CEO Notes # 60 Biobase Industry : Calon Penyelamat Lazy Company

Assalamualaikum wr.wb,

Ini masih cerita ihwal “memecah kepompong” RNI untuk bermetamorfosa menuju RNI Baru. Setelah beraksi dengan tandatangan CSPA Phapros tanggal 13 Feb 2019 yang lalu, hari Jumat berikutnya tanggal 15 Feb 2019 saya ditanggap warga PT Rajawali I di Malang dalam acara Workshop TOP (Target Operasional) 2019. Saya diminta untuk memberikan informasi dan sosialisasi terkait dengan “Arah Transformasi RNI kedepan”. Senin sebelumnya saya juga berbicara hal yang sama di depan para Nushiers (julukan baru bagi PT Rajawali Nusindo?). Di kedua pertemuan tersebut saya jelaskan Transformasi RNI kedepan, apa yang mendasari, bagaimana kita mempersiapkan infrastrukturnya, strategi yang harus dijalankan hingga sasaran yang harus dicapai dalam jangka panjang. Saya seperti caleg yang harus “kampanye” door to door ke seluruh anak perusahaan RNI Group menjelaskan visi dan misi saya kepada seluruh karyawan terkait dengan Transformasi RNI.

52559008_10219525546755495_8368584553228402688_n.jpg

Sebelum ”kampanye resmi” saya diundang oleh PT Rajawali I pada malam saresehan dan makan malam diiringi lagu-lagu Bojogalak dari Nella Kharisma dan ditutup dengan lagu “Yang Penting Happy” nya Jamal Mirdad. Seiring dengan suasana yang sangat cair, saya manfaatkan untuk sharing pengalaman pribadi saya selama bekerja. Saya sampaikan beberapa kunci agar kita bisa maju yaitu kita mesti menjadi insan pembelajar, antusias dan menjadi contoh yang baik, baik bagi atasan, rekan sejawat apalagi bagi bawahan. Itu masih belum cukup, kita juga harus memberikan yang terbaik, berintegritas dan selalu mengembangkan pola pikir kreatif dalam bekerja.

52486566_10219525547395511_5248946314888085504_n.jpg

52449420_10219525546915499_1760125357937131520_n.jpg

Esok harinya, dalam acara yang lebih resmi, saya perdalam dan perluas lagi bahasan saya mengenai kondisi perusahaan saat ini, khususnya PT Rajawali I. Setelah dibuka dengan yel-yel dan slogan PT Rajawali I “Satu Jiwa Raih Juara”. Saya berikan “warning” bahwa PT Rajawali I saat ini sudah terlihat menuju ke arah “Lazy Company”. Kalau tidak segera disadari, kondisinya bisa mengarah menjadi “Zombie Company”. Istilah ini saya pelajari dari bukunya Prof. Rheinald Kasali berjudul “Tomorow Is Today”.

Apa itu ciri-cirinya bahwa suatu perusahaan sudah memasuki zona “lazy company”?? Menurut Prof. Rheinald Kasali, dua ciri yang pertama, meminjam istilah Hinduisme yaitu “No Shiwa” dan “No Brahma”. Kita tentunya masih ingat pelajaran Sejarah di SMP akan konsep Trimurti Hindu yaitu Brahma – Wisnu – Shiwa. Brahma adalah Dewa Pencipta, Wisnu Dewa Pemelihara dan Shiwa Dewa Perusak atau Penghancur. Kalau di suatu perusahaan sudah terjadi “No Shiwa” berarti tidak perubahan atau tidak ada yang perlu diganti. Istilah menterengnya mungkin “No Self Destruction” atau “No Change”. Kalau sudah merasa tidak perlu ada yang diubah-ubah, fase berikutnya adalah “No Brahma”. Tidak ada penciptaan atau tidak ada inovasi yang berarti juga tidak ada investasi.

52991423_10219525546075478_7348939706337329152_n.jpg

Kita coba tengok di sekeliling kita. Di kalangan gula saja sudah banyak yang berubah. PG Kebon Agung yang bertetangga dengan PG Krebet Baru misalnya, sudah dua tahun ini merubah proses sehingga menghasilkan gula premium dan sekarang mulai memasuki dunia “retail branded” kiloan. PG-PG di Lampung sudah lama dan sudah punya nama di dunia retail yaitu GULAKU. Belum lagi upayanya untuk melakukan diversifikasi, yaitu etanol dan co-gen.

Investasi yang kita lakukan setiap tahun sebagian besar, atau bahkan semuanya lebih banyak untuk melakukan penggantian atau replacement. Resheling lagi gilingan yang sudah aus. Retubing pipa ketel yang sudah mulai tipis dan rawan bocor atau mengganti rantai yang sudah kendor karena dipaksa berputar terus selama 24 jam sehari selama masa giling. Ciri ketiga adalah “Comfort with what you have had” (Nyaman dengan kondisi yang sudah dimiliki). Ngapain susah-susah, begini saja sudah bagus. Sebagai contoh saat saya minta teman-teman untuk terjun ke gula retail. Setelah saya paksa dan setiap hari saya tanya perkembangannya, teman-teman PG di RNI Group bersedia mengemas gulanya dalam kemasan 150 gram. Itu pun masih enggan investasi mesin kemasnya….

51855778_10219525547355510_3041933161740107776_n.jpg

Ditambah dengan ciri keempat : Money Come, EBITDA Margin Great, but no New Investment. Sebenarnya uang numpuk karena EBITDA Marginnya bagus, tapi tidak ada investasi baru untuk meningkatkan nilai perusahaan. Padahal kalau kita mau “berinvetasi” ke ranah yang lebih luas kesempatannya masih terbuka lebar. Misalnya kita berinvestasi membeli traktor untuk membantu petani menanam tebu atau kita berinvestasi mengembangkan bibit varietas masak awal. Manfaatnya bukan untuk petani saja tetapi juga ada “benefit” yang pasti nanti kembali ke kita.

Ciri kelima masih senada, Leverage Capacity is Big Enough (DER) but Lazy. Ibaratnya sebenarnya PT Rajawali I seperti putri cantik. Banyak bank-bank yang mau menyuntingnya dengan memberikan pinjaman karena sangat diyakini kemampuan pengembaliannya. Sayangnya, si putri cantik ini ogah-ogahan, padahal tanpa terasa proses penuaan pasti terjadi….

Ciri yang keenam adalah Labor Turn Over almost Zero artinya hampir tidak ada karyawan yang keluar masuk. Semua nyaman di posisinya masing-masing. Bahkan untuk pindah ke anak perusahaan lainpun kalau bisa dihindari…. bila perlu mundur atau resign. Ciri ketujuh terjadinya Aging Employee yaitu rata-rata usia karyawan sudah tua. Tentu saja karena pada nggak mau pindah, semua ingin mengabdi sampai titik darah yang penghabisan, akibatnya yang tinggal akan semakin tua. Bahkan saya sempat bertanya berapa banyak prosentase karyawan yang berusia lebih dari 40 tahun dijawab oleh Bagian SDM “lebih dari 60% pak”. Kalau di tempat lain sudah berganti dengan generasi mileneal, disini makin didominasi “generasi kolonial”….

53036287_10219525545715469_1597869791371067392_n.jpg

Ciri kedelapan adalah lambang kemakmuran “Salary almost 22 times yearly” alias pendapatan karyawan hampir 22 kali setahun. Mari kita hitung. Dari gaji – THR – Tunjangan Pendidikan saja sudah diperoleh 14 kali. Jadi kalau bonus atau jasa produksinya 15 kali. It means 29 times yearly….Fantastic, bro !

Terakhir, atau ciri kesembilan adalah Cost of Enjoyment High alias Biaya rekreasi karyawan tinggi. Jadi, hati-hatilah kalau anda sebagai karyawan makin sering diajak piknik ke Bali atau bahkan yang lebih jauh lagi ke luar negeri mungkin, segeralah anda imbangi dengan berkarya lebih inovatif dan produktif lagi supaya piknik itu benar-benar “worthed” seiring dengan peningkatan nilai perusahaan sehingga tidak berujung menjadi Zombie……

Ketika saya selesai bercerita tentang “Lazy Company” ini seluruh karyawan PT Rajawali I terdiam dan terhenyak (Jawa : kamitenggengen). Tidak ada yang membantah bahwa ciri-ciri tersebut saat ini sedang terjadi di PT Rajawali I. Mudah-mudahan cerita yang saya maksudkan untuk menggugah semangat tadi dapat diresapi dan direnungkan supaya jangan sampai kita terlena apalagi terlelap, karena kita merasa sudah di depan, tahu-tahu kita sudah tertinggal dari rombongan….

Sebenarnya walaupun masih malu-malu, PT Rajawali I sudah mulai menggeliat mencari bisnis baru selain hanya Gula dan tetes. Baru-baru ini saya “dipameri” Pak Sagita-Direktur Keuangan PT Rajawali I sebuah contoh produk yang terbuat dari ampas tebu berupa kotak makanan yang sering kita temui kalau beli Mie Goreng atau Nasi Goreng secara “take away”. Biasanya kotak itu terbuat dari Styrofoam yang berbahan baku plastic atau PP (polypropylene). Kita tahu bahwa lama kelamaan plastik akan menjadi “musuh” lingkungan.Saat ini dunia sudah mulai sadar bahwa ternyata plastik membawa masalah tersendiri. Kantong plastik yang biasa dibawa ibu-ibu pulang belanja dari supermarket, masa pakainya rata-rata cuma 12 menit, setelah sampai rumah terus dibuang. Tapi dia akan mengotori dan menyumbat got atau saluran pembuangan selama bertahun-tahun. Kemudian terbawa aliran air sampai ke laut menjadi mikroplastik beracun yang bertahan disana selama 1000 tahun dan setiap tahun membunuh 100.000 mamalia laut …

52382834_10219525545395461_673079443241041920_n.jpg

Disamping itu, para ahli belanja (shopper) ini kalau dikumpulkan akan menggunakan kantong plastik sekali pakai sebanyak 500 juta lembar per tahun atau berarti 150 lembar, per orang, per tahun. Bayangkan…

Untunglah, kesadaran ini perlahan mulai meluas sehingga beberapa negara sudah membatasi penggunaan plastik dengan berbagai cara. Ada yang melarang, mengenakan pajak atau minimal membatasi penggunaannya. Seperti yang pernah kita dengar di Indonesia sudah ada yang menerapkan kantong plastik berbayar meskipun mungkin belum meluas. Pemkot Bogor, Denpasar, Balikpapan, Malang dan Jambi adalah kota-kota yang sudah mengeluarkan Perda mengenai pembatasan penggunaan kantong plastik. Di BUMN ada program dari Pegadaian plastik ganti emas, Bahkan dalam debat kedua Presiden petahana Bp Jokowi sudah menyampaikan program pemerintah yang akan secara konsisten mengurangi sampah-sampah plastik…..Jawaban dari tantangan itu smuanya adalah tetap harus ada plastik, tetapi plastik yang “bio-degradable” atau plastik yang bisa segera terurai menjadi bahan organik segera setelah dia menjadi sampah.

52384520_10219525549275558_1404622513891180544_n.jpg

Syukur alhamdulilah, salah satu bahan bakunya adalah dari ampas tebu. Mau plastik lembaran atau mau Styrofoam atau apapun bentuknya, semuanya secara teoritis dan teknis bisa digenerate dari ampas atau bagasse. Serahkan pada Ahli nya dan tinggal dihitung kelayakan ekonomisnya, maka Insya Allah ke depan bisa menjadi industri hilir yang berbasis ampas tebu atau mungkin dari janjang kosong kelapa sawit atau dari pelepah sawit. Intinya yang sumbernya dari bahan-bahan hayati ke depan bisa dikembangkan menjadi bahan apa saja yang “bio-degradable”. Yang lebih ramah lingkungan. Yang tidak mencemari.Kalau RNI bisa masuk kesitu, jadilah kita akan mengembangkan “bio-base industry” menjadi mimpi ke depan dalam jangka panjang yang akan bisa menggantikan existing business yang sekarang.

Saya sendiri, untuk saat ini, lebih melihat dari sisi bisnisnya bagaimana bio-plastic ini bukan hanya akan menghasilkan produk yang ramah lingkungan tetapi sekaligus juga menghasilkan duit dan menopang industri utamanya yang sedang tertatih-tatih mempertahankan eksistensinya. Seperti halnya Thailand yang tahap industri gulanya saat ini sudah memasuki 3rd stage dimana gula sudah bukan produk utama lagi. Pada waktu masih 1st stage memang masih berproduksi di seputaran gula : raw sugar, white sugar (GKP), refine sugar, liquid sugar, dsb. Tapi memasuki 2nd stage mereka sudah agak melebar : Power & Steam, Ethanol, Fertilizers, Animal Feed (Pakan ternak). Dan saat ini sudah sampai pada tahap 3rd stage, sudah melompat jauh dari bahan awalnya sehingga tidak akan disangka bahwa produk-produknya masih kategori “sugarcane based” yaitu : Bio-plastic, bio-chemicals, Yeast, Food & Feed Additive, Pharmaceutical and Cosmetics.Saya segera mendorong PT Rajawali I untuk duduk bareng dan berunding dengan pihak pemilik teknologi yang berkemampuan untuk menghasilkan produk “packing” berbahan baku ampas tebu ini. Tidak perlu lagi menunggu sampai 1.000 tahun untuk mengurai bahan ini ketika sudah dibuang menjadi limbah karena sifat bahannya adalah “bio-degradable”. Sudah terbayang seberapa besar pasar produk ini kalau dikembangkan menjadi “bio-plastic” yang amat multi fungsi itu.

52581038_10219525554755695_5610799933801103360_n.jpg

Alhamdulilah, geliat PT Rajawali I sudah mulai terwujud karena PT Rajawali I sudah menandatangani MOU dengan pihak pemilik teknologi “bio plastic”. Tinggal saya pantau “follow-up“ nya.

Selamat datang Biobase Industry dan Selamat Tinggal Lazy Company.

Semoga Allah SWT meridhoi kita semua…..

Amiien….YRA

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta, 20 Februari 2019.

Didik Prasetyo

Iklan

CEO Notes # 59 CSPA Phapros : Memecah Kepompong Metamorfosa RNI

Assalamualaikum wr.wb,

Semenjak angin perubahan berhembus sangat kencang di KBUMN khususnya terkait dengan kebijakan Holdingisasi BUMN, RNI yang sejak lahirnya mempunyai DNA konglomerat karena bergerak dibidang bisnis yang bermacam-macam dituntut juga untuk melakukan perubahan atau hilang terbawa angin. Oleh karena itu RNI harus berubah atau mati, “Change or Die”. Slogan tersebut telah saya inisisasi sejak tahun 2017 dan selanjutnya ketika perayaan HUT RNI tanggal 12 OKTOBER 2018 saya launch tag line baru lanjutan dari tag line CHANGE OR DIE tahun 2017 yaitu TRANSFORMASI UNTUK RNI BARU (baca CEO Notes #56).

Sebegitu terobsesinya dan sebegitu excitednya saya, sehingga ketika salah satu langkah itu terwujud dalam kenyataan, saya merasa seperti Ronaldo atau Messi yang baru menyarangkan gol di ajang Piala Champion setelah melewati berbagai tackling lawan, sorakan penonton dan perangkap offside.

Jam 08.00 WIB di pagi hari yang masih dibalut selimut dinginnya udara Jakarta, Rabu tanggal 13 Februari 2019, akhirnya saya menandatangani CSPA (Conditional Sales Purchase Agreement) dengan Direktur Utama PT Kimia Farma (Persero) Tbk Pak Honesty Basyir di depan Deputi Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN. Pecahlah Kepompong RNI sebagai tanda dimulainya fase kehidupan baru setelah metamorfosa. Dari ulat yang merayap menjadi kupu-kupu yang inshaa Allah akan terbang tinggi. Semoga…Dalam CSPA disepakati bahwa RNI akan menjual 476,9 juta lembar sahamnya di PT Phapros Tbk dan dibeli oleh PT Kimia Farma (Persero) Tbk sehingga kepemilikan saham 56,77% di PT Phapros Tbk beralih dari PT RNI ke PT Kimia Farma (Persero) Tbk. Mestinya ini suatu aksi korporasi yang sangat fenomenal bagi banyak pihak. Tapi karena terjadi tanpa banyak hiruk pikuk dan nilainya tidak se-fantastis Freeport, alhamdulilah tidak sampai menimbulkan kasus “Papa Minta Saham”…..Mengapa fenomenal bagi banyak pihak?Bagi Kementerian BUMN sendiri, ini merupakan langkah maju berikutnya untuk mendukung dan mengakselerasi terbentuknya Holding Farmasi setelah sebelumnya berhasil membentuk Holding Tambang, Holing Migas. Di Kedeputian Industri Agro dan Farmasi KBUMN sebelumnya sudah ada Holding Pupuk, Holding Perkebunan, Holding Kehutanan dan mungkin akan segera menyusul Holding Pangan.

52020773_10219501126825012_7532929804580945920_n.jpg

Bagi PT Kimia Farma (Persero) Tbk aksi ini pasti juga sangat fenomenal karena dengan mengakuisisi PT Phapros Tbk portofolio produknya menjadi semakin beragam dan saling melengkapi disamping langsung memperbesar kapasitas produksinya. Apalagi sebelumnya PT Phapros Tbk baru saja mengakuisisi PT Lucas Djaya salah satu perusahaan farmasi juga…..Bagi PT Phapros Tbk juga pasti fenomenal. Pemegang Saham mayoritasnya baru. Seribu satu kemungkinan bisa terjadi ibarat orang yang baru menikah dan mendapat mertua baru. Maaf. Siapa yang berani menebak apa yang akan terjadi? Saya tidak berani meramal, tapi saya melihat sisi positifnya dari segi bisnis. Phapros sekarang mempunyai saudara sesama perusahaan farmasi yang berarti bisa saling menguatkan melalui sinergi, saling bertukar ilmu dan pengalaman untuk meningkatkan daya saingnya dan yang paling penting peluang bagi karyawan PT Phapros Tbk yang bagus-bagus bisa berkiprah lebih baik lagi dengan orang tua yang baru karena masih sektor yang sama. Di PT RNI, selama ini Phapros bersaudara dengan industri gula, sawit, teh, kulit. Jadi ketemunya sesama saudara ini seperti keluarga besar yang sedang arisan saja…… Bagaimana di sisi PT RNI sendiri? Tentu saja ibarat barang dagangan, seperti kita mau jual mobil karena ingin ganti versi yang lebih baru, mobil harus kita poles dulu. Minimal masuk salon mobil supaya kelihatan lebih kinclong sehingga akan menaikkan harga. Istilahnya Value creation…PT Phapros Tbk tidak hanya sekedar saya poles, tetapi saya besarkan dan saya naik-kelaskan. PT Phapros Tbk yang sekarang punya nick-name baru di BEI yakni PEHA, baru saja melakukan pengembangan anorganik dengan mengakuisisi 90,22% saham PT Lucas Djaya, sebuah perusahaan farmasi yang memproduksi baik obat generik maupun branded dan istimewanya juga sudah menembus pasar luar negeri. Dengan akuisisi ini kapasitas produksi PEHA akan naik 25%. Fasilitas produksi yang belum dimiliki PEHA sehingga harus toll-out keluar, sekarang bisa dikerjakan di Pabrik nya Lucas. Dan yang lebih menjanjikan walaupun kecil tetapi PT Lucas Djaya sudah terlebih dahulu menembus pasar global hingga mencapai 20% dari omzetnya yaitu ke Myanmar, Afganistan, Nigeria dan beberapa negara lain. Secara total, dengan bergabungnya PT Lucas Djaya yang juga mempunyai anak perusahaan bernama PT Liza Marin, maka omzet PEHA akan naik 35%. Namun demikian, PEHA juga harus bekerja keras untuk membenahi Lucas, antara lain meningkatkan pangsa pasar produknya yang relatif masih rendah. Disamping harus membenahi sistem Sales & Distribusi, ternyata utilisasi kapasitas mesinnya juga perlu ditingkatkan. Bagi rekan-rekan di PEHA yang masih bersemangat tinggi tapi kariernya sudah mentok, ini tantangan dan peluang untuk tampil ke depan di panggung baru….

Saya menaikkan kelas PEHA dari perusahaan Tbk non-listed menjadi listed sehingga muncullah nama PEHA di papan bursa saham meskipun masih dalam papan pengembangan. Karena tidak ada pengeluaran saham baru, saham yang lama saya stok-split 1:5. Jadi, mereka yang punya 1 saham sekarang menjadi 5 saham.

52415923_10219501123664933_7464159685885558784_n.jpg

Mengapa ini penting untuk dilakukan? Dengan diperdagangkannya saham PEHA di pasar bursa, tanpa harus berdebat panjang dan dikaji rumit, nilai sahamnya sekarang langsung diukur oleh pasar. Alhamdulilah nilai saham PEHA naik terus. Sebelum stok split, nilai nominal 1 saham adalah Rp.500 dan harga komersialnya dikisaran Rp 2.500 – Rp 3.000 per lembar. Ketika masuk bursa, harga saham perdananya adalah Rp.1.198 per lembar dan karena dihari pertama pembukaannya peningkatan harga sahamnya di atas 50%, akibatnya transaksinya mengalami “auto-reject”. Dari cerita yang berkembang, para pemegang saham Phapros yang tadinya lebih banyak karena ikatan tradisionil, karena warisan atau mungkin “cenderamata”, tiba-tiba sekarang menjadi kaya mendadak. Anda berminat ???? Terlambat… Harga saham PEHA 3 hari terakhir ini sudah semakin naik, berturut-turut sejak tanggal 13 Febr sampai 15 Febr naik dari Rp.2250 dan terakhir di level Rp. 2630 per lebar saham, yang secara rata-rata berarti mencapai pertumbuhan 24.64%.Status sebagai perusahaan yang listing di pasar bursa ini juga menuntut PEHA harus semakin memperbaiki governance-nya. Kelengkapan dan berfungsinya organ perseroan dan ketaatan pelaporan kepada regulator harus makin tinggi. Sedikit penyimpangan terhadap compliance saja maka harga saham bisa terkoreksi oleh pasar.Manfaat lain yang bakal diraih adalah semakin terbukanya akses terhadap sumber keuangan murah melalui pasar saham. Tentu saja sepanjang diimbangi dengan kinerja bisnis yang bagus sehingga harga saham akan terus meningkat dan kepercayaan pasar terjaga.

Begitulah, ketika Value creation sudah tercapai, barulah saya secara bertahap memproses penjualan PEHA kepada KAEF yang masih sama-sama BUMN seperti RNI.Tentu saja transformasi RNI tidak hanya berhenti sampai disini. Kehilangan satu PT Phapros Tbk harus segera diganti dengan bisnis baru agar nilai perusahaan (RNI Group) tidak turun. Lagi pula dana yang dihasilkan dari penjualan PEHA tidak mungkin hanya digunakan untuk makan dan melunasi hutang saja. Kalau hanya untuk konsumsi saja terus enak-enakan makan tidur, pasti bangun tidur nanti kita kembali miskin…..

52598176_10219501126745010_7982151420595929088_n.jpg

Dari Environmental Business Analysis yang ada sudah jelas bahwa dari lingkungan eksternal maupun internal akan selalu datang ancaman dan tantangan yang harus diantisipasi. Dari internal tentu saya tahu, portfolio bisnis mana yang sedang urgent atau bahkan emergency untuk dilakukan transformasi, baik dalam rangka rescue maupun untuk pengembangan bisnis. Dari eksternal antara lain terkait dengan kebijakan Pemerintah, Pemegang Saham atau kondisi sosial ekonomi lainnya maupun pasar internasional…..Transformasi yang akan saya lakukan berbasis pada DNA yang dimiliki oleh RNI dan market atractiveness yang mempengaruhi bisnis PT RNI Group…..

Pastilah “lepas”nya Phapros dari RNI akan menimbulkan pertanyaan. Menimbulkan kegalauan. Menimbulkan kebaperan terutama bagi kalangan yang mempunyai kadar romantisme yang tinggi.

Bagaimana tidak? Phapros adalah anak kandung RNI. Benar-benar “ anak” karena hasil perkawinan dari dua pihak (Mayoritas dan minoritas). Phapros adalah kontributor terbesar bagi RNI, baik yang langsung maupun tidak langsung, yaitu melalui Rajawali Nusindo sebagai distributornya. Jadi ibarat burung, Phapros adalah paruh dan cakar yang mencari makanan untuk membuat kenyang sepanjang masa.

Coba kita simak video perjalanan hidup seekor burung Elang berikut? Inilah kisahnya:

Tahukah anda bahwa pada saat burung elang berumur 40 tahun, cakar panjangnya mulai sulit memegang mangsa yang harus dimakan? Paruhnya yang panjang dan kuat menjadi bengkok. Kedua sayapnya menua, bulunya menebal sehingga menjadi beban yang berat untuk terbang. Jadi apa yang harus dia lakukan untuk bertahan hidup?

Dalam situasi ini si elang menghadapi 2 pilihan. Mati atau menjalani proses perubahan yang menyakitkan selama 150 hari. Pada proses itu elang harus terbang ke puncak gunung untuk duduk dan hinggap di sarang. Paruh elang harus dipukulkan ke batu agar paruh lamanya lepas. Pada saat menunggu paruh barunya tumbuh, elang juga melepaskan cakar lamanya. Dan setelah tumbuh cakar baru, elang juga merontokkan bulu-bulu sayapnya.

Setelah 150 hari berlalu, elang terlahir kembali dengan kemampuan terbang yang baru dan kuat untuk hidup 30 tahun lagi.

Sekarang terpulang kepada para RNI-ers. Mau jadi elang atau perkutut. Perkutut hidupnya santai saja, cukup terima order dari majikannya untuk bersenandung (Jawa : manggung), tapi umurnya rata-rata maksimal 25 tahun. Burung elang yang gagah perkasa, apalagi yang namanya jenis elang Wisdom, disamping umurnya panjang, pada umur 62 tahun masih bisa bereproduksi lagi. Amazing, kan?…

52536828_10219501124224947_3735371325489807360_n.jpg

Semoga cerita ini bisa menggugah dan menambah semangat bagi rekan-rekan saya yang sedang bersiap untuk melakukan transformasi di bidang masing-masing.

Semoga semua langkah kita menuju Metamorfosa yang lebih baik senantiasa mendapat petunjuk dan ridho Allah SWT . Amiien…

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta, 16 Februari 2019.

Didik Prasetyo

CEO Notes # 58 Geray Manteb : Upaya mengkloning para Die Hard-er ….

Assalamualaikum wr.wb,

Siapa yang tidak kenal John McClane?Seorang Detektif dari Kepolisian kota New York (NYPD) ini dalam setiap sequel filmnya selalu digambarkan sebagai seorang tokoh protagonis yang Die Hard, atau kalau orang Betawi bilang “kagak ade matinye”……….. Sampai-sampai saking keselnya, pihak lawan yang bolak balik kepentok sama dia yang selalu menghalangi niat jahat mereka menjulukinya dalam istilah yang SDM banget, sebagai : the wrong man, on the wrong place at the wrong time.

Tokoh-tokoh Die Hard seperti ini selalu bisa kita temui di setiap episode kehidupan, entah itu rekan kerja, anak buah, mitra bisnis dan yang menjengkelkan juga pesaing kita. Orang-orang ini walaupun sudah ditekan, digempur, dimusuhin, di bully dan lain-lain masih saja tegar, ulet, persistent dan itu tadi, kagak ade matinye….

Saya juga menemukannya dalam kunjungan kerja saya berkeliling kebun di wilayah Cirebon Jawa Barat beberapa waktu yang lalu. Saya bertemu, bersilaturahmi dan berdiskusi dengan beberapa petani yang tergabung sebagai peserta dalam Geray Manteb. Ini adalah suatu program khusus yang sedang digiatkan oleh Pak Audry Jolly Lapian – Direktur Utama PT PG Rajawali II dalam upaya menambah bahan baku PG (Pabrik Gula) yang berbasis tebu rakyat di wilayah Cirebon Timur yaitu PG Sindanglaut dan PG Tersana Baru. Diberi label istilah Geray Manteb yang sebenarnya adalah singkatan dari : Gerakan Ayo Menanam Tebu…..

50397905_10219236252723325_4899293478292291584_n.jpg

Sebagai program yang masih baru dicetuskan dan melibatkan banyak pihak dengan berbagai seluk beluk administrasi yang cukup rumit, maka kunci sukses dari program ini adalah komunikasi, transparansi dan koordinasi. Maka semakin sering bertemu, semakin sering “ririungan” dimanapun itu terjadi, akan semakin baik, tidak hanya di kantor tetapi juga di tengah kebun tebu sebagaimana yang saya pernah temui.

Melihat semangat para petani ini saya menganggap sangat layak bila mereka menyandang gelar Die Harder From Cirebon. Bayangkan. Dua tahun terakhir ini adalah tahun yang sangat suram bagi petani tebu. Diawali dari dihapuskannya kredit KKPE (Kredit Ketahanan Pangan dan Energi) yang diberikan kepada Kelompok Tani dan diganti dengan KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang prosedurnya lebih panjang sehingga makan waktu cukup lama sejak pengajuan sampai pencairannya.

Kredit ini juga mensyaratkan dilakukannya proses BI Checking yaitu suatu proses pengecheckan historis individu terhadap kelancaran pembayaran kredit di masa lalu. Kalau anda pernah nunggak pembayaran kartu kredit meskipun cuma lima belas ribu maka itu berpotensi tidak lolosnya BI Checking ! Tentu saja kalau kredit tidak lancar akan berpengaruh terhadap pengadaan sarana produksi terutama pupuk yang juga tidak lancar. Kredit dan pupuk yang terlambat pasti akan berpengaruh terhadap kualitas pekerjaan on farm. Penanaman tebu menjadi terlambat, pertumbuhan tanaman juga terganggu akibatnya produksi juga berpotensi tidak tercapai sesuai sasaran. Padahal menurut hitungan kasar, untuk dapat mencapai titik BEP (Break Event Point) atas pemakaian kredit KUR sekarang ini produksi minimal harus 850 ku tebu/ha dengan rendemen 7% pada harga gula Rp.9700,- per kg.

Malapetaka yang kedua adalah ketika keluar aturan tentang harga acuan pembelian gula petani yang ditetapkan Rp. 9100,- per kg (Permendag 58/2018). Meskipun kemudian disusul ketentuan bahwa BULOG wajib membeli gula petani dengan harga Rp 9700,- per kg, namun harga itu masih berada dibawah HPP petani tebu yang menurut Tim Survey BPP dari berbagai perguruan tinggi sudah mencapai Rp 10.500,- per kg. Kondisi ini juga memukul banyak PG karena harga gula tertekan sangat rendah dan stok menumpuk di gudang. Cash flow sangat terganggu sehingga PG tidak mampu lagi memupuk dana boro-boro untuk tambahan areal tanaman untuk modal kerja tanam tebu dan pemeliharaan PG utk giling tahun berikutnya juga ngga ada bahkan utk membayar gaji pegawainya dan hutang2nya, Pak Ferry – Direktur Keuangan PT PG Rajawali II sampai tipis alas sepatunya krn harus bolak-balik ke perbankan, kantor RNI dan kantor Rajawali Nusindo utk mencari tambahan hutang.. akibat PG terancam berhenti beroperasi alias ditutup alias closed down alias tamat riwayatnya.

WhatsApp Image 2019-01-18 at 16.08.08.jpeg

Akibat lainnya adalah saya banyak diprotes karyawan yg harus dihentikan kontrak kerjanya, meskipun itu adalah konsekuensi akibat never ending ruginya…. Kondisi ini harus distop ngga boleh dibiarkan berlarut-larut karena menurut teori Darwin “survival of the fittest”. Yang bisa bertahan adalah mereka yang ulet. Mereka yang “kagak ade matinye”. Merekalah para Die Harder…

Tokoh petani Die Harder di pertebuan yang sudah saya kenal lama salah satunya adalah Pak Haji Dono. Beliau semakin hari saya lihat semakin mirip Bruce Willis, minimal (nyuwun sewu Pak Haji) kepalanya. Orangnya lapangan banget dan tebu banget. Beliau ini paling tabu kalau mendengar pabrik gula di Cirebon harus ditutup. Ketika saya ingatkan bahwa ancaman oleh jalan tol yang exit gate-nya sudah di halaman belakang pabrik sehingga paling tidak salah satu mesti tutup, saya dianggap menyerah sebelum bertanding….atau langkahi dulu mayat saya kata beliau…..

Melihat semangat yang masih menyala-nyala seperti pejuang angkatan 45 ini saya berusaha ikut mengimbangi dengan mencari jalan keluar, terutama dari sisi pendanaan. Agar mereka berkemampuan untuk memperluas tanaman tebunya, saya usul kepada Pihak Bank agar dalam paket kredit yang diberikan termasuk ditambahkan untuk dana sewa lahan, disamping untuk biaya garapan, pupuk dan tebang angkut. Jadilah kemudian ada paket KUR Khusus yang menjadi pilar pendanaan bagi program Geray Manteb ini.

Dalam pelaksanaannya ternyata kredit yang persyaratannya rumit ini memang tidak mulus pencairannya. Tetapi para petani ini berusaha sendiri untuk mendanai awal dulu (pre-financing) agar pekerjaan di kebun tidak terlambat, termasuk membeli pupuk dengan harga non subsidi. Saya harus angkat topi tinggi-tinggi karena di kebun saya lihat kondisi tanaman meskipun masih belum beruas tetapi menunjukkan kerapatan tanaman yang tinggi dan relatif bersih dari gulma.

Sebagai bentuk apresiasi saya, maka ketika sekali lagi saya diundang untuk makan nasi bungkus di kebun, saya usahakan semaksimal mungkin untuk datang memenuhi undangan tersebut. Setelah selesai aktifitas hari itu, jam 9 malam saya naik mobil menembus belantara kemacetan Tol Japek menuju ke Cirebon. Setelah berpacu dengan bus malam dan truk gandeng di jalan tol sampailah saya di Cirebon jam 1 malam. Rasanya nggak afdol kalau sudah di Cirebon nggak makan nasi Jamblang, maka saya sempatkan “njamblang” dulu di Mang Dul yang buka 24 jam di Gunungsari.

WhatsApp Image 2019-01-18 at 16.08.32.jpeg
Singkat cerita, jam 11 siang saya sudah “ngariung” kebun Pak Haji Dono bersama beberapa petani Die Harder dengan berbagai back ground profesi. Ada yang mantan SKW, ada yang mantan Mandor, mantan Sinder Tebang dan ada juga petani “milenial” yang bernama Didi Junaedi atau lebih senang dipanggil Diwong. Mas Diwong ini kalau siang jadi petani tapi kalau malam naik ke panggung jadi MC merangkap entertainer.

Dengan bersemangat pertemuan dibuka dengan meneriakkan yel-yel yang bagi saya sangat meggugah :“Petanii : SEMANGAAT!!!!……….Pabrik Gulaa : AJA DITUTUUP!!!!”Yel-yel ini sangat sarat makna. Di dalamnya tersirat harapan yang kalau dijabarkan panjang bisa berarti : kalau para petaninya masih bersemangat untuk menanam tebu, mbok ya pabrik gulanya jangan ditutup….!!Tentu saja ini momentum bagi saya untuk mendorong agar para petani Die Harder ini bisa segera menduplikasi diri menjadi sebanyak mungkin. Dalam diskusi yang kemudian berkembang pada saat makan, para petani banyak menyampaikan harapan, mulai dari “cadongan” yang terlambat sampai permintaan subsidi bibit. Cadongan adalah biaya yang diajukan untuk dibayar sesuai dengan progres pekerjaan di kebun. Ide Pak Jolly – Dirut PT Rajawali II sangat baik. Petani akan diberi bonus jika mereka bisa menambah anggota dan mengembangkan kelompoknya seperti model MLM (Multi Level Marketing) atau Member Get Member. Misalnya setiap ketua kelompok yang menguasai 50 ha menyiapkan dua kader yang akan menduplikasi diri dengan cara membentuk kelompok baru dengan merekrut anggota baru, mencari lahan baru sehingga terbentuk kelompok baru dengan luas yang sama dengan kelompok sebelumnya. Apabila berhasil, ketua kelompoknya diberi bonus bantuan dari PG. Bisa berupa subsidi bibit atau pengolahan tanah dengan traktor atau pupuk. Dengan model ini diharapkan para Die Harder ini cepat bisa mengkloning dirinya sampai areal tebu di wilayah Cirebon ini bisa kembali seperti semula. Cirebon kembali menjadi lautan tebu. Insya Allah. Amiien…

50513931_10219236252803327_3725777476652105728_n.jpg

Sebagai apresiasi tambahan, di awal Mei saya akan memenuhi keinginan mereka untuk “benchmarking” melihat lautan tebu di tempat lain yang sudah terhampar, yaitu di Malang. Malang, we’re coming, soon…Di tengah acara makan nasi bungkus ada panggilan tugas. Saya harus segera meluncur ke Garut karena ada kunjungan kerja Bu Menteri BUMN mendampingi Presiden.

Namun saya telah mencanangkan tekad untuk para petani Cirebon : Pabrik Gula ditutup? Langka critane……!!

Semoga Allah SWT meridhoi. Amiien…Wassalamualaikum wr.wb.

Garut, 18 Januari 2019.

Didik Prasetyo

CEO Note # 57 : Dari Wisuda IPB : Inspirasi Untuk Lebih Mengasah Otak Kanan

Assalamualaikum wr.wb ,

Awal bulan ini saya mendapat surprise dari kawan-kawan Pengurus Himpunan Alumni IPB. Saya diundang untuk memberikan sambutan di acara wisuda IPB tanggal 17 Oktober 2018 mewakili Himpunan Alumni. Undangan ini saya sambut dengan antusias karena “back to campus” adalah kesempatan untuk recharging. Memperbaharui semangat dan mencari inspirasi baru setelah hari-hari terakhir ini otak saya penuh dengan hal-hal yang sarat berbau korporasi : RKAP, RJPP, Transformasi, Business Review, ………

Aura kampus  mulai terasa ketika dalam perjalanan ke Dramaga saya  melewati asrama mahasiswa TPB (Tingkat Persiapan Bersama) 300 meter dari pintu masuk Cangkurawok – pintu belakang kampus yang sering dipakai untuk menghindari kemacetan. Mahasiswa-mahasiswa berhamburan keluar dari asrama, pastinya memulai kegiatan kuliah atau praktikum pagi, atau mungkin menuju kantin buat sarapan dulu atau perpustakaan (mudah-mudahan) karena hari masih terlalu pagi kalau mau berkencan.

WhatsApp Image 2018-10-26 at 20.43.25.jpeg

Aklimatisasi saya memasuki kehidupan kampus ini berpuncak ketika – karena perjalanan sangat lancar – saya datang kepagian dan akhirnya saya minta kepada Pak Haji Ucup sopir saya untuk didrop di kantin yang berlokasi di belakang gedung GWW (Graha Widya Wisuda) – sesuai namanya disitulah wisuda sarjana selalu digelar setiap tahun. Di kantin itulah salah satu tempat nongkrong saya ketika mahasiswa untuk melakukan kegiatan  yang bersifat “akademik” maupun “non-akademik”. Masih terbayang ketika saya melakukan kegiatan “non-akademik” di bulan puasa bersama teman-teman berdagang kelapa muda di bulan puasa keliling area kos-kosan di Bara (Babakan Raya) menggunakan gerobak dorong. Kegiatan yang awalnya sangat  “profitable” karena kami menjadi “market leader” tapi lama kelamaan kami harus berbagi pangsa pasar karena banyaknya “New Entrant” yang masuk. Sungguh  tidak terlupakan……

Acara resmi dimulai – sebagaimana wisuda di tempat lain – dengan prosesi para Guru Besar maupun para dosen memasuki ruang wisuda di pandu seorang petugas – istilahnya kalau tidak salah “pedel” –  yang membawa tongkat yang ujungnya bermahkota seperti seorang Biksu dari Butongpay di dunia persilatan. Dengan penuh wibawa dalam balutan busana serba hitam dan bertutup kepala topi hitam segi empat – toga – parade guru besar tadi disambut oleh paduan suara mahasiswa dengan lagu “Bagimu Negeri” . Setahu saya dulu lagu penyambutannya adalah Godeamus Igitur (Latin). Rupanya sekarang sudah Godeamus sudah berakulturasi menjadi pribumi…………..

WhatsApp Image 2018-10-26 at 20.44.12.jpeg

Maksud  dan tujuan saya untuk “Recharging” dengan memasuki kampus ini benar-benar tercapai ketika mendengarkan sambutan Pak Rektor yang memperkenalkan 10 karakter yang akan sangat diperlukan ketika dalam bekerja nanti : 1) Pembelajar – yaitu menjadikan belajar sebagai nafas kehidupannya dimanapun dia berada, 2) Jujur/integritas – yang akan membuat seseorang terpercaya, 3) Kreatif dan Inovatif – menurut Jack Ma dunia ke depan akan bergeser dari “knowledge based competition” ke “creative based competition”, 4) Disiplin – mampu melakukan hal seharusnya pada saat yang tepat, 5) Kepedulian Sosial – memiliki empati kepada orang lain dalam menyelesaikan masalah, 6) komunikasi – mampu memberikan pesan dan merespon pesan orang lain dengan baik, 7) Berpikir kritis – sehingga tidak mudah tertipu berita HOAX misalnya, 8) Semangat dan berkepribadian kompetitif – kerja keras, rajin, fokus dan tidak mudah putus asa, 9) cerdas emosi – mampu mengelola emosinya dengan baik, 10) interpersonal skill yang baik – mudah diterima oleh lingkungannya.

Pak Rektor berharap dengan mengamalkan ke sepuluh karakter tadi, para alumni akan lancar karirnya dan lancar jodohnya!

Wajah-wajah cerah itu berbaris dengan tertib ketika namanya satu persatu dipanggil ke hadapan Senat Akademik di atas panggung. Para Doktor, Master (di IPB disebut Magister), Dokter Hewan dan para Sarjana (S1) berbaris menurut fakultas dan jurusannya masing-masing. Pak Rektor, para Dekan dan pimpinan jurusan mendapat peran masing-masing dalam perhelatan akbar ini. Wakil Dekan akan memanggil wisudawan satu per satu. Ijazah akan diberikan oleh Dekan fakultas, sedangkan pengalungan medali oleh ketua jurusan. Juga sesuai jurusan dan fakultas masing-masing. Pak Rektor yang harus kerja paling keras karena harus ketemu dan bersalaman dengan seluruh wisudawan sambil memindahkan tali toga dari sisi kiri ke sisi kanan. Tidak banyak yang tahu arti simbolis dari ritual yang ini. Konon filosofinya bahwa terhitung sejak diwisuda ini, para mahasiswa yang tadinya banyak menggunakan otak kiri untuk berpikir akademis, menghafalkan rumus, menganalisa, menulis laporan, dsb, maka sejak saat ini sudah harus mulai menggunakan otak kanan : kreatif, inovatif bahkan intuitif, instinktif dan sejenisnya yang ini sangat diperlukan ketika kita bekerja.

Di IPB sudah mulai terlihat pengaruh otak sebelah kanan ini merasuki kehidupan kampus. Suasana wisuda sekarang tidak “kering” karena sudah ada penyanyi yang ditampilkan di panggung Senat akademik. Pak Rektor juga mengumumkan bahwa Hymne IPB yang dibawakan dalam wisuda kali ini adalah hasil aransemen Addie MS yang tersohor dengan Twilite Orchestra-nya.

WhatsApp Image 2018-10-26 at 20.42.04.jpeg

Suasana panggung wisuda juga sudah tidak se-angker jaman dulu yang akademik banget. Panggung itu seperti layaknya sebuah “catwalk”  yang sedang menggelar peragaan busana. Bagi yang jeli dan berjiwa entrepreneur tinggi, ini peluang bisnis.  Semua pernik-pernik busana dan permak wajah pasti laris.  Demikian juga bunga tangan (buket), fotografi, rental mobil, dll. Jadilah kampus sentra proyek bisnis dadakan  waktu musim wisuda. Belum lagi bisnis yang reguler dari kos-kosan, catering, laundry, foto copy, pulsa ……. Dan jangan lupa, di bulan puasa kelapa muda masih laris.  Ayo siapa mau daftar….??

Terinspirasi hal ini, saya berusaha membangkitkan otak kanan rekan-rekan Direksi Anak Perusahaan ketika mengadakan “sarasehan” mengenai upaya RNI untuk melakukan transformasi ke depan sebagai tindak lanjut tag line yang sudah saya canangkan di acara HUT RNI tahun ini : Transformasi Menuju RNI lebih baik. Ketika para Direksi dan Group Head selesai mengadakan “Business Review” yang diadakan setiap 3 bulan sekali di Surabaya, mereka semua saya kumpulkan di Mess yang saya sulap menjadi ruang sarasehan sehingga suasananya lebih santai. Saya paparkan kondisi setiap pilar bisnis saat ini. Nyata dari data yang ada, masih banyak “Operating Excellence “ yang masih perlu diperbaiki, misalnya dari HPP yang masih tinggi, utilisasi kapasitas, utilisasi aset, produktivitas dan efisiensi. Semuanya menyisakan “room for improvement” yang masih bisa ditingkatkan lagi. Agar terjadi sinergi dengan induk, saya juga minta masukan kepada teman-teman akan pengelolaan Holding yang lebih baik sehingga secara konsolidasi terjadi peningkatan kinerja yang nyata. Di acara itu juga terjadi proses pembelajaran antar peserta dengan tukar menukar ilmu dan pengalaman masing-masing. Diskusi berlanjut di luar ruang sarasehan sambil menikmati suguhan tahu campur dan thengkleng di kebun belakang Mess sampai menjelang magrib. Diawali dengan acara otak kiri (Business review) yang bernuansa teknis, berakhir dengan otak kanan yang bernuansa sosial……

DSC_0010.JPG

Puncak acara “sosial” di RNI tahun ini adalah  Family Gathering yang diadakan tanggal 21 Oktober di   Taman Rekreasi Jungle Land, Sentul.  Tema yang diangkat  kali ini adalah “Transformasi Milenial”. Tema kreasi dari generasi mileneal anak-anak muda RNI. Kemeriahannya dapat diikuti di medsos lewat #FamgathRNI2018  #RNIMilenialsTransformation #RNIFamgath2018 dan masih banyak lagi tagar lainnya yang berkaitan dengan RNI. Karyawan dan seluruh keluarganya larut dalam aneka ragam permainan dengan aneka hadiah pula dan ditutup dengan “Grand Prize” 2 sepeda motor. Keistimewaan tahun ini, acara Famgath juga diisi dengan penobatan Karyawan Teladan untuk berbagai Kategori seperti Cleaning Service, Office Boy, Security,Driver, Karyawan Pelaksana dan Karyawan Staf. Proses pemilihannya sendiri juga juga dilakukan dengan gaya milenial, yaitu voting on line….

Pada akhir acara,  saya undang Direksi, Group Head dan Head beserta keluarganya untuk ber”dangdut” di rumah sambil menikmati sop buntut dan duren. Saya berharap dengan keakraban yang makin meningkat maka suasana kerja akan makin baik sehingga menurut para ahli makin mudah mencapai gelombang alfa di otak kita yang akan makin merangsang ide baru, inovasi dan kreativitas. Kegiatan FamGath ini juga saya harapkan menjadi media untuk “recharging”. Bukan hanya kepada karyawan, tetapi juga kepada seluruh keluarga agar selalu menyemangati bapak atau ibunya di dalam bekerja menuju RNI yang lebih baik. Amiin……

DSC_0878.JPG

Viva Keluarga Besar RNI.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan melindungi kita semua. Amiin.

Wassalamualaikum wr.wb

Bogor, 20 Oktober 2018.

Didik Prasetyo

CEO Notes # 56: 54 Tahun Saatnya Bertransformasi Untuk RNI Baru

Assalamualaikum wr.wb ,

Sudah cukup lama saya tidak menulis CEO Notes. Kangen juga rasanya untuk menulis meskipun hanya tiga bulan tapi terasa bertahun-tahun. Bukannya saya sedang bertapa cari wangsit di Gunung Kawi atau Gunung Lawu, tetapi saya sedang banyak berada di “medan perang”. Bukan perang antar great family atau great houses seperti yang dikutip Presiden Jokowi dari serial Game of Thrones pada saat berpidato dalam pertemuan IMF-World Bank di Bali, atau perang Baratayudha antara Pandawa dan Kurawa di padang Kurusetra, tapi bersama rekan-rekan para Direksi RNI Group kita sedang perang di lapangan menghadapi persaingan yang sengit di semua lini bisnis yang digeluti oleh RNI. Memang tidak seheboh perang dagang AS dan China yang berdampak memelorotkan nilai tukar mata uang dimana-mana termasuk rupiah kita tercinta ini.

44088255_10218426905690155_2079656742777520128_n.jpg

Ketika saya punya momen yang baik untuk “curhat” lagi di media sosial ini ditengah maraknya berita-berita Hoax, saya putuskan untuk mencoba merekonstruksikan kembali pemikiran dan isi hati saya dalam tulisan ini. Mudah-mudahan tidak dianggap Hoax…he he he.

Momen itu adalah ketika RNI yang terlahir dengan nama PT (Persero) PPEN Rajawali Nusantara Indonesia berulang tahun yang ke 54 tanggal 12 Oktober 2018 kemarin. Kalau tahun lalu tema HUT RNI adalah Change or Die, tahun ini setelah makin mengenal mendalam terhadap masalah yang dihadapi di lapangan, yang bikin pusing para CEO di RNI Group saya ingin mempertegas lagi bentuk CHANGE itu : TRANSFORMASI UNTUK RNI BARU.

Di lapangan, saya bergerak dari “Medan perang” yang satu ke “Medan perang” yang lain. Dari gula ke trading, dari trading ke farmasi, dari farmasi ke sawit, dari sawit ke teh dari teh ke karung plastik dan seterusnya. Hari-hari saya lewati dengan berdiskusi dengan para panglima di lapangan : para Direktur, para GM, para Askep, para Kepala Cabang, para Manajer tentang permasalahan yang sedang dihadapi di lapangan. Setelah dari lapangan, saya kembali lagi ke “padepokan” untuk belajar, memperdalam ilmu untuk mencari jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapi. Tentu saja, jaman sekarang sudah tidak seperti dulu lagi memperdalam ilmu dengan “pati geni” atau “poso mutih” atau laku lainnya. Cukup kita ke Gramedia, cari buku atau ke Café ngopi dan ngobrol dengan sejawat sesama pelaku bisnis… dan guru yang maha Sakti saat ini-lebih Sakti dari begawan yang paling Sakti di dunia sekarang ada di rumah yaitu “Panembahan” Google… sajennya cuma Wi-Fi aja…….!

44043233_10218426905610153_8265746178415525888_n.jpg

Dari situlah saya belajar dan berkesimpulan bahwa RNI perlu bertransformasi. Semua persyaratan sudah dipenuhi. Menurut salah satu “kitab” yang menjadi rujukan saya karya Mas Indra Susanto dalam bukunya Strategy-Led Transformation ada dua faktor pendorong besar yang menyebabkan perusahaan perlu bertransformasi yaitu faktor eksternal dan faktor Internal. Secara logika kita bisa menebak bahwa faktor eksternal adalah yang tidak kita kuasai misalnya politik, ekonomi, perkembangan teknologi, lingkungan, selera konsumen, dsb. Sedangkan faktor internal adalah faktor yang mestinya dalam kendali kita misalnya produktivitas, HPP, kualitas produk, service dsb. Kapan nih mas Indra kita bisa ngobrol-ngobrol lagi.

Pilar bisnis RNI yang menjadi tulang punggung kami selama ini (dilihat dari kontribusi sales tahun 2017) yaitu farmasi & alkes dan perkebunan (agro industri). Keduanya sedang dihempas ombak yang dahsyat pada saat ini yang semua bisa diikuti di Media. Salah satunya adalah akibat gonjang-ganjing BPJS yang punya tunggakan hingga triliunan Rupiah. Sebagai pemain yang melayani farmasi dan alat kesehatan untuk BPJS yang tersebar di seluruh rumah sakit di pusat maupun di daerah tentu saja hal ini sangat terasa bagi Nusindo & Phapros karena harus berpuasa berbulan-bulan menunggu dana cair.

Makro ekonomi juga ikut berpengaruh pada bisnis yang masih bergantung pada impor seperti untuk bahan baku obat yang mengambil porsi antara 70% – 80% terhadap pembentukan COGS Phapros. Kurs US dolar yang naik terus dari Rp.13.300 sampai Rp. 15.300 tentu membuat para pelaku bisnis farmasi harus terus mengasah otak bagaimana membuat produknya tetap kompetitif di pasar atau paling tidak masih menyisakan sedikit margin karena harga e-catalog tidak mungkin disesuaikan.

Sementara CPO juga mengalami penderitaan akibat harga yang turun dan sepinya pembeli sehingga berdampak signifikan pada revenue Perusahaan. Sentimen negatif juga terus dikembangkan terhadap produk berbasis kelapa sawit terutama isu lingkungan dan kesehatan.Gula yang menjadi penopang utama pilar agro industri RNI tahun ini juga diterpa cobaan yang bertubi-tubi ibarat seperti sudah terkena gempa, tsunami kena likuifaksi lagi seperti di Palu dan Donggala.Pada awal giling ketika petani tebu butuh uang untuk Lebaran belum ada tanda-tanda ada pedagang yang mau membeli gulanya sehingga akhirnya PG terpaksa menjadi off taker sementara. Tentu saja hal ini berakibat pada naiknya cost of fund PG. Sampai setelah lebaran pasar juga masih lesu yang ditengarai karena banyaknya gula eks impor dan stok tahun lalu yang belum terserap di pasar. Ketika terbit peraturan Menteri Perdagangan No.58 Tahun 2018 yang menetapkan acuan harga beli gula petani di tingkat Rp.9100, secara psikologis makin turunlah harga gula yang diperdagangkan . Asosiasi Petani Tebu (APTRI) dan Asosiasi Gula Indonesia (AGI) ramai-ramai menulis surat ke Presiden menyampaikan rasa keprihatinan atas kondisi industri gula dalam negeri yang semakin terpuruk ini. Pemerintah segera turun tangan dengan menugaskan Bulog menyerap gula petani dengan harga minimum Rp.9700. Ketika harga pasar semakin turun hingga menyentuh harga Rp.8500, Bulog pun angkat tangan. Akhirnya meminta PG untuk membeli putus tebu dari petani sehingga semua hasil produksi jadi milik PG dan Bulog tidak lagi wajib untuk menyerap. Namun bagi PG tentu saja untuk menjalankan hal ini diperlukan dana yang sangat besar. Kembali lagi cost of fund akan membengkak.

43880017_10218426905450149_2583176997500878848_n.jpg

Bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan pilar utama RNI ini, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Inilah yang menjadi faktor internal kenapa transformasi perlu segera dilakukan mumpung peluang masih ada. Kata orang bijak kalau kita ingin tetap nyaman, tidak usah merubah apapun maka siap-siap saja kita tidak akan tumbuh dan lama-lama mati, tetapi kalau kita tetap ingin tumbuh, maka kita pasti harus berani meninggalkan kenyamanan tersebut. Tidak ada pertumbuhan dalam zona nyaman dan tidak ada kenyamanan dalam zona pertumbuhan.

Satu faktor eksternal yang diluar dugaan saya juga adalah perubahan kebijakan di pemegang saham dalam hal ini adalah Kementerian BUMN. Sesuai road map yang sudah dicanangkan, Holdingisasi BUMN yang menjadi prioritas setelah semen, pupuk, perkebunan, tambang selesai giliran berikutnya adalah energi, jasa keuangan, pangan, perumahan,infrastruktur & jalan tol dan kemudian farmasi. All of the sudden, ternyata Farmasi dipercepat menjadi tahun ini. Jadi alasan apa lagi yang menjadikan RNI tidak perlu bertransformasi?

Peluang masih terbuka dan RNI masih punya sumber dayanya. Ambil contoh saja misalnya teh. Saya yakin kalau kita bergerak ke arah hilir lagi tidak hanya sekedar membudidayakan tanaman teh kemudian mengolahnya menjadi teh hitam atau teh hijau kita masih bisa menikmati nilai tambahnya. Saya senang hal ini sudah mulai digarap PT Mitra Kerinci yang sudah memproduksi berbagai varian dan masuk ke branded tea product. Ayo silakan lanjut dengan membuat Thai tea dan sejenisnya yang sekarang lagi ngetrend.

43952985_10218426905570152_2761092341245673472_n.jpg

Saya yakin di pilar yang lain sudah mulai mencoba mentransformasi bisnisnya sesuai peluang yang ada dan sumber daya yang dimiliki. Mungkin masih menjadi rahasia dapur mereka masing-masing kalau saya buka sekarang. Tapi sudah terpikir oleh saya untuk menampung dan sekaligus menguji semua ide yang ada di masing-masing perusahaan dalam suatu festival. Kalau selama ini kita mengenal festival inovasi mungkin pada saatnya kita juga perlu adakan Festival Transformasi…….Jangan takut gagal.

Berdasarkan survey Standish Group International yang dikutip oleh Indra Susanto dalam bukunya Strategy-Led Transformation, Tidak semua transformasi berhasil dengan sempurna. Hanya 16% yang selesai tepat waktu dan sesuai target, 31% berhenti di tengah jalan dan 53% terlambat, over budget atau hasilnya jauh dari harapan.Saya sarankan untuk membaca buku tersebut di atas karena ada contoh kasus transformasi BUMN dan juga tips untuk menghadapi kendala transformasi..Kalau kita Ibaratkan transformasi itu bagai sebuah evolusi dalam suatu perusahaan maka prinsip Charles Darwin juga berlaku (dikutip dari buku Mas Indra Susanto) :“It’s not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change.”Semoga RNI termasuk “species” yang akan bertahan hingga akhir jaman. Amiin. Amiin YRA.

Terima kasih mas Indra, bukunya sangat menginspirasi saya.

Dirgahayu RNI, Transformasi untuk RNI Baru.

Wassalamualaikum wr.wb

Bogor, 13 Oktober 2018.

Didik Prasetyo

CEO Notes  # 55 RUPS Phapros  2017:  Moving Forward To Infinity War….

Assalamualaikum wr.wb,

Ibarat pengelana padang pasir, setelah mengalami perjalanan panjang yang penuh dengan liku-liku dalam safarinya yang kadang dihadang badai atau perompak gurun kejam, sekarang saatnya berlabuh di oase dan menghitung semua hasil keuntungan dagang, membagi dengan para sekutunya dan kembali menata kafilahnya agar perjalanan berikutnya lebih lancar dan aman. Demikian pula PT Phapros Tbk, salah satu anak perusahaan RNI yang sudah berstatus public company disamping PT GIEB, pada tanggal 26 April 2018 menyelenggarakan RUPS Tahunannya di Semarang.

31400958_1896924943663112_3972366701936244587_n.jpg

Meskipun tidak pakai perayaan belly dance atau tari perut, tapi nuansa RUPS kali ini penuh dengan kegembiraan. Bayangkan saja, dividen yang dibagi adalah 70% dari laba bersih perusahaan, meningkat 20% dibandingkan tahun yang lalu atau secara nominal dividen yang dibagikan sebesar adalah Rp. 87,7 miliar . Bagi anda yang punya saham Phapros, EPS (earning per share) yang menggambarkan keuntungan per lembar saham juga naik dari Rp. 500 menjadi Rp. 750. Bagi yang tidak punya, silakan menelan ludah saja.…

Diawali dengan paduan suara PT Phapros yang mengalunkan lagu “Jaran Goyang” dengan lemah lembut sehingga tidak sampai “mengguncang” para pemegang saham yang hadir, RUPS dihadiri oleh 80,51% suara sah. Sangat sah termasuk untuk kuorum RUPS LB yang memang dipersyaratkan untuk mengambil beberapa keputusan strategis kali ini, antara lain adalah agenda menambah modal dasar perseroan melalui HMETD (Hak untuk Memesan Efek Terlebih Dahulu) sebagai ancang-ancang untuk IPO yang rencananya akan dilaksanakan tahun depan.

Saya sebagai wakil PT RNI yang memiliki 95 juta lebih lembar saham atau 56,77% dari total saham 168 juta lembar alias sebagai pemegang saham pengendali merasa sangat pantas untuk mengusulkan kepada RUPS agar membagi kegembiraan kepada seluruh  pemegang saham dengan membagi dividen 70% tersebut. Betapa tidak. Angka-angka kinerja perseroan yang disampaikan oleh Direktur Utama PT Phapros Ibu Barokah Sri Utami – pemenang award Best CEO RNI Group – yang juga sudah sangat valid karena sudah audited menunjukkan kinerja luar biasa. Laba perseroan meningkat 44% dari Rp. 87 Milyar tahun lalu ke Rp. 125 Miliar. Sementara omsetnya juga tumbuh 23% atau naik dari Rp. 816 Miliar menjadi Rp. 1 Triliun lebih. Pertumbuhan kinerja Phapros ini jauh di atas rata-rata pertumbuhan industri farmasi nasional yang justru minus 2%.

30073643_1896924973663109_5002846378564541641_o.jpg

Walaupun sudah menunjukkan kinerja yang luar biasa, Direksi Phapros juga tidak bisa enak-enakan karena para pemegang sahamnya juga selalu kritis, terutama pemegang saham yang merupakan para  mantan pejabat di Phapros, khususnya di bidang keuangan. Piutang kepada distributor adalah salah satu yang selalu disoroti agar selalu bisa ditekan seminimal mungkin. Padahal jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya sudah jauh lebih baik karena saya sebagai Komisaris Utama sekaligus pemegang saham di Rajawali Nusindo yang menjadi distributor tunggal PT Phapros sudah mendorong mereka agar mengambil pendanaan melalui skema distributor financing dalam upaya memenuhi kewajibannya kepada Phapros. Maklum saja, para pemegang ini tentunya ingin agar perseroan mendapatkan laba dan membagi dividen sebesar-besarnya.

Sebagai pemegang saham pengendali, saya justru lebih berkepentingan agar PT Phapros ini tumbuh semakin besar ke depan. Kalau dibandingkan dengan perusahaan farmasi milik BUMN lainnya, Phapros memang memiliki keunggulan Net Profit Margin terbaik sebesar 12,2 % tetapi dari segi sales, masih dibawah Indo Farma, apalagi Kimia Farma penjualannya mencapai lebih dari Rp. 6 Triliun. Oleh karenanya, melalui RUPS ini saya masukkan beberapa agenda strategis agar perseroan semakin berlari kencang ke depan yang pengambilan keputusannya melalui RUPS LB.

Pertama adalah perluasan bidang usaha. Semula perseroan bergerak di bidang usaha yang terkait dengan obat-obatan dan alat kesehatan, sekarang akan ditambahkan dengan kosmetika dan makanan dan atau minuman. Rupanya walaupun selama ini untuk kedua bidang usaha tersebut meskipun sepintas barangnya sama, yaitu sama-sama benda yang diminum atau dioles, tetapi karena peruntukkannya berbeda diperlukan ijin tersendiri untuk pengusahaannya. Kelak, jika anak perusahaan RNI Group ingin mengembangkan industrinya ke arah bidang tersebut baik berbasis teh atau tebu atau sawit, akan semakin terbuka untuk bersinergi dengan Phapros.

31357579_10156709086653287_8127442033846517760_n.jpg

Dengan rencana pengembangan bisnis ke depan, perseroan memanfaatkan peluang right issue untuk menambah modal perseroan yang ditawarkan terlebih dulu kepada para pemegang saham sebelum ditawarkan kepada publik. Melalui mekanisme ini, perseroan akan medapatkan dana murah karena tidak ada kewajiban untuk membayar bunga dan pokok. Indikasi saham yang akan dilepas adalah 207 juta lembar dengan perolehan dana sekitar Rp. 500 milyar. Disamping untuk pengembangan bisnis, dana tersebut juga digunakan peningkatan fasilitas produksi existing, untuk modal kerja dan pelunasan pinjaman.

Yang terakhir dalam agenda RUPS LB ini adalah line up team yang akan terjun ke medan “pertempuran” tahun 2018. Walaupun 2 Direksi sudah habis masa jabatannya di tahun ini, tetapi dengan memperhatikan pencapaian kinerja yang luar biasa dan kekompakan dalam kerja sama tim, saya mengusulkan untuk mengangkat lagi keduanya dalam jabatannya sebagai anggota Direksi untuk masa jabatan 5 tahun ke depan. Dont change the winning team, kata para pakar manajemen. Dengan melihat kinerja Direksi selama 5 tahun terakhir, usulan saya secara aklamasi di terima oleh RUPS sehingga saya tidak perlu melakukan bongkar pasang tim untuk membawa Phapros melanjutkan perjalanannya ke depan.

Untuk memperkuat pengawasan, saya mengusulkan penambahan satu orang Komisaris Independen sehingga jumlah Komisaris mejadi 4 orang dimana 2 orang diantaranya adalah Komisaris Independen (50% dari jumlah Komisaris yang ada). Atas usulan tersebut semua pemegang saham juga menyetujui dengan aklamasi.

Dengan terpilihnya tim baru Phapros ini, 4 Direksi dan 4 Komisaris, saya berharap Phapros benar-benar Moving Forward To The Next Level.

Bukan hanya keberhasilan dalam menambah pundi-pundinya, Phapros juga menunjukkan tanggungjawab sosial lingkungannya yang tinggi dengan meraih predikat PROPER HIJAU.  Artinya dalam menjalankan praktek bisnisnya, perseroan juga sangat memperhatikan prinsip ekonomi hijau yang mencakup efisiensi dalam penggunaan energi, konservasi air, perlindungan keanekaragaman hayati dan penurunan emisi. Capaian Phapros dalam menghijaukan lingkungannya juga sudah mendapat tempat di masyarakat kota Semarang. Hutan mangrove yang dibangun melalui program Bina Lingkungannya sekarang sudah menjadi icon baru bagi kota Semarang. Sebuah Mangrove Park sudah muncul sebagai sebuah edutainment, termasuk untuk muda-mudi yang haus ilmu dan haus hiburan..

Konservasi energi bukan hanya masalah Phapros, unit-unit manufacturing RNI yang lain juga saya tekankan untuk terus berlomba mencari inovasi dalam penghematan energi ini. Pabrik gula, pabrik sawit, pabrik teh sampai kulit dan plastik semuanya adalah pelahap energi yang cukup berat. Pabrik gula sekelas Krebet Baru menghabiskan lebih dari Rp.5 Milyar untuk bayar PLN, sementara Jatitujuh lebih dari Rp. 2 Milyar. Belum termasuk nilai ampas yang kalau dikonversi dalam rupiah bisa mencapai Rp. 100 Milyar! Demikian juga dengan air. Apalagi unit manufacturing yang membutuhkan air bersih seperti farmasi dan air pengisi boiler di PG, biaya water treatment plant juga bisa miliar.

DSC_0594.JPG

Khusus Phapros, langkah maju dalam upaya mengurangi emisi juga sudah dilakukan dengan memasang green chiller. Dalam kesempatan lain akan saya ceritakan mengenai chiller non-CFC ini yang dikenal ramah lingkungan karena tidak merusak lapisan OZON.

Ternyata, tantangan demi tantangan akan selalu menghadang kita di depan. Efektif dengan mencapai target saja tidak cukup, kita harus paling efisien. Tapi efisien saja juga tidak cukup, kita harus secure atau aman.

Dengan demikian seperti digambarkan The Avenger, Next Level kita berikutnya mungkin adalah Infinity War……

So, be prepare for the next level, otherwise game will be over shortly..

May God bless RNI and all of us.

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta, 7 Mei 2018.

Didik Prasetyo

 

CEO Notes # 54 RNI Award 2018: Perhelatan Akbar selera Piala Oscar

Assalamualaikum wr.wb,

Tanggal 5-6 April 2018 yang lalu baru saja diselenggarakan RNI Award 2018, kalau tidak salah yang kesebelas kalinya. Selama 3 tahun masa pengabdian saya, ini adalah kali yang kedua. Pertama adalah tahun 2016 di Semarang. Time flashing, begitu cepat waktu berlalu.

DSC_0681

Acaranya kali ini cukup banyak, padat dan heboh….bak malam anugerah piala Oscar. Dari segi tempat saja, ada 3 venues yang harus disamperi para peserta yang satu sama lain terpisah cukup jauh sehingga panitia harus meyediakan bus sebagai alat transfer peserta. Belum lagi dari sisi rangkaian acaranya yang sudah harus dimulai tanggal 3 April dengan penjurian para peserta Lomba Inovasi. Itupun sudah diseleksi dari 80 menjadi 20 peserta yang masuk ke penjurian akhir.

Saya memang menggabungkan acara awarding ini dengan festival inovasi. Awarding bertujuan untuk memberikan apresiasi kepada mereka yang berprestasi, baik individu maupun perusahaan, mulai tingkat mandor, supervisor sampai CEO! Untuk perusahaan diberikan mulai dari unit usaha, perusahaan dengan kinerja operasional terbaik, kinerja keuangan terbaik dan tentu saja the best overall akan menjadi the best subsidiary company. Kali ini juga saya setuju untuk memilih The Best CEO sebagai the man behind the gun yang sebenarnya menjadi pemegang kendali perusahaan terbaik itu. Mengingat yang terpilih sebagai The Best CEO di Anak Perusahaan RNI Group adalah Dirut PT Phapros Tbk, Ibu Barokah Sri Utami, jadi tepatnya beliau adalah the lady behind all performance

Inovasi sama pentingnya dengan menghasilkan kinerja terbaik untuk saat sekarang. Jika kinerja adalah untuk makan dan tumbuh saat ini, inovasi adalah untuk kepentingan masa depan. Sustainability.

DSC_0808

Saya dikritisi oleh Dr. Yanuar Nugroho Deputy II Kepala Staf Kepresidenan yang hadir di acara Gala Dinner, bahwa motto saya change or die masih bisa dijembatani dengan motto yang lebih optimistis Innovate or Die………

Anak perusahaan yang dinilai unggul dalam menerapkan bahkan membudayakan inovasi juga saya tempatkan pemberian apresiasinya di puncak acara yaitu malam Gala Dinner bersama dengan pemenang utama. Para inovator juga diberi kesempatan memaparkan hasil karyanya dalam eksibisi di lokasi penjurian sehingga semua yang hadir bisa ikut melihat dan mungkin menirunya untuk bisa di-copy atau duplikasi agar bisa diterapkan ditempatnya.

Jadilah rangkaian festival inovasi menjadi ajang yang paling menyita waktu panjang sebelum sampai mendapatkan best of the best dari para kandidat yang diajukan.

Setelah melihat eksibisi inovasi yang digelar di Spring Club Royal Ballroom, peserta kemudian mengikuti Executive Sharing session dengan Moderator Tina Talissa, dulu anchor acara Talk Show yang sangat terkenal di salah satu TV berita.

Sengaja saya adakan acara ini sebagai media untuk pencerahan bagi kawan-kawan di RNI terutama para generasi muda dan para pimpinan perusahaan. Saya hadirkan dua pembicara yang merupakan CEO BUMN yang berhasil membuat transformasi besar bagi perusahaannya. Salah satunya yaitu Pak Suyoto dari Djakarta Lloyd. Perusahaan pelayaran ini mengalami up-down yang sangat dramatis. Berawal dari perusahaan besar dengan ratusan kapal dan ribuan karyawan kemudian terpuruk dengan hanya tinggal memiliki 1 kapal dan 20 orang karyawan. Melalui sinergi BUMN dan memanfaatkan teknologi IT, secara perlahan Djakarta Lloyd bangkit kembali dan mulai mampu mengadakan kapal-kapal baru lagi seiring dengan meningkatnya bisnis logistik laut yang berkembang pesat. Jadi, berbeda dengan band asuhannya D’Lloyd, ternyata Djakarta Lloyd tidak hanya meratap 🎼 Apa Salah dan Dosaku 🎼 saja, tetapi langsung berusaha untuk bangkit memanfaatkan segala peluang yang ada. Salah satu nasihatnya yang sangat berkesan : Jangan merasa besar………

Pembicara kedua adalah Pak Tumiyana Dirut PT PP. Dari beliau ternyata ilmunya bukan sekedar masalah membangun bisnis properti saja tetapi juga ilmu membangun tim champion yang kuat, yaitu tenaga-tenaga muda yang punya cara berpikir out of the box yang banyak menghasilkan terobosan-terobosan dan inovasi baru bagi kemajuan perusahaan.

Setelah laporan keuangan selesai diaudit, hasilnya meyakinkan saya bahwa keluarga besar RNI “deserve” atas kemeriahan dan rasa syukur ini. Betapa tidak, laba setelah pajak tahun 2017 ditutup pada angka Rp. 353 Miliar meningkat cukup tajam dari tahun 2016 sebesar Rp. 247 Miliar. Di tengah gonjang-ganjing bisnis agro industri yang turbulensinya membuat semua pelaku harus mengencangkan ikat pinggang, alhamdulilah pilar farmasi & alkes dan trading & distribusi bisa tetap melesatkan RNI terbang ke awan sehingga overall pertumbuhan tetap terjaga.

Bukan hanya itu, tugas perusahaan BUMN sebagai agent of development juga dapat dilakukan dengan baik. Hal ini sudah saya ceritakan di Ceo Notes sebelumnya seperti berbagai kegitan BUMN Hadir Untuk Negeri, Tol Laut dan juga pembinaan petani melalui program kemitraan.

Dengan bekal itu semua, saya ingin mengajak RNI terbang lebih tinggi lagi melintasi batas negara sebagaimana saya canangkan dalam tema besar RNI Award kali ini, yaitu GO GLOBAL – “Wings to the world through innovation…”

DSC_0614

Visi untuk menjadikan RNI GO GLOBAL sebenarnya sudah mulai saya lempar diberbagai kesempatan, termasuk dalam Ceo Notes yang lalu. Berbagai langkah mengarah kesana juga sudah dijalankan dan sudah saya ceritakan seperti kunjungan-kunjungan Direksi ke Korea Selatan, Myanmar dan akhir-akhir ini ke Jepang. PT Phapros Tbk dan PT PG Rajawali I sudah berada dalam antrian di Kementerian BUMN untuk di-IPO-kan dan dikawal langsung oleh Tim Khusus di sana yang bertugas mencapai target yang ditetapkan dalam IPO tersebut.

Bukan hanya dari sisi bisnisnya, secara tata kelola, RNI juga semakin meningkat kualitasnya. Hal ini bisa dilihat dari score asesmen GCG nya yang meningkat dari GOOD menjadi VERY GOOD di tahun ini, bahkan penilaian hasil KPKU RNI meningkat dari Early Improvement menjadi Good Performance. Hal ini menambah keyakinan saya bahwa kita sudah siap untuk menjadi semakin transparan, akuntabel dan independen.

Dan bagi saya, inilah momen yang tepat untuk mencanangkan secara luas kepada seluruh jajaran RNI Group , bahwa seperti inilah nanti RNI akan saya bawa ke depan. Ini forum yang tepat karena disitu hadir seluruh Direksi anak-anak perusahaan, semua staf yang memgang jabatan strategis sampai dua level di bawah Direksi dan staf muda yang peduli dengan masa depan dengan terus berinovasi secara kreatif. Kepada rekan-rekan semua telah digelar red carpet oleh PT Rajawali Nusindo sebagai Host acara ini.

Mudah-mudahan sambil menikmati musik di mobil, kantor atau di kamar kost, esensi ajakan saya untuk terbang tinggi tidak terlupakan, seperti bait refrein mars Rajawali :

…..Rajawali Nusantara Indonesia,bergerak maju melayang menyibak awan, gagah berani berjuang menepas badai, Rajawali Nusantara Indonesia…………….

Semoga Allah SWT selalu membimbing dan meridhoi langkah kita dalam mengabdi kepada negara dan bangsa ini. Amiin.

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta, 11 April 2018.

Didik Prasetyo