# 35 PMN Ex RDI : Kado Istimewa Akhir Tahun 2016

CEO Notes # 35 PMN Ex RDI : Kado Istimewa Akhir Tahun 2016

Assalamualaikum wr.wb,

Setelah cukup lama CEO Notes absen dari hadapan Teman-teman sekalian karena saya agak jenuh harus menerima berita-berita hoax…..(he he he) di awal tahun 2017 ini saya sempatkan lagi untuk sharing mengenai berbagai hal yang terkait dengan RNI. Pertama, tentunya saya mengucapkan Selamat Tahun Baru kepada Bapak-Ibu dan Saudara-saudara serta teman-teman semuanya. Semoga di tahun 2017 ini membawa banyak harapan baru dan kita diberikan kekuatan oleh Allah SWT mewujudkan harapan tersebut menjadi kenyataan demi untuk kemaslahatan kita bersama, keluarga besar RNI maupun lingkungan kita dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Harapan yang menjadi kenyataan itu juga terwujud di tahun 2016 dan merupakan kado yang istimewa bagi RNI. Menjelang tutup tahun 2016, benar-benar persis di hari terakhir bulan Desember, hanya beberapa jam sebelum pergantian tahun, Presiden RI menanda tangani Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor : 98 Tahun 2016 tanggal 31 Desember 2016, Tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara pada PT RNI. Di PP 98/2016 itu ditetapkan bahwa negara melakukan penambahan penyertaan modal sebesar Rp.675 Miliar kepada PT RNI melalui konversi hutang pokok RDI.. Kado ini menambah deretan terwujudnya rencana-rencana strategis PT RNI yang sudah sekian periode jabatan Direksi tidak terealisasi setelah terselesaikannya piutang tak tertagih dari permasalahan penempatan dana PT RNI di salah satu lembaga sekuritas dan optimalisasi aset RNI di MT Haryono. Alhamdulillah meskipun masih ada 2 permasalahan warisan yang masih harus diselesaikan oleh Direksi RNI saat ini. Langkah PT RNI sudah agak ringan apalagi permasalahan warisan tersebut dapat diselesaikan tahun ini maka saya yakin PT RNI akan segera melesat kinerjanya.Persetujuan penambahan PMN ini benar-benar merupakan starting point dari sebuah era baru bagi PT RNI memasuki tahapan yang penuh harapan untuk maju sekaligus ending dari perjalanan panjang yang sangat melegakan di akhir tahun 2016. Perjuangan untuk merestrukturisasi hutang RDI bagi RNI adalah sebuah perjalanan yang sangat-sangat panjang melewati berbagai pasang-surut, lika-liku, jatuh-bangun, sport jantung, suka duka di berbagai era Kepemerintahan Indonesia.

Apa itu RDI (Rekening Dana Investasi)? Dalam pengertian awam, RDI adalah dana investasi yang disediakan Pemerintah dalam rangka pembiayaan kegiatan-kegiatan pembangunan. Sebagai kepanjangan tangan Pemerintah, dibentuk unit-unit usaha Pemerintah yang selanjutnya menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Oleh karena itu kemudian banyak BUMN yang menerima pinjaman dari RDI ini karena pembangunan disamping sarana fisik juga bisa diartikan luas.

RNI sendiri di masa lalu dalam rangka menunjang kegiatan pembangunan Pemerintah secara luas menerima cukup banyak pinjaman RDI, antara lain pada waktu RNI mendapatkan penugasan untuk menyehatkan PTP XIV yang sekarang menjadi PT PG Rajawali II (RDI-213 dan RDI-218). Ketika RNI melakukan pembangunan MBAU di Cilangkap dan mendapatkan tanah di eks MBAU Pancoran melalui ruilslag, RNI juga mendapatkan bantuan Pemerintah melalui pinjaman RDI (RDI-265 dan RDI-302).Di masa krismon 1998, ketika RNI membantu Pemerintah di bidang kesehataan, RNI juga mendapatkan pinjaman dari RDI, yaitu RDI-330 yang dikenal dengan RDI BBO (Bahan Baku Obat).RDI yang dianggap masih lancar adalah yang digunakan untuk menyehatkan PT Nagamanis Plantation (RDI 324) yang tidak disetujui untuk direstrukturisasi.Disamping itu juga masih ada RDI yang kecil dan bisa segera dilunasi, misalnya RDI untuk pengadaan obat Inpres di Phapros dan RDI untuk rehabilitasi pabrik PT Mitra Rajawali Banjaran.Ketika rencana bisnis tidak dapat berjalan sesuai yang diharapkan, maka mulailah RDI menjadi beban yang cukup berat bagi RNI.

Di setiap era Direksi baru, pejabatnya harus bersiap “berselimut RDI” di dalam tidurnya. Hubungan RNI dengan RDI ini menjadi seperti benci tapi rindu yang di tahun 2016 akhir, lagunya berubah menjadi “Kau yang memulai, Aku yang mengakhiri”.Mengapa penambahan PMN diperlukan BUMN Karena BUMN sebagai tangan kedua dalam mencapai tujuan pembangunan nasional maka Penambahan Penyertaan Modal Negara ini diperlukan agar BUMN bisa meleverage kemampuan keuangannya menjadi 2 – 3 kali lipat dari dana PMN yang diterimanya dan ini bisa digunakan untuk membangun infrastuktur jauh lebih banyak dibandingkan kalau langsung menggunakan APBN. Untuk BUMN Yang menerima PMN Non Cash (biasanya BUMN Dhuafa) maka struktur keuangannya akan menjadi jauh lebih baik lagi sehingga bisa leluasa menjalankan bisnisnya tanpa membebani negara terus menerus. berbentuk tunai.

Sebagaimana kita ketahui bahwa RNI juga telah melakukan DEC (Debt to Equity Conversion) terhadap piutangnya di anak-anak perusahaannya seperti di PT Rajawali II, PT Mitra Kerinci, PT Rajawali. Citra Mass, PT Mitra Rajawali Banjaran,PT Rajawali Nusindo dan PT Rajawali Tanjung Sari Enggineering. Barangkali ini berkah dari Allah SWT karena PT RNI sudah menambah modalnya di anak-anak perusahaan agar struktur permodalan anak-anak perusahaan tersebut menjadi jauh lebih kuat. maka negara sebagai pemegang saham PT RNI membalas dengan mengabulkan usulan penambahan PMN ini .

Grafik kebijakan mengenai PMN juga naik turun sesuai dengan arah politik perekonomian Pemerintah. Di suatu masa pernah dicanangkan bahwa Pemerintah akan stop tidak akan pernah lagi memberikan PMN untuk BUMN. Kita pernah mendengar waktu itu bahwa PMN diberikan kepada BUMN yang strategis tapi dalam kondisi kritis, contohnya adalah PMN kepada PT Merpati Nusantara Airlines dan kepada PT Dirgantara Indonesia (DI) dan masih banyak lagi.

 

Namun demikian, arah kebjakan ini kemudian berubah yang tercermin dalam APBN 2015. Pemerintah mulai menempatkan BUMN sebagai tangan kedua untuk mencapai tujuan pembangunan nasional sehingga membuka lagi kemungkinan penambahan PMN dibeberapa BUMN, termasuk RNI. Itulah dimulainya perjuangan untuk memperoleh PMN konversi hutang RDI.

Dalam APBN-P 2015 jumlah PMN merupakan yang terbanyak jika dibandingkan tahun sebelumnya. Pemberian PMN dalam jumlah besar ini menunjukkan komitmen Pemerintah dalam melakukan efisiensi anggaran sekaligus meningkatkan belanja produksi. BUMN diharapkan mampu meningkatkan perannya sebagai agent of development yang berperan aktif dalam mendukung program prioritas nasional.

 

Kebijakan ini kemudian berlanjut di tahun anggaran 2016. Alokasi PMN kepada BUMN digunakan untuk investasi sekaligus memperkuat permodalan agar BUMN mampu mendukung program prioritas nasional (Nawacita). Program prioritas nasional yang didukung oleh BUMN antara lain mendukung kedaulatan pangan, pembangunan infrastruktur dan konektivitas, pembangunan maritim, industri pertahanan dan keamanan, serta kemandirian ekonomi nasional. Ada 23 BUMN yang diusulkan untuk mendapatkan PMN pada tahun anggaran 2016, termasuk PT RNI salah satunya. Bagi RNI, proses ini bukan saja panjang tetapi juga sangat berliku. Seperti orang berjalan, meskipun kalau ditarik garis lurus jaraknya pendek, tetapi jalannya berkelak-kelok, banyak lampu merah, apalagi lalu lintasnya macet, alhasil nggak bisa cepet sampai di tujuan. Sebagaimana pernah saya tulis di CEO Notes sebelumnya, optimisme akan berhasilnya PMN ini sudah menggumpal di dada ketika palang pintu penyaring yang paling ketat yaitu Komisi VI dan Badan Anggaran DPR sudah bisa lewati. Proses sebelum sampai ke DPR ini juga sangat amat panjang karena harus melalui Kementerian BUMN, Keuangan dan Bapenas. Persyaratan yang harus dilengkapi juga cukup banyak. Kajian konsultan, pembuatan RPKP (Rencana Perbaikan Kinerja Perusahaan) dan semua dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Masalahnya tidak selesai di penyusunan saja tetapi juga harus bolak-bolak dikonsultasikan sebelum menghasilkan kelengkapan final yang bisa diterima dan memenuhi syarat.Pukulan terberat adalah ketika secara keseluruhan DPR tidak menyetujui PMN kepada BUMN dalam RABN TA 2016. Tentu saja ini masalah nasional dan ini merupakan keputusan politik yang berdampak bukan hanya kepada RNI saja. Kesempatan untuk memperoleh PMN harus menunggu APBN-P (Perubahan) 2016.

Walaupun demikian, tim RDI RNI dibawah komando Pak Adit – Direktur Keuangan PT RNI terus bekerja, baik berkonsultasi dengan pemegang saham, Kementerian Keuangan maupun dengan terus melengkapi dokumen yang diminta.Harapan muncul kembali ketika DPR menyetujui pemberian PMN kepada BUMN dalam RAPBN-P 2016. Angin politik segar kembali berhembus untuk BUMN. Kerja keras harus dimulai lagi. RPKP harus diperbaiki dan diperlengkap lagi. Tim Pak Adit harus melotot lagi melihat angka-angka di belakang komputer. Adrenalin sudah mulai makin naik ketika semua bahan yang disiapkan mulai dibahas dalam Rapat Pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara pada PT RNI dan juga membahas draft Kajian Bersama Penambahan Penyertaan Modal Negara pada PT RNI antara Kementerian Hukum & HAM, Kementerian Keuangan, PT RNI, Kementerian BUMN, Kementerian Sekretariat Negara dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Rapat dilaksanakan di Gedung Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum & HAM. Sudah semakin serius, karena berarti semua pihak mendukung terbitnya PP untuk RNI dan sudah langsung melibatkan diri dalam penyusunan RPP.Puncak semakin dekat ketika terbit surat persetujuan Menteri Keuangan Nomor : S-1169/MK.05/2016 tanggal 29 Desember 2016, yang intinya memberikan persetujuan penyelesaian piutang Negara pada PT RNI. Artinya, RNI sudah lulus ujian skripsi, tapi belum sah kalau belum ada ijasah.Tanggal 31 Desember 2016, Pak Jokowi – Presiden kita menandatangani PP. Sah.

Pada kesempatan ini saya apresiasi dan terimakasih kepada Tim RDI PT RNI dibawah komando Pak Adit, atas kerja keras yang sudah dilakukan. Kepada Pak Najib, Bu Emi, Pak Warsim, Pak Benny, Pak Halimi, Pak Romi, jakaran Sekertaris Korporasi dan semua Karyawan PT RNI yang sudah bekerja keras dan tidak bisa saya sebutkan satu persatu termasuk Pak Rahmat Hidayat, terimakasih kepada anda semua.

Jangan lupa, PMN ini juga merupakan tantangan besar bagi kita karena kita dituntut berkinerja lebih baik lagi sebagaimana sudah kita janjikan dalam RPKP.Mari kita rapatkan barisan, bergandeng tangan, bahu membahu, bekerjasama secara total untuk mencapai sasaran yang sudah ditetapkan.Semoga Allah SWT membimbing dan meridhoi upaya kita.

Amiin.Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta, 11 Januari 2017.

Didik Prasetyo

# 34 Kelapa Sawit : Bergoyang di Kebun MUBA

Assalamualaikum wr.wb,

Bisnis kelapa sawit, yang saya ketahui, adalah dirancang sejak awal oleh RNI sebagai bisnis pengganti gula yang sudah mulai sunset. Bisa saya bayangkan bahwa di tahun 1990-an sudah sulit mengembangkan Pabrik Gula di Jawa karena lahan sawah semakin tinggi opportunity cost– nya, sementara teknologi untuk lahan kering (rainfed cane) masih belum teruji betul. Mendirikan pabrik gula di luar Jawa juga tidak mudah karena sulitnya lahan yang memenuhi syarat dalam jumlah yang memadai.  BUMN Perkebunan gula yang bisa membangun  PG di luar Jawa pada waktu itu adalah PTP IX di Sumatera Utara (PG Sei Semayang dan Kuala Madu), PTP XXXI di Sumatera Selatan (PG Bunga Mayang dan Cinta Manis), PTP XXIV-XXV di Kalimantan Selatan (PG Pelaihari yang kemudian tutup) dan PTP XXXII di Sulawesi Selatan (PG Bone, Camming dan Takalar). Di Jawa dibangun 2 PG Baru juga yaitu PG Jatitujuh dan PG Subang oleh PTP XIV di areal ex Perhutani dan PTP XXX. Sedangkan PT RNI tidak berhasil memperoleh lahan yang memadai untuk membangun PG Baru di Sulawesi Tengah dan Timor Timur, sehingga akhirnya dana perusahaan yang bisa diakumulasi dari hasil usaha di pabrik gula (Krebet Baru dan Rejo Agung) direinvestasikan dalam beberapa bidang usaha, yaitu properti – termasuk Gedung RNI di Mega Kuningan yang sekarang ditempati sebagai Kantor Direksi RNI Holding dan perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan – yang sekarang menjadi PT Perkebunan Mitra Ogan dan juga perkebunan teh Mitra Kerinci di Sumatera Barat.

Pilihan untuk berbisnis kelapa sawit adalah pilihan yang sangat logis. Indonesia merupakan negara yang memiliki suhu tropis yang sangat cocok untuk mengembangkan lahan kebun untuk kelapa sawit. Kelapa Sawit merupakan salah satu tumbuhan penghasil minyak yang paling banyak diproduksi dan dikonsumsi dari seluruh dunia. Selain harganya murah, produk minyak sangat efisien dan sangat stabil digunakan dalam berbagai produk makanan, kosmetik, dan juga digunakan sebagai sumber untuk bahan bakar alternatif.  Total luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia saat ini berkisar 8 juta hektar, yaitu dua kali lebih banyak dibandingkan  tahun 2000 yang  hanya sekitar empat juta hektar. Ekspor minyak sawit merupakan penghasil devisa penting dan industri yang memberikan kesempatan kerja bagi jutaan rakyat Indonesia.

Sementara itu di pasar dunia, dalam 10 tahun terakhir, penggunaan atau konsumsi minyak sawit tumbuh sekitar rata-rata 8%-9% per tahun. Ke depan, laju pertumbuhan ini diperkirakan akan terus bertahan, bahkan tidak tertutup kemungkinan meningkat sejalan dengan trend penggunaan bahan bakar alternatif berbasis minyak nabati atau BBN seperti biodiesel.

Di dalam negeri, kebijakan pemerintah mengembangkan bahan bakar nabati (BBN) sebagai altenatif bahan bakar minyak (BBM) memberi peluang besar bagi industri kelapa sawit untuk lebih berkembang. Sesuai dengan target pemerintah, sejak tahun 2010 sekitar 10% dari kebutuhan bahan bakar dalam negeri akan disuplai dengan BBN, dimana 7% diantara berbasis minyak sawit atau dikenal sebagai biodiesel. Untuk itu diperlukan tambahan pasokan atau peningkatan produksi kelapa sawit dalam jumlah besar.

Menyadari sebagai pemain baru di industri sawit, RNI menggandeng PTPN III sebagai partner bisnisnya. Di dalam join venture agreement disepakati bahwa pihak RNI akan memegang posisi Direktur Utama dan Direktur Keuangan sedangkan dari PTPN III menempati posisi Direktur Produksi. Perusahaan patungan didirikan pada tahun 1989 dengan mengambil nama PT Perkebunan Mitra Ogan. Tahun itu juga dilakukan penanaman perdana untuk 10.000 ha yang kemudian menjadi Kebun Inti Peninjauan.

Sejalan dengan tumbuhnya kebun sawit yang terus berkembang, tahun 1993 mulai dibangun PKS I dengan kapasitas 60 ton per jam. Seiring dengan mapannya perusahaan, perekrutan SDM juga semakin banyak dilakukan. Sebagian direkrut melalui RNI dan sebagian direkrut langsung di lokasi kebun sebagai karyawan Mitra Ogan yang waktu itu kantornya masih di Baturaja. Jika pada awalnya karyawan asli MO maksimal hanya menjadi Manajer atau Kabag, maka sekarang posisi Direksi perseroan sudah diisi oleh putra asli MO, bahkan sudah berekspansi ke anak perusahaan lain seperti PT Laskar.

_S5C0204.JPG

Tahun-tahun selanjutnya adalah tahap pengembangan bisnis yaitu perluasan kebun dan pembangunan PKS baru. Pertama dibangunlah Kebun Rambang Lubai dengan konsep Inti Plasma yang dimulai tahun 1996-1997 diikuti dengan pembangunan PKS II tahun 2004 dengan kapasitas 30 ton per jam. Ini merupakan tahun puncak berjayanya MO, terutama dari segi financial. Dan sebagaimana layaknya bisnis yang sedang tumbuh berkembang, MO juga semakin melebarkan sayapnya dengan membuka kebun-kebun baru, yaitu di Kebun Batanghari Leko (BHL) di Kab. Muba yang kemudian dikenal dengan Muba I yang dilanjut dengan Kebun Sekayu Sungai Keruh (SSK) yang populer dengan Muba II.

Sebagaimana perkebunan yang lain, pengembangan ke lahan baru selalu mendatangkan tantangan baru. Dari segi teknis, pada umumnya lahan-lahan pengembangan biasanya mempunyai karakteristik yang tidak sebagus lahan utamanya. Dari segi non-teknis, masalah sosial atau opportunity cost yang timbul untuk pembebasan lahan pengembangan baru akan lebih sulit dan lebih mahal karena para pemilik lahan sudah tahu bahwa nilai ekonomis lahannya sudah semakin tinggi. Demikian pula yang dihadapi MO dengan pengembangan di Muba.

Ketika saya berkesempatan untuk meninjau kesana dengan ditemani Direksi MO lengkap, disampaikan bahwa jarak tempuh perjalanan kira-kira 3 jam dari Palembang untuk sampai ke lokasi. Tetapi, apaboleh buat, ternyata sepanjang jalan banyak “bonus” yang harus diambil sehingga tambahan waktunya menjadi 2 kali lipat dari yang diperkirakan.

Bonus pertama, ternyata di dalam kota Palembang saat ini cukup macet karena sedang ada pembangunan Palembang LRT (Palembang Light Rail Transit). Fasilitas ini dipersiapkan untuk menyambut Asian Games 2018. Oleh karena-nya, proyek ini dibangun untuk menghubungkan Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dengan Kompleks Olahraga Jakabaring. Proyek senilai Rp. 2,7 triliun ini meliputi konstruksi jalan layang, stasiun dan fasilitas operasi, dikerjakan oleh PT Waskita Karya dengan dana dari APBN.

Bonus kedua, masih perjuangan melawan kemacetan lalu lintas, kali ini di jalur luar kota. Maklum saja, route ke Muba sebagian harus melewati Jalintim Sumatera (Jalur Lintas Timur) yang merupakan jalur padat, terutama dari Palembang – Jambi.

IMG-20161216-WA0002.jpg

Bonus ketiga adalah bonus yang diambil karena keinginan sendiri, yaitu mampir sarapan di Warung Tahu Sumedang, yang tadinya agak aneh juga bagi saya. Tahu Sumedang di Palembang? Ternyata cuma namanya saja. Isinya tentu saja harus ada empek-empeknya dan menu rakyat nasional : Indomie.  Bonus ini perlu diambil karena Pak Dirkeu dan Dirprod MO belum sarapan padahal perjalanan masih sangat panjang.

Bonus keempat dan terakhir, cukup mengagetkan saya. Ternyata perjalanan masuk ke kebun ini menurut ukuran saya jauhnya bukan main. Jalan kebun yang dibangun oleh MO sebagai jalan akses masuk ke lokasi kebun kita sendiri mencapai 12 km. Dikiri-kanan masih berupa hutan sekunder dan karet rakyat. Sepanjang jalan, cukup banyak goyangan-goyangan yang harus dilewati karena jalan rusak akibat air tergenang. Saya membayangkan besarnya biaya transport yang harus dikeluarkan di area ini. Biaya untuk pemeliharaan dan perbaikan jalan, biaya angkutan yang pasti mahal karena kondisi jalan yang jelek dan biaya insidentil lainnya setiap ada truk yang terpeleset di jalan ini.

IMG-20161216-WA0003 (1).jpg

Alhasil, dengan banyaknya bonus ini saya baru bisa sampai dan berdiskusi dengan kawan-kawan yang bertugas di Muba hampir jam 1 siang.

Saya sangat berbesar hati karena teman-teman ini saya lihat masih mempunyai semangat kerja yang tinggi, apalagi sebagian besar merupakan tenaga muda. Pak Bambang Pranawijaya yang ditunjuk sebagai Manajer Kebun Muba juga memiliki pengalaman yang luas. Sejak pertama sudah meniti karir di MO, dimulai ketika kebun baru dibuka. Pak Bambang dibantu oleh para Askep dan Staf yang merupakan kombinasi antara tenaga pengalaman dan tenaga yang masih segar, antara lulusan perguruan tinggi lokal dan nasional dan terutama sekali dibantu oleh para “kuyung” yang merupakan putera Muba asli yang tidak diragukan lagi kemampuan social engineering-nya untuk wilayah itu.

Gambaran buram yang saya temui di sepanjang jalan, terutama banyaknya areal yang tergenang juga tidak sepenuhnya terjadi di seluruh afdeling. Di afdeling IV dilaporkan kalau rata-rata protas sudah di atas BEP.  Saya mendukung kebijakan Direksi untuk melakukan pemeliharaan secara selektif terhadap kebun-kebun yang nantinya dipastikan akan mampu menghasilkan keuntungan. Memang sepanjang jalan saya lihat kondisi kebun yang sangat beragam. Ada yang memperlihatkan potensi bagus dengan hanya sedikit pemeliharaan. Tetapi juga banyak yang memerlukan biaya untuk mengembalikan pada kondisi normal, termasuk untuk membongkar “jilbab” yang saat ini banyak terlihat. Istilah jilbab ini diberikan untuk pokok sawit yang diselimuti oleh tanaman mucuna yang sampai merambat ke atas karena tidak adanya pemeliharaan.

IMG-20161216-WA0005.jpg

Secara keseluruhan, MO memang sedang berbenah. Ini terjadi di semua kebun dan PKS. Saya sangat mengapresiasi tumbuhnya persaingan sehat untuk berpacu mencapai prestasi dari setiap kebun. Melalui kemajuan teknologi informasi, dalam hal ini WA Group, pak Dirprod selalu memacu, memompa semangat dan membesarkan hati para pimpinan kebun untuk selalu menjadi lebih baik dari hari ke hari. Beliau selalu meyakinkan bahwa kalau terjadi ejek-mengejek, bully membully itu adalah karena satu sama lain saling menyayangi dan ingin membantu. Bukan main.

Ketika saya kembali ke Palembang dan harus tetap melewati goyangan Muba lagi dan juga harus menghadapi bonus yang sama seperti perjalanan di pagi harinya, semuanya sudah terasa lebih ringan. Dan membuat saya bertekad bahwa saya akan kembali lagi untuk melihat Muba lainnya yang belum saya kunjungi, mudah-mudah tanpa goyangan lagi…

Selamat bekerja untuk teman-teman di Muba dan MO semuanya. Tetap semangat.

Semoga Allah SWT membimbing dan meridhoi langkah kita.

Wassalamualaikum wr.wb.

 

Jakarta,   16 Desember 2016.

Didik Prasetyo

#33 Dinamika Gula Dunia : Sepenggal Cerita Dari Bali

Assalamualaikum wr.wb,

Setiap tahun selalu saja ada event tentang gula di seantero benua di dunia. Yang paling banyak menyelenggarakan acara seminar atau workshop semacam ini adalah ISO (International Sugar Organization), suatu organisasi gula tingkat dunia yang bermarkas di London, Inggris. Tapi yang kali ini saya ikuti adalah acara yang diselenggarakan oleh IBC be-kerjasama dengan AGI (Asosisasi Gula Indonesia) yang diberi tajuk Asia International Sugar Conference dan diselenggarakan di kawasan ITDC Nusa Dua Bali.

Yang menarik dalam event ini menurut saya adalah mendengarkan cerita tentang industri gula di negara-negara tetangga terutama negara yang menjadi pemain utama dunia seperti Brazil, Thailand, India, Australia dan China. Seperti apakah tantangan yang dihadapi oleh komunitas pergulaan di negara mereka masing-masing? Dan apakah faktor yang mendukung bagi negara yang sukses memproduksi dan mengekspor gula ke seluruh penjuru dunia?

Karena kali ini diadakan di Indonesia tentu saja cukup besar porsi waktu yang disediakan untuk membahas situasi pergulaan di Indonesia. Tapi mengingat forum ini bersifat internasional dengan peserta juga dari kalangan trader gula, paparan yang disampaikan tentu tidak akan “telanjang” membuka semua permasalahan dan strategi pergulaan nasional kita. Yang diundang untuk berbicara dalam suatu panel diskusi dari Indonesia adalah saya, pak Djoni Sunarso dari Sugar Group, Pak Dr. Nur Iswanto dari PTPN X dan Pak Dr. Lilik dari P3GI.

Kembali lagi, yang penting dalam forum ini adalah bagaimana kita bisa mendengar dan belajar dari tetangga untuk kemudian kita pilih mana yang bisa kita adopsi di negara kita. Dari Pemerintah diwakili oleh pejabat dari Kementerian Perekonomian yang tentunya sangat  berkepentingan untuk menentukan kebijakan pergulaan yang multi dimensional.

Supaya saya tidak bercerita tentang angka-angka, lebih baik rasanya kalau saya kutip tampilan grafik-grafik yang penting dari para pembicara. Kita mulai dari data gula tingkat dunia.

Grafik 1.png

Grafik pertama bisa menunjukkan dimanakah posisi Indonesia sebagai produsen gula dibandingkan negara di dunia lainnya. Ternyata produsen terbesar adalah Brazil dengan jumlah di atas 35 juta ton, diikuti dengan India dengan angka disekitar 25 juta ton, sementara Indonesia hanya 2,5 juta ton; kalah dengan Thailand yang mencapai kisaran 10 juta ton. Grafik balok itu menunjukkan perkembangan dari tahun ke tahun sampai ke 2018 (forecast). Terlihat bahwa India naik signifikan dalam 2 tahun yang akan datang (2017 dan 2018) karena dalam 2 tahun terakhir ini India terkena dampak El Nino secara beruntun.

Bagaimana dengan gambaran produksi vs konsumsi dari tetangga terdekat kita Thailand dan Australia?

Grafik di bawah ini bisa bercerita banyak.

grafik 2.png

grafik 3.png

Ternyata tetangga ASEAN kita – Thailand – memproduksi gula hampir dua kali lipat dari pada tetangga kita yang selama ini di dunia pergulaan kita anggap sudah advance dalam teknologi yaitu Australia. Produksi Thailand sekitar 10 juta ton dengan konsumsi sekitar 3 juta ton sehingga surplus yang siap di lempar ke pasar ada 7 juta ton yang ternyata 25% diimpor oleh Indonesia. Sementara Australia hanya berproduksi sekitar 5 juta ton dengan konsumsi sekitar 1 juta ton. Lebih sedikit dari Thailand. Yang lebih hebat lagi di tahun ini Thailand sudah mengeluarkan ijin untuk berdirinya 25 pabrik baru lagi untuk mencapai target produksi gula dua kali lipat dari sekarang dalam 10 tahun mendatang.

Apa saja yang dilakukan Thailand? Dr. Kitti Choonhawong dari Thailand Society of Sugar Cane Technologist (TSSCT) punya cerita yang menurut saya sangat bisa ditiru oleh kita, masayarakat gula Indonesia sebagai bangsa serumpun.

Pertama, Thailand sekarang memfokuskan dirinya pada PG dengan kapasitas besar yaitu rata-rata lebih dari 20.000 tcd. PG terbesar saat ini berkapasitas 50.000 tcd, atau empat kali lipat dari PG Krebet Baru (KB I dan KB II digabung). Kegiatan penelitian dilakukan oleh Perguruan Tinggi. Jadi tidak ada lembaga riset khusus gula yang dimiliki oleh Thailand. Semua tebu juga berasal dari petani, tidak ada yang dimiliki oleh PG.

Upaya di bidang kultur teknis yang dilakukan juga sama dengan langkah kita di PG-PG Indonesia khususnya di Jawa. Dari langkah yang tergambar di potret di samping ini dapat terlihat bahwa mereka juga mengalami kelambatan masa tanam seperti kita. Demikian juga dengan kebutuhan air untuk irigasi, kebutuhan akan bahan organik dan kerapatan tanaman.

grafik 4.png

Pemerintah menyediakan kredit bunga rendah (soft loans) untuk kegiatan perbaikan budidaya tanaman, penggunaan mesin-mesin pertanian termasuk harvester dan juga kegiatan pengembangan industri hilir dari tebu.

Kredit tersebut disediakan oleh Bank of Agriculture & Cooperatives. Mungkin kalau di Indonesia seperti Bank Agro dan Bank Bukopin tetapi disubsidi oleh Pemerintah, atau semacam kredit KKPE. Jadi memang benar bahwa di negara tetangga, Pemerintah memproteksi dan membantu industri gulanya dalam berbagai bentuk sehingga bisa bersaing di pasar internasional.

grafik 5.png

Bagi Thailand, perkembangan industri gula mereka sekarang sudah memasuki tahap ke tiga jika dilihat dari business life cycle yang tergambar dalam kurva -S seperti dalam gambar.

Tahap pertama adalah tahap memproduksi gula dengan berbagai varian, mulai dari raw sugar, white sugar, refined sugar dan juga liquid sugar. Tahap kedua, yang sekarang sedang kita geluti adalah mengembangkan industri hilir berupa listrik, ethanol, pupuk dan pakan ternak.

Sekarang ini Thailand sudah memasuki tahap ketiga, yaitu mengembangkan bio plastik, bio kimia, yeast, aditif untuk makanan dan pakan, produk farmasi dan kosmetik.

Masih banyak lagi cerita menarik dari tetangga. Myanmar ternyata berperan ganda sebagai importir dan sekaligus eksportir gula. Kok bisa? Ya, ternyata banyak terjadi trading di sepanjang perbatasan Myanmar dengan China, baik legal maupun ilegal. Jumlahnyapun tidak sedikit. Hampir 1 juta ton per tahun.

Mauritius, negara pulau yang sangat kecil melakukan regrouping PG-nya (isu aktual di PG Jawa) dari 20 PG menjadi 4 PG, ternyata dalam waktu 20 tahun. Sekarang mereka menjadi eksportir yang handal ke Eropa.

Belum lagi Australia yang sudah menerapkan precision farming di segala bidang di sisi on farm-nya. Membosankan kalau diceritakan tapi akan menarik untuk dilihat kesana, asal jangan bertujuan wisata. Dont mix business with pleasure. Sedikit-sedikit boleh lah.

Ayo para gula mania RNI, kita kejar ketertinggalan kita. Semangat.

Semoga Allah SWT membimbing dan meridhoi upaya kita.

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta,   14 Nopember 2016.

Didik Prasetyo

# 32 HUT RNI 52 : Membangun Pondasi Korporasi Yang Kuat

Assalamualaikum wr.wb,

Minggu-minggu terakhir di bulan Oktober 2016 ini merupakan hari yang sarat dengan berbagai peristiwa di PT RNI, salah satunya adalah tanggal 12 Oktober yang menjadi hari paling istimewa bagi PT RNI. Tanggal 12 Oktober 2016 yang lalu, PT RNI yang terlahir dengan nama PT Perusahaan Perkembangan Ekonomi Nasional (PPEN) Rajawali Nusantara Indonesia telah genap berusia 52 tahun. sebuah usia yang cukup matang bagi seseorang untuk menjalani kehidupan karena sudah kenyang dengan asam garam dan pahit manisnya kehidupan.

Setelah sedikit pulih dari sakitnya dan mulai menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan baik dari sisi operasional maupun finansialnya, tahun 2016 ini, kembali PT RNI diterpa cobaan dan tantangan yang sangat berat terutama di bisnis gulanya. Musim kemarau yang ditunggu tidak kunjung datang karena hujan mengguyur terus menerus sepanjang tahun. Alhasil, panen tebu tersendat dan rendemen turun karena proses pembentukan gula di batang tebu terhambat. Bobot tebu cukup besar tapi lebih banyak isi air. Sudah bisa ditebak bahwa nanti hasil akhirnya tidak akan sebagus tahun sebelumnya. Ini terjadi tidak hanya di RNI, tapi di seluruh pabrik gula. Saya sudah bilang di CN 31 yang lalu, siapa yang inovatif dan kreatif, dialah yang akan bertahan.

Peristiwa penting lain yang mewarnai perjalanan hidup PT RNI di bulan Oktober 2016 adalah dimulainya kerjasama antara PT RNI dengan PT Waskita Karya Realty, memanfaatkan asset tanah PT RNI di Jl. MT Haryono Kav 12 – 13 Jakarta untuk dibangun gedung perkantoran dengan nama sementara RNI Office Park.  Peristiwa ini juga terjadi pada tanggal 12 Oktober 2016 dan  saya anggap inilah kado terindah bagi PT RNI dihari ulang tahunnya yang ke 52.

14568015_1343891592288270_3214345217744499041_n.jpg

Inilah awal pemanfaatan aset idle kita, yang tersebar sangat banyak,  mudah-mudahan bisa diikuti dengan kerjasama atas asset-asset PT RNI yang lain.

Ini pulalah wujud nyata sinergi BUMN  untuk meningkatkan nilai masing-masing perusahaan (value creation) dan dapat menjadi model bagi pola pengembangan aset-aset idle kita yang lain.

Dalam kerja sama pembangunan gedung perkantoran RNI Office Park tersebut, kelak, RNI akan memiliki 5 lantai di gedung yang sedang dibangun ini. Sisanya 12 lantai  akan dimiliki oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk.  Saya sungguh sangat berharap PT RNI benar-benar bisa bangkit melalui pengoptimalan asset-assetnya mengingat masih begitu banyak asset-asset PT RNI mulai di pusat kawasan bisnis di Jakarta, di Surabaya, Semarang, Cirebon sampai ke pelosok-pelosok desa yang bersinggungan dengan pabrik gula belum dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Sementara itu, di tahun 2016 ini, beberapa anak perusahaan juga sudah siap untuk berlari kencang. PT Rajawali Citramas – Pabrik karung plastik milik PT RNI – telah mengembangkan bisnisnya melalui kerja sama dengan PT Rajawali Tanjungsari Engineering yang juga mulai melakukan peningkatan kapasitas  produksi yang cukup besar dari 50 juta menjadi 80 juta lembar per tahun. Pemasaran produk didukung oleh program sinergi BUMN juga dengan Bulog dan PIHC, disamping  pasar reguler juga terus menerus digarap.

PT Mitra Kerinci merambah pasar ekspor ke luar negeri seperti Taiwan, Jepang dan kini bahkan sudah sampai ke Perancis. Akhir-akhir ini bahkan PT MK diundang untuk promosi gratis di pameran yang bertajuk SIAL (Salon Internasional de lalimentation). SIAL adalah trade fair terbesar di dunia di bidang Food Processing Industry yang diadakan di Paris yang diikuti 5.890 exhibitor dan disambangi 150.000 pengunjung. PT MK mendapat pendampingan dari CBI yaitu suatu lembaga di Kementerian Luar Negeri Belanda yang membimbing PT MK sejak tahun 2013 sampai lolos seleksi ikut pameran tersebut. Bravo untuk Likiers !

_s5c0157

PT Phapros di tengah kesibukannya  memindahkan pabrik ke lokasi yang baru juga menunjukkan peningkatan kinerja yang menggembirakan. Hasil penjualannya meningkat cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya.  Sementara kegiatan administrasinya bakal menempati Gedung  milik PT RNI yang terletak di jalan Kepodang Kawasan Kota Lama Semarang. Tantangan bagi Phapros adalah menyulap gedung tersebut menjadi indah sesuai dengan standarnya sebagai sebuah perusahaan farmasi.

PT Rajawali Nusindo harus menghadapi tantangan yang cukup besar dengan diberlakukannya e-catalog yang nota bene memotong supply chain dari pabrikan langsung ke konsumen. Oleh karena itu implementasi ISC harus cepat dijalankan untuk menggantikan fungsi intermediasi yang selama ini dijalankan oleh para agen principal dari luar negeri. Hal yang sama saya dengar cerita dari teman-teman PG yang harus mendatangkan barang (baca: membeli) dari luar negeri, begitu panjang mata rantai yang harus dilewati. Sebagai contoh pengadaan standar gilingan (mill cheek) yang harus diambil dari India, tidak kurang dari 5 vendor yang terlibat. Pertama, kita berhubungan dengan agen  di Indonesia. Rantai kedua, agen Indonesia berhubungan dengan trader dari India. Kemudian trader memesan kepada manufacturer yang mengorder workshop untuk melakukan machining. Manufacturer banyak yang berskala kecil kelas UKM. Kalau manufacturer-nya cukup canggih, dia punya workshop sendiri. Workshop juga banyak yang berskala rumah tangga. Sementara material logamnya dipesan dari foundry atau bengkel pengecoran yang kelasnya juga UKM. Kalau Nusindo bisa men-short cut rantai panjang tersebut dengan langsung menggandeng manufacturer besar sebagai principal-nya, yang menggarap assemby, machining, workshop sampai foundry dalam satu atap, niscaya akan banyak biaya yang bisa dihemat atau makin besar margin yang bisa didapat. karena sudah pasti HPP Gula PT RNI akan turun dengan drastis.

_s5c8653

Tantangan terberat masih dihadapi PT Mitra Ogan. Direksi baru harus melangkah dengan lebih fokus dan bekerja berdasarkan skala prioritas terutama pada areal-areal yang produktif. Beban yang dipikul sudah terlalu berat untuk dapat diselesaikan secara cepat. Dukungan para karyawan dalam suasana kerja yang kondusif sangat diperlukan ketika perusahaan sedang sakit seperti saat ini.

Masih banyak anak perusahaaan lainnya yang tidak bisa saya tuliskan disini karena saya melihat persoalannya sedikit banyak mirip dengan anak perusahaan yang lain seperti PT GIEB sama dengan PT Rajawali Nusindo hanya saya minta lebih fokus lagi mengendalikan piutang dan persediaannya. Lalu PT Laras Astra Kartika atau PT Laskar, agar fokus pada pembenahan internal bila perlu di tambah pasokan TBSnya dari pihak III agar kapasitas pengolahan PKS nya lebih optimal.

Inilah saatnya bagi kita semua untuk merapatkan barisan dan meningkatkan soliditas agar dicapai hasil yang lebih baik.

Penataan internal juga semakin gencar. Sebagai upaya untuk meningkatkan  tata kelola perusahaan yang baik  (GCG), anak-anak perusahaan sudah melengkapi organ perseroan di sisi Komisaris dengan Komita-komite yang dianggap diperlukan. Dengan demikian, pengawasan atas jalannya perusahaan akan semakin baik.

Disamping GCG, pondasi lainnya yang harus melandasi langkah  RNI di setiap pilar bisnisnya ke depan (agro-industry, perdagangan, farmasi dan properti) adalah : corporate culture, sistem & struktur dan SOP.

Budaya PINTER sudah saya perkenalkan secara luas, yaitu : Profesional, Integritas, Teamwork, Excellent dan Respect. Penerapan PINTER dalam pekerjaan sehari-hari niscaya akan menghasilkan etos kerja yang baik.

Dalam praktek keseharian, mewujudkan salah satu etos kerja yang baik, saya mengajak seluruh karyawan untuk lebih meningkatkan kepedulian, mulai dari diri kita sendiri, mulai saat ini dan mulai dari hal yang paling kecil  seperti selalu menjaga kebersihan lingkungan kantor, menjaga kondisi lingkungan kerja agar selalu kondusif  serta siap menolong rekan yang kesulitan tanpa harus menunggu perintah.

Internalisasi corporate culture tidak cukup hanya dengan doktrin dan panduan saja. Lebih dari itu, yang saya anggap penting adalah mencari role model untuk dapat dijadikan contoh dan teladan bagi lingkungannya.

HUT PT RNI kali ini memang dirayakan dengan sangat sederhana, cukup dengan potong tumpeng dan ceramah agama. Saya lanjutkan juga tradisi memberikan penghargaan kepada karyawan teladan, purna karya, yubileum dan ibadah haji. Namun tahun ini agak berbeda karena saya juga berikan hadiah khusus kepada mereka yang paling banyak datang terlambat dan paling banyak tidak masuk kerja. Hadiahnya pasti akan sangat bermanfaat karena kepada mereka saya beri jam wekker.

14691092_1343931255617637_4025999844706184373_n.jpg

Selain GCG dan Corporate Culture, SOP yang menjadi pondasi dalam setiap proses bisnis telah dicoba untuk dibedah di Yogya dengan bantuan LPP. Kali ini yang digarap adalah SOP Pabrik Gula. Saya sangat mengapresiasi keseriusan para peserta diskusi kelompok ini yang tetap bersemangat walaupun bekerja dalam suasana weekend. Ada 4 kelompok diskusi yang membahas topik-topik Budidaya Tanaman, Tebang Muat Angkut, Instalasi dan Pabrikasi. Ternyata sudah cukup banyak bahan yang dimiliki oleh masing-masing PG. Hanya saja SOP itu pada umumnya dibuat untuk kondisi normal saja. Saya minta agar dibuat pula SOP jika terjadi kondisi ekstrim, misalnya banyak hujan (seperti tahun ini) atau sebaliknya musim kering. Sebenarnya teman-teman PG sudah tahu langkah yang harus dilakukan, hanya belum di-SOP-kan. Saya yakin jika SOP ini lengkap maka siapapun yang menjalankan, apakah karyawan baru atau karyawan termutasi cukup mengikuti pedoman yang sudah ada, ujungnya akan menghasilkan keragaan yang sama. Jadi tidak perlu ada kekawatiran bagi karyawan atau atasannya kalau dimutasi ke unit lain.

Akhirnya, saya selalu mengingatkan motto kita semua dalam bekerja yaitu KERJA KERAS, KERJA CERDAS dan KERJA IKHLAS. Kalau ketiganya sudah kita jalankan secara total, selebihnya kita berserah diri kepada kehendak-Nya, maka jiwa raga kita akan tenang dan selanjutnya bisa tidur nyenyak.

Marilah kita jadikan HUT RNI yang ke 52 ini menjadi momen bagi kita untuk meneguhkan ketiga moto kerja tadi dilandasi dengan soliditas diantara seluruh keluarga RNI untuk mencapai kinerja terbaik di bidang masing-masing.

Dirgahayu RNI

Semoga kerja kita ini juga diterima sebagai ibadah dan memperoleh berkah Allah SWT . Amiin.

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta,   20 Oktober 2016.

Didik Prasetyo

# 31 : Tantangan Giling 2016 : Semangat saja tidak cukup, perlu kreatif dan inovatif.

 

Assalamualaikum wr.wb,

Sebagai orang yang tidak lahir dan dibesarkan di gula, saya selalu bersemangat untuk menggandeng kan masyarakat gula – minimal di lingkungan RNI – dengan masyarakat non-gula dengan harapan bisa memecahkan kebuntuan-kebuntuan yang dialami kalangan pergulaan kita.

 
Ternyata, banyak sekali pemikiran out of the box yang selama ini tidak terbayangkan bahwa itu bisa diterapkan di lingkungan pergulaan sebagai trigger untuk membawa perubahan yang lebih luas. Dan hal itu bisa ditemui di segala sisi, baik di sisi on farm maupun off farm, bukan hanya di level teknis, tetapi juga di tingkat kebijakan.
Beberapa Business meeting yang saya lakukan dengan investor, baik dalam maupun luar negeri, BUMN maupun swasta memunculkan ide-ide baru untuk memaksimalkan utilisasi pabrik yang hanya terpakai 100-150 hari per tahun. Juga utilisasi lahan-lahan HGU untuk bisa ditanami dengan tanaman non-tebu sebagai sumber energi.Dan di luar dugaan, ternyata BUMN Energi juga bisa kita ajak untuk ikut memikirkan dan memberikan solusi dengan menyediakan energi alternatif yang bisa membuat PG lebih fleksibel dalam menggunakan maupun menghasilkan bahan bakar.

 
Ide dan pemikiran tersebut saya lemparkan dalam forum-forum teknis, baik di internal RNI maupun dalam forum organisasi profesi seperti IKAGI. Salah satunya di forum IKAGI Cabang DKI – Jabar yang menggelar acara Seminar dan Pameran di Cirebon tanggal 29 September 2016 yang lalu.

ceo3

Dalam situasi bisnis gula yang penuh turbulensi seperti tahun ini, menggali dan mendengar dari sana sini seperti melalui forum IKAGI, untuk mencari cara bagaimana agar industri gula tetap survive dan berdaya saing adalah sangat penting.

 
Paling tidak, ada 3 faktor yang menjadi penyebab turbulensi tersebut. Pertama, terjadinya anomali iklim di tahun ini. Musim kemarau yang basah menyebabkan rendemen tidak bisa naik seperti tahun-tahun yang normal, bahkan biaya tebang-muat-angkut menjadi sangat mahal karena kondisi medan yang basah. Kedua, bagi PG yang ada di Jawa Timur khususnya, tahun ini ditandai dengan persaingan untuk mendapatkan bahan baku yang ketat dengan beroperasinya PG baru yang berkapasitas besar yang katanya lebih efisien ditengah-tengah wilayah historis. Rebutan tebu untuk mendapatkan bahan baku antar PG tidak dapat dihindari. Persaingan harga bahan baku tebu yang tidak sehat dan tidak masuk akal juga terjadi. Sedangkan faktor ketiga menimpa PG BUMN, yaitu kewajiban untuk menjual gula ke Bulog dengan harga yang telah ditentukan sebagai bagian dari tugas BUMN untuk membantu Pemerintah mengendalikan harga.

 
Dengan sudah ditambah gula eks PG BUMN ini saja, penguasaan Bulog paling banter hanya 20% dari total produksi gula GKP nasional. Apalagi bila dihitung juga gula ex PG rafinasi, sudah pasti jumlah gula BUMN dibawah 10% dari total produksi gula nasional GKP dan GKR. Dengan penguasaan pasar sekecil itu, saya kira Bulog perlu mengerahkan seluruh ilmu dan kemampuan distribusinya agar bisa melaksanakan misinya untuk mengendalikan harga gula.

 
Lalu siapa yang unggul dalam persaingan pada situasi yang seperti ini? Tentu saja mereka yang efisien, inovatif dan kreatif serta tidak dibebani kewajiban macam-macam yang lebih berpeluang untuk menjadi pemenang. Yang kalah… Ya tutup…Sayonara….
Anomali iklim berupa kemarau basah yang ditandai hujan terus menerus sepanjang tahun menyebabkan rata-rata rendemen drop 20 – 25% dari tahun 2015. Hanya 4 PG yang penurunannya tidak sampai 10%, yaitu PG Cinta Manis (4,5%), PG Camming (5,5%), PG Bone (7,5%) dan PG Sindanglaut (7,6%). Tentu saja saya cukup bangga karena keluarga RNI ada yang masuk dalam daftar PG yang cukup tangguh tersebut yaitu PG Sindanglaut.

ceo2

Melihat perjalanan rendemen yang tidak menggembirakan ini, tidak ada cara lain untuk memperoleh jumlah gula bagian PG sesuai target, berarti harus menggiling tebu lebih banyak lagi.

 
Ada 3 kunci sukses yang harus dipegang apabila kita akan bersaing dalam perolehan tebu. Pertama adalah harga beli tebu. Harga beli tebu akan sangat ditentukan oleh efisiensi dan kapasitas pabrik. Makin efisien maka gula yang dihasilkan akan semakin tinggi, berarti harga beli tebu berani tinggi.

 

Semakin besar kapasitas kita maka peluang untuk bisa menambah tebu semakin besar. Kedua adalah momentum. Apabila kita mengandalkan asumsi bahwa tebu akan datang dengan sendirinya pada saat nanti rendemen tinggi, ada dua resiko yang akan dihadapi. Tebu sudah habis karena dimakan PG yang lain karena mereka pasti punya pemikiran yang sama yakni mengejar jumlah gula yang bisa dihasilkan karena mengharapkan kenaikan rendemen ibarat menunggu “godot” yang tak kunjung tiba. Ketiga adalah faktor pengawasan dan pengendalian. Jika tebu kita peroleh dengan memberikan perlakuan khusus, maka harus kita pastikan bahwa perlakuan tersebut tepat sasaran. Penggunaan IT sangat membantu untuk digunakan sebagai instrumen pengawasan yang handal.

 

ceo1

Tidak ada cara spesifik untuk masing-masing PG yang bisa diajarkan untuk bersaing dalam memperoleh tebu tersebut. It’s a matter of entrepreneurship. Ini benar-benar permainan bisnis yang didasari pada perhitungan yang cermat, cara yang kreatif dan inovatif, berani ambil resiko dibarengi dengan penguasaan lapangan yang kuat. Jadi semangat saja tidak cukup.

 
Strategi yang menghasilkan sukses di masa lalu tidak bisa selalu manjur untuk digunakan pada tahun berikutnya karena kondisi selalu berubah. Oleh karena itu kita tidak boleh terlena dalam comfort zone. Sekali lagi inovasi dan kreativitas harus selalu diasah. Semangat harus selalu dibarengi dengan kerja keras dan kerja cerdas.
Di wilayah Jawa Timur misalnya. Tahun yang lalu PG swasta di Lamongan belum beroperasi penuh. Tahun ini sudah beroperasi dan harus mencari tebu dari mana-mana karena kapasitas yang sangat besar, sehingga kadang-kadang masuk ke wilayah historical PG yang sudah berdiri terlebih dahulu. Sialnya sebagian besar PG yang berdekatan dengan PG tersebut adalah PG milik BUMN baik milik PTPN X, PTPN XI maupun milik group PT RNI. Tentu saja kalau kita berdiam diri saja, pasti akan berkurang jumlah tebu yang bisa kita GILING tahun ini. Adanya gangguan terhadap keseimbangan jumlah bahan baku yang menjadi andalan selama ini pasti juga akan menyebabkan pergeseran-pergeseran wilayah pertarungan baru. Semua ini perlu dicermati dan diantisipasi. Kuncinya petugas kita harus bekerja keras melakukan pengamatan dan inventarisasi di lapangan hari demi hari supaya jangan sampai kita kecolongan.

 
Di Jawa Barat, walaupun tidak ada PG baru yang beroperasi mengambil tebu disana, tetapi bahan baku sudah berkurang banyak karena luas areal menurun sampai 2000 ha. Tebu-tebu di wilayah tidak bertuan dapat dijadikan alternatif sumber tebu baru. Namun demikian perlu diikuti dengan pengawasan yang ketat karena tebu yang berasal dari tempat yang jauh rawan untuk ditumpangi oleh tebu-tebu dari dalam wilayah.
Sepertinya upaya untuk capacity building di industri gula ini tidak ada habis-habisnya. Selalu muncul tantangan dan masalah baru di setiap simpul proses bisnis yang ada, baik simpul di bidang pengembangan yang akan berujung pada penurunan HPP, juga di simpul peningkatan produktivitas dan kualitas serta tentu saja simpul efisiensi.
Banyaknya simpul-simpul yang harus dibenahi di proses bisnis gula ini bukan hanya yang bersifat makro saja, tetapi juga simpul-simpul yang bersifat teknis di lapangan.
Kalau kita jalan-jalan ke PG, pasti masih akan kita temui tebangan yang kotor, tanaman yang tidak tumbuh, air yang tergenang dan sebagainya.

 
Saya tergelitik untuk tahu lebih mendalam, seperti apakah sistem manajemen yang diterapkan dalam bekerja di setiap PG? Apakah sudah ada standardnya? Apakah semua pelaksana sudah memahaminya?

 
Saya bisa bayangkan betapa rumitnya bekerja melibatkan ribuan orang dengan latar belakang dan status pekerja yang berbeda, dengan latar belakang budaya dan pendidikan yang beragam. Satu-satunya cara adalah harus dengan membuat Good Agricultural Practices dengan tentunya menerapkan Precission Farming sebagai pedoman yang diterjemahkan dalam SOP di setiap tahap pekerjaan. Sepertinya kita perlu membuat standar untuk memproduksi gula, saya analogikan dengan pabrik obat dimana disana ada standar CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik), di gula bisa kita namakan CPGB (Cara Pembuatan Gula yang Baik).

 
Oleh karena itulah, dalam Minggu ini saya ajak teman-teman PG untuk berakhir pekan di Yogya. Kita duduk bersama untuk berdiskusi dipandu LPP menyusun pedoman tersebut. Pedoman CPGB ini akan kita jadikan basis bisnis gula agar tidak goyah diterpa turbulensi musim, kebijakan maupun teknologi.

ceo4
Jalan yang harus dilalui masih panjang. Sebagus-bagusnya pedoman dibuat, kunci keberhasilannya adalah pada SDM yang menjalankan dan sistem pengawasan serta tindaklanjut atas pelaksanaan pedoman tersebut. Oleh karena itu, pengelolaan SDM di tingkat pelaksana juga harus terus diperbaiki, terutama bagaimana caranya agar pekerja dapat menjadi bagian dan menyatu dengan manajemen. Itu akan menjadi topik berikutnya dalam diskusi-diskusi untuk peningkatan capacity buiding kita di bidang pergulaan.

 
Menjadi anggota IKAGI, menjadi pelaku bisnis di industri gula harus bersiap menghadapi never ending story karena begitu luasnya area of improvement. Begitu seringnya muncul kebijakan baru. Begitu tereksposenya industri ini terhadap perubahan bisnis, baik skala nasional maupun internasional.

 
Percayalah, semangat saja tidak cukup. Kreatif, inovatif, adaptif bila perlu harus punya ide gila agar tetap survive di industri yang sangat menarik ini baik teknis maupun non teknisnya.

 
Semoga Allah SWT selalu membimbing kita semuanya. Amiin.

 
Wassalamualaikum wr.wb.

 
Yogyakarta, 9 Oktober 2016.

 
Didik Prasetyo

# 30 e-commerce : Jangan Gagal bila masuk bisnis digital (RNI masuki era bisnis dot.com)

Assalamualaikum wr.wb,

Tanggal 19 September 2016 yang lalu menjadi hari yang bersejarah bagi RNI. Di hari itu, RNI melakukan peluncuran awal atau soft launching market place-nya yang diberi nama pasarprodukbumn.com. Mulai saat itu RNI mulai masuk dalam bisnis e-commerce atau bisnis digital.

foto.PNG

Peluncuran itu dilakukan dalam acara BUMN Marketeers Club yang ke 46 yang dipandu oleh “Suhu”- nya Marketing Indonesia Bapak Hermawan Kertajaya (HK). Di dunia internasional sendiri, Pak HK yang berlogat Suroboyoan sangat kental ini sudah sangat diakui dan bahkan dinobatkan sebagai “Marketing Guru”, sejajar dengan Philip Kotler yang legendaris itu.

Diceritakan oleh pak HK bahwa RI 1 termasuk tokoh yang sangat concern dan sangat sadar akan aspek marketing dalam segala hal sampai ke tingkat bernegara.  Oleh sebab itulah oleh komunitas marketing Indonesia beliau dinobatkan sebagai tokoh Marketing of The Year pada tahun 2010.

Saya sangat bangga ketika me-soft launching produk yang murni karya anak bangsa ini lahir dari keluarga RNI karena memasuki bisnis digital perlu keberanian yang luar biasa kalau ngga dibilang “nekat”. Persaingan dalam bisnis ini begitu luar biasa ketat, era caplok-mencaplok antar perusahaan e-commerce (Lazada sudah dibeli oleh Alibaba) dan meminjam istilah Pak Hermawan, juga sudah terjadi “money burning” atau banting-bantingan harga sampai merugi diantara mereka.

Tentu sangat membanggakan, disamping juga sangat berat tanggungjawabnya bagi rekan-rekan pengasuh e-commerce RNI untuk tetap melanjutkan perputaran roda bisnis on line ini agar jangan sampai berhenti di launching saja. Bila perlu ~”meminjam istilah mas Yodhia Antariksa”~ teman-teman harus sangat inovatif dan kreatif sekaligus harus berani membunuh produk inovasinya tersebut sebelum dibunuh pesaing. “creative destruction” istilahnya.

DSC_0348.JPG

Pokoknya tetap harus keep moving ! Oleh karena itu saya bertekad, dengan tetap mencermati perkembangan bisnis dunia maya, maka Soft Launching Ecommerce pasarprodukbumn.com ini akan saya kawal dan saya lanjutkan terus karena ini merupakan bagian dari program perbaikan bisnis yang sudah ditetapkan dalam GBHN-nya RNI.

GBHN RNI tentu saja bukan harga mati untuk diubah, sebagaimana saat ini RNI masih mempertahankan konglomerasi yang sewaktu-waktu dapat diubah untuk disesuaikan dengan Road Map Kementerian BUMN.

Mengapa tekad saya sedemikian besar?

Dewasa ini kita pasti sudah melihat dan mengamati bahkan mungkin mengalami sendiri bagaimana perkembangan teknologi informasi atau bisnis digital telah menjungkirbalikkan pola pikir kita dengan tumbangnya berbagai raksasa dunia usaha yang selama ini kita kenal. Siapa yang mengira bahwa Fuji Film yang begitu menggurita akan tumbang oleh teknologi digital yang tidak memerlukan lagi kamar gelap, larutan developer dan kertas negative film? Juga produk kamera yang canggih milik Kodak, Canon, Nikon akan disalip oleh kamera HP dengan megapixel yang high quality tetapi berharga murah dan sangat handy?

Apa kabarnya dengan para Samurai elektronik seperti Sony, Panasonic, Toshiba, Sanyo, Sharp? Satu kata saja untuk mereka sama “TUMBANG”. Where’s my Nokia?

Benar kata pak HK. Now every one is a photographer, everyone is a reporter, even now eveyone is a movie maker!

Sesunguhnya potensi pasar digital Indonesia memang sangat besar dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia, yaitu 259 juta jiwa, dimana 50%-nya berusia dibawah 30 tahun. Pengguna aktif internet di Indonesia mencapai 88.1 juta jiwa, dan hampir semuanya adalah aktivis media social. Jumlah koneksi mobile internet telah mencapai 326.3 juta jiwa atau melebihi dari jumlah penduduk, yang artinya bahwa satu jiwa penduduk bisa memiliki lebih dari 1 (satu) buah mobile phone yang terkoneksi dengan jaringan internet. Dari jumlah tersebut diperkirakan 10%-nya yang berbelanja secara online (Online Shopers). Jumlah ini masih jauh dibandingkan dengan Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam dan Malaysia yang mencapai 60 – 80% total populasi penduduknya.

Bisa anda bayangkan berapa nilai pasar yang masih terbuka !

DSC_0423.JPG

Selain itu, hasil survey menyatakan bahwa perilaku belanja masyarakat Indonesia saat ini: 40% melakukan browsing dulu sebelum belanja dan 51%-nya lebih menyukai melakukan kunjungan langsung ke toko. Dengan menjamurnya situs belanja online, perilaku belanja masyarakat Indonesia ini akan berubah drastis. Sedikitnya ada 4 hal yang menjadi alasan kenapa orang mau berbelanja secara online. Pertama mudah, tinggal klik transaksi sudah bisa dilakukan. Kedua, hemat, baik waktu maupun biaya terutama biaya ikutannya, karena nggak perlu ngajak teman sambil mampir ngopi-ngopi. Selain itu aman dan nyaman karena kita kita sudah punya Cyber Law melalui UU ITE dan bisa belanja kapan saja. Jangan lupa juga bahwa belanja tanpa face to face ketemu si penjual juga membuat permintaan beberapa jenis barang “tertentu” naik. Mas Azrul, Manager OTC Phapros memberikan testimoni bahwa penjualan X-gra naik 30%! Sayangnya, Pak Sufi dari MRB belum punya cerita bagaimana hasil penjualan produk utamanya ! “Kondom….”.

Dalam situs pasarprodukbumn.com ini juga disediakan platform market place berupa toko online yang dikelola secara mandiri oleh BUMN, para principal yang produk2nya didistribusikan oleh PT Rajawali Nusindo dan UMKM mitra. Para mitra  dapat melakukan pemuktahiran  (updating) harga dan persediaan, mengunggah foto produk hingga melakukan program promo secara mandiri. Dan keseluruhan transaksi dalam situs ini juga dilengkapi dengan Proses Bisnis terkini. Itulah sebabnya pengelola situs ini nantinya adalah PT Rajawali Nusindo salah satu anak perusahaan PT RNI yang bergerak di bidang trading dan distribusi.

DSC_0444.JPG

Alhamdulilah, melalui meeting koordinasi yang panjang, sekitar 24 BUMN bersedia bergabung dalam situs pasarprodukbumn.com. ini. Para member ini terdiri dari berbagai sektor industri, seperti dari sektor farmasi (PT Indofarma Tbk), sektor pertanian (PT Pupuk Indonesia Holding Company, Perum BULOG dan PT sang Hyang Seri), industri perkebunan dan kehutanan (PTPN VIII, Perhutani, RNI), industri maritim (PT PAL), industri penerbangan (Garuda dan Citilink), industri migas hingga industri perbankan (BNI, BRI dan Mandiri).

Sejalan dengan kebijakan pemegang saham, situs ini tetap akan disinergikan dengan situs blanja.com yang dimiliki oleh PT Telkom.  Bedanya, bahwa situs pasarprodukbumn.com ini 100% milik PT RNI, jadi murni karya anak bangsa, tidak ada pemegang saham lain disini.

Masih banyak yang harus dibenahi. Saya sangat menghargai saran dan kritik yang datang dari hadirin. Kritik Ibu Dirut PT Sarinah (Persero) mengenai nama yang kurang “menjual”, yang dibenarkan juga oleh Pak HK menjadi masukan ke depan yang sangat berharga. Juga masukan dari Pak HK agar kita fokus kepada para potential buyer online, sangat berharga sekali. Menurut beliau mereka adalah kaum muda (youth), wanita (woman) dan netizen.

Welcome to era bisnis dot com.

Semoga Allah SWT selalu meridhoi langkah-langkah kita dalam memajukan perusahaan, negara dan peradaban. Amiin.

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta, 22 September 2016.

Didik Prasetyo

CEO Notes # 29 Farmasi : From Unpad Unveiling The Future

Assalamualaikum wr.wb,

Di era Pemerintahan Orde Lama, bagi yang mengalami, pasti mengenal jargon sandang-pangan-papan. Ukuran kesejahteraan masyarakat secara sederhana dirumuskan dalam kriteria murah sandang, murah pangan, murah papan. Artinya mudah dan murah mencari bahan makanan (pangan), pakaian (sandang) dan perumahan (papan). Sampai ada sebuah bank yang menyediakan kredit perumahan dinamakan Bank PAPAN SEJAHTERA, meskipun kita tahu bersama bahwa akhir bank tersebut ternyata sama sekali tidak “sejahtera”.

Bergeser ke Era Milenium sekarang ini, jargon itu mengalami perubahan. Rupanya papan dan sandang dianggap tidak terlalu prioritas lagi. Seiring dengan bertambahnya penduduk yang berkembang secara deret ukur, pangan yang berkembang secara deret hitung tetap menjadi kebutuhan utama. Industri semakin berkembang untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakat dan angka harapan hidup meningkat karena standard kesehatan yang terus naik. Berubahlah standard kehidupan masyarakat (modern) ini, yaitu cukup pangan, cukup bahan bakar dan listrik serta badan sehat dan umur panjang, sehingga jargonnya menjadi : pangan, energi dan kesehatan. Artinya, bisnis masa depan yang menjanjikan akan terletak di ketiga bidang tersebut.

 
RNI siap untuk menceburkan diri lebih dalam lagi di ketiga-tiganya karena modal dasarnya kita sudah punya. Bisnis Gula, CPO dan teh mau divariasi cara apapun tetap merupakan bagian dari pangan dan ini sudah digeluti oleh PT RNI sejak lahir, Energi sudah dimulai oleh PT Mitra Kerinci dengan Proyek PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro) yang dibangun dengan memanfaatkan aliran sungai yang membentang melewati kebun teh PT Mitra Kerinci. Saat ini, untuk tahap pertama akan dibangun PLTMH dengan kapasitas 15,6 MW dari potensinya yang diperkirakan sebesar 56 MW. Biomassa dari kebun tebu (bagas) dan sawit (tankos) sangat melimpah sehingga PLTBS juga tinggal dibangun saja untuk menjadi sumber energi yang handal. Farmasi dan alat kesehatan yang selama ini seakan-akan berjalan sendiri di RNI Group ternyata setelah saya dalami berpotensi untuk menjadi pilar penopang yang handal bagi bisnis PT RNI group.

 
Saya mulai meng-explore lebih dalam tentang bisnis farmasi ini ketika tanggal 15 September 2016 yang lalu, Universitas Padjajaran Bandung dalam rangkaian Dies Natalisnya yang ke 59 mengundang RNI untuk berbicara dalam kegiatan yang bertajuk : Seminar Pentahelix Kemandirian Bahan Baku Farmasi.

 
Saya sangat sepakat dengan judul yang diusung ini karena isu kemandirian ini benar-benar isu yang aktual di banyak bidang. Ketika mengajar di SMA N I Cepu, para siswa sudah saya provokasi agar melihat banyaknya peluang untuk berkarya demi negeri ini (bahasa patriotiknya) karena kita belum mandiri di pangan dan energi. Beras, gula, kedele, jagung, daging dan minyak masih harus kita impor. Bahasa dagangnya : peluang bisnis terbuka lebar.

 
Eh, ternyata di farmasi lebih-lebih lagi. (Ngomong dagangnya, berarti peluang bisnis farmasi ke depan sangat prospektif).

 
Dengan jumlah penduduk terbanyak di ASEAN, dan tingkat kesehatan yang relatif rendah, jangan heran bahwa kita menjadi pasar terbesar bagi farmasi di kawasan ini yaitu US $ 9,4 milliar pada tahun 2018 nanti. Dan kita menjadi TOP 20 GLOBAL RANKING . No.1, 2 dan 3 adalah USA, China dan Jepang. Negara Asia lain yang masuk TOP 20 ini adalah India dan Korea Selatan.

Orasi Unpad.jpg
Menjadi anggota komunitas gula (dan terpilih menjadi Ketua IKAGI), dengan impor gula yang mencapai 50-60% dari kebutuhan saja sudah membuat saya prihatin. Ternyata di farmasi, bahan baku obatnya lebih dari 90% masih import ! Bahan yang gampang seperti garam dan gula farmasi juga masih impor. Kebutuhan garam farmasi (pharmaceutical grade) dan aneka pangan bahkan 100% masih impor dari Jerman, China, Australia, Selandia Baru dan India.

 
Itulah sebabnya, di sesi tanya jawab ada mahasiswa peserta seminar yang melontarkan pertanyaan kritis : kemana saja industri farmasi Indonesia selama ini ? Pertanyaan yang kelak juga harus dijawab sang mahasiswa dimanapun nanti dia bekerja karena dia adalah mahasiswa farmasi.

Kimia Farma yang bekerja sama dengan PT Garam mempunyai tugas memenuhi kebutuhan garam farmasi bercerita panjang lebar mengenai kendala yang dihadapi, terutama dari sisi ketersediaan garam dalam negeri itu sendiri.

 
Saya juga menyampaikan masalah yang dihadapi dalam memproduksi gula farmasi. Tugas membuat gula farmasi saya bebankan kepada PG Subang yang sudah menggunakan proses DRK (Defekasi Remelt Karbonatasi) sehingga sudah mampu menghasilkan gula premium (Icumsa 80-100). Secara teknis, menghasilkan gula farmasi dengan Icumsa di bawah 45 sebenarnya sudah mampu untuk dilakukan oleh teman-teman dari PG Subang di bawah komando GM Pak Adang Sukendar yang nota bene adalah mantan Kepala Pabrikasi di PG Krebet Baru II. Gula Farmasi made in PG Subang yang akan menjadi gula farmasi pertama di dalam negeri yang berasal dari gula tebu ini sudah lolos uji dari test laboratorium Phapros sebagai calon pengguna dan uji oleh pihak independen dari laboratorium BBIA (Balai Besar Industri Agro) di Bogor. Masalah pokoknya untuk go commercial adalah pada pemilihan teknologi mana yang paling murah dan mudah agar gula farmasi yang dihasilkan ini nanti profitable.

 
Program pembuatan garam dan gula farmasi ini masuk dalam cluster chemical dalam strategi industri farmasi nasional. Cluster yang lain yaitu : vaccine, natural dan bio-pharmaceutical.

 
Untuk bahan baku obat kimia, pasar dunia saat ini dikuasai oleh China dan India yang sudah sangat dominan, terutama untuk pasar bahan aktif (API=Active Pharmaceutical Ingredients) yang kebutuhannya sangat tinggi seperti paracetamol, obat diabet, kolesterol, darah tinggi dll. Dominasi dua negera tersebut sudah sedemikian kuatnya sampai Eropa dan Amerikapun sudah keok, apalagi negara-negara kecil seperti Indonesia.
Untuk vaccine (vaksin), semuanya sudah dikerjakan oleh BUMN Farmasi PT Bio Farma yang lingkup tugasnya bukan hanya memenuhi kebutuhan vaksin dalam negeri saja tapi bahkan harus men-supply kebutuhan seluruh negara ASEAN karena dialah satu-satunya produsen vaksin di kawasan ini.

 
Obat yang berbahan baku natural seperti herbal harapannya akan menjadi comparative advantage bagi industri farmasi Indonesia. Kita sudah sering mendengar bahwa ekstrak daun seledri dikombinasi dengan ekstrak kumis kucing bisa dipakai untuk anti hipertensi, ekstrak temulawak digabung dengan ekstrak daun sambung nyawa untuk anti kolesterol dan berbagai tanaman lainnya, disamping juga zat-zat aktif yang ada di biota-biota laut seperti mikroba simbion karanglaut yang sedang diteliti Phapros bersama Undip.

 
Pengembangan obat-obatan berbasis herbal menjadi lahan penelitian yang terbuka untuk bisa dikerjasamakan dengan Perguruan-perguruan Tinggi yang ada.

 
Cluster yang bisa menjadi revolusi di bidang farmasi adalah bio-pharmaceutical, dimana di dalamnya termasuk temuan yang saat ini menjadi trending topic di farmasi yaitu stem cell. Saya benar-benar tertarik dengan stem cell ini setelah saya diprovokasi oleh mas Agus Phapros melalui emailnya ke saya tentang peluang bisnis stem cell. Ijin saya share ya mas….
Dari berbagai sumber bacaan, googling dan obrolan yang pernah saya ketahui, stem cell atau yang di kedokteran dikenal dengan sel punca akan benar-benar menjadi pengobatan masa depan menggantikan obat kimia.

 
Pemahaman saya tentu saja sangat terbatas utuk bisa menjelaskan secara panjang lebar mengenai hal ini, tetapi secara singkat dapat saya share pemahaman saya secara awam yaitu ;
– stem cell merupakan sel yang bisa berkembang atau direproduksi menjadi berbagai macam sel sehingga bisa meregenerasi sel yang rusak atau tua;
– stem cell bisa diambil dari organ tubuh, yang awam ketahui misalnya dari ari-ari atau plasenta
– stem cell sudah bisa disimpan di laboratorium (dan sudah ada yang diijinkan untuk menyediakan pelayanannya).
– stem cell sudah bisa digunakan dalam terapi/pengobatan meskipun baru terbatas di 11 rumah sakit di Indonesia yang diijinkan melayaninya
Apabila riset stem cell ini semakin maju, maka pengobatan stem cell akan dapat go commercial dan bisa merubah peta pengobatan konvensional misalnya :
– Penderita diabetes tidak perlu lagi suntik insulin karena insulin bisa meregenerasi sendiri dengan pengobatan stem cell – Penderita luka (luka bakar, patah tulang, dll) dapat sembuh dengan regenerasi melalui terapi stem cell- Penderita katarak tidak perlu lagi dioperasi- Pemasangan ring atau by pass jantung dapat diganti dengan terapi stem cell

Bahkan dengan stem cell juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit degeneratif (penuaan). Sel yang tua menjadi muda. Di dunia kecantikan tentu sangat diidamkan para ibu, kulit yang menua, keriput, kendor bisa menjadi muda, kenceng dan kinclong. Saya jadi ingat film Elysium yang dibintangi oleh Matt Damon dimana ada anak yang sakit cukup parah cukup dimasukkan dalam tabung dan sekeluarnya dari tabung semua penyakitnya telah sembuh.
Disamping sisi positif temuannya secara teknis, sepertinya revolusi ini juga bakal menyisakan PR untuk para cendekiawan, ulama dan Pemerintah yaitu batasan-batasan dari segi etika, budaya dan agama. Tapi saya yakin bahwa Pemerintah sudah sangat berhati-hati dalam hal ini, terbukti dari regulasi-regulasi yang dibuat terkait stem cell ini mulai dari penyimpanan, riset dan pelayanannya. Tidak sembarang pihak boleh melakukan pengelolaan stem cell dengan bebas.

 
Sebagai businessman, saya sangat berharap Phapros bersama PG bersiap-siap untuk menangkap peluang besar ini mulai dari yang sederhana seperti membuat gula farmasi yang benar-benar lolos uji dari semua kriteria, menggarap obat-obatan natural base pharmacy (seperti herbal) sampai ke farmasi yang advance seperti halnya stem cell.

MoU.jpg
Untuk bisa menggarap semuanya, kita tidak bisa sendiri. Bekerjasama dengan Perguruan Tinggi sebagaimana sekarang sudah berjalan dengan UGM, Undip, IPB dan Unpad harus semakin ditingkatkan di masa-masa yang akan datang. Di hari itu, peningkatan kerjasama dengan Unpad ditandai dengan MOU antara saya dengan Rektor Unpad yang kemudian diikuti dengan Business Meeting sesi awal untuk menggali bidang kerja sama yang lebih luas antara RNI dengan 16 Fakultas di Unpad. Selanjutnya akan diadakan pertemuan antar tim teknis dari kedua belah pihak. Acara itu menjadi penutup kegiatan saya meng-explore dunia farmasi bersama Unpad sekaligus memantapkan keyakinan saya akan besarnya peluang bisnis farmasi di masa depan.

 
Anda semua terutama generasi muda, harus bersiap-siap bahwa di masa depan pangan, energi dan sehat saja masih belum cukup. Kelak harus ditambah sehat, bugar, powerful dan kinclong…
Semoga Allah SWT selalu membimbing kita semua agar selalu melewati jalan yang benar. Amiin.

 
Wassalamualaikum wr.wb.

 
Jakarta, 16 September 2016.

 
Didik Prasetyo