terpercaya, 3) Kreatif dan Inovatif – menurut Jack Ma dunia ke depan akan bergeser dari “knowledge based competition” ke “creative based competition”, 4) Disiplin – mampu melakukan hal seharusnya pada saat yang tepat, 5) Kepedulian Sosial – memiliki empati kepada orang lain dalam menyelesaikan masalah, 6) komunikasi – mampu memberikan pesan dan merespon pesan orang lain dengan baik, 7) Berpikir kritis – sehingga tidak mudah tertipu berita HOAX misalnya, 8) Semangat dan berkepribadian kompetitif – kerja keras, rajin, fokus dan tidak mudah putus asa, 9) cerdas emosi – mampu mengelola emosinya dengan baik, 10) interpersonal skill yang baik – mudah diterima oleh lingkungannya.

Pak Rektor berharap dengan mengamalkan ke sepuluh karakter tadi, para alumni akan lancar karirnya dan lancar jodohnya!

Wajah-wajah cerah itu berbaris dengan tertib ketika namanya satu persatu dipanggil ke hadapan Senat Akademik di atas panggung. Para Doktor, Master (di IPB disebut Magister), Dokter Hewan dan para Sarjana (S1) berbaris menurut fakultas dan jurusannya masing-masing. Pak Rektor, para Dekan dan pimpinan jurusan mendapat peran masing-masing dalam perhelatan akbar ini. Wakil Dekan akan memanggil wisudawan satu per satu. Ijazah akan diberikan oleh Dekan fakultas, sedangkan pengalungan medali oleh ketua jurusan. Juga sesuai jurusan dan fakultas masing-masing. Pak Rektor yang harus kerja paling keras karena harus ketemu dan bersalaman dengan seluruh wisudawan sambil memindahkan tali toga dari sisi kiri ke sisi kanan. Tidak banyak yang tahu arti simbolis dari ritual yang ini. Konon filosofinya bahwa terhitung sejak diwisuda ini, para mahasiswa yang tadinya banyak menggunakan otak kiri untuk berpikir akademis, menghafalkan rumus, menganalisa, menulis laporan, dsb, maka sejak saat ini sudah harus mulai menggunakan otak kanan : kreatif, inovatif bahkan intuitif, instinktif dan sejenisnya yang ini sangat diperlukan ketika kita bekerja.

Di IPB sudah mulai terlihat pengaruh otak sebelah kanan ini merasuki kehidupan kampus. Suasana wisuda sekarang tidak “kering” karena sudah ada penyanyi yang ditampilkan di panggung Senat akademik. Pak Rektor juga mengumumkan bahwa Hymne IPB yang dibawakan dalam wisuda kali ini adalah hasil aransemen Addie MS yang tersohor dengan Twilite Orchestra-nya.

WhatsApp Image 2018-10-26 at 20.42.04.jpeg

Suasana panggung wisuda juga sudah tidak se-angker jaman dulu yang akademik banget. Panggung itu seperti layaknya sebuah “catwalk”  yang sedang menggelar peragaan busana. Bagi yang jeli dan berjiwa entrepreneur tinggi, ini peluang bisnis.  Semua pernik-pernik busana dan permak wajah pasti laris.  Demikian juga bunga tangan (buket), fotografi, rental mobil, dll. Jadilah kampus sentra proyek bisnis dadakan  waktu musim wisuda. Belum lagi bisnis yang reguler dari kos-kosan, catering, laundry, foto copy, pulsa ……. Dan jangan lupa, di bulan puasa kelapa muda masih laris.  Ayo siapa mau daftar….??

Terinspirasi hal ini, saya berusaha membangkitkan otak kanan rekan-rekan Direksi Anak Perusahaan ketika mengadakan “sarasehan” mengenai upaya RNI untuk melakukan transformasi ke depan sebagai tindak lanjut tag line yang sudah saya canangkan di acara HUT RNI tahun ini : Transformasi Menuju RNI lebih baik. Ketika para Direksi dan Group Head selesai mengadakan “Business Review” yang diadakan setiap 3 bulan sekali di Surabaya, mereka semua saya kumpulkan di Mess yang saya sulap menjadi ruang sarasehan sehingga suasananya lebih santai. Saya paparkan kondisi setiap pilar bisnis saat ini. Nyata dari data yang ada, masih banyak “Operating Excellence “ yang masih perlu diperbaiki, misalnya dari HPP yang masih tinggi, utilisasi kapasitas, utilisasi aset, produktivitas dan efisiensi. Semuanya menyisakan “room for improvement” yang masih bisa ditingkatkan lagi. Agar terjadi sinergi dengan induk, saya juga minta masukan kepada teman-teman akan pengelolaan Holding yang lebih baik sehingga secara konsolidasi terjadi peningkatan kinerja yang nyata. Di acara itu juga terjadi proses pembelajaran antar peserta dengan tukar menukar ilmu dan pengalaman masing-masing. Diskusi berlanjut di luar ruang sarasehan sambil menikmati suguhan tahu campur dan thengkleng di kebun belakang Mess sampai menjelang magrib. Diawali dengan acara otak kiri (Business review) yang bernuansa teknis, berakhir dengan otak kanan yang bernuansa sosial……

DSC_0010.JPG

Puncak acara “sosial” di RNI tahun ini adalah  Family Gathering yang diadakan tanggal 21 Oktober di   Taman Rekreasi Jungle Land, Sentul.  Tema yang diangkat  kali ini adalah “Transformasi Milenial”. Tema kreasi dari generasi mileneal anak-anak muda RNI. Kemeriahannya dapat diikuti di medsos lewat #FamgathRNI2018  #RNIMilenialsTransformation #RNIFamgath2018 dan masih banyak lagi tagar lainnya yang berkaitan dengan RNI. Karyawan dan seluruh keluarganya larut dalam aneka ragam permainan dengan aneka hadiah pula dan ditutup dengan “Grand Prize” 2 sepeda motor. Keistimewaan tahun ini, acara Famgath juga diisi dengan penobatan Karyawan Teladan untuk berbagai Kategori seperti Cleaning Service, Office Boy, Security,Driver, Karyawan Pelaksana dan Karyawan Staf. Proses pemilihannya sendiri juga juga dilakukan dengan gaya milenial, yaitu voting on line….

Pada akhir acara,  saya undang Direksi, Group Head dan Head beserta keluarganya untuk ber”dangdut” di rumah sambil menikmati sop buntut dan duren. Saya berharap dengan keakraban yang makin meningkat maka suasana kerja akan makin baik sehingga menurut para ahli makin mudah mencapai gelombang alfa di otak kita yang akan makin merangsang ide baru, inovasi dan kreativitas. Kegiatan FamGath ini juga saya harapkan menjadi media untuk “recharging”. Bukan hanya kepada karyawan, tetapi juga kepada seluruh keluarga agar selalu menyemangati bapak atau ibunya di dalam bekerja menuju RNI yang lebih baik. Amiin……

DSC_0878.JPG

 Viva Keluarga Besar RNI.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan melindungi kita semua. Amiin.

Wassalamualaikum wr.wb

Bogor, 20 Oktober 2018.

Didik Prasetyo

.

Iklan

CEO Notes # 56: 54 Tahun Saatnya Bertransformasi Untuk RNI Baru

Assalamualaikum wr.wb ,

Sudah cukup lama saya tidak menulis CEO Notes. Kangen juga rasanya untuk menulis meskipun hanya tiga bulan tapi terasa bertahun-tahun. Bukannya saya sedang bertapa cari wangsit di Gunung Kawi atau Gunung Lawu, tetapi saya sedang banyak berada di “medan perang”. Bukan perang antar great family atau great houses seperti yang dikutip Presiden Jokowi dari serial Game of Thrones pada saat berpidato dalam pertemuan IMF-World Bank di Bali, atau perang Baratayudha antara Pandawa dan Kurawa di padang Kurusetra, tapi bersama rekan-rekan para Direksi RNI Group kita sedang perang di lapangan menghadapi persaingan yang sengit di semua lini bisnis yang digeluti oleh RNI. Memang tidak seheboh perang dagang AS dan China yang berdampak memelorotkan nilai tukar mata uang dimana-mana termasuk rupiah kita tercinta ini.

44088255_10218426905690155_2079656742777520128_n.jpg

Ketika saya punya momen yang baik untuk “curhat” lagi di media sosial ini ditengah maraknya berita-berita Hoax, saya putuskan untuk mencoba merekonstruksikan kembali pemikiran dan isi hati saya dalam tulisan ini. Mudah-mudahan tidak dianggap Hoax…he he he.

Momen itu adalah ketika RNI yang terlahir dengan nama PT (Persero) PPEN Rajawali Nusantara Indonesia berulang tahun yang ke 54 tanggal 12 Oktober 2018 kemarin. Kalau tahun lalu tema HUT RNI adalah Change or Die, tahun ini setelah makin mengenal mendalam terhadap masalah yang dihadapi di lapangan, yang bikin pusing para CEO di RNI Group saya ingin mempertegas lagi bentuk CHANGE itu : TRANSFORMASI UNTUK RNI BARU.

Di lapangan, saya bergerak dari “Medan perang” yang satu ke “Medan perang” yang lain. Dari gula ke trading, dari trading ke farmasi, dari farmasi ke sawit, dari sawit ke teh dari teh ke karung plastik dan seterusnya. Hari-hari saya lewati dengan berdiskusi dengan para panglima di lapangan : para Direktur, para GM, para Askep, para Kepala Cabang, para Manajer tentang permasalahan yang sedang dihadapi di lapangan. Setelah dari lapangan, saya kembali lagi ke “padepokan” untuk belajar, memperdalam ilmu untuk mencari jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapi. Tentu saja, jaman sekarang sudah tidak seperti dulu lagi memperdalam ilmu dengan “pati geni” atau “poso mutih” atau laku lainnya. Cukup kita ke Gramedia, cari buku atau ke Café ngopi dan ngobrol dengan sejawat sesama pelaku bisnis… dan guru yang maha Sakti saat ini-lebih Sakti dari begawan yang paling Sakti di dunia sekarang ada di rumah yaitu “Panembahan” Google… sajennya cuma Wi-Fi aja…….!

44043233_10218426905610153_8265746178415525888_n.jpg

Dari situlah saya belajar dan berkesimpulan bahwa RNI perlu bertransformasi. Semua persyaratan sudah dipenuhi. Menurut salah satu “kitab” yang menjadi rujukan saya karya Mas Indra Susanto dalam bukunya Strategy-Led Transformation ada dua faktor pendorong besar yang menyebabkan perusahaan perlu bertransformasi yaitu faktor eksternal dan faktor Internal. Secara logika kita bisa menebak bahwa faktor eksternal adalah yang tidak kita kuasai misalnya politik, ekonomi, perkembangan teknologi, lingkungan, selera konsumen, dsb. Sedangkan faktor internal adalah faktor yang mestinya dalam kendali kita misalnya produktivitas, HPP, kualitas produk, service dsb. Kapan nih mas Indra kita bisa ngobrol-ngobrol lagi.

Pilar bisnis RNI yang menjadi tulang punggung kami selama ini (dilihat dari kontribusi sales tahun 2017) yaitu farmasi & alkes dan perkebunan (agro industri). Keduanya sedang dihempas ombak yang dahsyat pada saat ini yang semua bisa diikuti di Media. Salah satunya adalah akibat gonjang-ganjing BPJS yang punya tunggakan hingga triliunan Rupiah. Sebagai pemain yang melayani farmasi dan alat kesehatan untuk BPJS yang tersebar di seluruh rumah sakit di pusat maupun di daerah tentu saja hal ini sangat terasa bagi Nusindo & Phapros karena harus berpuasa berbulan-bulan menunggu dana cair.

Makro ekonomi juga ikut berpengaruh pada bisnis yang masih bergantung pada impor seperti untuk bahan baku obat yang mengambil porsi antara 70% – 80% terhadap pembentukan COGS Phapros. Kurs US dolar yang naik terus dari Rp.13.300 sampai Rp. 15.300 tentu membuat para pelaku bisnis farmasi harus terus mengasah otak bagaimana membuat produknya tetap kompetitif di pasar atau paling tidak masih menyisakan sedikit margin karena harga e-catalog tidak mungkin disesuaikan.

Sementara CPO juga mengalami penderitaan akibat harga yang turun dan sepinya pembeli sehingga berdampak signifikan pada revenue Perusahaan. Sentimen negatif juga terus dikembangkan terhadap produk berbasis kelapa sawit terutama isu lingkungan dan kesehatan.Gula yang menjadi penopang utama pilar agro industri RNI tahun ini juga diterpa cobaan yang bertubi-tubi ibarat seperti sudah terkena gempa, tsunami kena likuifaksi lagi seperti di Palu dan Donggala.Pada awal giling ketika petani tebu butuh uang untuk Lebaran belum ada tanda-tanda ada pedagang yang mau membeli gulanya sehingga akhirnya PG terpaksa menjadi off taker sementara. Tentu saja hal ini berakibat pada naiknya cost of fund PG. Sampai setelah lebaran pasar juga masih lesu yang ditengarai karena banyaknya gula eks impor dan stok tahun lalu yang belum terserap di pasar. Ketika terbit peraturan Menteri Perdagangan No.58 Tahun 2018 yang menetapkan acuan harga beli gula petani di tingkat Rp.9100, secara psikologis makin turunlah harga gula yang diperdagangkan . Asosiasi Petani Tebu (APTRI) dan Asosiasi Gula Indonesia (AGI) ramai-ramai menulis surat ke Presiden menyampaikan rasa keprihatinan atas kondisi industri gula dalam negeri yang semakin terpuruk ini. Pemerintah segera turun tangan dengan menugaskan Bulog menyerap gula petani dengan harga minimum Rp.9700. Ketika harga pasar semakin turun hingga menyentuh harga Rp.8500, Bulog pun angkat tangan. Akhirnya meminta PG untuk membeli putus tebu dari petani sehingga semua hasil produksi jadi milik PG dan Bulog tidak lagi wajib untuk menyerap. Namun bagi PG tentu saja untuk menjalankan hal ini diperlukan dana yang sangat besar. Kembali lagi cost of fund akan membengkak.

43880017_10218426905450149_2583176997500878848_n.jpg

Bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan pilar utama RNI ini, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Inilah yang menjadi faktor internal kenapa transformasi perlu segera dilakukan mumpung peluang masih ada. Kata orang bijak kalau kita ingin tetap nyaman, tidak usah merubah apapun maka siap-siap saja kita tidak akan tumbuh dan lama-lama mati, tetapi kalau kita tetap ingin tumbuh, maka kita pasti harus berani meninggalkan kenyamanan tersebut. Tidak ada pertumbuhan dalam zona nyaman dan tidak ada kenyamanan dalam zona pertumbuhan.

Satu faktor eksternal yang diluar dugaan saya juga adalah perubahan kebijakan di pemegang saham dalam hal ini adalah Kementerian BUMN. Sesuai road map yang sudah dicanangkan, Holdingisasi BUMN yang menjadi prioritas setelah semen, pupuk, perkebunan, tambang selesai giliran berikutnya adalah energi, jasa keuangan, pangan, perumahan,infrastruktur & jalan tol dan kemudian farmasi. All of the sudden, ternyata Farmasi dipercepat menjadi tahun ini. Jadi alasan apa lagi yang menjadikan RNI tidak perlu bertransformasi?

Peluang masih terbuka dan RNI masih punya sumber dayanya. Ambil contoh saja misalnya teh. Saya yakin kalau kita bergerak ke arah hilir lagi tidak hanya sekedar membudidayakan tanaman teh kemudian mengolahnya menjadi teh hitam atau teh hijau kita masih bisa menikmati nilai tambahnya. Saya senang hal ini sudah mulai digarap PT Mitra Kerinci yang sudah memproduksi berbagai varian dan masuk ke branded tea product. Ayo silakan lanjut dengan membuat Thai tea dan sejenisnya yang sekarang lagi ngetrend.

43952985_10218426905570152_2761092341245673472_n.jpg

Saya yakin di pilar yang lain sudah mulai mencoba mentransformasi bisnisnya sesuai peluang yang ada dan sumber daya yang dimiliki. Mungkin masih menjadi rahasia dapur mereka masing-masing kalau saya buka sekarang. Tapi sudah terpikir oleh saya untuk menampung dan sekaligus menguji semua ide yang ada di masing-masing perusahaan dalam suatu festival. Kalau selama ini kita mengenal festival inovasi mungkin pada saatnya kita juga perlu adakan Festival Transformasi…….Jangan takut gagal.

Berdasarkan survey Standish Group International yang dikutip oleh Indra Susanto dalam bukunya Strategy-Led Transformation, Tidak semua transformasi berhasil dengan sempurna. Hanya 16% yang selesai tepat waktu dan sesuai target, 31% berhenti di tengah jalan dan 53% terlambat, over budget atau hasilnya jauh dari harapan.Saya sarankan untuk membaca buku tersebut di atas karena ada contoh kasus transformasi BUMN dan juga tips untuk menghadapi kendala transformasi..Kalau kita Ibaratkan transformasi itu bagai sebuah evolusi dalam suatu perusahaan maka prinsip Charles Darwin juga berlaku (dikutip dari buku Mas Indra Susanto) :“It’s not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change.”Semoga RNI termasuk “species” yang akan bertahan hingga akhir jaman. Amiin. Amiin YRA.
Terima kasih mas Indra, bukunya sangat menginspirasi saya.

Dirgahayu RNI, Transformasi untuk RNI Baru.

Wassalamualaikum wr.wb

Bogor, 13 Oktober 2018.

Didik Prasetyo

CEO Notes  # 55 RUPS Phapros  2017:  Moving Forward To Infinity War….

Assalamualaikum wr.wb,

Ibarat pengelana padang pasir, setelah mengalami perjalanan panjang yang penuh dengan liku-liku dalam safarinya yang kadang dihadang badai atau perompak gurun kejam, sekarang saatnya berlabuh di oase dan menghitung semua hasil keuntungan dagang, membagi dengan para sekutunya dan kembali menata kafilahnya agar perjalanan berikutnya lebih lancar dan aman. Demikian pula PT Phapros Tbk, salah satu anak perusahaan RNI yang sudah berstatus public company disamping PT GIEB, pada tanggal 26 April 2018 menyelenggarakan RUPS Tahunannya di Semarang.

31400958_1896924943663112_3972366701936244587_n.jpg

Meskipun tidak pakai perayaan belly dance atau tari perut, tapi nuansa RUPS kali ini penuh dengan kegembiraan. Bayangkan saja, dividen yang dibagi adalah 70% dari laba bersih perusahaan, meningkat 20% dibandingkan tahun yang lalu atau secara nominal dividen yang dibagikan sebesar adalah Rp. 87,7 miliar . Bagi anda yang punya saham Phapros, EPS (earning per share) yang menggambarkan keuntungan per lembar saham juga naik dari Rp. 500 menjadi Rp. 750. Bagi yang tidak punya, silakan menelan ludah saja.…

Diawali dengan paduan suara PT Phapros yang mengalunkan lagu “Jaran Goyang” dengan lemah lembut sehingga tidak sampai “mengguncang” para pemegang saham yang hadir, RUPS dihadiri oleh 80,51% suara sah. Sangat sah termasuk untuk kuorum RUPS LB yang memang dipersyaratkan untuk mengambil beberapa keputusan strategis kali ini, antara lain adalah agenda menambah modal dasar perseroan melalui HMETD (Hak untuk Memesan Efek Terlebih Dahulu) sebagai ancang-ancang untuk IPO yang rencananya akan dilaksanakan tahun depan.

Saya sebagai wakil PT RNI yang memiliki 95 juta lebih lembar saham atau 56,77% dari total saham 168 juta lembar alias sebagai pemegang saham pengendali merasa sangat pantas untuk mengusulkan kepada RUPS agar membagi kegembiraan kepada seluruh  pemegang saham dengan membagi dividen 70% tersebut. Betapa tidak. Angka-angka kinerja perseroan yang disampaikan oleh Direktur Utama PT Phapros Ibu Barokah Sri Utami – pemenang award Best CEO RNI Group – yang juga sudah sangat valid karena sudah audited menunjukkan kinerja luar biasa. Laba perseroan meningkat 44% dari Rp. 87 Milyar tahun lalu ke Rp. 125 Miliar. Sementara omsetnya juga tumbuh 23% atau naik dari Rp. 816 Miliar menjadi Rp. 1 Triliun lebih. Pertumbuhan kinerja Phapros ini jauh di atas rata-rata pertumbuhan industri farmasi nasional yang justru minus 2%.

30073643_1896924973663109_5002846378564541641_o.jpg

Walaupun sudah menunjukkan kinerja yang luar biasa, Direksi Phapros juga tidak bisa enak-enakan karena para pemegang sahamnya juga selalu kritis, terutama pemegang saham yang merupakan para  mantan pejabat di Phapros, khususnya di bidang keuangan. Piutang kepada distributor adalah salah satu yang selalu disoroti agar selalu bisa ditekan seminimal mungkin. Padahal jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya sudah jauh lebih baik karena saya sebagai Komisaris Utama sekaligus pemegang saham di Rajawali Nusindo yang menjadi distributor tunggal PT Phapros sudah mendorong mereka agar mengambil pendanaan melalui skema distributor financing dalam upaya memenuhi kewajibannya kepada Phapros. Maklum saja, para pemegang ini tentunya ingin agar perseroan mendapatkan laba dan membagi dividen sebesar-besarnya.

Sebagai pemegang saham pengendali, saya justru lebih berkepentingan agar PT Phapros ini tumbuh semakin besar ke depan. Kalau dibandingkan dengan perusahaan farmasi milik BUMN lainnya, Phapros memang memiliki keunggulan Net Profit Margin terbaik sebesar 12,2 % tetapi dari segi sales, masih dibawah Indo Farma, apalagi Kimia Farma penjualannya mencapai lebih dari Rp. 6 Triliun. Oleh karenanya, melalui RUPS ini saya masukkan beberapa agenda strategis agar perseroan semakin berlari kencang ke depan yang pengambilan keputusannya melalui RUPS LB.

Pertama adalah perluasan bidang usaha. Semula perseroan bergerak di bidang usaha yang terkait dengan obat-obatan dan alat kesehatan, sekarang akan ditambahkan dengan kosmetika dan makanan dan atau minuman. Rupanya walaupun selama ini untuk kedua bidang usaha tersebut meskipun sepintas barangnya sama, yaitu sama-sama benda yang diminum atau dioles, tetapi karena peruntukkannya berbeda diperlukan ijin tersendiri untuk pengusahaannya. Kelak, jika anak perusahaan RNI Group ingin mengembangkan industrinya ke arah bidang tersebut baik berbasis teh atau tebu atau sawit, akan semakin terbuka untuk bersinergi dengan Phapros.

31357579_10156709086653287_8127442033846517760_n.jpg

Dengan rencana pengembangan bisnis ke depan, perseroan memanfaatkan peluang right issue untuk menambah modal perseroan yang ditawarkan terlebih dulu kepada para pemegang saham sebelum ditawarkan kepada publik. Melalui mekanisme ini, perseroan akan medapatkan dana murah karena tidak ada kewajiban untuk membayar bunga dan pokok. Indikasi saham yang akan dilepas adalah 207 juta lembar dengan perolehan dana sekitar Rp. 500 milyar. Disamping untuk pengembangan bisnis, dana tersebut juga digunakan peningkatan fasilitas produksi existing, untuk modal kerja dan pelunasan pinjaman.

Yang terakhir dalam agenda RUPS LB ini adalah line up team yang akan terjun ke medan “pertempuran” tahun 2018. Walaupun 2 Direksi sudah habis masa jabatannya di tahun ini, tetapi dengan memperhatikan pencapaian kinerja yang luar biasa dan kekompakan dalam kerja sama tim, saya mengusulkan untuk mengangkat lagi keduanya dalam jabatannya sebagai anggota Direksi untuk masa jabatan 5 tahun ke depan. Dont change the winning team, kata para pakar manajemen. Dengan melihat kinerja Direksi selama 5 tahun terakhir, usulan saya secara aklamasi di terima oleh RUPS sehingga saya tidak perlu melakukan bongkar pasang tim untuk membawa Phapros melanjutkan perjalanannya ke depan.

Untuk memperkuat pengawasan, saya mengusulkan penambahan satu orang Komisaris Independen sehingga jumlah Komisaris mejadi 4 orang dimana 2 orang diantaranya adalah Komisaris Independen (50% dari jumlah Komisaris yang ada). Atas usulan tersebut semua pemegang saham juga menyetujui dengan aklamasi.

Dengan terpilihnya tim baru Phapros ini, 4 Direksi dan 4 Komisaris, saya berharap Phapros benar-benar Moving Forward To The Next Level.

Bukan hanya keberhasilan dalam menambah pundi-pundinya, Phapros juga menunjukkan tanggungjawab sosial lingkungannya yang tinggi dengan meraih predikat PROPER HIJAU.  Artinya dalam menjalankan praktek bisnisnya, perseroan juga sangat memperhatikan prinsip ekonomi hijau yang mencakup efisiensi dalam penggunaan energi, konservasi air, perlindungan keanekaragaman hayati dan penurunan emisi. Capaian Phapros dalam menghijaukan lingkungannya juga sudah mendapat tempat di masyarakat kota Semarang. Hutan mangrove yang dibangun melalui program Bina Lingkungannya sekarang sudah menjadi icon baru bagi kota Semarang. Sebuah Mangrove Park sudah muncul sebagai sebuah edutainment, termasuk untuk muda-mudi yang haus ilmu dan haus hiburan..

Konservasi energi bukan hanya masalah Phapros, unit-unit manufacturing RNI yang lain juga saya tekankan untuk terus berlomba mencari inovasi dalam penghematan energi ini. Pabrik gula, pabrik sawit, pabrik teh sampai kulit dan plastik semuanya adalah pelahap energi yang cukup berat. Pabrik gula sekelas Krebet Baru menghabiskan lebih dari Rp.5 Milyar untuk bayar PLN, sementara Jatitujuh lebih dari Rp. 2 Milyar. Belum termasuk nilai ampas yang kalau dikonversi dalam rupiah bisa mencapai Rp. 100 Milyar! Demikian juga dengan air. Apalagi unit manufacturing yang membutuhkan air bersih seperti farmasi dan air pengisi boiler di PG, biaya water treatment plant juga bisa miliar.

DSC_0594.JPG

Khusus Phapros, langkah maju dalam upaya mengurangi emisi juga sudah dilakukan dengan memasang green chiller. Dalam kesempatan lain akan saya ceritakan mengenai chiller non-CFC ini yang dikenal ramah lingkungan karena tidak merusak lapisan OZON.

Ternyata, tantangan demi tantangan akan selalu menghadang kita di depan. Efektif dengan mencapai target saja tidak cukup, kita harus paling efisien. Tapi efisien saja juga tidak cukup, kita harus secure atau aman.

Dengan demikian seperti digambarkan The Avenger, Next Level kita berikutnya mungkin adalah Infinity War……

So, be prepare for the next level, otherwise game will be over shortly..

May God bless RNI and all of us.

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta, 7 Mei 2018.

Didik Prasetyo

 

CEO Notes # 54 RNI Award 2018: Perhelatan Akbar selera Piala Oscar

Assalamualaikum wr.wb,

Tanggal 5-6 April 2018 yang lalu baru saja diselenggarakan RNI Award 2018, kalau tidak salah yang kesebelas kalinya. Selama 3 tahun masa pengabdian saya, ini adalah kali yang kedua. Pertama adalah tahun 2016 di Semarang. Time flashing, begitu cepat waktu berlalu.

DSC_0681

Acaranya kali ini cukup banyak, padat dan heboh….bak malam anugerah piala Oscar. Dari segi tempat saja, ada 3 venues yang harus disamperi para peserta yang satu sama lain terpisah cukup jauh sehingga panitia harus meyediakan bus sebagai alat transfer peserta. Belum lagi dari sisi rangkaian acaranya yang sudah harus dimulai tanggal 3 April dengan penjurian para peserta Lomba Inovasi. Itupun sudah diseleksi dari 80 menjadi 20 peserta yang masuk ke penjurian akhir.

Saya memang menggabungkan acara awarding ini dengan festival inovasi. Awarding bertujuan untuk memberikan apresiasi kepada mereka yang berprestasi, baik individu maupun perusahaan, mulai tingkat mandor, supervisor sampai CEO! Untuk perusahaan diberikan mulai dari unit usaha, perusahaan dengan kinerja operasional terbaik, kinerja keuangan terbaik dan tentu saja the best overall akan menjadi the best subsidiary company. Kali ini juga saya setuju untuk memilih The Best CEO sebagai the man behind the gun yang sebenarnya menjadi pemegang kendali perusahaan terbaik itu. Mengingat yang terpilih sebagai The Best CEO di Anak Perusahaan RNI Group adalah Dirut PT Phapros Tbk, Ibu Barokah Sri Utami, jadi tepatnya beliau adalah the lady behind all performance

Inovasi sama pentingnya dengan menghasilkan kinerja terbaik untuk saat sekarang. Jika kinerja adalah untuk makan dan tumbuh saat ini, inovasi adalah untuk kepentingan masa depan. Sustainability.

DSC_0808

Saya dikritisi oleh Dr. Yanuar Nugroho Deputy II Kepala Staf Kepresidenan yang hadir di acara Gala Dinner, bahwa motto saya change or die masih bisa dijembatani dengan motto yang lebih optimistis Innovate or Die………

Anak perusahaan yang dinilai unggul dalam menerapkan bahkan membudayakan inovasi juga saya tempatkan pemberian apresiasinya di puncak acara yaitu malam Gala Dinner bersama dengan pemenang utama. Para inovator juga diberi kesempatan memaparkan hasil karyanya dalam eksibisi di lokasi penjurian sehingga semua yang hadir bisa ikut melihat dan mungkin menirunya untuk bisa di-copy atau duplikasi agar bisa diterapkan ditempatnya.

Jadilah rangkaian festival inovasi menjadi ajang yang paling menyita waktu panjang sebelum sampai mendapatkan best of the best dari para kandidat yang diajukan.

Setelah melihat eksibisi inovasi yang digelar di Spring Club Royal Ballroom, peserta kemudian mengikuti Executive Sharing session dengan Moderator Tina Talissa, dulu anchor acara Talk Show yang sangat terkenal di salah satu TV berita.

Sengaja saya adakan acara ini sebagai media untuk pencerahan bagi kawan-kawan di RNI terutama para generasi muda dan para pimpinan perusahaan. Saya hadirkan dua pembicara yang merupakan CEO BUMN yang berhasil membuat transformasi besar bagi perusahaannya. Salah satunya yaitu Pak Suyoto dari Djakarta Lloyd. Perusahaan pelayaran ini mengalami up-down yang sangat dramatis. Berawal dari perusahaan besar dengan ratusan kapal dan ribuan karyawan kemudian terpuruk dengan hanya tinggal memiliki 1 kapal dan 20 orang karyawan. Melalui sinergi BUMN dan memanfaatkan teknologi IT, secara perlahan Djakarta Lloyd bangkit kembali dan mulai mampu mengadakan kapal-kapal baru lagi seiring dengan meningkatnya bisnis logistik laut yang berkembang pesat. Jadi, berbeda dengan band asuhannya D’Lloyd, ternyata Djakarta Lloyd tidak hanya meratap 🎼 Apa Salah dan Dosaku 🎼 saja, tetapi langsung berusaha untuk bangkit memanfaatkan segala peluang yang ada. Salah satu nasihatnya yang sangat berkesan : Jangan merasa besar………

Pembicara kedua adalah Pak Tumiyana Dirut PT PP. Dari beliau ternyata ilmunya bukan sekedar masalah membangun bisnis properti saja tetapi juga ilmu membangun tim champion yang kuat, yaitu tenaga-tenaga muda yang punya cara berpikir out of the box yang banyak menghasilkan terobosan-terobosan dan inovasi baru bagi kemajuan perusahaan.

Setelah laporan keuangan selesai diaudit, hasilnya meyakinkan saya bahwa keluarga besar RNI “deserve” atas kemeriahan dan rasa syukur ini. Betapa tidak, laba setelah pajak tahun 2017 ditutup pada angka Rp. 353 Miliar meningkat cukup tajam dari tahun 2016 sebesar Rp. 247 Miliar. Di tengah gonjang-ganjing bisnis agro industri yang turbulensinya membuat semua pelaku harus mengencangkan ikat pinggang, alhamdulilah pilar farmasi & alkes dan trading & distribusi bisa tetap melesatkan RNI terbang ke awan sehingga overall pertumbuhan tetap terjaga.

Bukan hanya itu, tugas perusahaan BUMN sebagai agent of development juga dapat dilakukan dengan baik. Hal ini sudah saya ceritakan di Ceo Notes sebelumnya seperti berbagai kegitan BUMN Hadir Untuk Negeri, Tol Laut dan juga pembinaan petani melalui program kemitraan.

Dengan bekal itu semua, saya ingin mengajak RNI terbang lebih tinggi lagi melintasi batas negara sebagaimana saya canangkan dalam tema besar RNI Award kali ini, yaitu GO GLOBAL – “Wings to the world through innovation…”

DSC_0614

Visi untuk menjadikan RNI GO GLOBAL sebenarnya sudah mulai saya lempar diberbagai kesempatan, termasuk dalam Ceo Notes yang lalu. Berbagai langkah mengarah kesana juga sudah dijalankan dan sudah saya ceritakan seperti kunjungan-kunjungan Direksi ke Korea Selatan, Myanmar dan akhir-akhir ini ke Jepang. PT Phapros Tbk dan PT PG Rajawali I sudah berada dalam antrian di Kementerian BUMN untuk di-IPO-kan dan dikawal langsung oleh Tim Khusus di sana yang bertugas mencapai target yang ditetapkan dalam IPO tersebut.

Bukan hanya dari sisi bisnisnya, secara tata kelola, RNI juga semakin meningkat kualitasnya. Hal ini bisa dilihat dari score asesmen GCG nya yang meningkat dari GOOD menjadi VERY GOOD di tahun ini, bahkan penilaian hasil KPKU RNI meningkat dari Early Improvement menjadi Good Performance. Hal ini menambah keyakinan saya bahwa kita sudah siap untuk menjadi semakin transparan, akuntabel dan independen.

Dan bagi saya, inilah momen yang tepat untuk mencanangkan secara luas kepada seluruh jajaran RNI Group , bahwa seperti inilah nanti RNI akan saya bawa ke depan. Ini forum yang tepat karena disitu hadir seluruh Direksi anak-anak perusahaan, semua staf yang memgang jabatan strategis sampai dua level di bawah Direksi dan staf muda yang peduli dengan masa depan dengan terus berinovasi secara kreatif. Kepada rekan-rekan semua telah digelar red carpet oleh PT Rajawali Nusindo sebagai Host acara ini.

Mudah-mudahan sambil menikmati musik di mobil, kantor atau di kamar kost, esensi ajakan saya untuk terbang tinggi tidak terlupakan, seperti bait refrein mars Rajawali :

…..Rajawali Nusantara Indonesia,bergerak maju melayang menyibak awan, gagah berani berjuang menepas badai, Rajawali Nusantara Indonesia…………….

Semoga Allah SWT selalu membimbing dan meridhoi langkah kita dalam mengabdi kepada negara dan bangsa ini. Amiin.

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta, 11 April 2018.

Didik Prasetyo

CEO Notes # 53 Tantangan 2018 : Persiapan Menuju GO GLOBAL

Assalamualaikum wr.wb,

 
Ritual yang harus dijalani setiap awal tahun bagi suatu korporasi adalah RUPS RKAP. Di forum ini semua rencana yang akan dijalankan setahun ke depan dipaparkan di depan pemegang saham, baik rencana kerja, rencana anggaran maupun investasi (OPEX dan CAPEX) serta strategi pencapaiannya. Bagi saya, di tahun 2018 ini adalah the most excited RKAP yang harus saya jalankan. Banyak rencana dan target yang ingin kami capai, bukan hanya di angka-angka tetapi juga di rencana-rencana aksi korporasi yang akan membawa RNI mengalami metamorfosa dengan harapan menjadi jauh lebih baik dari yang sekarang. Saya merasa seperti Zizou menghadapi La Liga atau Piala Champion. Excited, challenging tapi masih achieveable. Melalui CEO Notes ini sekaligus saya beri kesempatan kepada anda para pembaca yang pasti merupakan stakeholder saya untuk mengintip serba sedikit isi perut kami untuk tahun 2018 ini. Mudah-mudah disini bisa berlaku falsafah rok mini, semakin minim, justru semakin banyak yang penasaran.

 
Betapa tidak. Di tahun 2018 ini target omzet RNI mencapai Rp 6,7 T naik Rp 1,6 T dari tahun 2017, asset juga meningkat menjadi Rp 20,4 T naik sangat signifikan dibandingkan tahun 2017 dan investasi melonjak menjadi Rp 4,5 T. Yang paling menarik lagi ditahun 2018 ini nanti adalah rencana listing di Bursa untuk PT Phapros Tbk. Selama ini status Tbk. nya PT Phapros masih malu-malu karena non-listed. Oleh karena itu tahun ini pula saya minta Direksi PT Phapros menyiapkan diri untuk memasuki dunia pasar modal dalam arti sesungguhnya. Mudah-mudahan tahun ini merupakan tahun yang tepat bagi Phapros untuk masuk bursa.

 
Setelah kunjungan perkenalan yang difasilitasi Pak Ito Sumardi Dubes Myanmar sebagaimana pernah saya tulis dalam CEO Notes # 50, tahap berikutnya Bu Emmy Barokah (Dirut PT Phapros Tbk), mesti menyiapkan diri menjadi atlit lari yang handal dan kuat karena harus lari marathon, start di Simongan – Semarang dan finish di Yangoon – Myanmar. Bersama dengan pak Lukman – Direktur Health Care PT Rajawali Nusindo, Bu Dirut ini balik lagi ke Myanmar ketemu Mr.Khin Maung Cho -Minister of Industry difasilitasi Pak Dubes RI lagi yang disambung dengan pertemuan-pertemuan berikutnya dengan para pejabat maupun kalangan industri. Myanmar sudah terbuka dengan investor luar melalui mekanisme PBP (Public Business Partnership) dan saat ini sudah ada perusahaan farmasi asing yang berinvestasi disana, Inggris dan India. Kalau Phapros bisa segera masuk, Indonesia bisa menjadi nomer tiga.

 

Pengadaan essential drug masih dengan tender terbuka internasional, bisa masuk dari negara mana saja sehingga dengan mekanisme ini kita bisa kalah bersaing dengan India dan Pakistan yang jaraknya dekat dan bahan bakunya mudah. Jadi, saya minta kepada PT Phapros untuk melihat secara jeli rencana pembangunan pabrik obat di sana serta menjajagi kemungkinan join venture dengan partner lokal yang sudah pengalaman dengan bisnis farmasi. Jeli karena untuk farmasi pasti lebih rumit persyaratannya. Masalah air, masalah limbah, masalah perijinan, sertifikasi, and so on, and so o
Berarti tantangan Phapros tahun ini, go public, go listed sekaligus go global.

 
PT Rajawali Nusindo, anak perusahaan RNI yang bergerak dibidang distribusi dan trading tahun 2017 lalu kehilangan mitranya yang cukup penting yakni Philips dan Mustika Ratu sehingga potensi omzetnya berkurang hampir mencapai setengah trilyun lebih. Namun dengan usaha yang all out dari semua lini, kehilangan itu bisa digantikan oleh principal-principal lainnya sehingga pada tahun yang sama omzetnya justru meningkat dari Rp 2,8 T menjadi Rp 3,5 T. Potensi untuk mendapatkan prinsipal baru dari luar negeri juga harus terus digali, termasuk bekerjasama mendistribusikan produk di luar negeri. Artinya, go global juga….Oleh karena itu saya senang-senang saja ketika Pak Yono – Dirut PT Rajawali Nusindo meminta persetujuan untuk mengadakan employee gathering dengan mengundang seluruh karyawan di seluruh cabang se Indonesia dari Aceh sampai Papua. Sepertinya ini never happened in the history of RNI Group mengumpulkan karyawan sampai 2000 orang sekaligus, sampai-sampai susah cari venue sehingga harus menggunakan lokasi JI Expo PRJ Kemayoran. Dengan jumlah peserta yang begitu menghebohkan tentu saja harus diimbangi dengan acara yang sepadan, apalagi para prinsipal besarnya juga diundang, mulai dress code sampai entertainment berkelas extravaganza….dengan mengundang artis ibu kota Once, Sazkia Gothik dan Kotak Band…..yang pasti heboh.

 
Ngga mau kalah dengan saudaranya, PT Phapros yang mencatat banyak achievement tahun 2017 lalu, diantaranya omzet sudah berhasil menembus batas psikologis di atas Rp. 1 T dengan laba sejak berdirinya tahun 1954 juga menampilkan extravaganza yang sama. Pada event tahunan National Meeting yang bertajuk : Tough & Strong Through The New Horizon dimana semua jajaran operasionalnya dari seluruh tanah air berkumpul, disamping dipompa dengan semangat tinggi oleh Komut Pak Yana Aditya agar mencapai outstanding performance dengan laba (Insya Allah – Amiin) Rp.200 Milyar di 2019, juga akan dihibur oleh artis beken yang lagunya lagi nge-hit sekarang dan menjadi trending topic “Bojo Galak” : Via Vallen….

 
PT Mitra Rajawali Banjaran baru saja menjajal mesin barunya untuk produksi Autodestruct syringe berkapasitas 46 juta pieces per tahun sinergi dengan saudaranya yakni PT Rajawali Nusindo dan sebentar lagi disusul pabrik implant tulang bersama saudaranya yang lain PT Phapros. Investasi mesin autodestruct syringe tersebut untuk memenuhi Kebutuhan program imunisasi yang sangat besar dan saat ini baru diperuntukkan bagi keperluan Dinas Kesehatan Kabupaten, Kota dan Kemenkes Pusat dan program KB di BKKBN. Ketika saya ikut delegasi Kementerian BUMN lanjut dengan keperluan PT RNI ke Korea Selatan, saya diperkenalkan dengan produk autodestruct syringe yang bermutu tinggi dan berminat untuk bekerjasama dengan RNI Group memperbesar kapasitas MRB untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan ekspor. Suatu tawaran yang perlu disambut baik karena mereka juga sudah punya pengalaman, sehingga kita bisa memanfaatkannya baik dari segi produksi maupun pemasaran terutama di luar negeri. Saya berharap partnership ini sudah dapat terealisir di tahun 2018.

 
Sementara untuk industri gula yang menjadi core competence di RNI, sedang saya persiapkan untuk hijrah ke luar Jawa secara bertahap. Di mata saya, Jawa sudah sulit dikembangkan untuk gula kecuali yang berbasis tebu rakyat dengan budaya menanam tebu yang kuat seperti Malang Selatan, Kediri atau Pati. Itupun PG harus melengkapi dengan industri hilir dengan mencari produk selain gula yang mempunyai nilai tambah yang tinggi. Kalau memang kita belum punya ilmunya, maka ibarat menuntut ilmu ke negeri Cina-pun, perlu kita lakukan. Tetangga kita Thailand sudah memasuki generasi ketiga dalam industri ini, mereka sudah fokus pada produksi hilirnya seperti bioplastik dan gula hanya side product saja, sementara kita masih saja beradu urat dan bersitegang bagaimana meningkatkan rendemen gula, produktivitas gula maupun menurunkan HPP dari Gula dan Tetes saja. Kalau semua PG di Indonesia memfokuskan diri pada industri hilir tebu bukan hanya memproduksi gula semata sebagai produk utamanya, Inshaa Allah persoalan gula nasional akan terselesaikan sendiri tanpa perlu campur tangan Pemerintah. Karena gula hanya hasil ikutan saja, produk utamanya adalah bioethanol, bioplastik, listrik, kolagit, alkohol dan lain-lain yang masih banyak turunan-turunannya.

 
Industri gula andalan RNI yaitu PT Rajawali I saya dorong juga untuk mencari sumber pendanaan non-bank yang lebih murah, baik obligasi, MTN bahkan menjajagi melalui IPO. Dengan bekal rating single A saya rasa akan mudah bagi mereka untuk mencarinya. Dengan dana murah tersebut, apalagi dalam jumlah besar, maka akan lebih leluasa dan harus lebih berani bagi PT PG Rajawali I untuk mengembangkan perusahaannya baik secara organik maupun anorganik.

 
Tapi ingat, untuk bisa meraih piala Champion, Real Madrid juga harus bongkar pasang pemain manakala dianggap ada yang sudah tidak seirama dengan permainan tim.So……Bersiaplah.

 
Wassalamualaikum wr.wb.

 
Surabaya, 31 Januari 2018.

 


Didik Prasetyo

CEO Notes # 52 Masih di awal 2018 : Layar Terkembang di Sungai Han Seoul Korea Selatan.

Assalamualaikum wr.wb,

 
Masih ingat tarian Gangnam style?

 
Gerakan dinamis yang diiringi musik yang bernada riang dengan judul Oppa Gangnam Style dan dinyanyikan oleh PSY atau Park Jae Sang itu sempat sangat populer di tahun-tahun 2012 – 2013. Hampir di setiap acara bersama perusahaan, kampung atau bahkan tingkat Kementerian selalu disuguhi tarian itu, seperti dulu pernah terjadi dengan tarian poco-poco yang sering dipolitisir sebagai langkah maju-mundur atau sekarang diganti dengan goyang Maumere. Ternyata setelah saya kemarin harus mondar-mandir dua kali Jakarta – Seoul dalam satu bulan, di tengah suhu terendah dalam musim dingin 30 tahun terakhir yang mencapai -20°C, baru saya tahu bahwa Gangnam mempunyai makna tersendiri. Kota Seoul di belah dua oleh sebuah Sungai besar yaitu sungai Han namanya. Di Selatan Sungai menjadi lambang daerah elite dan gedongan diberi nama Gangnam, sedangkan di utara sungai adalah lambang daerah yang lebih miskin yang bernama Gangbo, meskipun secara kasat mata susah juga untuk membedakannya saat ini. Mungkin seperti Menteng dan Depok. Sekarang sudah sama-sama padat dan ramai dengan pusat perbelanjaan dan pemukiman.

 
Kunjungan saya ke Korea kali kedua ini adalah dalam rangka mengikuti misi resmi dari Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian BUMN yang sedang bersemangat tinggi untuk menerapkan sistem Integrated Logistic System yang sangat sarat dengan penerapan teknologi digital. Sebagaimana sering kita lihat di tayangan TV bahwa Pemerintah sedang sangat getol untuk memperjuangkan agar harga barang-barang, khususnya kebutuhan pokok dan strategis seperti sembako, pupuk, semen dan BBM harus merata di seluruh tanah air mulai Sabang sampai Merauke. Tidak boleh ada lagi disparitas yang terlalu tinggi seperti harga semen yang di Jawa hanya Rp. 60 ribu per zak tapi di Papua bisa menjadi Rp. 2 juta per zak, atau minyak dari Rp. 8.000 menjadi Rp. 50.000 per liter. Saya bangga bahwa RNI sudah ikut terlibat dan berperan dalam program tersebut yaitu melalui PT Rajawali Nusindo dengan kegiatan Tol Lautnya di Natuna dan Sangihe Talaud sebagaimana pernah saya ceritakan dalam CEO Note yang lalu.

 

 

26734461_10215971584948671_869233933268386316_n.jpg

 

Integrated Logistic System baru dapat tercapai secara efektif dan efisien jika dilakukan secara terpadu melibatkan 3 komponen yaitu pengelolaan armada (fleet) angkutan, pergudangan (warehouse) dan teknologi informasi itu sendiri. Ukuran efektif adalah tidak terjadi disparitas harga dan kelangkaan barang, sedangkan efisien artinya biaya logistik atau distribusi bisa ditekan serendah mungkin dan barang dapat sampai ketangan konsumen secepat mungkin.

 
Mengapa BUMN sangat bersemangat dan berkepentingan untuk ikut berperan dalam program ini sampai harus jauh-jauh ke Korea untuk belajar mengenai hal ini? Kita bisa memaklumi karena produk-produk strategis seperti BBM, pupuk dan semen sebagian besar adalah produk BUMN. Demikian juga seperti armada angkutan, terutama kapal laut adalah milik BUMN. Pergudangan juga dimiliki oleh perusahaan BUMN, seperti BGR, Bulog dan gudang berpendingin pasti dimiliki juga oleh PT Perikanan Indonesia. Apalagi perangkat teknologi digital berjaringan luas yang bisa menjangkau seluruh Nusantara juga dikuasai pangsa pasarnya oleh grup BUMN. Telkom dan anak perusahaannya Telkomsel, baik dengan jaringan kabel maupun pulsa. PLN dan anak perusahaannya Icon Plus yang ternyata juga memiliki jaringan fibre optic yang ditumpangkan di jaringan listrik tegangan tinggi yang tentu saja menggurita sampai pelosok-pelosok termasuk yang susah dapat sinyal.

 
Dengan kekuatan sumberdaya BUMN seperti itu tentu sangat disayangkan apabila satu sama lain tidak disinergikan dalam satu sistem yang terintegrasi. Disini yang diperlukan bukan hanya kekuatan untuk berkoordinasi atau kecanggihan teknologi tetapi juga kecepatan berpacu dengan waktu karena pihak lain juga sudah melihat peluang bisnis ini. Pihak lain itu tidak punya barang, tidak punya armada, tidak punya warehouse, tidak punya jaringan komunikasi tapi punya inovasi dalam pemanfaatan teknologi digital. Siapa dia?…… GOJEK!

 
Melalui GOSEND, GOBOX, GOFOOD dan GO GO nya yang lain, perusahaan ini semakin melaju bukan hanya sebagai tukang ojek on line seperti yang kita kenal tapi sudah meraksasa menjadi perusahaan logistik dan distribusi online dan sebentar lagi akan menjadi raksasa keuangan karena melalui GOPAY akan mampu menghimpun dana masyarakat yang akan menggunakan jasanya tersebut. Dan pelayanannya itu dibandrol dengan harga yang jauuuuuh lebih murah sebagaimana pengalaman kita naik Gojek atau Gocar dibanding ojek atau taksi !

 
Tentunya pemegang saham melihat bahwa perusahaan BUMN kita memiliki semua potensi untuk menjadi raksasa di bidang logistik tersebut. Berapa banyak BUMN yang sekarang memiliki armada angkutan tapi dikelola sendiri-sendiri? Kalau semua armada yang dimiliki bisa dikelola bersama sehingga tidak ada armada yang berjalan dalam kondisi kosong tanpa muatan, berapa biaya yang bisa dihemat? Berapa banyak BUMN yang mempunyai gudang dalam keadaan separuh terisi atau bahkan kosong melompong, sementara BUMN yang lain harus menyewa di luar. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, semuanya bisa diintegrasikan. Dan masih banyak hal lagi yang bisa disinergikan sehingga semuanya bisa termanfaatkan dengan tingkat utilisasi yang tinggi.

 

26731047_10215971585228678_8551544428380721951_n.jpg

Sebenarnya dari diskusi dan berbincang-bincang dengan teman-teman dari BUMN yang ikut dalam rombongan ke Korea saya mendapat kesan bahwa rata-rata BUMN yang besar seperti Pertamina, PGN, PLN, Telkom , PT Pos dll . sudah mengarah ke penggunaan digitalisasi. Divisi IT mereka bahkan sudah berdiri menjadi anak perusahaan sendiri seperti Icon Plus di PLN atau PosLog di PT Pos.

 
Dalam skala yang lebih kecil saya juga melihat bahwa PT Rajawali Nusindo juga berpeluang menjadi perusahaan distribusi dan logistik yang besar. Saya yakin dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi digital saat ini, utilitas dari armada dan sarana yang ada pasti akan dapat dioptimalkan sehingga pelayanan pelanggan akan meningkat karena biaya lebih murah dan lebih cepat. Oleh sebab itulah saya ajak Direksi Nusindo untuk ikut dalam delegasi studi banding ke Korea (selatan) ini agar wawasan kelogistikannya bertambah sehingga kelak akan dapat mengembangkan perusahaan lebih optimal.

 
Dari perusahaan logistik Samsung yang bernama Cello, kita dapat mengenal bagaimana kegiatan tingkat dunia end to end service yang dikemas dalam Integrated Global Logistic Service ini dijalankan dengan memanfaatkan teknologi digital. Logistic Service mereka saat ini terpakai 70% adalah untuk melayani produk Samsung sedangkan sisanya untuk non-Samsung. Dari operation room mereka di head office dapat dipantau semua pergerakan armada di seluruh dunia yang mereka layani, baik melalui vessel (kapal laut), truk maupun pesawat. Manakala ada indikasi penyimpangan (irregularities) karena salah route ataupun hijacking atau keterlambatan, sistem akan segara bekerja untuk meminta cabang terdekat mengambil tindakan yang diperlukan. Demikian pula early warning bila ada gangguan, misalnya volcano, gempa bumi ataupun kerusuhan, maka sistem juga akan bekerja mencari alternatif route atau cara lain, sehingga pelayanan kepada pelanggan tidak terganggu.

 
Sesuai peran sebagai Holding, maka menurut saya RNI harus banyak bergerak di bidang pengembangan usaha untuk lebih membesarkan perusahaan baik di tingkat nasional maupun global. Kegiatan operasional sudah saya percayakan kepada Direktur anak-anak perusahaan yang semua saya yakini sangat mumpuni di bidang masing-masing. Saya mengikuti jalannya operasional di anak perusahaan melalui Direktorat Pengendalian Usaha yang sekaligus juga melakukan analisa manjemen resiko atas kegiatan yang akan berdampak secara corporate (group). Pengawasan rutin juga saya percayakan lewat teman-teman Direksi dan Group Head yang saya sebar dan tempatkan sebagai Komisaris di anak-anak perusahaan. Saya harus lebih banyak melihat dan menengok kiri kanan untuk melihat peluang bisnis untuk membesarkan perusahaan, baik di dalam maupun di luar negeri, baik untuk bisnis eksisting maupun bisnis baru.
Properti, sebagaimana pernah saya sampaikan juga termasuk bisnis masa depan bagi RNI Group. Disamping asetnya yang tersebar di segala penjuru yang kebanyakan idle, saya juga melihat bahwa beberapa bisnis RNI sudah tidak akan mungkin dikembangkan dalam jangka panjang di pulau Jawa yang semakin padat. Disamping tekanan demografi, saya lihat alih fungsi lahan juga tidak terhindarkan. Dalam waktu yang bersamaan saya lakukan dua hal. Mencari alternatif lahan di luar Jawa untuk merelokasi bisnis di Jawa dan mencari investor untuk melakukan perubahan pemanfaatan lahan. Suatu langkah yang sangat awal, ibarat anak kecil baru turun ke tanah untuk belajar jalan. Kalau tidak dimulai, maka kita akan terninabobokkan terus dalam gendongan.

 
Oleh karena itu saya juga mengajak Pak Djoko Retnadi sebagai Direktur yang membawahi Manajemen Aset untuk memulai membuka hubungan dengan perusahaan-perusahaan besar yang berkemampuan dalam bidang asset development seperti Lotte, MDM, Hyundai, dll.

 
Dari perusahaan yang terkait dengan bisnis eksisting RNI seperti farmasi, alkes, trading dan alat suntik, saya berkesimpulan bahwa pada umumnya mereka sangat tertarik untuk bekerja sama dengan perusahaan BUMN. Kesimpulan saya yang lain adalah bahwa rata-rata mereka sudah mejadi pemain di tingkat global meskipun perusahaannya baru berdiri di akhir tahun 1990-an. Produk yang dihasilkan kebanyakan diekspor, bahkan mereka sudah bekerja sama dengan partnernya membangun industrinya di negara lain. Saya sangat berharap apabila kita bisa bekerjasama dengan mereka, maka kita juga akan terbawa menjadi perusahaan global atau paling tidak penjadi pemain di tingkat regional Asia.

 
Kalau direnungkan, sebenarnya Kemerdekaan Korea ini hanya berselisih dua hari dengan kemerdekaan kita, yaitu 15 Agustus 1945, tetapi dia bisa menjadi lebih maju padahal dia juga tidak memiliki sumberdaya alam. Ternyata kuncinya adalah di pembentukan karakter SDM nya. Meskipun Pemerintahnya berganti-ganti dalam waktu singkat namun pembangunannya terus berjalan. Karena itu pendidikan yang diterapkan di Korea memegang peran penting dalam membentuk karakter bangsanya. Mereka begitu bangganya menggunakan produk-produk nasionalnya. Sehingga jarang sekali kita melihat mobil buatan negara lain bersliweran di jalan-jalan raya Seoul hampir sebagian besar mobil produksi Korea yang memadati jalan-jalan di Seoul.

 
Di sisi lain, mereka juga tetap harus bersiaga perang dengan saudara dan tetangganya yaitu Korea Utara. Sedemikian siaganya sehingga bagi generasi muda Korea (Selatan), pada umur 20 tahun mereka harus mengikuti program wajib militer. Tanpa bisa ditawar. Tidak bisa diganti dengan uang atau diganti orang lain. Kalau ada yang mencoba menghindar, maka mereka akan menjadi warga yang tidak terhormat yang akan di “bully” di lingkungannya.

 
Sayangnya, meskipun saat ini sudah saya kembangkan layar di sungai Han yang membelah Seoul menjadi Gangnam region dan Gangbo Region, airnya masih beku karena suhu -20°C sehingga kapal belum bisa berlayar. Tunggu waktunya..

 
Selamat bekerja.

 
Wassalamualaikum wr.wb.

 
Seoul, 16 Januari 2018.

 
Didik Prasetyo

CEO Notes # 51 Wiwitan Petik 2018: From Leaf, with Love, for Life

Assalamualaikum wr.wb,

 
Kemeriahan pesta yang mengawali panen bukan hanya monopoli pabrik gula (PG) saja. Acara yang dinamai dan dimaknai berbeda di setiap daerah atau PG ini mempunyai sejarah yamg amat panjang, mungkin setua umur industri gula di Indonesia. Tetapi di industri teh yang hampir sama tuanya dengan gula, sama-sama sudah ada sejak Gubernur Jenderal Van den Bosch yang terkenal dengan “cultuurstelsel” alias tanam paksa, meskipun ada juga selamatan ala kadarnya di kebun yang akan mulai dipanen, kadar hebohnya tidak seperti selamatan giling di PG. Itulah mungkin sebabnya, ketika di Kebun Teh Liki dirintis oleh Pak Agung Murdanoto – Direktur Pengembangan Usaha dan Investasi PT RNI semasa masih menjabat sebagai Direktur PT Mitra Kerinci – suatu tradisi sederhana perayaan yang diberi nama Wiwitan Petik, dilanjutkan oleh penggantinya, sampai sekarang sudah keempat kalinya. Semakin lama, semakin tahun, semakin semarak sebagaimana saudara tuanya di pabrik gula. Apalagi, penggantinya adalah Pak Yosdian yang berasal dari keluarga pabrik gula dan dibesarkan di lingkungan pabrik gula sehingga tahu benar bahwa acara semacam itu sangat efektif untuk media komunikasi dan konsolidasi banyak hal. Karyawan dan keluarga akan terlibat secara aktif. Masyarakat sekitar juga akan memperoleh hiburan gratis. Suatu hal yang sangat didambakan bagi masyarakat daerah terpencil yang mungkin haus hiburan. Ketika kehadirannya semakin sangat dirasakan oleh lingkungan sekitar, maka Pemerintah Daerah juga mulai menaruh perhatian. Pejabat yang datang semakin tinggi tingkatnya. Dari semula Wali Nagari atau tingkat kelurahan ke Muspika dan sekarang meningkat Muspida. Lebih lebih ketika dicanangkan oleh pak Bupati bahwa Wiwitan Petik akan diagendakan sebagai acara wisata budaya maka keberadaannya sudah semakin penting. Sebuah tradisi baru telah dibangun.

 

Kanan-kekiri Dirut RNI Didik Prasetyo Anggota DPRD Sumbar Zigo Ralanda Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria  Ketua DPRD Solsel Sidiq Ilyas lakukan po.JPG

Isi acaranya sendiri memang sarat dengan budaya. Mulai petugas penerima tamu di meja registrasi, pemain musik yang berada di atas panggung dan tentu saja para penarinya berpakaian adat Minangkabau yang sangat meriah dengan mahkota di kepala dan baju bersulam berkerlap-kerlip indah. Yang laki-laki bercelana panjang di lilit sarung dan bertutup kepala model atap rumah gadang. Tentu saja penampilan yang atraktif menjadi obyek selfie teman-teman yang saya bawa dari Jakarta. Acara diawali dengan persembahan tari-tarian Sumatera Barat yang dibawakan dengan apik oleh karyawati kebun dilanjutkan dengan persembahan sekapur sirih yang harus dikunyah oleh para tamu VIP. Bersama dengan Pak Bupati, Ketua DPRD, Kajari, Kapolres, sayapun menerima kehormatan tersebut. Dari raut mukanya waktu mengunyah, saya dapat melihat bahwa Pak Kajari dan Pak Kapolres ini bukan orang Sumatera Barat !

 
Dalam sambutannya pak Bupati – menyiratkan bahwa keberadaan PT Mitra Kerinci di Kabupaten Solok Selatan ini sangat diperhitungkan, bahkan menjadi icon bagi daerah tersebut. Dengan fasih pak Bupati bisa menyebut bahwa teh di Kebun Liki ini adalah kategori “single origin” yang sangat spesifik dan tidak terdapat di daerah lain. English Breakfast Tea yang terkenalpun isinya adalah teh Mitra Kerinci. Apalagi ditambah oleh pak Ketua DPRD Kabupaten Solok Selatan bahwa PT Mitra Kerinci juga menjadi bagian tak terpisahkan dari Kabupaten yang baru ini karena MK ikut mendorong proses kelahirannya pada waktu itu. Untuk menguatkan keeratan Pemda dengan teh, kalau di tempat lain acara ngopi pagi di sebut Coffee Morning, di Solok Selatan diganti menjadi Tea Morning.

 

Dirut RNI Didik Prasetyo dan Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria menerima sirih dan kapur sebagai bentuk ucapan selamat datang dalam tarian Pasambah.JPG

Lokasi Kebun Liki yang terletak di desa Sungai Lambai, Kecamatan Lubuk Gadang-Sangir ini memang mempunyai eksotisme tersendiri. Letaknya persis di kaki Gunung Kerinci berdampingan dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang merupakan area konservasi hutan hujan tropis (tropical rain forest) menjamin bahwa produk tehnya masih murni alami. Air yang digunakan adalah murni dari mata air gunung yang terkonservasi, bebas polusi. Itulah salah satu sebab kenapa tehnya dikategorikan “single origin”….

 
Produk yang dihasilkan adalah Teh Hijau maupun Teh Hitam dengan berbagai kualitas dan berbagai varian, ekspor maupun lokal. Ekspor dilakukan sampai Taiwan, Pakistan dan Timur Tengah. Varian produk dijual dalam bentuk bulk, teh seduh, teh celup maupun teh kemasan. Kualitas mulai dari Broken Mix (low grade) sampai Orange Pekoe 1 yang high quality. Penjualan dilakukan melalui trader, packer maupun retailer. Semua pipe line distribusi yang ada di pasar dimanfaatkan semuanya. Saya memaklumi kenapa kita harus main keroyokan dalam pemasaran dan distribusi ini karena pasar bagi produk teh dengan berbagai varian ini adalah “a very huge market”. Di seluruh pelosok dunia dimanapun tidak ada orang yang tidak minum teh. Di setiap acara, entah hajatan, dinas atau wisata atau perjalanan, pertanyaannya pasti : “tea or coffee”? Coca cola atau Pepsi yang begitu raksasa saja biasanya cuma sebagai minuman alternatif tambahan dalam berbagai peristiwa. Jadi saya yakin bahwa : “Tea will be lasting forever along with your life !”

 
Dengan keyakinan itulah maka ketika awal saya mendalami kondisi PT Mitra Kerinci ternyata begitu terseok-seok karena menanggung beban hutang, sebagai pemegang saham, saya lakukan berbagai langkah restrukturisasi keuangan. Dengan mempertimbangkan prospek bisnis ke depan yang cerah, sebagian hutang kepada Pemegang Saham, saya DEC (Debt to Equity Conversion) sehingga perusahaan menjadi lebih sehat, bunga lebih ringan dan perusahaan menjadi lebih lincah dalam berbisnis. Langkah-langkah operasional bisnis selebihnya saya serahkan kepada Pak Yosdian, tenaga muda yang masih enerjik ex MT (Management Trainee) yang pertama saya percaya menjadi Direktur Anak Perusahaan. Saya lihat bahwa semua lini operasi sudah digarap serentak. Di sektor produksi, sisi on farm dan off farm dibenahi. Penetrasi pasar juga dilakukan dengan agresif, baik melalui sinergi antar BUMN maupun sampai ke pasar luar negeri. Networking dan partnership dengan mitra yang sudah berpengalaman juga dilakukan. Produk-produk yang berpotensi mempunyai value spesifik seperti white tea semakin diintensifkan. Saat ini, teh yang disajikan diseluruh gerai Hotel Indonesia Group berasal dari Liki. Mungkin dengan bantuan pak Yana Aditya – DK PT RNI, PT Mitra Kerinci bisa menambah pasarnya ke jaringan Hotel Sahid….

 

 
Pada kesempatan acara kemarin saya juga minta Dir PU Pak Elka untuk mengintrodusir pemanfaatan Tools berbasis Teknologi Informasi yaitu Sistem Analisa Usahan Per Blok (SAUB). Dengan sistem ini maka progres pekerjaan di kebun akan selalu di-superimpose dengan pengajuan pembiayaan sehingga lebih memastikan bahwa semua biaya yang diajukan adalah benar-benar sudah selesai dikerjakan di kebun. Ujung-ujungnya saya berharap HPP akan turun sehingga produk teh Kebun Liki akan lebih kompetitif di pasar. Dijaman NOW seperti sekarang, hanya dengan berbekal GPS dan sistem Android yang ada di Smart Phone maka teknologi yang canggih sudah bisa kita genggam.
Lokasi alam pegunungan di kaki gunung Kerinci juga menyimpan potensi bisnis lain. Di tengah kebun mengalir sungai Lambai dan sungai Belangir. Di beberapa tempat sungai tersebut menciptakan air terjun yang potensial untuk berbagai penggunaan. Air terjun Tansi Ampek (yang artinya bertingkat empat) berpotensi menjadi obyek wisata yang sangat indah dan eksotis. Pertemuan kedua sungai (Lambai dan Belangir), berdasarkan kajian konsultan ternyata berpotensi menghasilkan PLTA 15,6 MW !

 
Sayapun meminta Dir PUI pak Agung untuk menjajaki lebih jauh peluang bisnis tersebut. Alhamdulilah proses berjalan terus dan terbukti banyak investor yang tertarik untuk berpartner menggarap proyek tersebut. Saya minta MK menggandeng BUMN atau anak perusahaan BUMN yang paham mengenai energi dalam kerangka sinergi sebagai partner. Jadilah anak perusahaan (bagi RNI adalah cucu) PT Liki Energi yang merupakan join venture antara PT Mitra Kerinci (55%) dan PT Brantas Energi yang merupakan anak perusahaan BUMN PT Brantas Abipraya (45%). Kelahiran proyek baru ini tinggal menunggu waktu karena ibarat kandungan sekarang sudah hamil tua. Penyusunan Amdal sudah hampir rampung yang akan segera diikuti dengan PPA (Power Purchase Agreement) dengan PLN dan setelah itu konstruksi akan mulai jalan, diawali dengan ground breaking.

 
Menurut Pak Bupati, area Kab. Solok Selatan juga menghasilkan emas yang saat ini ditambang oleh rakyat dengan teknologi sederhana. Saat ini semua penambangan rakyat sedang ditertibkan karena sedang menunggu investor yang akan mengusahakan penambangan tersebut dengan teknologi industri yang lebih maju. Kalau di sekitar kebun Liki juga ada potensi itu, benar-benar kejadian : “we are sitting in the gold mine” dlm arti sebenarnya!. Semoga holding BUMN Tambang bisa melirik potensi tersebut agar potensi Kabupaten Solok Selatan bisa tergali semua…

 

Dirut RNI Didik Prasetyo (kedua dari kiri) menikmati Teh Liki bersama (dari kanan kekiri) Ketua DPRD Solok Selatan Sidiq Ilyas dan Bupati Solok Sel.JPG

Jika kelak Kab. Solok Selatan semakin berkembang, tentunya kebun Liki juga akan terdampak. Sebuah Masjid Agung yang megah akan di bangun di area kebun yang terletak di pinggir jalan utama Padang – Jambi yang melintasi Kayu Aro. Perjalanan jauh menuju kebun pasti akan lebih menyenangkan. Walaupun perjalanan Padang – Liki sekarang juga sudah lancar dibandingkan 2 – 3 tahun yang lalu. Perbaikan jalan sudah selesai, termasuk membereskan sisa longsoran dan banjir. Udara sangat sejuk seperti di daerah sub tropis. Minum kopi di area danau Kembar ditemani pisang goreng terasa sangat nikmat. Danau kembar ini yang terdiri dari Danau Atas dan Danau Bawah sangat berpeluang menjadi lokasi wisata yang tidak kalah dengan Danau Batur di Bali. Pak Agung yang ahli kuliner sudah memandu dengan menyiapkan “wish list” yang “worthed” untuk dikunjungi : Bakso Tiara, Bakso Agung, Indomie Anak Rantau, Sate Soto Palo Pantai Cermin, Dendeng Batokok Mintuo, Baluik Sungai Kalo…. dan masih beberapa lagi yang saya nggak hafal. Sayang perut ini terbatas jadi tidak semua bisa dicoba…
Teh sebagaimana juga kopi menempati ruang sendiri-sendiri di peradaban manusia.

 
From Leaf, with Love, for Life…

 
May God Always Bless Us..

 
Wassalamualaikum wr.wb.

 
Jakarta, 9 Januari 2018.

 
Didik Prasetyo