CEO Notes # 51 Wiwitan Petik 2018: From Leaf, with Love, for Life

Assalamualaikum wr.wb,

 
Kemeriahan pesta yang mengawali panen bukan hanya monopoli pabrik gula (PG) saja. Acara yang dinamai dan dimaknai berbeda di setiap daerah atau PG ini mempunyai sejarah yamg amat panjang, mungkin setua umur industri gula di Indonesia. Tetapi di industri teh yang hampir sama tuanya dengan gula, sama-sama sudah ada sejak Gubernur Jenderal Van den Bosch yang terkenal dengan “cultuurstelsel” alias tanam paksa, meskipun ada juga selamatan ala kadarnya di kebun yang akan mulai dipanen, kadar hebohnya tidak seperti selamatan giling di PG. Itulah mungkin sebabnya, ketika di Kebun Teh Liki dirintis oleh Pak Agung Murdanoto – Direktur Pengembangan Usaha dan Investasi PT RNI semasa masih menjabat sebagai Direktur PT Mitra Kerinci – suatu tradisi sederhana perayaan yang diberi nama Wiwitan Petik, dilanjutkan oleh penggantinya, sampai sekarang sudah keempat kalinya. Semakin lama, semakin tahun, semakin semarak sebagaimana saudara tuanya di pabrik gula. Apalagi, penggantinya adalah Pak Yosdian yang berasal dari keluarga pabrik gula dan dibesarkan di lingkungan pabrik gula sehingga tahu benar bahwa acara semacam itu sangat efektif untuk media komunikasi dan konsolidasi banyak hal. Karyawan dan keluarga akan terlibat secara aktif. Masyarakat sekitar juga akan memperoleh hiburan gratis. Suatu hal yang sangat didambakan bagi masyarakat daerah terpencil yang mungkin haus hiburan. Ketika kehadirannya semakin sangat dirasakan oleh lingkungan sekitar, maka Pemerintah Daerah juga mulai menaruh perhatian. Pejabat yang datang semakin tinggi tingkatnya. Dari semula Wali Nagari atau tingkat kelurahan ke Muspika dan sekarang meningkat Muspida. Lebih lebih ketika dicanangkan oleh pak Bupati bahwa Wiwitan Petik akan diagendakan sebagai acara wisata budaya maka keberadaannya sudah semakin penting. Sebuah tradisi baru telah dibangun.

 

Kanan-kekiri Dirut RNI Didik Prasetyo Anggota DPRD Sumbar Zigo Ralanda Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria  Ketua DPRD Solsel Sidiq Ilyas lakukan po.JPG

Isi acaranya sendiri memang sarat dengan budaya. Mulai petugas penerima tamu di meja registrasi, pemain musik yang berada di atas panggung dan tentu saja para penarinya berpakaian adat Minangkabau yang sangat meriah dengan mahkota di kepala dan baju bersulam berkerlap-kerlip indah. Yang laki-laki bercelana panjang di lilit sarung dan bertutup kepala model atap rumah gadang. Tentu saja penampilan yang atraktif menjadi obyek selfie teman-teman yang saya bawa dari Jakarta. Acara diawali dengan persembahan tari-tarian Sumatera Barat yang dibawakan dengan apik oleh karyawati kebun dilanjutkan dengan persembahan sekapur sirih yang harus dikunyah oleh para tamu VIP. Bersama dengan Pak Bupati, Ketua DPRD, Kajari, Kapolres, sayapun menerima kehormatan tersebut. Dari raut mukanya waktu mengunyah, saya dapat melihat bahwa Pak Kajari dan Pak Kapolres ini bukan orang Sumatera Barat !

 
Dalam sambutannya pak Bupati – menyiratkan bahwa keberadaan PT Mitra Kerinci di Kabupaten Solok Selatan ini sangat diperhitungkan, bahkan menjadi icon bagi daerah tersebut. Dengan fasih pak Bupati bisa menyebut bahwa teh di Kebun Liki ini adalah kategori “single origin” yang sangat spesifik dan tidak terdapat di daerah lain. English Breakfast Tea yang terkenalpun isinya adalah teh Mitra Kerinci. Apalagi ditambah oleh pak Ketua DPRD Kabupaten Solok Selatan bahwa PT Mitra Kerinci juga menjadi bagian tak terpisahkan dari Kabupaten yang baru ini karena MK ikut mendorong proses kelahirannya pada waktu itu. Untuk menguatkan keeratan Pemda dengan teh, kalau di tempat lain acara ngopi pagi di sebut Coffee Morning, di Solok Selatan diganti menjadi Tea Morning.

 

Dirut RNI Didik Prasetyo dan Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria menerima sirih dan kapur sebagai bentuk ucapan selamat datang dalam tarian Pasambah.JPG

Lokasi Kebun Liki yang terletak di desa Sungai Lambai, Kecamatan Lubuk Gadang-Sangir ini memang mempunyai eksotisme tersendiri. Letaknya persis di kaki Gunung Kerinci berdampingan dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang merupakan area konservasi hutan hujan tropis (tropical rain forest) menjamin bahwa produk tehnya masih murni alami. Air yang digunakan adalah murni dari mata air gunung yang terkonservasi, bebas polusi. Itulah salah satu sebab kenapa tehnya dikategorikan “single origin”….

 
Produk yang dihasilkan adalah Teh Hijau maupun Teh Hitam dengan berbagai kualitas dan berbagai varian, ekspor maupun lokal. Ekspor dilakukan sampai Taiwan, Pakistan dan Timur Tengah. Varian produk dijual dalam bentuk bulk, teh seduh, teh celup maupun teh kemasan. Kualitas mulai dari Broken Mix (low grade) sampai Orange Pekoe 1 yang high quality. Penjualan dilakukan melalui trader, packer maupun retailer. Semua pipe line distribusi yang ada di pasar dimanfaatkan semuanya. Saya memaklumi kenapa kita harus main keroyokan dalam pemasaran dan distribusi ini karena pasar bagi produk teh dengan berbagai varian ini adalah “a very huge market”. Di seluruh pelosok dunia dimanapun tidak ada orang yang tidak minum teh. Di setiap acara, entah hajatan, dinas atau wisata atau perjalanan, pertanyaannya pasti : “tea or coffee”? Coca cola atau Pepsi yang begitu raksasa saja biasanya cuma sebagai minuman alternatif tambahan dalam berbagai peristiwa. Jadi saya yakin bahwa : “Tea will be lasting forever along with your life !”

 
Dengan keyakinan itulah maka ketika awal saya mendalami kondisi PT Mitra Kerinci ternyata begitu terseok-seok karena menanggung beban hutang, sebagai pemegang saham, saya lakukan berbagai langkah restrukturisasi keuangan. Dengan mempertimbangkan prospek bisnis ke depan yang cerah, sebagian hutang kepada Pemegang Saham, saya DEC (Debt to Equity Conversion) sehingga perusahaan menjadi lebih sehat, bunga lebih ringan dan perusahaan menjadi lebih lincah dalam berbisnis. Langkah-langkah operasional bisnis selebihnya saya serahkan kepada Pak Yosdian, tenaga muda yang masih enerjik ex MT (Management Trainee) yang pertama saya percaya menjadi Direktur Anak Perusahaan. Saya lihat bahwa semua lini operasi sudah digarap serentak. Di sektor produksi, sisi on farm dan off farm dibenahi. Penetrasi pasar juga dilakukan dengan agresif, baik melalui sinergi antar BUMN maupun sampai ke pasar luar negeri. Networking dan partnership dengan mitra yang sudah berpengalaman juga dilakukan. Produk-produk yang berpotensi mempunyai value spesifik seperti white tea semakin diintensifkan. Saat ini, teh yang disajikan diseluruh gerai Hotel Indonesia Group berasal dari Liki. Mungkin dengan bantuan pak Yana Aditya – DK PT RNI, PT Mitra Kerinci bisa menambah pasarnya ke jaringan Hotel Sahid….

 

 
Pada kesempatan acara kemarin saya juga minta Dir PU Pak Elka untuk mengintrodusir pemanfaatan Tools berbasis Teknologi Informasi yaitu Sistem Analisa Usahan Per Blok (SAUB). Dengan sistem ini maka progres pekerjaan di kebun akan selalu di-superimpose dengan pengajuan pembiayaan sehingga lebih memastikan bahwa semua biaya yang diajukan adalah benar-benar sudah selesai dikerjakan di kebun. Ujung-ujungnya saya berharap HPP akan turun sehingga produk teh Kebun Liki akan lebih kompetitif di pasar. Dijaman NOW seperti sekarang, hanya dengan berbekal GPS dan sistem Android yang ada di Smart Phone maka teknologi yang canggih sudah bisa kita genggam.
Lokasi alam pegunungan di kaki gunung Kerinci juga menyimpan potensi bisnis lain. Di tengah kebun mengalir sungai Lambai dan sungai Belangir. Di beberapa tempat sungai tersebut menciptakan air terjun yang potensial untuk berbagai penggunaan. Air terjun Tansi Ampek (yang artinya bertingkat empat) berpotensi menjadi obyek wisata yang sangat indah dan eksotis. Pertemuan kedua sungai (Lambai dan Belangir), berdasarkan kajian konsultan ternyata berpotensi menghasilkan PLTA 15,6 MW !

 
Sayapun meminta Dir PUI pak Agung untuk menjajaki lebih jauh peluang bisnis tersebut. Alhamdulilah proses berjalan terus dan terbukti banyak investor yang tertarik untuk berpartner menggarap proyek tersebut. Saya minta MK menggandeng BUMN atau anak perusahaan BUMN yang paham mengenai energi dalam kerangka sinergi sebagai partner. Jadilah anak perusahaan (bagi RNI adalah cucu) PT Liki Energi yang merupakan join venture antara PT Mitra Kerinci (55%) dan PT Brantas Energi yang merupakan anak perusahaan BUMN PT Brantas Abipraya (45%). Kelahiran proyek baru ini tinggal menunggu waktu karena ibarat kandungan sekarang sudah hamil tua. Penyusunan Amdal sudah hampir rampung yang akan segera diikuti dengan PPA (Power Purchase Agreement) dengan PLN dan setelah itu konstruksi akan mulai jalan, diawali dengan ground breaking.

 
Menurut Pak Bupati, area Kab. Solok Selatan juga menghasilkan emas yang saat ini ditambang oleh rakyat dengan teknologi sederhana. Saat ini semua penambangan rakyat sedang ditertibkan karena sedang menunggu investor yang akan mengusahakan penambangan tersebut dengan teknologi industri yang lebih maju. Kalau di sekitar kebun Liki juga ada potensi itu, benar-benar kejadian : “we are sitting in the gold mine” dlm arti sebenarnya!. Semoga holding BUMN Tambang bisa melirik potensi tersebut agar potensi Kabupaten Solok Selatan bisa tergali semua…

 

Dirut RNI Didik Prasetyo (kedua dari kiri) menikmati Teh Liki bersama (dari kanan kekiri) Ketua DPRD Solok Selatan Sidiq Ilyas dan Bupati Solok Sel.JPG

Jika kelak Kab. Solok Selatan semakin berkembang, tentunya kebun Liki juga akan terdampak. Sebuah Masjid Agung yang megah akan di bangun di area kebun yang terletak di pinggir jalan utama Padang – Jambi yang melintasi Kayu Aro. Perjalanan jauh menuju kebun pasti akan lebih menyenangkan. Walaupun perjalanan Padang – Liki sekarang juga sudah lancar dibandingkan 2 – 3 tahun yang lalu. Perbaikan jalan sudah selesai, termasuk membereskan sisa longsoran dan banjir. Udara sangat sejuk seperti di daerah sub tropis. Minum kopi di area danau Kembar ditemani pisang goreng terasa sangat nikmat. Danau kembar ini yang terdiri dari Danau Atas dan Danau Bawah sangat berpeluang menjadi lokasi wisata yang tidak kalah dengan Danau Batur di Bali. Pak Agung yang ahli kuliner sudah memandu dengan menyiapkan “wish list” yang “worthed” untuk dikunjungi : Bakso Tiara, Bakso Agung, Indomie Anak Rantau, Sate Soto Palo Pantai Cermin, Dendeng Batokok Mintuo, Baluik Sungai Kalo…. dan masih beberapa lagi yang saya nggak hafal. Sayang perut ini terbatas jadi tidak semua bisa dicoba…
Teh sebagaimana juga kopi menempati ruang sendiri-sendiri di peradaban manusia.

 
From Leaf, with Love, for Life…

 
May God Always Bless Us..

 
Wassalamualaikum wr.wb.

 
Jakarta, 9 Januari 2018.

 
Didik Prasetyo

Iklan

CEO Notes # 50 Desember 2017: Waktunya menyalip di tikungan terakhir… 

Assalamualaikum wr.wb,

 
Banyak sekali cara atau agenda bagi perorangan atau lembaga untuk menandai tutup bukunya di akhir tahun. Ada yang mengisinya dengan kaleidoskop seperti yang kita lihat di tv-tv. Sementara ada pula yang mengisinya dengan perenungan atau kontemplasi, meskipun tidak harus bertapa di gunung-gunung. Ada pula yang membuat resolusi, seperti yang banyak kita lihat di FB, IG maupun tweeter. Kelakuannya selama setahun kebelakang direnungkan dan dievaluasi kemudian sebuah tekad yang baru untuk memperbaiki diri ke depan dicanangkan yang niatnya nanti akan dimulai persis ketika lonceng berdentang dua belas kali di tanggal 31 Desember. Dilihat dari pertunjukan yang ditampilkan juga bermacam-macam. Ada yang tidak peduli kiri-kanan, yang penting tetap kerja, kerja dan kerja. Tujuannya : kejar target. Mencapai target akhir tahun selagi bisa jualan, selagi para pembeli masih belum beramai-ramai ambil cuti untuk liburan. Ada pula yang sibuk menghabiskan anggaran supaya anggaran tahun depan tidak dipotong. Alhasil, munculah berbagai kegiatan Raker, Rakor, sosialisasi, Forum Group Discussion, diseminasi, seminar, workshop, lokakarya atau apa saja namanya. Ada juga yang tetap “cool” dengan santai mengalokasikan waktu yang sangat berharga bersama keluarga ini untuk piknik akhir tahun. Mumpung anak-anak yang kos di luar kota bisa kumpul, mumpung banyak promo dan mumpung banyak tanggal merah beruntun. Seperti yang saya lakukan saat ini mumpung ada kesempatan, saya ambil cuti setelah lebih dari 3 tahun ngga pernah mengambil cuti untuk liburan bersama keluarga. Namun sebelum saya meninggalkan pekerjaan beberapa hal yang mesti dilakukan oleh masing-masing Direksi untuk PT RNI telah saya diskusikan bersama khususnya terkait dengan evaluasi kinerja tahun 2017 dan penetapan target tahun 2018 maupun pengembangan PT RNI kedepan.

 
Sudah sering saya katakan bahwa di PT RNI ada 3 anak perusahaan yang saat ini menjadi andalan karena kinerjanya yang secara konsisten bagus, yaitu PT Phapros Tbk, PT Rajawali Nusindo dan PT Rajawali I. Kepada ketiganya saya sangat berharap agar segera bermetamorfosa dari rajawali kecil menjadi mega rajawali yang terbang tinggi menjadi petarung yang tidak hanya bermain di kandang sendiri saja tetapi juga menjadi pendekar yang malang melintang disegani kawan dan lawan di luar kandang. Dari pesilat lokal yang tadinya hanya mengandalkan jurus Cimande dan Cikalong berbekal golok pemecah batok kelapa menjadi seorang “lihiap” atau “musashi” yang mahir memainkan pedang, tombak dan samurai.

 
Rupanya obsesi yang sama dirasakan oleh kolega saya para Direksi yang lain. Dalam beberapa perbincangan dengan Direksi maupun jajaran pejabat di PT RNI, saya sering mengutip ucapan yang sering saya dengar waktu saya masih staf di KBUMN dari mantan atasan saya waktu itu pak Sahat Sinaga bahwa mengelola BUMN itu ibarat “We Are Sitting in The Gold Mine”. Begitu besar potensi PT RNI Group untuk menjadi perusahan dunia yang sampai saat ini belum tergali dengan optimal. Para Direksi sudah sama frekwensinya dengan saya sehingga mereka gerah dan galau layaknya pelatih bola yang nonton dari pinggir lapangan menyaksikan pemainnya ngga nge”gol” in. Perusahaan bagus-bagus ini dengan potensi sumberdaya yang sangat besar kok hanya seperti pemain yang jago sekali men “juggling” bola di tempat tetapi tidak segera lari mendribble bola untuk menambah gol dan menaikkan peringkat di klasemen. Walhasil, nilai jualnya dan penopang bisnisnya juga nggak naik-naik.

 
Pak Agung yang menjadi pemain gelandang penyerang, selama setahun ini sudah sibuk lari kesana kemari mencari obyek untuk pengembangan baik di induk maupun di anak perusahaan seperti sedang bermain Champion Manager di Play Station IV. Pergaulannya dalam mencari peluang bisnis sudah tidak mengenal suku bangsa, ras, dan agama. Tamunya beragam warga mulai dari Australia, Jepang, Korea, Taiwan, India atau beragam profesi mulai pekebun, peternak, pedagang dan tentu saja para penanam modal. Bahkan akhir Januari atau Februari 2018 nanti beliau saya minta untuk pergi ke Jepang untuk mengakselerasi kerjasama RNI dengan Toyota. Kegiatan lain yang dikaji untuk dikembangkan juga bermacam-macam, mulai dari pengelolaan (tentu saja) tebu, kelapa sawit, stevia, bawang putih, ayam, sapi sampai bisnis kekinian : e-commerce…dan masih banyak lagi. Oleh karena itu saya meminta agar Direktorat Pengembangan dan Investasi segera punya struktur organisasi R & D yang menaungi semua riset-riset yang sudah ada di anak perusahaan seperti di PT PG Rajawali I, PT PG Rajawali II, PT Mitra Kerinci dan PT Phapros Tbk agar ide-ide tersebut ada yang ngawal.Jaringan yang dimanfaatkan juga saya lihat sangat banyak, alumni IPB, alumni Jepang, alumni SMA, tetangga, teman FB, Instagram, tweeter, teman sekampung disamping pejabat resmi di bidang masing-masing. Inilah sebuah contoh betapa pentingnya yang namanya networking itu. Tanpa diduga tanpa dinyana, kadang-kadang dari networking yang kelihatannya sepele itu kita berjodoh untuk dipertemukan dengan rejeki.! Apalagi sekarang ditambah kreasi beliau yang ikutan nge-vlog seperti Presiden kita, tak ayal lagi ini akan menjadi media promo gratisan tanpa harus roadshow keliling mencari investor yang menghabiskan banyak waktu dbiaya.

 
Pak Yana Aditya pun meskipun Direktur Keuangan (DK) yang biasanya duduk manis sambil mengatur keluar masuk dana dan memelototi angka-angka kinerja keuangan perusahaan serta berkomunikasi dengan para bankir maupun investor, dalam kapasitasnya sebagai Komut PT Phapros Tbk akhir tahun ini terpaksa keluar dari sarangnya dan turun gunung membawa Direksi PT Phapros Tbk dan pasukannya mencari padang perburuan baru sampai ke…….. Myanmar !

 
Tidak perlu saya ceritakan lengkap kegiatan bisnis yang dikembangkan PT Phapros Tbk disana, tetapi kisah yang menarik adalah laporan pak DK tentang Myanmar itu sendiri dan tentu saja dengan para tokoh bisnisnya. Negara berpenduduk 60 juta itu rupanya saat ini sedang berada dalam situasi transisi dari junta militer menuju demokrasi. Kurang lebih seperti Indonesia di awal Era Reformasi. Peran penggerak perekonomian secara perlahan tapi pasti sudah mulai dilimpahkan dari negara (militer) ke swasta. Dan sebagaimana terjadi dalam berbagai musim bisnis, ketika hujan turun tidak merata, maka swasta itupun direpresentasikan oleh para elit yang memang sudah membina hubungan baik sejak lama dengan kekuasaan.

 

Alhamdulillah atas bantuan Dubes Myanmar – Pak Ito Sumardi rombongan PT RNI dapat bertemu dengan para tokoh-tokoh berpengaruh, diantaranya adalah Dr. Zaw Wi Min yang merupakan President UMFCCI, semacam Kadin di Indonesia, Dr. Mya Han yang berbisnis segala bidang mulai dari logistik, farmasi, properti sampai komunikasi, Dr. Win Si Thu sang calon partner pemilik raksasa farmasi Myanmar sekaligus juga Ketua GP Farmasi disana, yang istrinya bersekolah SD di Jalan Agus Salim Jakarta. Madame Win ini tinggal selama tiga tahun di Jakarta ketika ayahnya, seorang Jenderal ditugaskan menjadi Duta Besar di Indonesia. Katanya, dengan lancar beliau masih bisa berhitung mulai satu sampai sepuluh. Sama seperti Barrack Obama yang masih hafal dengan sate-bakso-enaak.

 
Penghormatan para tokoh terhadap kedatangan rombongan PT RNI ini juga dilaporkan sangat luar biasa. Mereka menggunakan pakaian adat Myanmar, yaitu..pakai sarung! Kemeja atasnya pakai baju ber-rompi atau batik tulis tetapi bawahnya bersarung yang umumnya bermotif kotak-kotak lembut. Tidak heran katanya perusahaan sarung Indonesia cap Gajah Duduk pernah sukses berjualan sarung di Myanmar. Bisnis tidak berlanjut karena ketika volume ditingkatkan ternyata penjualan tidak lancar lagi. Tetapi ada potensi untuk berjualan “sarung” yang lain. Menurut statistik ternyata Myanmar adalah negara dengan pengidap HIV AIDS nomer dua terbesar didunia. Disinilah peluang bagi “sarung”nya PT Mitra Banjaran anak perusahaan PT RNI yang memproduksi kondom.

 

Sementara itu, Pak DPU- Pak Elka Wahyudi yang mewakili saya karena tiba-tiba saya dijadwalkan ikut dalam delegasi bisnis ke Korea bersama rombongan KBUMN dan BUMN lainnya meskipun tertunda juga membawa banyak oleh-oleh dari Thailand.
Thailand yang sudah menjadi Harimau Gula di Asia dengan produksi mencapai 12 juta ton gula setahun tampaknya memang tidak akan terkejar oleh Indonesia yang masih tertatih-tatih di angka dua koma sekian juta ton setahun. Namun saat ini mereka sedang galau dengan penyakit “white leaf disease” yang berjangkit di daratan Asia (Alhamdulilah tidak termasuk Indonesia) sehingga dengan bersemangat membuka diri untuk bekerjasama dengan para peneliti lembaga riset se-Asia untuk mencari jalan memberantas penyakit tersebut. Disamping menawarkan kerjasama riset, Thailand juga unjuk gigi industri hilir gulanya yang memang juga sudah sangat advance dibanding dengan kita. Bio-ethanol yang dihasilkan sudah tidak lagi dari molasses (tetes tebu) tetapi dari bagasse (ampas tebu). Kalau negara kita masih kerepotan dengan limbah plastik sehingga pernah ada kebijakan tas plastik “berbayar” untuk membatasi penggunaannya maka Thailand sudah bisa menghasilkan bio-plastik dengan bahan baku dari ampas tebu yang ramah lingkungan. Saya bayangkan kalau teknologi ini sudah bisa kita adopsi, maka ampas kita mungkin akan tidak lagi dibakar untuk menghasilkan uap. Dan masih banyak lagi cerita peluang bisnis industri hilir yang sebaiknya saya diskusikan dulu dengan teman-teman di cafe sambil ngopi di awal Tahun Baru nanti.

 

Pak DSDM dan Aset Manajemen – Pak Djoko Retnadi yang punya tugas berat untuk menyiapkan SDM para generasi mileneal sekarang ini yang akan menjadi pelaku utama perubahan di masa depan. Sistem dan iklim baru untuk menghadirkan situasi kondusif bagi tumbuh kembangnya inovasi terus diciptakan. Mulai dari mengidentifikasi bidang kompetensi SDM-nya, sarana kerjanya, merubah kurikulum pelatihan jabatannya sampai sistem imbalan kerjanya. Beruntung BUMN mempunyai Forum Human Capital yang bisa dipakai sebagai sumber tukar kawruh antar pengelola SDM untuk lebih mempercepat lahirnya para genetik super kita.Tidak hanya itu beliau juga sibuk memetakan aset-aset PT RNI group yang sangat potensial untuk dioptimalkan baik disinergikan antar anak perusahaan maupun dengan BUMN lainnya termasuk investor. Saya sudah wanti-wanti kepada beliau bahwa optimalisasi asset idle ini nanti akan menjadi salah satu pilar pendongkrak kinerja RNI yang sangat penting.

 
Jadi ibarat GP Formula One, menjelang akhir tahun ini menjadi momentum penting untuk tancap gas dan menyalip di tikungan terakhir agar di racing berikutnya kita masih pada posisi yang menguntungkan untuk akhirnya meraih piala dan naik panggung pada akhir pertunjukan. Amiin.

 
Selamat Tahun Baru 2018. Semoga tahun 2018 jauh lebih baik dari tahun 2017. Selamat berlibur. Salam dari negeri ginseng.

 

Wassalamualaikum wr.wb.

 
Seoul, 31 Desember 2017.

 
Didik Prasetyo

CEO Notes # 49 Metamorfosa di 3 Nopember 2017 : Dirgahayu PT Rajawali I

Assalamualaikum wr.wb,

 
Kalau saya membolak-balik history in the past dari RNI Group, selalu ada hikmah dan pelajaran dari perjalanan panjang perusahaan ini. Baik itu dari sisi bisnis, budaya dan juga politik. Dari sisi bisnis tentu saja sudah banyak perubahannya karena hanya berawal dari perusahaan yang berdagang hasil bumi sekarang menggurita sampai memiliki bisnis kondom dan alat suntik yang pasti sulit untuk dihubung-hubungkan, hehehe….

 
Dari sisi budaya juga pasti sangat kontras perubahannya karena dulu adalah perusahaaan non-pribumi, sekarang menjadi perusahaan plat merah. Belum lagi dari sisi politik. Sejak Oei Tiong Ham mendirikan Oei Tiong Ham Concern (OTHC) bahkan jauh sebelum itu ketika kakeknya yang bernama Oei Tjie Sien bermigrasi dari Fujian – Cina ke Indonesia, perusahaan ini sudah mengalami pasang surut melalui berbagai jaman : penjajahan Belanda, Jepang, Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi yang pimpinannya berganti-ganti puluhan kali.

 
Salah satu tempat terpenting yang menjadi pusat kendali bisnis waktu itu adalah Surabaya, tepatnya di Jalan Undaan Kulon 57-59, disamping markas besarnya di Semarang yang kemudian dipindahkan ke Singapura. Gedung kantor yang sekarang dinyatakan oleh Pemkot Surabaya sebagai cagar budaya menjadi saksi sejarah metamorfosa dan transformasi dari berbagai kegiatan bisnis OTHC atau RNI. Metamorfosa terakhir menjadi PT PG Rajawali I sekarang ini yang tetap di UK 57-59 Surabaya ini.

 
Barangkali tidak ada anak perusahaan RNI Group yang pernah mengalami metamorfosa sebanyak PT PG Rajawali I. Seperti kupu-kupu yang mengalami fase menjadi ulat dan kepompong sebelum bisa terbang menjadi kupu-kupu yang indah.

CEO1.jpg

Pada tanggal 3 Nopember 2017 kemarin, mereka merayakan HUT-nya yang ke 63. Lebih tepat dikatakan merayakan tonggak sejarah fase metamorfosanya karena agak aneh kalau itu dihitung sejak lahir. Usianya menjadi lebih tua dari induknya, PT PPEN Rajawali Nusantara Indonesia yang pada tanggal 12 Oktober 2017 yang lalu baru merayakan hari jadinya yang ke 53. Bisa jadi yang terjadi adalah anaknya sudah dewasa, kenapa bisa begitu? Seperti yang saya baca dalam kisah berikut ini.

 
Cikal Bakal PT PG Rajawali I berawal dari tahun 1894 dengan didirikannya Pabrik Gula Rejo Agung yang dikenal dengan N.V. (Naamloze Vennootschap) Pakkies Pabrik Gula Rejo Agung yang berlokasi di Madiun. N.V Pakkies Pabrik Gula Rejo Agung merupakan salah satu anak perusahaan N.V. Handel MT. Kian Gwan. Kalau mau dihitung sejak saat itu maka PT Rajawali I ini ukurannya mungkin sudah termasuk perusahaan “purbakala” …he he he N.V. Handel MT. Kian Gwan kemudian berubah menjadi Oei Tiong Ham Concern (OTHC), dan melakukan ekspansi dengan membeli N.V. Pabrik Gula Krebet Baru yang didirikan pada tahun 1906. Kemudian pada tahun 1961, seluruh perusahaan OTHC dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia. Operasional perusahaan selanjutnya dilaksanakan oleh Menteri Keuangan yang pada waktu itu mempunyai nama agak panjang yaitu Menteri Urusan Pendapatan, Pembiayaan dan Pengawasan (P3). Meneer Oei ini sangat dikenal berpikiran maju pada jamannya. Pabrik gulanya sudah mengadopsi teknologi dari Jerman. PG Rejo Agung Baru mengadopsi teknologi mengolah gula premium dengan teknologi double karbonatasi.

 
Tanggal 3 Nopember dianggap sebagai tonggak yang bersejarah karena pada tanggal itulah, PT PG Krebet Baru terdaftar di Kementerian Hukum RI pada tahun 1954. Inilah sebabnya mengapa unit usahanya menjadi lebih tua dari induknya. Pada tahun 1975 didirikanlah PT Imaco (Industrial Management Company) yang menjadi pengelola manajemen bagi unit-unit usaha Eks OTHC yang lain, seperti PG Krebet Baru, PG Rejo Agung Baru, bahkan juga PT Phapros.

Di masa itu juga dilakukan ekspansi bisnis dengan membangun PG Krebet Baru II pada tahun 1976 dengan kontraktor dari Inggris (United Kingdom).

 
Pada tanggal 15 Oktober 1996, PT PG Rejo Agung Baru merger dengan PT PG Krebet Baru dan menghasilkan satu New-Co dengan nama PT PG Rajawali I.

 
Itulah pertama kali muncul nama PT PG Rajawali I yang memang rumahnya tetap di UK. Bukan United Kingdom, tapi Undaan Kulon !

 
Kiprah PT PG Rajawali I juga kemudian tidak kalah lincahnya. Dalam rangka melebarkan sayap bisnisnya, perseroan mengakuisisi PT Kebun Grati Agung pada tahun 1997. Tujuannya adalah bersinergi dengan PG Candi Baru yang sudah diambil alih oleh PT RNI agar bahan bakunya dapat dipenuhi. Juga pernah mengakuisisi PT Mitra Nusantara untuk memanfaatkan kelebihan ampas di PG Rejo Agung untuk dibuat menjadi particle board, dan satu pabrik pakan ternak dari pucuk tebu di Malang bernama PT Pucuk Rosan Jaya.

 
Memang bisa diperdebatkan, kapan kelahiran sebenarnya dari perusahaan ini. Sama seperti kupu-kupu yang mengalami metamorfosa, apakah mau dihitung sejak keluar telur atau ketika berubah menjadi larva atau sejak kepompong berubah terakhir menjadi kupu-kupu? Sepertinya ini akan menjadi pekerjaan rumah saya bersama teman-teman dari legal untuk membenahinya.

 
Mengapa demikian?
Ternyata, hari jadi ini menjadi penting ketika teman-teman Direksi anak perusahaan ini bisa memaknai dan mengisi perayaannya ini sebagai momen introspeksi, momen kontemplasi, momen untuk evaluasi diri untuk kemudian memperbaharui langkah maju ke depan. Ketika momen penting tersebut dilakukan pada saat perayaan hari jadi, mau tidak mau gaungnya akan dirasakan oleh seluruh jajaran manajemen. Bahkan juga sampai pemegang saham.

CEO2.jpg

Ketika saya diundang ke Rajawali I untuk merayakan hari jadi tersebut, Pak Gede Meivera – Direktur Utama bersama Pak Sagita Haryadin – Direktur Keuangan mengumpulkan seluruh jajarannya 1 level di bawah Direksi dan memaparkan kinerja yang telah dicapainya dalam giling tahun ini dan rencana-rencana pengembangan ke depan.

 
Saya bersyukur dan mengapresiasi kinerja yang telah dicapai karena berdasarkan data yang diambil dari Kementerian BUMN, sampai saat ini rendemen PG Rajawali I masih memegang rekor tertinggi dibandingkan saudara-saudaranya sesama perusahaan gula pelat merah. Bahkan rata-rata seluruh RNI juga terangkat dan tetap menduduki posisi teratas. Walaupun masih ada satu dua PG yang masih menyelesaikan gilingnya namun sampai saat ini rendemen PG Krebet Baru masih bertahan di atas rata-rata sehingga diharapkan posisi ini akan bertahan sampai akhir giling. Memang sudah diprediksi bahwa target jumlah tebu tidak akan tercapai karena bobot tebu menurun 15% hingga 30% sedangkan rendemen juga sedikit dibawah target anggaran sehingga total produksi gula juga akan turun. Namun diharapkan pencapaian laba akan dapat dicapai sesuai anggaran karena penurunan produksi tersebut diimbangi dengan penurunan biaya. Menurut data AGI, prognosa nasional gula juga akan turun dari estimasi 2,6 juta ton menjadi 2,1 juta dengan penyebab yang sama.

CEO3.jpg
Satu hal yang membesarkan hati ketika Direksi RW I secara bergantian memaparkan rencana pengembangan ke depan, ternyata mereka dapat menangkap dan menterjemahkan visi saya ke depan yang selalu saya komunikasikan melalui CEO Notes. Ancaman tapi sekaligus juga peluang yang besar bagi industry berbasis tebu telah coba diexplore dengan memanfaatkan tenaga-tenaga muda yang cerdas dan bersemangat tinggi. Perpaduan dari MT dua generasi sangat diperlukan. MT yang satu adalah para Management Trainee yang masih fresh graduate atau generasi millenial dengan penguasaan teknologi informasi yang canggih dan MT yang lain adalah “Manajemen Tuwek”yang berbekal pengalaman dan semangat tinggi.

 
Saya berharap agar di anak perusahaan yang lain juga dilakukan seperti itu. Memadukan tenaga muda dan tenaga senior yang berpengalaman untuk menyongsong hari depan yang penuh tantangan. Dengan demikian warisan bisnis yang sudah mencapai hitungan abad ini akan tetap bisa kita pertahankan untuk menghidupi anak cucu dan memberikan kontribusi ikut mensejahterakan bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dirgahayu PT PG Rajawali I.

 
Selamat bekerja untuk semuanya.

 
Semoga Allah SWT meridhoi kita semua. Amiin YRA.

 
Wassalamualaikum wr.wb.

 
Jakarta, 6 Nopember 2017.

 
Didik Prasetyo

 

# 48 Di Hari Sumpah Pemuda : BUMN Hadir di Kampus…

Assalamualaikum wr.wb,

 
Persis di saat bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda di tanggal 28 Oktober , RNI kembali terlibat dalam acara yang digelar atas prakarsa Kementerian BUMN dengan tajuk : BUMN Hadir di Kampus. Acara ini serentak dilakukan di 28 kampus di se antero negeri dengan melibatkan tidak kurang dari 52 BUMN. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan BUMN Hadir Untuk Negeri, dimana RNI selama ini juga sudah terlibat sebelumnya seperti HUT Kemerdekaan di daerah (Propinsi Kaltara, Sulawesi Utara dan Sulawesi Barat), Pertukaran Pelajar (Siswa Mengenal Nusantara), BUMN Mengajar, tentu saja dengan segala macam aktivitas seperti bedah rumah veteran, elektrifikasi pedesaan, jalan sehat, dan masih banyak lagi.

22886045_1768596636484428_8385536010540122902_n.jpg

Memang sangat tepat momen ini dipakai sebagai ajang untuk untuk menyalakan kembali semangat api Sumpah Pemuda di kalangan pemuda dan mahasiswa. Mengutip sambutan Prof. Firmanzah – Rektor Universitas Paramadina – pada saat pembukaan acara ini di kampus beliau, inilah saatnya seluruh anak bangsa menyatukan diri dalam satu tujuan untuk melawan musuh yang aktual saat ini yaitu memenangkan persaingan global. Negara kita saat ini sudah over politisasi menurut beliau. Setiap isu yang muncul di tengah masyarakat bisa ditarik-tarik ke ranah politik. Sebentar lagi tahun 2018 dan 2019 juga akan menjadi tahun politik, mulai dari Pilkada serentak sampai Pilpres. Walaupun kepentingannya berbeda namun semua harus menuju satu tujuan menjadi bangsa yang unggul dan sejahtera di masa depan.

 
Pada gelaran acara kali ini RNI bersama Perhutani dan Inalum mendapat jatah untuk manggung di Universitas Paramadina Jakarta. Para pembicaranya menurut istilah moderator Dr. Prima Naomi adalah para “pemuda idaman” saat ini kecuali saya tentunya yg sudah tidak muda lagi. Di usia muda sudah menjadi CEO BUMN dan rektor Universitas terkenal sehingga mencerminkan phenomena cross border di era disruptive technology ini. Mas Denaldy – Dirut Perhutani – adalah ahli finance dengan 3 gelar master, lulusan dari University of Maryland USA yang lama berkarir di swasta sebelum berkiprah di BUMN yang core business-nya justru di sektor kehutanan. Dan yang paling idola tentunya Pak Rektor sendiri. Pernah menjadi Komisaris Utama RNI, Pak Fiz – demikian beliau dipanggil – adalah tokoh muda yang sarat dengan prestasi akademik. Pada usia 28 tahun sudah menyandang gelar Ph.D dari Universitas Pau and Pays De l’Adour Perancis dan sekaligus menyabet 3 gelar Master dari perguruan tinggi lain. Beliau juga menjadi tokoh yang phenomenal ketika pada usia 32 tahun sudah menjabat Dekan FEUI, sekaligus rekor sebagai Dekan termuda di Indonesia.

22851727_10215264118782459_2615690957811578919_n.jpg

Kami bertiga secara bergantian memberikan paparan di depan para mahasiswa yang jumlahnya kurang lebih mencapai 1000 orang. Dan ternyata juga tidak hanya dari Paramadina saja. Ada yang dari Universitas Pendidikan Indonesia di Purwakarta, Universitas Nusa Bangsa Bogor, Binus University dan beberapa lagi. Mereka antusias mengikuti paparan dan menyimak materinya karena di akhir paparan kami semua membagi quiz berhadiah untuk para peserta yang bisa menjawab dengan benar setiap pertanyaan yang diajukan. Hadiahnyapun sangat sesuai dengan kebutuhan mereka – para generasi mileneal saat ini – Handphone dan Tab termasuk rekreasi di obyek wisata Kawah Putih milik Perhutani! Belum lagi hadiah hiburan dan door prize berupa powerbank, flashdisk dan sejenisnya.

 
Tema dari kegiatan BUMN Hadir di Kampus ini adalah BUMN Membangun Ekonomi Berkeadilan. Civitas akademika merupakan bagian penting dari generasi bangsa yang diharapkan mampu mengubah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik, adil, makmur dan sejahtera. Oleh karena itu BUMN bekerja sama dengan BEM di setiap perguruan tinggi menyelenggarakan kegiatan ini untuk memberikan pemahaman tentang peran strategis BUMN dalam pembangunan ekonomi nasional dan menjembatani sinergi BUMN dengan perguruan tinggi yang memiliki resource sumberdaya manusia profesional. Untuk keperluan tersebut tidak tanggung-tanggung yang diterjunkan ke kampus adalah langsung para Dirut masing-masing BUMN dan para pejabat eselon I Kementerian BUMN, baik para Deputy maupun Staf Khusus.
Saya berbagi materi dengan Pak Dirut Perhutani mengenai pencapaian kinerja dan kiprah yang telah dilakukan BUMN di era pemerintahan Jokowi-JK tiga tahun terakhir ini termasuk berbagai tantangan yang dihadapi dan visi beliau tentang Indonesia tahun 2045.

 

22789014_1768596809817744_7311148145376394291_n.jpg

Masyarakat pasti mengakui yang secara kasat mata terlihat dan dirasakan adalah pembangunan infrastruktur yang begitu gencar dan masif dilakukan di seluruh tanah air. Sampai dengan 2019 akan beroperasi 1.580 km jalan tol, di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Untuk mendukung transportasi laut disiapkan 5 Proyek Pelabuhan utama. Pembangunan dan perluasan bandara juga dilakukan tidak kurang dari 10 titik mulai Siborong-borong sampai Banjarmasin. Belum lagi sarana jalan darat biasa yang menghubungkan dan mempersatukan seluruh Nusantara ini sehingga akan terbangun konektivitas untuk kelancaran kegiatan perekonomian yang notabene bisa menurunkan biaya logistik nasional. Harga BBM sudah bisa disamakan di seluruh pelosok termasuk Papua. Harga semen di Papua juga sudah berhasil diturunkan dari Rp.2 juta menjadi Rp.500 ribu per zak. BUMN sangat berperan dalam ikut menurunkan dan menyamakan harga tersebut. RNI sendiri ikut terlibat dalam upaya untuk menurunkan harga kebutuhan bahan pokok. RNI melalui anak perusahaannya – Rajawali Nusindo – bekerjasama dengan BUMN lain yaitu Pelindo II, PELNI dan BULOG kebagian tugas untuk mendistribusikan bahan kebutuhan pokok di Tahuna (Sangihe Talaud) dan Natuna melalui program tol laut Nusantara. Menurut survey yang dilakukan, setelah adanya program distribusi lewat tol laut ini disparitas harga dengan di Jawa yang semula 60% sudah turun hanya tinggal 10%. Kemajuan yang luar biasa !
Peran BUMN yang hampir meliputi segala bidang sering memunculkan isu-isu miring seputar keberadaan BUMN ini. Misalnya tentang pengambil alihan pekerjaan pembangunan jalan tol dari swasta oleh BUMN. Dalam kasus jalan tol Trans Java, BUMN terpaksa mengambil alih karena pekerjaan tidak kunjung selesai, sementara Presiden yang sangat concern dengan pentingnya konektivitas dalam rangka menurunkan logistic cost meminta agar proyek ini cepat selesai. Akhirnya pekerjaan yang sudah dimulai tahun 1996 ini harus dilanjutkan oleh BUMN. Demikian juga dengan beberapa ruas tol lainnya. Seluruh ijin pembangunan Trans Java telah diberikan pihak swasta tetapi proses pembangunannya tidak diselesaikan, kecuali jalur Merak-Jakarta. Akhirnya BUMN membeli hak ijin tersebut dengan harapan agar target Merak-Probolinggo sudah terhubung di tahun 2018 dan nyambung ke Banyuwangi hingga 2019.

 
Juga ada isu bahwa BUMN dan anak atau cucu perusahaannya mengambil porsi bisnis UMKM. Yang kelihatannya menjadi sumber kecemburuan adalah bisnis catering untuk maskapai penerbangan. Padahal penyiapan catering itu memang harus dilakukan sendiri oleh Garuda agar food safety and security sesuai dengan yang dipersyaratkan. Apalagi volumenya sudah sangat besar sehingga sudah bukan kelas UMKM lagi tetapi harus korporasi. Untuk pembinaan UMKM sendiri BUMN telah membina 435 ribu UMKM Binaan dari dana PKBL dan CSR yang selalu dialokasikan lewat RKAP setiap tahun.
Isu yang sangat peka adalah yang bersinggungan dengan politik. Seperti diketahui oleh khalayak bahwa Menteri BUMN selama lebih dari setahun ini ditolak untuk menghadiri acara dengan Komisi VI DPR yang membidangi B

 

UMN. Apakah ada pengaruhnya terhadap kinerja BUMN ? Tidak..
Masalah ketatanegaraan memang menjadi hak DPR dan harus tetap dipatuhi, untuk itu Presiden telah menunjuk Menteri lain untuk menggantikan Menteri BUMN manakala DPR membutuhkan. Dan hal itu telah dijalankan dengan baik oleh pejabat yang ditunjuk yaitu Menteri Keuangan dan Menteri Perindustrian, sementara Menteri BUMN dan jajarannya serta kami para pengelola BUMN ini tetap kerja, kerja, kerja…..!!
Prof.Firmanzah menekankan betapa besar tantangan yang dihadapi CEO BUMN karena dibelenggu oleh lebih banyak aturan dari pada CEO Swasta yang hanya tunduk kepada Undang-undang Perseroan Terbatas, Undang-undang Pasar Modal (bagi yang sudah go public) dan Undang-undang Sekroral. Sementara BUMN masih diatur dengan Undang-undang BUMN, Undang-undang Pengelolaan Keuangan Negara, Undang-undang Tipikor dan beberapa lagi yang total jumlahnya ada 8 perundangan yang harus diikuti. Jadi, menurut Pak Fiz, CEO BUMN harus lebih lihai dari pada CEO Swasta dan kalau sukses berarti kualitasnya berarti juga lebih baik dari swasta. Silahkan anda yang menilai, hehehe….

 
Memang Kementerian BUMN tidak tanggung-tanggung mencurahkan perhatian untuk kesuksesan acara ini. Semua BUMN telah diinstruksikan untuk mensupport penyelenggaraannya secara total, mulai dari sarana publikasi seperti backdrop, umbul-umbul, banner, perbanyakan materi yang harus dibagikan kepada seluruh mahasiswa yang jumlahnya minimal 1000 orang dan juga pembuatan kaos, topi sampai penyediaan catering, snack, door prize dan hadiah-hadiah lainnya.

 
RNI secara tidak sengaja menjadi tuan rumah di dua tempat. Semula di Universitas Brawijaya Malang tetapi in the last minute kami harus pindah ke Universtas Paramadina. Syukur alhamdulilah bahwa Jawa Timur termasuk Malang adalah “rumah kedua” bagi RNI karena disana ada PT Rajawali I dan PG Krebet Baru. Juga banyak sekali alumni Unibraw yang berkarir di RNI seperti Dirut PT Rajawali I Pak Gede Meivera dan Direktur PT Mitra Kerinci Pak Yosdian sehingga tatkala kami harus mengerahkan task force kesana, Insya Allah tidak menjadi hambatan yang berarti. Tentu saja teman-teman di PG Krebet Baru di Malang juga sudah mengenal sudut-sudut kota ketika harus ditugaskan mencari bahan atau jasa untuk mendukung acara. Sebaliknya juga dengan Paramadina, karena letaknya juga “bertetangga” dengan RNI maka kami masih bisa mengerahkan sumberdaya yang ada untuk menyukseskan acara dadakan tersebut.
Secara keseluruhan saya menyimpulkan bahwa acara ini telah berjalan dengan sukses. Para pengisi acara, baik para pembicara, moderator sangat bersemangat. Terimakasih untuk Pak Rektor Prof.Firmanzah dan segenap jajarannya. Untuk Ibu Dr. Prima Naomi selaku mederator yang sudah sangat berhasil menghidupkan suasana diskusi. Rekan saya Mas Denaldy yang telah berbagi tugas dengan saya. Juga kepada para mahasiswa yang ternyata setia mengikuti acara ini sampai selesai meskipun tidak semua kebagian HP atau Tab.

 
Tidak ada kata lain bahwa kegiatan ini adalah untuk kejayaan negeri kita khususnya dalam menyiapkan dan menyemangati para generasi muda dalam menyongsong persaingan yang lebih berat dimasa depan termasuk mengenal peran BUMN dan bersedia untuk berkarir di BUMN.

 
Akhir kata : Bagimu Negeri – Jiwa Raga Kami…..

 
Salam Sumpah Pemuda

 
Semoga Allah SWT meridhoi kita semua. Amiin YRA.

 
Wassalamualaikum wr.wb.

 
Jakarta, 29 Oktober 2017.
Didik Prasetyo

CEO Notes # 47 Renungan Ulang Tahun RNI ke 53 : “Berubah atau Mati”.

Assalamualaikum wr.wb,


Tanpa terasa, pada tanggal 12 Oktober 2017 yang lalu, PT RNI yang terlahir dengan nama PT Perusahaan Perkembangan Ekonomi Nasional (PPEN) Rajawali Nusantara Indonesia telah genap berusia 53 tahun. Jadi kembalinya Ceo Notes setelah lama absen dan menjadi pertanyaan teman-teman yang menyatakan sebagai pelanggan tulisan ini, ceritanya adalah sebagai edisi Ulang Tahun.

DSC_0947.JPG
Seperti layaknya orang melakukan perjalanan, kita akan berhadapan dengan riak dan gelombang jika melalui laut, melewati jalan yang berliku di darat atau menghadapi turbulensi jika terbang di udara. Demikian juga yang saya rasakan di RNI. Perubahan terjadi begitu cepat. Perubahan yang membawa tantangan dan peluang baru, dimanapun kita berbisnis. Kita memasuki era disruption, era yang memporak porandakan seluruh teori-teori manajemen yang selama ini kita pelajari dan kita jalani. Siapa yang pernah membayangkan bahwa perusahaan taxi terbesar di dunia tidak mempunyai armada satupun yakni “Grab”. Siapa yang menyangka bahwa perusahaan hotel terbesar dunia saat ini tidak memiliki satupun hotel yakni “AirBnB”. Oleh karena itu, kita sebagai insan-insan RNI Group mesti cepat merespon perubahan yang terjadi di lingkungan kita, baik eksternal maupun internal kita.


PT Rajawali Nusindo pada tahun ini kehilangan 2 prinsipal besarnya yaitu Philips dan Mustika Ratu. Kehilangan ini merupakan pertimbangan yang rasional dan professional, terutama apabila kerjasama bisnis sudah tidak lagi saling menguntungkan. Hal yang serupa juga terjadi pada PT GIEB. Direkturnya, Ibu Christiyarsih tahun ini terpaksa lebih sibuk melakukan pembenahan dan konsolidasi termasuk menutup beberapa cabang.Penerapan e-catalog juga berdampak pada turunnya harga jual produk sehingga pabrikan harus makin efisien agar produknya bisa bersaing di pasar. Hal ini tentunya harus menggugah PT Phapros untuk berinovasi atau mengembangkan produk baru yang dibutuhkan oleh masyarakat. Apalagi pertumbuhan industri farmasi sekarang ini tidak lagi “double digit” seperti ditahun-tahun sebelumnya.


Industri karung plastik juga dituntut untuk mampu menurunkan tingkat “reject”-nya dan mencari alternatif bahan baku yang lebih murah agar HPP bisa ditekan. Upaya transformasi yang dilakukan oleh pabrik kulit PT Tanjungsari menjadi pabrik karung plastik memerlukan CHANGE yang radikal di bidang SDM.


Belum lagi tantangan yang dihadapi industri gula kita. Penerapan SNI GKP secara konsisten ternyata membuat PG kalang kabut. Ketika harus dilakukan perbaikan yang memerlukan cukup banyak pengorbanannya. Reproses harus dilakukan atau teknik “memasak” gula juga harus disesuaikan dengan konsekuensi ada sedikit penurunan rendemen. Sementara itu, kebijakan tata niaga gula saat ini telah membuka dunia baru bagi PG yang selama ini hanya bermain di level “bulky” saja. Secara bertahap memang sudah waktunya kita hijrah ke produk gula yg lebih “branded” atau fancy. Sama seperti yang sudah dilakukan oleh tetangga di seberang pulau yang sudah memproduksi gula aneka warna disatukan dengan pengaduknya atau “sugar stick” dalam kemasan yang lebih elegan.


Saya sangat bangga dan berbesar hati bahwa rekan-rekan seluruh karyawan, baik di jajaran top management maupun di lapisan pelaksana yang mampu bangkit dan mencari solusi dan peluang bisnis baru sehingga roda perjalanan perusahaan masih tetap berjalan dengan baik. Ini bentuk respon terhadap perubahan, kita mesti berubah, berubah untuk menjadi lebih baik, atau mati. Oleh karena itu tag line “Berubah atau Mati” atau bahasa kerennya “ Change or Die “ menjadi relevan untuk diangkat dalam Tema Ulang Tahun RNI yang ke 53 ini.PT Rajawali Nusindo telah mengembangkan usaha distribusinya dengan menangkap peluang dan kesempatan yang diciptakan oleh Pemerintah yang sedang giat membangun perekonomian dari pinggiran. Penciptaan unit-unit ekonomi di pedesaan akan sangat sejalan dengan bisnis perdagangan kita. Komitmen Pemerintah untuk lebih memberdayakan BUMN akan sangat mendorong aktivitas bisnis kita di cabang cabang seluruh Indonesia. Bisnis beras, gula dan minyak goreng diharapkan menjadi sales generator menggantikan Philips dan Mustika Ratu. Sementara pengembangan alkes, vaksin dan alat laboratorium diharapkan menjadi profit generator. Kerja sama dengan Rumah Sakit untuk Total Laboratory Solution yang terbukti menguntungkan juga sangat berpeluang untuk dikembangkan di masa mendatang.PT Phapros yang secara finansial relative terkuat di RNI grup harus menangkap peluang di bidang farmasi yang ke depan sangat menjanjikan, seperti: biosimilar, stem cell dan vaksin. Saya menghargai kerjasama yang dijalin dengan berbagai Universitas untuk pengembangan produk-produknya.


Transformasi PT Rajawali Tanjungsari sudah mampu menghasilkan 1,5 juta lembar karung per bulan dengan HPP yang lebih murah 10% dibandingkan dengan standardnya. Turunnya HPP ini disebabkan karena inovasi dalam penggunaan bahan baku yang lebih kompetitif.


Kondisi lingkungan eksternal bagi pabrik gula disamping mendatangkan tantangan sekaligus juga menciptakan peluang yang luar biasa.Perbaikan infrastruktur dan perkembangan industri di Jawa Barat yang sangat cepat, menuntut PT PG Rajawali II untuk bisa menentukan sikap. Peta persaingan akan semakin ketat tidak hanya sebatas pada komoditi pertanian namun juga di sektor lain seperti perumahan dan kawasan industri. Cerita mengenai bandara Kertajati yang berhimpitan dengan PG Jatitujuh pernah saya sampaikan dalam CN sebelumnya. Demikian pula dengan PG Subang yang terbelah jalan tol dan sebentar lagi juga akan disambungkan dengan jalan utama ke pelabuhan besar yang akan segera dibangun yaitu Patimban.Rencana pembangunan PG baru yang masih akan bertambah lagi di Jawa Timur tidak boleh menyurutkan langkah PT Rajawali I yang selama ini menjadi penyumbang utama dividen PT RNI Holding selaku induk perusahaannya. Predikat juara dalam hal rendemen yang sudah diraih oleh unit PG Krebet Baru II hendaknya semakin dimantapkan bersamaan dengan tuntutan mutu gula yang lebih baik. Pemanfaatan teknologi informasi atau digitalisasi saya harapkan semakin diperluas dengan berbagai aplikasi di macam-macam bidang.

Penggunaan RFID dalam mengendalikan transportasi tebu bisa ditiru di PG-PG lain dengan harapan akan dapat memonitor perjalanan angkutan agar tidak “mampir” ke tempat yang bukan seharusnya atau hanya sekedar “keluar masuk” pabrik. Juga dapat digunakan sebagai alat untuk mendeteksi “cut to crush time” sehingga tebu yang tergiling selalu segar.


PG Candi Baru akan menghadapi tantangan perkembangan perkotaan yang semakin tak terbendung. Walaupun berbekal efisiensi yang tinggi dalam hal penggunaan energy, PG Candi Baru tetap harus bersiap untuk berpindah kuadran menuju bisnis baru dalam waktu dekat.


Apresiasi juga saya berikan kepada PT Mitra Kerinci yang telah dengan lincah memasarkan produknya dengan pengembangan berbagai varian produk teh-nya. Produk teh kemasannya mulai dijual di group hotel Indonesia. Pembangunan PLTMH-nya yang dilaksanakan oleh anak perusahaan yaitu PT Liki Energi akan memasuki tahap “ground breaking” bulan ini dan bulan depan sudah akan dilaksanakan PPA (Power Purchase Agreement) dengan PLN.


Anak perusahaan yang lain, melalui prinsip sinergi sesama saudara juga secara perlahan bangkit menuju masa depan yang lebih baik. PT Mitra Rajawali Banjaran telah bergandengan dengan PT Phapros membangun bisnis baru memanfaatkan asset yang idle. Mereka sedang menyiapkan pabrik yang memproduksi “bone filler hydroxyapetite” sesuai dengan core bisnis PT MRB yang bergerak di produksi alat kesehatan. Sederhananya, itu adalah semacam alat penambal tulang yang dibuat dari tulang sapi. Tentu saja tidak begitu saja ditempelkan. Masih ada proses yang harus dilewati mulai dari pemotongan, pencucian berulang-ulang, sterilisai dengan gamma radiasi sebelum dipakai sebagai penambal. Kelak si penambal ini lama-lama akan menyatu menjadi tulang yang sama dengan tulang manusia karena mengandung senyawa “hydroxyapetite” yang dibutuhkan tubuh dalam pembentukan massa tulang.


PT Mitra Ogan dan PT Laskar juga masih terus melakukan perbaikan di seluruh lini, baik produksi, keuangan maupun SDM. Saya meminta kepada seluruh jajaran manajemen untuk benar-benar mengembangkan budaya planters, sudah terlalu lama kita kehilangan roh kita sebagai seorang planters.Khusus kepada PT Mitra Ogan, agar lebih fokus dan bekerja berdasarkan skala prioritas terutama pada areal-areal yang produktif. Pabrik yang sudah lebih dari setahun berhenti beroperasi sudah saya kunjungi dan saya minta agar segera dioperasikan alahmdulillah teman-teman Mitra Ogan atau para Oganers menyatakan siap untuk mengoperasikan pabriknya kembali. Meskipun beban yang dipikul sudah terlalu berat untuk dapat diselesaikan secara cepat, semangat dan kekompakan harus tetap dijaga dan kerja keras dalam suasana keprihatinan tetap harus dikedepankan agar sustainability perusahaan bisa dipertahankan.


Inilah saatnya bagi kita semua untuk merapatkan barisan dan meningkatkan soliditas agar dicapai hasil yang lebih baik.


Sebagai perwujudannya, pada ulang tahun kali ini, saya minta agar dirayakan dengan sederhana dan ditekankan pada acara doa bersama untuk mohon keselamatan ke hadirat Allah SWT agar kita bisa melewati tahun 2017 ini dengan selamat dan hasil yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Kepada para karyawan yang mendapatkan penghargaan di acara HUT di tempat masing-masing, entah berupa Yubileum, karyawan Teladan, dll saya ucapkan selamat semoga penghargaan tersebut menambah semangat dalam bekerja.Kepada rekan-rekan Direksi yang sudah bekerja bersama dengan saya dalam “meniti buih” sejak dilantik di bulan Juni 2015 sampai di hari ulang tahun ke 53 ini, saya ucapkan terimakasih atas kerja sama dan kerja kerasnya disertai permohonan maaf apabila ada hal-hal yang membuat kurang berkenan yang disebabkan karena tuntutan peran dan fungsi yang berbeda diantara kita.

Terimakasih juga saya sampaikan kepada seluruh karyawan dan Komisaris di lingkungan RNI Group serta isteri-isteri dan keluarga yang telah memberikan dukungan penuh selama ini.

Kerja keras dan dukungan seluruh jajaran RNI Group telah dilihat oleh orang lain bahkan dihargai begitu tinggi sehingga majalah BUMN Track dan majalah Infobank memberikan award kepada kita. Hal ini tentu tidak boleh membuat kita besar kepala namun harus menjadi cambuk supaya kita bekerja lebih keras lagi dan lebih cerdas lagi serta lebih ikhlas lagi secara bersama-sama.


Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa meridhoi dan membimbing kita yang sedang bekerja, dan melindungi keluarga kita dimanapun mereka berada.

Amiin.Amiin. Ya Robbal Alamin.


Dirgahayu PT RNI !!
Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta, 18 Oktober 2017.

Didik Prasetyo

# 46 BUMN Hadir untuk Negeri (BUHN) 2017 : Rame-rame up country ke Tarakan

Assalamualaikum wr.wb,
Untuk yang ketiga kalinya, RNI kembali menjadi host – kali ini bersama BULOG – dalam acara BUMN Hadir Untuk Negeri (BUHN) yang diselenggarakan di seluruh pelosok negeri oleh jajaran perusahaan BUMN yang dirangkaikan dengan kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Alhamdulilah, RNI selalu kebagian yang muda-muda.
Maksudnya wilayah yang menjadi binaannya. Kalau 2 tahun yang lalu kami kebagian Propinsi Sulawesi Barat – Propinsi baru ke 33 dari 34 propinsi kita sekarang, kemudian tahun lalu di Manado Sulawesi Utara, maka tahun ini kami kebagian di propinsi yang ke 34 yaitu Kalimantan Utara atau yang populer dengan sebutan Kaltara. Patut disyukuri karena banyak hal baru yang bisa dipelajari, baik petualangan perjalanannya maupun – tentu saja – peluang bisnisnya.

20882939_10214635158498845_2775424815588880031_n.jpg

Kegiatan BUHN di Kaltara dipusatkan di Tarakan, kota yang paling mudah dijangkau transportasinya walaupun bukan ibukotanya. Dari Jakarta bisa terbang langsung atau bisa dari Balikpapan dan bahkan Samarinda meskipun dengan pesawat baling-baling. Dengan pilihan route yang beragam itu, saya manfaatkan sekalian untuk berkeliling menengok cabang-cabang PT Rajawali Nusindo di Samarinda dan Balikpapan, bahkan secara kebetulan saya juga bisa sekalian melakukan peresmian kantor baru cabang Pontianak di Kalimantan Barat. Jadi sekali jalan saya bisa mengelilingi wilayah kerja Nusindo di Kalimantan Utara, Timur dan Barat.

21034156_10214635158578847_8735718220310740161_n.jpg
Kalau tidak harus kembali untuk upacara di Jakarta, saya mungkin bisa menjangkau cabang Banjarmasin di Kalimantan Selatan maupun Palangkaraya di Kalimantan Tengah. Mungkin lain waktu sambil – siapa tahu – juga bisa menjajal berwisata ke Pulau Derawan yang sangat terkenal itu.
Tarakan sendiri adalah wilayah kerja dari Cabang Balikpapan meskipun harus dilakukan dengan cara up country yaitu mengirim salesman kesana selama beberapa hari untuk melakukan penjualan sampai penagihan sekaligus. Cabang Balikpapan dan Samarinda berbagi wilayah Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur. Semula dua propinsi itu adalah wilayah kerja Cabang Balikpapan, sedangkan Samarinda mulai lahir di tahun 2005 sebagai sub-cabang atau deponya Balikpapan.

Tahun 2008 barulah menjadi Cabang penuh yang “berdaulat” secara mandiri. Seiring dengan perkembangan ekonomi daerah, terutama ketika batubara booming di Kaltim, wilayah tersebut menjadi sangat makmur. Saya kira semua orang juga pernah mendengar bahwa salah satu Kabupatennya yaitu Kutai Kartanegara (Kukar) dikenal sebagai daerah terkaya. Pendidikan dan kesehatan gratis untuk semua warganya. Saya sempat melihat sisa-sisa kejayaan Kukar yang saat ini dipimpin oleh Bupati perempuan, putri Kepala Daerah sebelumnya. Sebuah pulau yang indah – bernama Pulau Kumala- terbentang di tengah sungai Mahakam dan masih terlihat bekas sarana wisata seperti tower, cable car, taman burung dan icon pulau itu yang disebut Lembuswana yaitu mahluk imajiner seperti lembu bersayap yang bisa terbang, bertaring dan berbelalai seperti gajah. Sayang sekali ketika perekonomian semakin merosot, bahkan sampai mengalami negatif growth maka semua sarana tersebut menjadi agak kurang terawat. Tapi makanannya masih tetap top-markotop, terutama di restoran terapung di Sungai Mahakam, sambalnya bukan main lezat…Super lekker bro!!

20952993_10214635159098860_6185090364357300551_n.jpg
Lesunya perekonomian disana tidak menyurutkan kinerja cabang. Nusindo Samarinda dengan segala keterbatasannya bahkan menghasilkan profit yang lebih tinggi dari induk asalnya, Balikpapan. Tahun 2015 menjadi Cabang terbaik no.2 se Nusindo dan tahun berikutnya meraih penghargaan no.3 se RNI. Saya katakan terbatas karena kantornya masih umpel-umpelan. Pak Syamsul Arif, kepala cabangnya, harus banyak muter otak untuk menata ruangan-ruangan agar memenuhi syarat menuju CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik) maupun CDAKTB (Cara Distribusi Alat Kesehatan yang Baik). Meskipun serba terbatas sarananya tetapi moral dan semangat para karyawan patut diacungi jempol.
Sebagian besar masih muda-muda, aura kekompakan dan keharmonisan juga nampak dari keakraban diantara mereka. Saya yakin, Insya Allah dengan modal semangat itu, masa depan Cabang Samarinda akan lebih baik. Harapan untuk menjadi satu atap (karena kantor yang sekarang terdiri dari dua gedung yang terpisah) juga akan bisa dipenuhi.
Memang masalah kantor ini masih menjadi PR bagi Nusindo karena belum semua milik sendiri. Cabang Balikpapan walaupun kantornya megah, bertingkat, gudang luas, tapi masih indekos di rumah orang. Di sisi lain, lahan kosong yang dibeli sejak pertengahan tahun 90an dan cukup luas – 3.000 m2 – sampai saat ini belum dibangun. Beruntung dalam Kalimantan Roadshow kali ini saya didampingi Direktur SDM dan Manajemen Aset pak Djoko Retnadi sehingga ada teman yang bisa diajak diskusi mencari solusi terbaik untuk menyediakan kantor Bagi Nusindo. Apalagi tanah itu adalah milik RNI yang berada di ranah kewenangan pak Djoko.

20953639_10214635159178862_2218665392233942183_n.jpg
Dengan sarana yang lebih lengkap, cabang Balikpapan saya lihat perlu terus didorong agar lebih meningkat labanya 2 – 3 lipat dari yang sekarang. Ketika saya tawari untuk berbisnis gula, beras dan pupuk, kepala cabangnya pak Ridha sangat antusias. Sambil berhitung di luar kepala, sementara dia bisa menyimpulkan bahwa masih ada margin yang bisa diperoleh cabang. Namun dalam hal gula juga timbul tantangan baru buat teman-teman dari PG. Masalah mutu gula atau Icumsa harus menjadi perhatian utama sebab bagi masyarakat Kalimantan sudah terbiasa mengkonsumsi gula putih Rose Brand yang merupakan GKP yang cukup laku disana. Jadi disana gula kuning tidak laku, apalagi kalau kadang kuning, kadang coklat akan lebih parah lagi. Bukan hanya aspek produksi dan kualitas yang harus diperbaiki, mungkin dalam cara berdagang gulapun harus banyak perubahan yang kita lakukan. Tantangan makin tahun makin berat. Bukan hanya di sektor pembuatan gulanya tapi seperti sekarang ini, di penjualanpun juga masalah. Kalau kerjanya masih dengan cara yang sama tapi minta hasil yang berbeda, maka kata pepatah :
“If we do the same thing over and over again, but we expect different result, it’s insane”
Kesempatan bertatap muka dengan para karyawan Nusindo di Kalimantan, apalagi didampingi Direksinya sangat saya manfaatkan betul untuk membangkitkan semangat mereka dari jajaran bawah sampai atas. Kehilangan 2 prinsipal besar tahun 2017 ini tidak perlu disesali apalagi diratapi meskipun omsetnya sangat besar. Keputusan sudah diambil dengan sadar dan perhitungan yang matang. Kalau dalam kerjasama disribusi prinsip saling menguntungkan sudah tidak terjadi lagi buat apa diteruskan? Yang penting patah tumbuh hilang berganti. Mati satu tumbuh seribu. Tidak boleh ada kata patah hati atau patah semangat atau patah yang lain. Kita harus move on lagi. Jangan berlarut-larut ibaratnya sampai jadi “jones” (jomblo ngenes). Alhamdulilah, prinsipal baru berdatangan. Segera kenali kekuatan dan kelemahan produknya, siapkan SDM dan jaringannya agar bisa cepat tancap gas. Tugas beratnya bukan cuma menggantikan omset yang hilang dari prinsipal lama tetapi juga harus meningkatkan pertumbuhan omset secara keseluruhan, dari Rp 2,8 T ditahun 2016 menjadi Rp 3,5 T di tahun 2017. Insya Allah….Memotivasi karyawan juga bisa dengan cara berbagi pengalaman pribadi. Pertama tentu saja dengan selalu meningkatkan kompetensi di bidang tugas kita. Karyawan lain mengetik 2 jari, kita bisa ngetik 10 jari. Kedua, kita harus tunjukkan bahwa kita lebih rajin. Karyawan lain datang jam 7, kita datang lebih awal.Yang pertama adalah kelompok hard competence, sedangkan yang kedua adalah soft-competence. Ketiga, jangan lupa membangun silaturahmi, berteman, networking, sebab pada suatu saat nanti, pertemanan itu akan dibutuhkan. Pak Djoko selaku Direktur SDM memberikan contoh yang lebih banyak lagi dari 3 prinsip tersebut.Dan yang paling saya tekankan dimana-mana adalah bahwa kita harus jadikan pekerjaan kita ini sebagai “ladang ibadah”. Jauhkan dari cara yang tidak jujur, korup dan penuh tipu muslihat. Kedepankan kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas dan tuntas. Pokok na “do your best” lah kata urang Sunda mah.Sayang saya tidak bisa berdiskusi dengan teman-teman dari Cabang Pontianak. Maklum hari ketika saya datang ke Cabang Pontianak, tanggal 15 Agustus adalah untuk menghadiri perhelatan besar peresmian kantor cabang baru. Acaranya sungguh luar biasa meriah. Semua berpakaian adat, termasuk tamu VVIP juga dikalungi selempang dan kopiah khas Kalimantan. Acara itu sepadan dengan kemegahan kantornya. Walaupun agak jauh dari kota tapi seiring dengan dibangunnya jalan baru, niscaya sebentar lagi pasti ramai. Dengan luas bangunan kantor 200 m2, dan luas gudang 700 m2 yang berdiri diatas tanah 3.000 m2 maka ke depan Insya Allah cabang Pontianak akan menjadi cabang yang besar dengan sarana yang handal. Saya juga yakin dengan sarana yang sedemikian lengkap sertifikat CDOB dab CDAKB akan segera di dapat. Dengan demikian akan mempercepat cita-cita Nusindo agar tahun 2018 nanti seluruh cabangnya sudah bersertifikat. Amiin.
Demikianlah, bagi saya menghadiri rangkaian acara BUHN juga sekaligus kesempatan untuk berkeliling mengunjungi seluruh unit-unit usaha yang ada di daerah. Untuk Rajawali Nusindo saja yang memiliki 42 cabang belum tentu semuanya bisa saya kunjungi. Dengan adanya BUHN ini saya juga bisa menyambungkan silaturahmi teman-teman kepala cabang dengan pejabat-pejabat pengambil keputusan di daerah. Seperti di Tarakan kali ini, meskipun tuan rumah adalah walikota Tarakan pak Sofyan Ragai, saya berharap gaung acara ini juga menggema sampai ke seluruh Kaltara seperti Kabupaten2 Nunukan, Bulungan, Malinau dan Tanah tidung. Apalagi acaranya begitu meriah. Lima ribu warga turun ke jalan mengikuti jalan sehat 5 km dengan antusias meskipun agak gerimis sebentar. Warga juga setia menunggu sampai acara pembagian door prize tuntas habis, dengan grand prize sebuah sepeda motor. Seperti juga tahun lalu, acara BUHN ini juga diisi dengan SMN (Siswa Mengenal Nusantara) yang kali ini diisi dengan mengirim 20 siswa ke propinsi Sumatera Selatan. Juga selalu ada acara Bedah Rumah Veteran yang kali ini dilakukan oleh Bulog.
Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 72
Merdeka!!
Wassalamualaikum wr.wb.
Jakarta, 16 Agustus 2017.
Didik Prasetyo

 

# 45 Industri Gula RNI : “Mau Dibawa Kemana?”

Assalamualaikum wr.wb,

Setelah sekitan lama vakum menulis CEO Notes, kali ini saya ingin menulis lagi-lagi tentang industri gula PT RNI. Berawal dari pengalaman saat mudik lebaran yang lalu yang mana Pemerintah telah berhasil mengelola manajemen mudik tahun 2017 dengan baik. Mudik telah menjadi salah satu tradisi masyarakat Indonesia dan hiruk pikuk persiapan mudik sebenarnya sudah mulai berpuluh-puluh tahun yang lalu meskipun masih dominan di persiapan angkutan umum lebaran dan manajemen penumpang. Setelah sekian tahun ternyata infrastruktur jalan juga memegang peran penting dalam manajemen angkutan lebaran. Alhamdulilah tahun ini mudik lancar jaya. Kalau toh macet ya masih dalam batas wajar. Tidak ada lagi cerita macet yang berhari-hari, tidak ada lagi keluarga yang terpaksa Shalat Ied di perjalanan dan tidak ada lagi orang sampai harus beli bensin 50.000 rupiah per liter di jalan tol. Saya sangat mengapresiasi Pemerintah terkait dengan pengaturan mudik tahun ini.

Selain itu apresiasi kepada Pemerintah juga perlu saya sampaikan khususnya dalam pengendalian harga-harga kebutuhan pokok selama menjelang dan saat Lebaran,yang relative stabil sehinga tidak terlalu memicu inflasi yang tingi terutama komoditi gula. Harga gula di tingkat konsumen di-wajibkan maksimum Rp 12.500 per kg dan bila tidak dipatuhi oleh para pelaku usaha, Pemerintah melalu Satgas Pangan tidak segan-segan untuk bertindak tegas.

Kalau kita berbicara tentang industry gula di Pulau Jawa, beberapa fakta-fakta harus kita akui bahwa luas lahan tebu semakin berkurang, semakin langka dan semakin mahalnya tenaga kerja on farm masih ditambah dengan semakin pesatnya perkembangan industry manufaktur, properti dan infrastruktur membuat kita harus berpikir keras untuk mengubah wajah gula kita ke depan kalau tidak ingin tergilas oleh perkembangan zaman.

Dengan terselesaikannya pembangunan infrastruktur jalan tol di Jawa misalnya maka pulau Jawa akan terhubung dari ujung barat hingga ujung timur. Meskipun belum semua rampung 100%, baik kuantitas maupun kualitas, tetapi urat nadi transportasi yang melancarkan darah lalu lintas angkutan orang dan barang ini sudah bisa mengalir dengan lancar. Dampak dari semakin lancarnya konektivitas dari ujung barat sampai ujung timur P Jawa telah kita rasakan saat mudik kemarin.

CEO4.jpg

Luas lahan pasti akan berkurang, baik kualitas maupun kuantitas. Lahan di PG Subang jelas akan berkurang karena tergusur jalan tol dan perkembangan industri atau property yang pasti akan mengikuti nantinya. Belum lagi saluran irigasi yang terputus karena dibelah tengah oleh jalan tol. Pengangkutan tebu juga harus memutar lebih jauh. Saya yakin di PG lain meskipun bukan karena jalan tol juga banyak yang lahannya sudah beralih fungsi. Rencana pembangunan bandara di Kertajati-Majalengka dan Kulon Progo-Yogyakarta dengan konsep Aerocity-nya pasti akan menggerus lahan-lahan tebu kita. Tenaga kerja juga akan semakin langka dan mahal. Angkatan kerja muda pasti akan memilih bekerja di industri dari pada di sawah atau di kebun. Bagi PG yang bertumpu pada lahan sewa, pasti opportunity cost untuk mendapatkan lahan juga semakin tinggi. Implikasinya juga, lahan akan semakin menyebar jauh dari PG yang berarti akan menaikkan ongkos angkut.

Jadi bagaimana kita akan membawa industry gula PT RNI ke depan?

Di era “Disruption” saat ini, industri gula RNI dituntut untuk bisa memproduksi gula yang berkualitas tinggi, berharga murah dan mudah diperoleh di pasar oleh konsumen. Hal ini sangat kontradiktif dengan fakta-fakta yang kita hadapi sekarang seperti lahan tebu yang makin berkurang dan makin menjauh dari lokasi pabrik, biaya upah yang meningkat terus menerus dan makin langka, sementara harga jual dipatok tidak boleh lebih dari Rp 12.500/kg. Dengan telah diserahkannya SOP yang baru (Standard Operating Procedure) dan BPPI (Business Process Performance Index) untuk industri gula PT RNI, produktivitas yang tinggi, HPP rendah dan rendemen tinggi sudah merupakan keharusan yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Oleh karena itu jangan kita berkutat didalam lagi sementara lingkungan kita telah berubah dengan cepat, mari kita sudahi internal battle diantara kita. Mari kita bersama-sama menghadapi musuh-musuh yang tidak kelihatan. Meminjam istilah Prof. Rheinald Khasali fenomena disruption sudah melanda semua sektor bisnis dan kalau kita tidak berubah maka kita akan mati seperti yang terjadi pada Nokia, Blackberry, Kodak dll. Era disruption ditandai dengan pesatnya penggunaan tekonologi informasi singkat kata pokoknya semua serba internet lah atau istilah kerennya IoT (Internet of Thing). Jadi semua proses bisnis mesti memanfaatkan semaksimal mungkin teknologi informasi dan semua proses mesti bisa dikontrol melalui gadget masing-masing baik itu itu proses di pabrik maupun di tanaman. Apa yang sudah dilakukan di PG Krebet Baru Malang yang sudah bisa melihat proses produksi gula dipabrik dari HP mesti diterapkan disemua PG milik RNI segera setelah itu hal ini mesti bisa diterapkan di tanaman baik dari penanaman, pemupukan, pemeliharaan sampai panen mesti bisa dilihat melalui HP masing-masing pegawai sesuai bidang tugasnya atau kita istilahkan digital precision farming.

Selain itu era disruption ini juga ditandai dengan sharing economy, petani sebagai mitra utama kita secara bertahap semua gula yang diproduksi PG bila perlu dibagikan ke petani sampai mereka mencapai tingkat pendapatan yang kompetitif terhadap komoditi maupun industri lainnya. Coba kita hitung kasar ; Jika bagi hasil gula petani saat ini naik 1 kg saja, berarti harga tebu naik Rp.10.000 atau setara dengan Rp.10 juta per ha (produktivitasnya 100 ton). Dengan cara ini PG bisa menumbuhkan minat petani untuk menanam tebu agar dicapai jumlah bahan baku yang cukup. Tetapi yang 1 kg itu harus kita cari dulu gantinya dari industri turunan tebu lainnya. Atau cara lain kita buat gula yang berkualitas dan bernilai tinggi, seperti gula organik atau gula kesehatan misalnya, yang diberi kemasan yang eksklusif sehingga pasarnyapun eksklusif. Siapa yang mengira bahwa beras premium yang harganya berlipat-lipat ternyata aslinya juga beras IR 64? Hehehe…

CEO2.jpg

Kita tahu bahwa harga gula di luar negeri masih lebih murah dari pada harga dalam negeri sehingga untuk menekan harga di konsumen cukup dengan menggerojok pasar dengan gula impor maka harga akan turun atau dengan regulasi seperti yang diterapkan Pemerintah sekarang. Persaingan dengan gula luar negeri juga memang suatu keniscayaan karena Indonesia juga terikat dengan perjanjian perdagangan bebas antar negara Asean (AFTA).

Nah, semakin berat tantangan kita ke depan baik di hulu maupun di hilir bukan?

Di negara tetangga produsen gula terdekat, Thailand contohnya, meskipun industri utamanya masih gula yang diekspor ke seluruh dunia, mereka sudah berpikir ke depan sampai stage 3 untuk menambah added-value bagi industri gulanya yang sekarang. Kita paling maju masih di stage 2 (co-gen, bio-ethanol, pupuk, pakan ternak), itupun beberapa masih “akan” karena baru sebatas “Niat” . Sementara Thailand sudah mengarah ke stage 3, seperti pengembangan bio-plastik, yeast, food & feed additive, farmasi dan kosmetik. Ternyata kurva “business life cycle” yang selama ini kita dengar dan pelajari di kuliah atau kursus atau di pelatihan manajemen tahu-tahu sudah nongol di depan hidung kita. Sekaranglah saat-saat kita untuk membuat kurva S yang baru, tanpa melupakan bahwa kurva lama kita juga masih ada yang sedang naik dengan kencang.

Tujuan saya menulis ini adalah untuk membuka pikiran kita semua terutama bagi para generasi muda calon penerus perusahaan ini. Tentunya kita tidak ingin seperti PG-PG lain ysng sudah lebih dulu almarhum mendahului kita (maksud saya PG, lho) karena ditelan zaman. RNI termasuk sudah cukup “kenyang”dengan pengalaman menutup pabrik gula : PG Kadhipaten, PG Jatiwangi, PG Gempol dan baru-baru ini PG Karangsuwung. Akhir-akhir ini bahkan sedang dipertanyakan oleh pemegang saham nasib dari PG Sindanglaut, PG Tersana Baru dan juga PG Candi Baru yang letaknya semakin di tengah kota. Kalau tidak waspada, PG Subang juga bisa terdesak oleh pengembangan ibukota yang sudah semakin “sumpek”.

CEO1.jpg

Tinggallah PG Krebet Baru yang benar-benar didukung oleh budaya tebu yang kuat dan PG Jati-tujuh yang didukung lahan HGU.

Teman-teman yang berkesempatan mengunjungi industri gula negara lain, atau rajin browsing, rajin baca journal atau publikasi tentang gula, atau rajin ngobrol dengan teman seprofesi, tentunya sudah banyak yang tahu perkembangan di negara tetangga kita seperti Thailand tadi. Di India misalnya walaupun rendemennya 10 tetapi dari produk gula mereka masih rugi. Keuntungan didapat dari energi (produksi listrik yang dibeli oleh Pemerintah) dan dari bio ethanol.

Di Okinawa, sentra industri gula di Jepang, risetnya bahkan sudah diarahkan menghasilkan varietas dengan kadar sabutnya yang tinggi (sampai 24%) meskipun rendemennya hanya 4%. Semata-mata karena mereka sudah masuk ke industri turunan dari bagasse yang bisa menghasilkan berbagai varian produk yang bernilai lebih tinggi dari gula.

Mulai sekarang harus mulai berpikir out of the box dan berimajinasi mencari jalan keluar agar kita tidak terjebak pada solusi yang berputar-putar disitu-situ saja. Sebagaimana artikel yang ditulis oleh Prof. Rheinald Khasali dengan judul Disruption Win-Win-Win beliau mengutip kata Albert Einstein, “Imagination is more valuable than knowledge. Knowledge is limited to all we now know and we understand. While imagination embraces the entire universe and all there ever will be to know and understand.” Iya, imajinasi lebih berharga ketimbang pengetahuan. Pengetahuan serbaterbatas, sementara imajinasi tanpa batas.

Kita beruntung sudah punya cikal bakal industri turunan tebu seperti alkohol, particle board dan kanvas rem. Sekarang waktunya bagi kita untuk menyisihkan waktu lebih banyak untuk lebih mempelajari dan lebih men-serius-i industri turunan tersebut. Kita juga punya pusat riset meskipun kecil-kecilan seperti Puslitagro yang saya yakin bisa lebih didaya gunakan untuk mencari terobosan-terobosan non-konvensional agar kita lebih cepat berlari menyambut masa depan.

CEO5.jpg

Bermodalkan lokasi dekat calon bandara (Kertajati) mungkin Jatitujuh bisa mengalokasikan lahan untuk membuat Jatitujuh Business Park (seperti Soewarna di Bandara Soekarno Hatta). Di dalam sejarah Oei Tiong Ham Concern yang saya baca sudah mengalir darah bisnis persil, pergudangan dan ekspedisi yang dulu konon bernama Bandareksa Rajawali dan Mutiara Rajawali. Jadi diam-diam dalam darah RNI sudah ada bakat untuk menjadi pengusaha warehouse dan logistic manage-ment. Lebih maju pastinya dari pada selama ini kita hanya sibuk mengurusi barak penebang, hehehe..

Siapa tahu juga para tester minuman teh di Liki bisa ditransformasi menjadi cikal bakal pembuat kopi barista yang nanti akan dibutuhkan di Rumah-rumah Kopi yang pasti menjamur di bandara.

Selamat berimaginasi sambil berburu ilmu, berburu bacaan untuk mulai berpikir dan berkarya demi masa depan yang lebih baik.

Semoga Allah SWT meridhoi dan selalu membimbing kita semua.

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta, 29 Juli 2017.

Didik Prasetyo