# 44 “Saatnya Membuka Diri”

Assalamualaikum wr.wb,

Setelah sekian lama vakum karena berbagai kesibukan yang hampir tak mengenal waktu, malam ini sambil mendengarkan musik lembut dalam perjalanan pulang ke rumah saya ingin berbagi cerita tentang pentingnya insan RNI atau RNIers group mulai membuka diri memasuki dunia bisnis yang baru yakni financial market atau pasar uang. Tentunya ini berkat kegigihan pak M Yana Aditya – Direktur Keuangan PT RNI yang sangat concern akan kinerja keuangan PT RNI Group.

 
Sebagaimana saya sampaikan dalam CEO Notes saya sebelumnya, kinerja PT RNI Group tahun 2015 dan 2016 telah menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya terutama anak-anak perusahaan RNI yang bergerak dibidang Farmasi, distribusi dan agroindustri..tahun ini tahun 2017 saya ingin menggenjot kinerja PT RNI group mencapai hasil yang lebih baik lagi meskipun kondisi beberapa anak perusahaan masih cukup berat.. yakni harus mampu meraih laba Rp 263 milyar.

 
Berbekal hasil rating PT RNI dan PT Phapros yang memperoleh predikat single A-, saya minta pak DK (panggilan akrab pak Yana) untuk segera menerbitkan medium term notes dalam rangka perbaikan struktur keuangan PT RNI group dan pengembangan PT Phapros. Ibarat sedang melakukan pertandingan bola, babak pertama penerbitan MTN dilakukan oleh PT Phapros terlebih dahulu dengan penerbitan kupon yang mempunyai jangka waktu 2 tahun dan interest rate 9,5% sebesar Rp 200 Milyar. Kupon ini laris bak kacang goreng dan saya dilapori oleh pak Heru M – Direktur Keuangan PT Phapros yang selalu klimis penampilannya bahwa tanggal 31 Maret 2017 seluruh kupon MTN Phapros ludes terjual. Dana Rp 200 Milyar sudah masuk kantong PT Phapros sehingga rencana pengembangan PT Phapros Tbk baik organik maupun anorganik akan bisa diakselerasi sehingga target masuk dalam 10 besar perusahaan farmasi nasional bisa dipercepat tidak lagi tahun 2019 tapi tahun 2018.

 
Berbagai rencana strategis kita bahas bersama antara Direksi PT Phapros Tbk dengan Direksi PT RNI seusai RUPS Tahunan yang dalam 10 tahun terakhir paling mulus. Hanya butuh 45 menit untuk menyelesaikan RUPS tersebut karena kinerja PT Phapros Tbk tahun 2016 sangat kinclong bahkan tumbuh jauh diatas rata-rata industrinya baik omzet maupun labanya. Kesepakatan sudah tercapai dan saya segera minta pak DK selaku Komut PT Phapros Tbk merevisi RKAP tahun 2017 supaya “speed” yang sudah dijalankan bisa tertuang secara legal dalam dokumen perusahaan termasuk kebutuhan pendanaannya.Pertemuan dengan pebisnis farmasi nasional juga dilakukan sambil makan siang dalam suasana yang sangat enjoy dan kekeluargaan.

 
Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar dan saat PT RNI holding menerbitkan MTN dengan tenor 3 tahun dengan rate interest 9,75% telah terkumpul dana Rp 77 milyar yang nanti akan digunakan untuk merestrukturisasi anak-anak perusahaan yang masih berat kondisi keuangannya.
PT Phapros sudah, PT RNI holding sudah, PT PG Rajawali I meskipun sudah dirating namun masih takut-takut untuk membuka diri mencari sumber pendanaan dari non bank semoga teman-teman PT PG Rajawali I tidak lagi takut karena terbuka bukan berarti telanjang. Dengan adanya sumber pendanaan dari pasar uang kita bisa belajar untuk lebih governance didalam menjalankan perusahaan. Saatnya anak-anak perusahaan PT RNI yang lain membuka diri untuk tidak takut masuk dalam pasar uang. PT Rajawali Nusindo bahkan lebih advance….mereka justru ingin langsung IPO, satu keinginan yang amat saya dukung karena ini akan memaksa teman-teman Nusindo untuk selalu menjaga performance perusahaan dalam kondisi fit dan selalu siap tempur.
Ayoo kembangkan pikiran positip untuk berani terbuka karena kedepan arus informasi sudah sangat cepat dan tanpa batas. Kalau kita ngga siap akan terlindas oleh jaman, jatuhnya Nokia bisa menjadi pelajaran kita semua.

 
Selamat berkarya, kembangkan kreativitas dan jangan takut berinovasi.

 
Semoga Allah SWT meridhoi dan selalu membimbing kita semua.
Wassalamualaikum wr.wb.

 
Jakarta, 18 April 2017.

 

Didik Prasetyo

 

# 43 RNI Day 2017 = RNI Got Talent : Lebih Heboh Dari America Got Talent.

Assalamualaikum wr.wb,

 
CEO Note 38 yang lalu saya ulas refleksi kinerja RNI Group 2016. Saya sampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh karyawan RNI Group, ungkapan syukur kepada Allah SWT selayaknya selalu kita panjatkan karena telah memberikan kelancaran dan kemudahan kepada kita semua dalam menjalankan amanah masing-masing, sehingga tahun 2016 ditutup dengan kinerja yang lebih baik dari tahun lalu.

 
Walaupun ada yang jatuh bangun, ada yang terseok-seok, ada yang lari kencang dan hasilnya ada yang kinclong serta ada yang redup, overall hasil yang dicapai sangat membanggakan. Waktu itu saya belum berani menyebut angka, tetapi karena sekarang sudah ada hasil audited yang final, maka angka itu sudah ada di domain publik. Apalagi sudah di-upload di website di Kementerian BUMN. Bahkan angka itu sudah dikutip berbagai media berbarengan dengan selesainya Public Expose RNI dalam Media Gathering tanggal 14 Februari 2017 baru-baru ini.

17308748_1513366175340810_4816891369407991927_n.jpg
Kalau di tahun 2015 laba perusahaan mulai positip Rp 69 milyar meskipun masih sambil berbenah sana sini karena rugi tahun2014 cukup besar yakni Rp.331 milyar; pada tahun 2016 kemarin sudah cukup lumayan bisa membukukan laba Rp.247 milyar. Tetapi menurut saya masih jauh dibawah potensi yang seharusnya.

 
Seperti dapat dilihat pada grafik, sektor perkebunan masih minus karena belum tuntasnya pembenahan yang dilakukan di PT Mitra Ogan dan PT Laskar.

 
Namun sayang sungguh sayang, ditengah pembenahan menyeluruh di PT Mitra Ogan dimana seluruh karyawan sangat bersemangat untuk membangkitkan kinerja perusahaan masih ada provokator yang mencoba untuk mengganggu kerja kita, sungguh sangat tidak punya hati nurani orang yang memprovokasi karyawan yang lagi giat-giatnya membangkitkan kinerja perusahaan.

 
Memang masih ada kendala disana sini, tetapi secara keseluruhan sudah meningkat dibandingkan tahun lalu. Angka dalam kurung yang tadinya ada di sektor perkebunan, pada tahun ini sudah bisa dibuka walaupun masih tipis dan kondisinya masih sangat berat. Oleh karena itu saya sudah berpesan kepada Direksi PT MO, saya akan dukung penuh semua kebijakan Direksi untuk memperbaiki perusahaan even itu harus memecat atau memenjarakan orang, bahkan bila membutuhkan “Pasukan Tempur” untuk menjaga momentum perbaikan akan saya kirim segera dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

 
Melihat kondisi tahun 2016 tersebut, maka tahun ini 2017, laba perusahaan saya minta dinaikkan lagi targetnya menjadi Rp 263 milyar. Ada beberapa faktor yang mendorong saya untuk menaikkan target tersebut diantaranya diperolehnya rating single A minus untuk PT RNI Holding dan PT Phapros dan single A untuk PT PG Rajawali 1 Jawa Timur dari Pefindo artinya perusahaan ini dalam status stable outlook. Pak DK – Yana Aditya segera bergerak cepat untuk mencari dana murah di pasar uang untuk menutup hutang dan tentu saja untuk pengembangan bisnis yang lebih prospektif. Sudah dikalkulasi bahwa penghematan bunga hutang berpotensi mencapai puluhan milyar.

 
Bagaimanapun juga, saya ingin membagi rasa syukur dan optimisme ini dengan dengan semua orang melalui media ini, terutama dengan seluruh karyawan dan keluarga RNI Group. Salah satu bentuknya adalah dalam temu keakraban antara manajemen dan seluruh karyawan dalam suatu social gathering. Tentu tidak bisa saya lakukan sendiri, juga tidak bisa dengan semuanya karena biayanya pasti besar.

 
Sebagaimana pernah saya ungkapkan juga di CEO Note yang lalu, kalau anak perusahaan merasa mampu, mempunyai anggaran, dan disepakati oleh semua karyawan, saya persilakan masing-masing mengadakan social gathering yang bentuk dan besarnya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Tidak harus waah diadakan di hotel atau lokasi wisata yang mahal, tetapi bisa di segala tempat asal dikemas dalam acara yang meningkatkan semangat kekeluargaan dan memotivasi karyawan untuk meningkatkan kinerjanya.

 
Family gathering yang diadakan oleh PT RNI tahun ini mengambil thema : Togetherness For The Best. Suatu tema yang cocok dengan apa yang saya dambakan dalam mengelola PT RNI, yaitu kebersamaan sebagai Team work, bukan hanya di lingkungan kantor, tetapi keluarga juga harus ikut mendukung, terutama untuk ikhlas mengijinkan suami/isteri/ayah/ibu/ bekerja di PT RNI bahkan kadang-kadang harus nginap dikantor kalau sudah dateline. Tentunya lebih afdol kalau disertai dengan doa dan ridho agar semua yang dikerjakan diberikan kemudahan dan kelancaran serta hasil yang barokah.

17352554_10212985342774483_8340856129122917165_n.jpg
Acara ini diikuti oleh seluruh karyawan dan keluarganya total yang hadir sebanyak 600 orang lebih.

 
Saya datang bersama anak isteri, bahkan anak saya yang sedang belajar di luar kota juga saya impor ke Jakarta agar bisa bersama-sama menikmati kegembiraan ini. Demikian juga dengan Direksi yang lain yang hadir lengkap bersama pasangannya dan putera-puterinya yang masih mau diajak menikmati hiburan anak dan remaja.

 
Malam penuh hiburan dan gelak tawa ini memang dikemas dari kita untuk kita. Tidak perlu ada artis dari luar karena semua yang hadir jadi artis pengisi acara. Direksi semua tampil jadi artis. Entah secara kolektif yang meminjam istilah Pak DSDM – Pak Djoko Retnadi, menjadi Boys Band maupun tampil dengan pasangan masing-masing menunjukkan kemesraannya yang mudah-mudahan keluar dari lubuk hati yang paling dalam, hehehe…. Tapi semua bergaya sama, tangan kanan pegang mike, tangan kiri pegang HP karena baca teks. Benar-benar penyanyi abad milenium…

 
Saya sungguh terpukau melihat penampilan kolega Direksi ini. Pak Elka bisa langsung “meledak” menyanyikan lagu Terajana berduet dengan ibu. Kelihatan Pak Elka sangat menghayati meskipun Bu Elka masih malu-malu. Kalah deh Rhoma Orama…..

17361643_10212985341574453_2265295502942027905_n.jpg
Pak Djoko dan Bu Djoko adalah pasangan yang romantis, termasuk dipanggung. Lagunya adalah Somethingnya The Beatles dan banyak berkata “I don’t know”, tapi adegannya paten: Wedding kiss model Ngayogyokarto, hehehe…

17361897_10212985546419574_585668035547243636_n.jpg
Pak DPUI – Pak Agung sangat heboh tampil dengan pertunjukkan ala Kabaret. Sayangnya senengnya main keroyokan, semua anak buah dimobilisasi beramai-ramai naik ke panggung dengan wig dan selendang warna-warni sampai seperti mau merayakan karnaval 17-an, hahahaa…

17352331_10212985553939762_6067322540404353755_n.jpg
Pasangan paling hot, paling enerjik, paling kempling suaranya tentu saja pak DK – Pak Yana Aditya dan Ibu. Tidak disangkal lagi, dua-duanya sudah punya “chemistry” yang sama sebagai penyanyi dan pejoget. Sepanjang lagu, beliau berdua goyang terus meneruuuuuusss…..

17362411_10212985546579578_5509395435293881760_n.jpg
Saya jadi heran, latihannya kapan dan dimana yaaa….? Jangan-jangan rumahnya pada acak-acakan dipakai ajang gladi bersih menjelang show dadakan ini.

 
Saya jelas susah untuk menilai penampilan saya sama isteri, dong. Tapi yang jelas saya joget terus sampai kemringet karena siapapun yang nyanyi dan ngajak joget pasti saya layani. Silakan yang ikut nonton waktu itu, kasih comment di FB saya, jangan cuma like. Welcome….

 
Talent yang benar-benar ditemukan adalah pada saat semua Group Head dan jajarannya berlomba mengadu kreasinya mengisi acara di panggung. Semuanya tanpa kecuali harus manggung, kalau perlu keluarga juga ikut, silakan. Bahkan saya tahu ada yang mengajak anak SMA yang sedang PKL juga. Busyeeeeeet.
Tidak menyangka bahwa Pak Sagita – Kepala SPI yang keliatan pendiam bisa meledak seperti Bom C4, bukan “Bom Panci” lho ketika memimpin anak buahnya para auditor membawakan Parodi “7 keajaiban SPI”. Semua hadirin terpingkal-pingkal melihat penampilan Tim SPI yang sangat orisinil dan sangat menghibur. Kelihatannya semua Direksi sepakat bahwa ini adalah penampil terbaik, maka jadilah Tim SPI Juara I. Bravo SPI…

17362027_10212985556579828_1529348178572198578_n.jpg
Saingan beratnya adalah Grup Sekretaris Korporasi yang menampilkan Goyang Caesar, dipimpin oleh Mas Dimas, pendatang baru di RNI yang diimpor dari PG Candi. Penampilannya sangat luar biasa bak koreografer yang profesional. Ya bergoyang, ya memandu dan memimpin, ya berinteraksi dengan penonton. Silakan anak-anak perusahaan yang mau nanggap artis dan komedian dari RNI, monggo. Saya akan kasih ijin khusus, demi untuk membuktikan perkataan saya ini. Tapi jangan nanggap Pak Sagita dengan semua auditornya, bisa berabe nanti kalau kantor kosong. Tapi kalau nanggap Dimas dan crewnya pak Edwin Sekkor, silakan, asal jangan semua Sekretaris Direksi diangkut, hehehe…

17265084_10212985339934412_7800107965466894961_n.jpg
Melihat pengalaman ini, kalau tahun ini, 2017 sasaran laba bisa tembus Rp.263 milyar kita perlu adakan Grand Finale mengadu kehebohan artis daerah dan artis Ibu kota. Kalau perlu saya sewa JCC nanti. Awas, semua siap-siap yaaa…

 
Anyhow, the party is over. Let’s get back to work. Dalam arti yang sebenarnya.

 
Marilah kita kembali ke tempat kerja masing-masing dengan semangat dan gairah baru untuk menyongsong hari-hari ke depan yang lebih baik, mengejar target yang lebih tinggi.

 
Selamat berkarya yang inovatif.

 
Semoga Allah SWT meridhoi dan selalu membimbing kita semua.

 
Wassalamualaikum wr.wb.

 
Jakarta, 15 Maret 2017.

 
Didik Prasetyo

# 42 Kantor Baru Gedung Lama : Uji Nyali Bagi Para Phapros-ers

Beberapa minggu yang lalu saya berkesempatan untuk ikut menyaksikan dan meresmikan perpindahan sebagian kantor PT Phapros Tbk dari Kawasan Simongan ke kawasan Kota Lama Semarang menempati aset PT RNI yang sudah sangat lama tidak terjamah perhatian manajemen. Alhamdulillah hari itu, Jumat, 24 Februari 2017 perbaikan gedung perkantoran milik PT RNI di kawasan kota lama telah selesai dilakukan dan akan ditempati oleh PT Phapros Tbk secara resmi. Kenapa saya perlu cerita tentang aset-aset PT RNI di kawasan kota lama Semarang ini? Ini berkaitan dengan sentilan pak Ganjar Pranowo – Gubernur Jawa Tengah saat singgah dan memberi sambutan pada acara rapat kerja seluruh Direksi BUMN yang diselenggarakan di Kapal Pelni sambil wisata dari Jakarta – Karimun Jawa bulan November 2015 lalu.

Pak Gubernur Jateng ini sangat peduli dengan kota ya sehingga mempertanyakan mengapa aset-aset PT RNI berupa gedung-gedung yang begitu banyak di kota lama Semarang tidak dimanfaatkan secara optimal? bahkan cenderung tidak dirawat atau dibiarkan mangkrak…ini tentu bisa mengganggu Program Pemprov yang sedang gencar-gencarnya merestorasi Kota Lama Semarang untuk dijadikan sebagai Kawasan Wisata.

Sebagai Direksi BUMN tentunya saya tidak mau dianggap sebagai pengganggu Program Pemprov oleh karena itu saya tergugah dengan dan saya bertekad untuk merespon dengan secepat-cepatnya.

Saat itu saya baru 5 bulan ditugaskan sebagai Direksi PT RNI dan sedang on fire ngurusin aset non produktif. Segera saya koordinasikan dengan rekan-rekan di bagian Aset Manajemen di bawah komando Pak DSDM Djoko Retnadi untuk mengumpulkan segala data dan informasi yang terkait dengan aset Kota Lama Semarang tersebut. Dan tentu saja harus saya lihat sendiri di lapangan.

Dan, astaga…

17191272_10212905873787808_6777535144738474205_n.jpg

Pantas kalau Pak Ganjar dan mungkin juga Pak Walikota Semarang geregetan melihat kondisi bangunan yang ada saat itu.

Semua adalah gedung-gedung tua yang sebenarnya sangat megah tetapi tidak terawat. Ada yang bangunannya ditumbuhi rumput liar, ada yang bekas terbakar, ada yang menjadi lokasi penumpukan barang rongsokan. Saya katakan bangunan megah, paling tidak dulu pada waktu awal dibangunnya, karena sampai sekarang walaupun tidak terawat sisa kekokohannya masih ada. Lantainya terbuat dari marmer, bagian perkayuannya semua dari kayu jati dan yang antik lagi adalah masih adanya brankas atau lemari besi yang masih menempel di dinding tembok. Bahkan, beberapa diantaranya sudah tidak bisa dibuka, atau bisa dibuka tapi sudah tidak bisa ditutup lagi.

17201254_10212905875747857_1546100758807068070_n.jpg

Sementara di sekelilingnya terlihat sekali bahwa Pemkot Semarang sedang berupaya keras untuk mempercantik kawasan tersebut. Penertiban kawasan Kota Lama ini dilakukan dengan tetap memperhatikan prinsip pelestarian warisan budaya (heritage building). Walaupun di sekitar itu ada bank Mandiri, PT Asuransi Jiwa Seraya dan kantor-kantor berbagai perusahaan dan instansi, mereka tetap tidak boleh mengubah bangunan induk. Jalan-jalan juga dirapikan dengan memasang semacam paving block dari batu sehingga kesan antiknya menonjol. Pokoknya kalau kita jalan di kawasan kota lama Semarang serasa jalan di Roma atau Perancis, meskipun orangnya tidak serem seperti Mafioso hehehe.

Rupanya kawasan ini memang dulu merupakan tapak kejayaan Oei Tiong Ham Concern. Kalau tapak kerajaan Majapahit di Trowulan, tapak Mataram di Kota Gede, maka tapak OTHC di Kota Lama Semarang. Beberapa bangunan eks OTHC ini sebagian juga sudah ada yang dijual ke pihak ketiga. Salah satunya yang paling megah adalah bekas Rumah kediaman Oei Tiong Ham yang dikenal dengan nama Balai Prajurit. Bangunan ini benar-benar seperti istana raja. Halamannya luas bisa untuk upacara bendera satu kantor. Di belakang ada taman dengan kebun binatang mini. Layaknya pepatah jawa, lagi-lagi tumbu oleh tutup. Pada saat yang bersamaan PT Phapros Tbk yang sedang tumbuh luar biasa juga perlu perluasan kantor, maka saya minta agar mereka mempertimbangkan untuk melebarkan sayap dengan menambah kantor di salah satu gedung milik RNI di Jalan Mpu Tantular kawasan Kota Lama Semarang, berdekatan dengan saudara kandungnya yang berkantor di Jalan Kepodang lebih dulu.

17191461_10212905878867935_1543411463764662090_n.jpg

Tentu saja banyak yang harus dipoles untuk menjadikan gedung ini agar menjadi layak disebut kantor, apalagi kantor PT Phapros Tbk yang sedang berjaya. Tidak tanggung-tanggung yang pindah kesitu adalah seluruh crew back office PT Phapros Tbk termasuk Direksi. Bedol deso ini melibatkan hampir 100 orang dari berbagai bagian (SDM & Umum, Akuntansi, Keuangan, SPI, IT dan Sekper). Restorasi dilakukan dengan cukup besar-besaran, mulai dari membersihkan, mengecat ulang sampai memodifikasi beberapa ruangan terutama untuk Direksi. Batasannya, tidak boleh merubah struktur bangunan, termasuk sekedar memasang kanopi penahan matahari sekalipun. Kalau dilanggar, resikonya bakal disemprit sama Pemkot karena merusak cagar budaya.

Jadilah dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, bangunan lama ini disulap menjadi kantor baru PT Phapros yang antik tetapi resik dan apik.

Restorasi aset di Kota Lama ini juga dilakukan terhadap gedung-gedung PT RNI yang terlantar lainnya. Melihat ke-antik-annya, gedung ini potensial sekali dijadikan cafe atau resto yang sangat eksotis. Satu lokasi sudah laku disewa untuk cafe, menyusul lokasi di Jalan Kiai Saleh yang disewa oleh PTPN IX dijadikan Cafe-Resto Banaran. Sementara gedung-gedung lainnya masih banyak yang menunggu penyewa.

Semakin yakinlah saya bahwa properti kelak akan menjadi pilar penyangga yang potensial bagi PT RNI. Saya bayangkan kalau Pemkot Semarang sudah berhasil mengembangkan kawasan ini menjadi seperti Kuta Tua Fatahilah di Jakarta. Banyak cafe, resto, tempat hiburan yang bertaburan tetapi bernuansa etnik yang kuno, maka pasti akan menggeliatlah bisnis dari pemanfaatan gedung-gedung kuno ini. Insya Allah. Aamiin.

17190763_10212905877787908_8661650084295260381_n.jpg

Demikianlah, maka pada tanggal 24 Februari 2014, saya ikut mengantarkan Bu Emi Barokah Sri Utami bersama seluruh jajarannya boyong ke kantor barunya. Disaksikan oleh Pak Walikota Hendrar Prihadi yang akrab dipanggil Mas Hendi begitu saya menyapanya, dengan gaya santai masih berpakaian senam rutin hari Jumat, memboyong para Kepala Dinasnya untuk hadir dalam peresmian kantor tersebut.

Di depan Pak Wali saya sampaikan secara singkat langkah-langkah yang sudah saya lakukan untuk membenahi aset yang berserakan tak terawat di kawasan Kota Lama Semarang. Termasuk juga saya ungkapkan apresiasi dan terimakasih saya kepada Direksi dan seluruh karyawan PT Phapros Tbk yang sudah mau hijrah dari Simongan ke kantor barunya yang nota bene menempati gedung tua yang mungkin cerita uka-ukanya masih kental. He he he uji nyali bagi para Phaprosers…..semoga tidak ada yang angkat tangan dan lihat ke kamera he he he.

16939644_1864923700445789_8709434379789764728_n.jpg

Saya sampaikan juga harapan kepada Pak Wali kiranya dapat memfasilitasi sarana publik yang ada di sekitar lokasi kantor yaitu berupa tempat parkir untuk kendaraan karyawan, mobil maupun motor. Pak Wali merespon dengan cukup positif harapan tersebut dan berjanji akan memikirkannya. Ternyata selama ini PT Phapros sudah memperoleh tempat khusus di hati Pemkot karena hasil karya bina lingkungannya yaitu penghijauan kawasan mangrove di pantai Maroon yang dinamakan Mongrove Edu Park dan saat ini sudah menjadi salah satu icon penghijauan di Semarang. Lokasi itu menjadi tempat yang syahdu kalau digunakan untuk mengenang masa-masa muda para pejabat di kala masih pacaran, kata Pak Wali.

Tentu saya berharap agar dengan kantor baru ini – walaupun bangunan lama – akan semakin membangkitkan semangat seluruh Phapros-ers agar berkarya lebih baik lagi, lebih cemerlang lagi sehingga cita-cita One Trillion yang sudah digelorakan akan benar-benar dapat dicapai di tahun 2017 ini. Amiin.

Acara memang dikemas dalam suasana yang bernuansa oldies. Pantia dan crew musik hiburan bergaya sangat “bumiputera” banget. Iringan musiknya juga berirama keroncong. Saya yang mengawali naik ke panggung hiburan untuk memecah kebuntuan suasanapun ikut terbawa melo. Biasanya nge-rock untuk menggelorakan semangat, kali ini beralih ke dendang irama Melayu “Cinta Hampa”- lagu yang dipopulerkan oleh D’Lloyd. Eh, ternyata saya tidak sendiri. Artis dari Ibu Kota region Mega Kuningan juga ikut sendu. Pak DK nyanyi lagu Sewu Kutho, Pak Edwin Sekkor berduet kompak banget dengan Bu Rani Dirkom Phapros melantunkan lagu Sai Anjuma Au (Ssssttt, maklum sama-sama dari tepian Danau Toba jadi serasa di kampung, kaleee…)

Suasana boleh sendu dan syahdu bin melo, tetapi semangat harus tetap bergelora untuk meraih prestasi. Ini juga kesempatan untuk menguji nyali para Phapros-ers, apakah di lokasi kantor baru yang bararoma uka-uka masih bisa berkinerja dengan kinclong? Dan, saya percaya para Phapros-ers pasti bisa.

Selamat berkarya dari kantor yang baru. Sukses untuk Phapros.

Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pemurah meridhoi kita semua. Amiiin

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta, 11 Maret 2017.

Didik Prasetyo

# 41 MOU : RNI – UGM, RNI-BULOG dan RNI-Berdikari, Ibarat pepatah jawa “Tumbu Oleh Tutup”

 

Assalamualaikum wr.wb,

 
Kalau kita bicara tentang BUMN, di mata saya, disamping tugasnya mencari laba dan menjadi agent of development, BUMN juga harus menjadi perintis industri unggulan. Caranya? BUMN harus menjadi tangan pertama yang mengembangkan dan mengkomersialkan hasil-hasil riset di pusat-pusat unggulan riset dan inovasi, misalnya perguruan-perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian. Terlebih lagi kalau riset itu dilakukan atas biaya dari negara. Oleh karena itu, rekan-rekan BOD dan Direksi anak perusahaan serta teman-teman karyawan, saya dorong untuk berpartisipasi bila ada kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan perguruan tinggi sekaligus keliling dari kampus ke kampus untuk meng-up date dan meng-up grade diri agar tidak gaptek yang berkaitan dengan bisnis RNI. Bilamana perlu sekalian nostalgia atau reuni. Saya tidak ingin isi kepala kita hanya dipenuhi dengan laba-rugi, cash flow, penjualan, produksi, market share, rendemen, margin dan sejenisnya, tetapi juga harus diisi pikiran-pikiran maju yang jauh ke depan di era digitalisasi, bio-teknologi, nano-teknologi saat ini. Pikiran-pikiran itu bahkan mungkin hal-hal yang saat ini masih dianggap sebagai “dunia ghaíb” karena sama sekali belum terbayangkan..

 
Begitulah, kalau tahun yang lalu di Unpad saya menandatangani MOU Kerjasama dengan Rektor Unpad Prof. Dr. Tri Hanggono di depan semua Dekan Fakultas-fakultasnya, maka tahun ini giliran saya duduk bersama Prof. Dr. Dwikorita Karnawati, Rektor UGM yang sangat enerjik, dalam acara yang serupa.

 
Rupanya hubungan dengan UGM ini sudah dirintis awal oleh kedua DPUI. DPUI RNI maupun DPUI UGM. DPUI RNI adalah Pak Dr.Agung P.Murdanoto, Direktur Pengembangan Usaha dan Investasi. DPUI UGM adalah Dr. Hargo Utomo, MBA Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi. Pantas saja kerjasama ini prosesnya cepat dan lancar karena banyak yang punya “Jogja Connection” sehingga bersemangat kalau ada kerjaan di Yogya. Pak Agung disamping terkoneksi dengan sesama DPUI juga putera Yogya, alumni SMA Teladan Yogya, teman sekelas Bu Rektor UGM yang dikenang oleh beliau sebagai murid yang pinteerrr sekali. Pujian yang membuat Pak Agung tersipu-sipu. Pak DSDM RNI yaitu Pak Djoko Retnadi juga alumni FE UGM dan dua putranya kuliah di UGM. Pak DK Yana Aditya juga priyayi Yogya meskipun bukan alumni UGM. Saya sendiri walaupun alumni IPB, pulang kampungnya juga ke Jogja bahkan anak saya nggak mau masuk IPB, tapi malah kuliah di FE UGM. Pak Elka juga tidak “steril” dari kepentingan di Yogya karena beliau penggemar kuliner di Yogya. Sehari makan dua kali dalam resto ayam goreng yang sama, hehehe…. Jadi semua sregep kalau diajak ke Yogya.

16708672_1487890664555028_1262065199309944769_n.jpg
Acara di adakan di Kantor Pusat UGM Kampus Bulaksumur yang menurut Bu Rektor adalah Gedung Modern yang dibangun pertama di masa setelah kemerdekaan dan tampilannya seperti kastil kerajaan dongeng, sangat berwibawa..

 
Visi UGM saat ini adalah ingin menjadi “socio-enterpreneur-real-university”. Keinginan UGM bukan hanya menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi saja tetapi ditambah dengan hilirisasi dari hasil-hasil inovasinya ke masyarakat termasuk industri. Sehingga kedatangan RNI untuk kerjasama dengan UGM, kata bu Rektor ibarat “pucuk dicinta ulam tiba” atau dalam pepatah jawa “tumbu oleh tutup”, karena di RNI sendiri sudah saya minta supaya teman-teman karyawan RNI selalu berpikir out of the box tidak melulu mengikuti apa yang sudah dikerjakan pendahulunya tapi harus selalu disempurnakan terus seluruh proses bisnis yang digeluti RNI disesuaikan dengan perkembangan jaman.

 
Bagi saya, semua menjadi jelas ketika Bu Rektor memberikan contoh bahwa UGM mempunyai teaching industry yaitu PT Pagilaran. PT Pagilaran bergerak di agro industri perkebunan teh di Jawa Tengah dan kebetulan RNI juga punya kebun teh di Solok Selatan Sumatera Barat. Tentu ini akan banyak manfaat yang diperoleh oleh RNI maupun UGM dengan saling berbagi pengalaman dan bertukar pikiran mengenai pengelolaan bisnis teh tidak hanya dari sisi pemasaran saja namun juga penerapan precision farming di seluruh kebun RNI maupun UGM. Saya yakin bahwa kerja sama yang dibangun dengan perguruan tinggi yang nota bene adalah hasil riset dan inovasi pasti top markotop.

16641062_1487890674555027_1412998775877594892_n.jpg
Dengan datangnya RNI, Bu Rektor juga mengharapkan agar RNI dapat menjadi teaching industry bagi UGM, suatu hal yang sangat saya sambut baik. Dalam diskusi juga sudah saling diidentifikasi peluang yang ada untuk kerjasama lebih lanjut. Di farmasi saya berharap nantinya dapat dikembangkan obat yang berbasis fito farmaka. Di gula juga diharapkan dapat dikembangkan non-destructive analysis yaitu bagaimana mengetahui indikasi kadar gula tanpa harus mengambil contoh tebu atau memasang core sampler tapi cukup di scanning saja kayak di film-film itu. Demikian pula terhadap pengembangan aset properti RNI yang sangat membutuhkan keahlian di bidang arsitektur dan konstruksi tentunya dengan prinsip smart and green building. Kerja sama dengan UGM ini meminjam istilah Dr. Hargo adalah dilandasi kepentingan untuk kemajuan bangsa dan negara. For the sake of the nation.

 
Walaupun kedua tangan ingin meraih mimpi, tapi dua kaki harus tetap menginjak bumi. Kerjasama dengan UGM ini saya anggap menjadi ruh bagi jalannya perusahaan yang akan menyemangati dan menuntun arah perusahaan ke depan, tetapi dalam jangka pendek perusahaan juga perlu energi yang bisa membuatnya tetap berlari. Itulah sebabnya sehari sebelumnya saya menandatangani MOU kesepakatan bisnis berturut-turut dengan dua perusahaan BUMN, yaitu Perum Bulog dan PT Berdikari.

 
Perum BULOG saat ini tengah mengemban tugas yang sangat strategis dari Pemerintah yaitu mewujudkan kedaulatan pangan nasional melalui program Rumah Pangan Kita dan Bantuan Pangan Non Tunai. Program Rumah Pangan Kita (RPK) bertujuan untuk memasok kebutuhan pangan kepada masyarakat dengan harga terjangkau. Warga yang menjadi agen RPK akan mendapat suplai kebutuhan pangan di antaranya gula. Tidak jauh berbeda, Program Bantuan Pangan Non Tunai juga bertujuan membantu pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. Melalui program itu keluarga kurang sejahtera (KKS) akan mendapat bantuan beras, gula dan kebutuhan pokok lainnya yang hari ini tgl 23 Februari 2017 diluncurkan secara nasional oleh Bapak Presiden di Cibubur Jakarta Timur. RNI bersama-sama BULOG, Pegadaian dan Bank-bank BUMN diundang pada acara peluncuran Bantuan Pangan Non Tunai secara Nasional tersebut.

16729006_1487019991308762_7019885999649222867_n.jpg
Baik beras maupun gula, keduanya membutuhkan kemasan. RNI punya anak perusahaan PT Rajawali Citramas yang bergerak di industri kemasan dan sudah memasok kebutuhan kemasan untuk Perum Bulog, Pupuk Indonesia Holding (PIHC), PTPN, perusahaan-perusahaan swasta dan tentu saja internal grup RNI. Kapasitas produksinya pun semakin meningkat dari semula hanya sekitar 20 juta lembar per tahun sekarang sudah mampu mencapai 84 juta lembar pertahun sebentar lagi akan meningkat menjadi 120 juta lembar per tahun setelah production line yang dibangun di PT Rajawali Tanjungsari (anak perusahaan yang sudah divonis mati oleh manajemen lama) akan beroperasi awal tahun ini.

 
Dengan Direktur Utama Perum Bulog Pak Djarot Kusumayakti, kami sepakati bahwa kerjasama antara RNI dan Bulog ke depan tidak hanya dalam aktivitas pengadaan karung plastik untuk produk-produk Bulog, tetapi juga dalam investasi peningkatan kapasitas pabrik atau pembukaan pabrik baru, termasuk kemungkinan pembentukan join venture company industri kemasan. RNI punya pengalaman dalam industri kemasan dan Bulog punya komoditas, inilah contoh sinergi BUMN untuk menunjang kedaulatan pangan nasional. Bentuk sinerginya tidak hanya sebatas transaksional namun sudah menjadi kolaborasi. Sekali lagi ini ibarat pepatah jawa “tumbu oleh tutup”.

 
Pagi hari sebelumnya, saya juga menandatangani MOU dengan Direktur Utama PT Berdikari, Pak Eko Taufik Wibowo terkait dengan industri peternakan terintegrasi. Tujuan kerjasama ini adalah membantu mensukseskan program pemerintah dalam memenuhi kebutuhan protein hewani nasional.

16729308_1486995304644564_7829469141393582503_n.jpg
Bila kita bicara tingkat konsumsi protein hewani nasional, saat ini rata-rata konsumsi protein hewani penduduk Indonesia masih berada dibawah standar kecukupan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015, rata-rata konsumsi protein hewani penduduk Indonesia sebesar 53,91 gram per kapita per tahun, sementara standar kecukupan konsumsi protein berada di angka 57 gram per tahun.

 
Walaupun belum sampai pada taraf ahli di bisnis peternakan, tetapi RNI punya sedikit pengalaman di bisnis ini. Pernah memelihara sapi di lahan PG Jatitujuh dan PG Subang sampai ribuan ekor dengan segala sarana ikutannya seperti kandang, rumput gajah dan ampas tebu untuk pakan ternak, dsb. Sampai dengan saat ini lokasi tersebut masih cukup baik dan siap untuk dimanfaatkan lagi. Selain itu dalam rangka mengoptimalkan aset-aset RNI yang masih idle khususnya aset-aset eks Pabrik Gula yang sudah ditutup, RNI-Berdikari juga menjajagi kerjasama pengembangan industri unggas terintegrasi. Sekali lagi sama seperti dengan Bulog, MOU dengan Berdikari ini seperti “tumbu oleh tutup” karena RNI punya lahan dan sarana prasarana untuk pengembangan industri peternakan yang dibutuhkan oleh Berdikari.

 
Terakhir, kaki dan tangan semua harus digerakkan, pikiran dan pandangan harus dibuka lebar-lebar untuk mewujudkan harapan-harapan yang nyata dan berkelanjutan.
Selamat bekerja.

 
Semoga Allah SWT membimbing dan meridhoi kita semua. Amiin.

 
Wassalamualaikum wr.wb.

 
Cibubur, 23 Februari 2017.

 
Didik Prasetyo

# 40 Menatap 2017 Tahun penuh optimisme (Dari Merdeka Selatan ke Klenteng Sam Poo Khong)

Assalamualaikum wr.wb,
Setelah tahun 2016 ditutup dengan segala dinamika, suka duka yang mengharu-biru sampai membikin “baper” beberapa rekan-rekan di lapangan, naah saat ini adalah waktunya menatap ke depan, menghadapi tahun 2017 yang penuh optimisme dan harapan untuk bangkit untuk meraih kejayaan RNI lagi dalam suasana yang harmonis.
Parade persiapan menuju 2017 ini kalau saya tulis lengkap akan panjang banget karena kalau bicara secara formal, sesuai UU PT, dimulai sejak disahkannya RKAP PT RNI tahun 2017 dalam RUPS yang – alhamdulillah – dapat diselenggarakan pada tanggal 10 Januari 2017 yang lalu. Namun proses menuju kesitunya yang woooww, berbulan-bulan sejak Oktober 2016. Mondar mandir Merdeka Selatan – Mega Kuningan (maksud saya dari kantor RNI ke kantor Kementerian BUMN). Belum lagi proses yang melibatkan anak perusahaan. Melewati diskusi yang berbusa-busa, rapat berpindah-pindah tempat, lembur yang tidak mengenal hari libur, menghabiskan kopi bercangkir-cangkir, teh bergelas-gelas, air putih bergalon-galon dan nasi bungkus berkotak-kotak atau nasi kotak berbungkus-bungkus (?)….bukan kampanye lho…
Pasca RUPS-nya pun tidak kalah heboh. Untuk mengejar tenggat waktu 30 hari setelah 31 Desember 2016, saya segera kumpulkan semua anak perusahaan untuk menyelenggarakan RUPS RKAP 2017 di masing-masing anak perusahaan kecuali PT Phapros dan PT GIEB yang ditetapkan oleh Komisaris karena ada pemegang sahamnya cukup banyak meskipun kecil-kecil.
RUPSnyapun terpaksa saya bagi dua karena harus berbagi dengan kegiatan lainnya sehingga tidak mungkin dilakukan sekaligus di satu tempat. Jadilah waktu itu sebagian di Surabaya, khusus untuk wilayah Timur dan sebagian di Jakarta untuk wilayah Barat. Kali ini “penduduk” Holding yang mengalah harus kesana kemari.

16708410_10212670595185990_7122806431404385876_n.jpg
RUPS RKAP 2017 anak-anak perusahaan kali ini juga diwarnai hal baru. Beberapa Direksi adalah pejabat baru yang saya angkat dalam rangka penyegaran. Salah satunya adalah Sdr. Gigih Mulyonoto Kacab. Nusindo Mataram yang baru 1 minggu menjadi Direktur PT RTE tapi sudah harus ketemu saya di RUPS. Belum cukup waktu untuk mendalami materi yang sangat berbeda dengan tugas sebelumnya. Biasa bermain di perdagangan, farmasi dan alkes, sekarang harus banting setir jadi manufacturer kulit dan karung plastik. Belum banyak teman yang bisa diajak diskusi dan juga belum punya jaringan di Holding. Tugas kita semua untuk membantu Pak Gigih ini. Tenaga muda yang bersemangat, tetapi juga sangat humble, sampai menyampaikan presentasinya di RUPS juga sambil berdiri. Mantaap.
Setelah RUPS Anak berlalu, Dewan Komisaris meminta dilakukan pendalaman RKAP. Kali ini dilakukan di Semarang dengan memanggil “The Big Five” RNI, yaitu Nusindo, Phapros, RW I, RW II dan Mitra Ogan. Jadi kali ini bertebaranlah tiket dari Jakarta, Palembang, Surabaya dan Cirebon (?). Peribahasa mengatakan : Asam di gunung, garam di laut, bertemu di …. Klentheng Sam Poo Khong. Maksud saya, disebelahnya hehehe……

16730435_10212670595786005_1058824400799086450_n.jpg
Dengan parade persiapan yang panjang itu, saya sangat yakin bahwa sasaran RKAP 2017 Insya Allah akan dapat dicapai. Apalagi saya merasa bahwa apa yang saya canangkan untuk dijalankan di seluruh RNI Group juga sudah “ön the right track” jika mengacu pada harapan, aspirasi, pembekalan dan arahan para pemangku kepentingan BUMN.
Apa saja yang bisa memperkuat keyakinan saya tersebut? Saya akan share sedikit.
Pertama, arahan langsung dari RI I ketika mengikuti acara pembukaan ELP (Executive Leadership Program) di Istana Negara. Setidaknya ada 5 poin arahan beliau yang disampaikan kepada para Direksi BUMN untuk dipedomani dalam menjalankan perusahaan milik negara ini. Pertama, kita harus tetap optimis karena Indonesia termasuk dalam 3 besar negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi tertinggi bersama China dan India. Angin optimisme ini juga sudah berhembus di RNI dari hasil 2016, sebagaimana saya tulis di CEO Notes sebelum-sebelum ini. Harapan saya, semangat insan RNI akan semakin terpompa dengan tiupan dari pimpinan nasional.
Kedua, tinggalkan zona nyaman dan selalu berpikir out of the box. Tahun ini saya terapkan betul dengan merotasi teman-teman yang semula mengelola perusahaan yang untung ke perusahaan yang sedang penuh tantangan. Juga cross-border antar pilar dari trading ke agro atau sebaliknya. Pendek kata, saya “obrak-abrik” tapi dengan niat baik demi untuk kemajuan semuanya. Mungkin bulan-bulan ini adalah bulan dengan gelombang mutasi pegawai PT RNI group yang paling besar.
Ketiga, sudah saatnya kita masuk ke era digitalisasi untuk menambah daya saing. RNI mempunyai tekad yang sama, bahkan sudah masuk ke RKAP. Saya tinggal tunggu janji realisasi digital mapping, penggunaan sistem geotagging, aplikasi sistem SAUP, Si Raja, dsb. untuk akurasi sistem informasi dan pengendalian biaya. Juga di Nusindo, mau tidak mau, kalau ingin memancing ikan kakap yaitu menggaet prinsipal besar, sistem IT yang memungkinkan diperolehnya data secara real time sudah merupakan keniscayaan. Ayo, sistem Tell Access yang sudah direncanakan harus segera jalan. Lewat Android pihak terkait sudah bisa melihat data stok untuk selanjutnya dapat ditransaksikan.

16730574_10212670594465972_8715380422027218737_n.jpg
Keempat, kehadiran perusahaan harus dirasakan oleh masyarakat sekitar. Misi ini juga sudah saya lekatkan di semua pimpinan unit. Mereka harus bisa bersosialisasi dengan lingkungannya, terlebih lagi dalam membina hubungan dengan ulama, tokoh masyarakat dan warga sekitar. Syukur-syukur kalau bisa menampung tenaga kerja lokal dalam setiap proyek yang sedang dibangun, tanpa harus meninggalkan profesionalisme.
Kelima adalah menjalankan prinsip-prinsip GCG dalam mengelola perusahaan. Di RNI Group, score GCG sudah menjadi KPI Direksi dan Komisaris Anak Perusahaan

.
Selain Presiden, ada juga bekal dari Bu Rini – Menteri BUMN. Prinsipnya adalah sinergi. Beliau sangat menginginkan terbentuknya Indonesia Incorporated yang dalam lingkup tanggung jawab beliau dipertajam menjadi BUMN Incorporated. Semua BUMN harus saling bersinergi, saling memanfaatkan produk dan layanan satu sama lain sehingga tercipta nilai tambah yang terkonsolidasi di seluruh BUMN. Dalam lingkup tugas saya menjadi RNI Incorporated. Salah satunya adalah dengan konsep ISC yang terus menerus diperbaiki agar sinergi benar-benar terjadi, jangan sampai sinergi ini menjadi joke : sini benar-benar rugi.…
Untuk lebih lengkapnya lagi juga ada bekal mengenai perspektif perekonomian Indonesia yang disampaikan oleh Menteri Keuangan. Sudah jelas kalau yang bicara Menkeu tentang optimisme kondisi keuangan, kita pasti mengamininya. Menurut beliau ada tiga bidang dimana pasar menilai positif terhadap Indonesia. Pertama, di bidang fundamental ekonomi, kita termasuk kategori sehat dengan pertumbuhan menjanjikan dan investasi semakin meningkat.

16729040_10212670594305968_8390992653110437905_n.jpg
Kedua, di bidang SDA & SDM, kita juga memiliki keunggulan. Populasi kita terbesar ke-4 di dunia dengan kategori growing middle income class. Kita juga negara demokrasi ke-3 terbesar di dunia dengan stabilitas politik yang tinggi dan memiliki sumber daya alam melimpah.
Ketiga, bidang komitmen reformasi, kita dikenal melakukan secara konsisten reformasi struktural, reformasi fiskal dengan didukung APBN yang lebih kredibel dan produktif.
Keempat, persepsi investor makin membaik sejalan dengan kebijakan yang mendukung Ease of Doing Business, yang ditandai juga dengan diraihnya kategori Investment grade dari Moody’s & Fitch, penerbitan surat utang pemerintah yang selalu diminati dan penilaian positif dari institusi iternasional (IMF, ADB, dll).
Ibarat mau bertempur, kondisi makro tersebut bagaikan indikator medan pertempuran yang sudah cukup bersih dari jebakan ranjau-ranjau. Ibarat main golf seperti kondisi course yang tidak banyak bunker dan kolam. Menang atau tidaknya lebih tergantung kepada kita. Apakah pukulan kita sudah benar-benar sesuai keinginan baik jarak maupun arahnya, tidak slice atau terlalu nge-hook apalagi sampai grounded.
Lebih-lebih lagi, tahun ini ada isyarat dari BMKG bahwa perjalanan iklim bakal normal lagi. Tidak ada lagi La Nina yang menghantui, yang membuat kita babak belur di tengah basah kuyupnya hujan, yang membuat rendemen turun hampir 30%.

Oleh karena itu, walaupun pemegang saham sudah menyetujui target laba sebalum pajak konsolidasi RNI tahun 2017 sebesar Rp.193 miliar, saya masih belum puas dan berusaha lebih besar dari itu.
Saya kumpulkan lagi seluruh anak perusahaan. Saya stretching out goals mereka dengan menyusun TOP (target operasional). Kembali lagi semua saya ajak duduk di Phapros. Kenapa Semarang? Wisata kulinernya mak nyus bener…

16730446_10212670595626001_7009066450821894258_n.jpg
Pak Jolly dan Pak Ferry tenaga baru di Rajawali II harus lari lebih kencang dengan fokus pada pengendalian biaya. Pak Natsir, Pak Sigit dan Pak Fikri, ayo pertahankan terus prestasi laba yang sudah dicapai bulan-bulan ini.
Para GH dan teman-teman di Hoding, ayo bantu Pak Gigih supaya lebih gigih lagi mengawal RTE dengan bisnis barunya. Tapi jangan lupa benahi semua carut marut administrasi yang masih terjadi di beberapa anak perusahaan. Di MRB, di GIEB, di Laskar dan dimanapun juga.
Prinsipnya, kita dorong yang besar dan kuat untuk berlari semakin kencang. Kita bantu dan kita lindungi yang masih lemah dan kurang untuk bisa bangkit menyusul rekan-rekannya yang sudah di depan.
Dengan berjuang bahu-membahu, bekerja sama, saling menolong, hand in hand, shoulder to shoulder, Insya Allah tidak ada pekerjaan yang berat.
Sebagai makhluk yang lemah, jangan lupa, senantiasa memohon ridho Allah. Semoga diberi kemudahan dan keselamatan. Amiin.
Selamat bekerja, menterjemahkan arahan dari Merdeka Selatan turun menjadi target operasional di Sam Poo Khong menyongsong tahun 2017 dengan penuh optimisme dan semangat yang tinggi.
Wassalamualaikum wr.wb.
Jakarta, 15 Februari 2017.
Didik Prasetyo

# 39 Social Gathering : Energizing power karyawan

Assalamualaikum wr.wb,

Beberapa minggu saya banyak berkeliling ke wilayah kerja para Anak Perusahaan, setelah dari Jember awal bulan kemarin selain untuk memonitor beberapa kegiatan yang sudah direncanakan juga menghadiri berbagai acara yang melibatkan seluruh karyawan anak perusahaan dan atau keluarganya. Saya menyebutnya “social gathering” karena ragamnya ada banyak sekali di lingkungan RNI Group. Ada yang diikuti karyawan saja, rame-rame karyawan dengan keluarga atau bahkan ada juga yang melibatkan mitra kerja, semisal dengan petani. Ada yang resmi, lengkap dengan parade pidato, setengah resmi dan ada yang santai langsung nyanyi-nyanyi. Intinya kumpul-kumpul bersama yang merupakan blending antara kegiatan kerja dengan bungkus suasana sosial atau bisa sebaliknya, acara sosial yang dimanfaatkan untuk kepentingan pekerjaan. semua itu intinya dikerjakan secara serius tapi santai.

Bagi saya, SDM dan lingkungan di sekitarnya dapat disinergikan semaksimal mungkin untuk mencapai sasaran perusahaan. Kenapa saya bilang begitu? Karena kalau tidak kita kenali, kalau tidak kita kelola dengan baik, kalau tidak kita tangani dengan hati-hati, bisa menjadi sumber malapetaka, tapi sebaliknya bisa menjadi sumber mega-power yang sangat besar kalau kita benar dan tepat mengelolanya. Nah, saya tidak ingin yang pertama, SDM disingkat menjadi = Sumber Dari Malapetaka, tetapi SDM = Sumber Dari Mega-power.

Mau tidak mau, suka tidak suka, keluarga adalah lingkungan terdekat yang paling berpengaruh terhadap karyawan, sampai terbawa ke pekerjaan. Jangankan bekerja. Anda main tenis, main bola, main badminton atau main apapun kalau pikiran bercabang ke rumah pasti susah untuk menang. Teman pairing saya main golf selalu saya olok-olok kalau pukulannya kanan-kiri nggak karuan : Pasti lagi ada masalah keluarga nih yee……..hehehe.

Teori Adam Smith, seorang ekonom jaman baheula menyatakan bahwa karyawan adalah faktor produksi sudah nggak laku lagi di paradigma manajemen modern. Mereka adalah Human Resources, Sumber Daya Manusia (SDM). Sekarang sudah meningkat lagi menjadi Human Capital. Teori Human capital memandang manusia sebagai aset atau modal.

Saya mendukung penuh kegiatan social gathering ini dilakukan di seluruh RNI Group, terutama family gathering yang melibatkan seluruh keluarga. Tentu saja harus dikemas dengan cerdas agar event yang diadakan tidak hanya sekedar hura-hura, nyanyi-nyanyi atau bagi-bagi door prize yang sering dicap miring oleh sebagian kalangan buang-buang duit. Disinilah momen bagi karyawan untuk melakukan balancing antara rutinitas kerja dengan rekreasi sehat bersama keluarga. Lebih dari itu, ini juga merupakan momen bagi karyawan untuk energizing lagi power-nya yang sudah low-bat karena tekanan kerja yang terus menerus. Keluarga menjadi sumber tenaga dan sumber energi positip bagi seluruh karyawan.

Pemikiran saya untuk mendukung kegiatan semacam ini, yang intinya merangkul karyawan bersama istri dan keluarganya bak gayung bersambut, direspon dengan sangat cepat oleh ibu-ibu di Holding yang dikomandani Ibu Dirut – istri saya sendiri. Berbagai macam paket hiburan dan ketrampilan di-create untuk diadu dengan ibu-ibu di daerah. Saya lihat ada tim task force ibu-ibu di Holding yang bergantian dibawa tour ke anak-anak perusahaan untuk menggairahkan suasana dalam acara keakraban bersama sebagai keluarga besar RNI Group.

16473033_10212597698883628_8236696820985252914_n.jpg

Alhasil, bapak-bapaknya harus ikhlas kalau jadi lebih sering makan Indomie rebus atau beli nasi padang gara-gara nggak ada yang masak di rumah. Demi RNI…hehehe !

Ternyata kedatangan Ibu-ibu Direksi Pusat (tentu saja ini istilah salah kaprah karena tidak semuanya istri Direktur) sangat memacu dan memicu semangat ibu-ibu di daerah untuk menunjukkan karya terbaiknya, entah itu hiburan atau makanan atau kreatifitas yang lain. Saya berharap agar di setiap unit memperluas cakupan kegiatan sosial ini. Tidak hanya Ibu Direktur, Ibu GM, Ibu Staf tetapi ke semua lapisan dengan – sekali lagi – bentuk aktivitas yang dikemas dengan cerdas dan tepat sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pendek kata, keluarga di semua lapisan karyawan harus dapat disentuh, harus dapat dirangkul agar keluarga juga merasakan bahwa mereka adalah bagian dari perusahaan. Harapannya, mereka akan mendorong suami atau isteri yang bekerja di kantor menjadi lebih produktif dan lebih kreatif. Hanya saya memberikan persyaratan kalau ibu-ibu lagi bikin acara di kantor maupun kunjungan ke anak-anak perusahaan, Pertama, tidak boleh membebani dan ngrepotin anak perusahaan, kedua harus manut dan bersedia diatur panitia jangan bikin agenda sendiri, ketiga harus ada manfaat yang didapat, keempat, harus selalu kompak ngga boleh merasa penting sendiri, dan yang paling utama harus selalu “Happy” alias senang ngga boleh nambah beban bapak-bapaknya dan terakhir tidak boleh ada paksaan alias sukarela.

Bulan yang lalu, ibu-ibu RNI holding yang tergabung dalam IIKK berkunjung ke PG Candi Baru, disamping disambut nyanyi, tari, goyang Dangdut, musik Kolintang Ibu-ibu, dipamerkan pula hasil-hasil kreatifitas ibu-ibu dalam membuat kerajinan seperti tas, bunga, tempat tissue dll. Ternyata cukup banyak bakat entrepreneur diantara ibu-ibu ini. Kreatif ! Jadi, para bapak jangan sampai kalah inovatif dan kreatif sama ibunya.

Acara gathering yang merupakan puncak dan unggulan group adalah RNI Award. Tentu saja tidak mungkin bagi saya untuk mengumpulkan seluruh karyawan RNI Group dan keluarganya di satu tempat. Disamping biayanya sangat besar mungkin perlu tempat berkapasitas stadion untuk menampungnya. Hanya karyawan terpilih dari semua anak perusahaan saja yang saya undang untuk hadir, yaitu mereka-mereka yang mendapatkan predikat terbaik di bidang masing-masing.

16427663_10212597703123734_8162005853397985396_n.jpg

Acara ini luar biasa karena yang datang bisa saja karyawan dari pelosok nun jauh disana, tetapi dia merupakan karyawan terbaik di bidangnya. Tidak jarang si karyawan belum pernah naik pesawat terbang. Atau terheran-heran kenapa di daerahnya banyak sungai tetapi tidak ada jembatan, sementara di Jakarta walaupun tidak ada sungai tapi banyak jembatan ! Apalagi saat ada yang cerita dengan terheran-heran saat nunggu di lift ngga berani masuk karena waktu ada orang yang masuk ternyata pas pintu terbuka lagi yang keluar orangnya beda.

Di kantor PT RNI sendiri, juga dilakukan dua-duanya, family gathering maupun employee gathering. Family gathering melibatkan seluruh keluarga sehingga lebih banyak berisi fun game segala usia. Employee gathering diikuti karyawan dengan game yang lebih tematik, misalnya bertemakan sosialisasi budaya perusahaan. Panitia ditantang untuk membuat game yang menarik karena orang Jakarta sudah terlalu sering melihat tontonan yang atraktif di mall-mall atau dunia fantasi.

Acara yang diadakan sebenarnya tidak harus selalu mahal. Biaya yang dikeluarkan bisa sangat fleksibel tergantung keuangan perusahaan. Acara bisa di-adjust menyesuaikan anggaran. Kalau keuangan tipis, cukup rekreasi ke lokasi wisata terdekat, tanpa nginap, makan nasi boks, hiburan dari kita untuk kita saja. Tidak ada artis, tidak ada EO, MC juga bisa dirangkap oleh Panitia. Sebaliknya, kalau perusahaan mampu bisa dibuat agak keren, misalnya menyeberang pulau, pakai EO, artis, banyak door prize, menginap dan makan di hotel. Dalam hal ini saya anggap semua Direksi Anak Perusahaan cukup wise untuk memilih kapan harus keren dan kapan harus prihatin. Bisa juga dengan disiasati diadakan setiap 2 tahun sekali agar terkumpul cukup dana untuk bisa berwisata agak jauh. Bahkan tidak jarang dengan sukarela karyawan juga menabung agar bisa sharing pembiayaan kalau anggaran terbatas. Untuk kebersamaan, apa yang tidak mungkin?
National gathering di Phapros dan Nusindo yang pasti adalah ajang untuk menyusun rencana operasional yang sering disebut TOP (Target Operasional). Mulai dari level supervisor sampai Kepala Cabang atau Manager semua berkumpul untuk menyusun target masing-masing yang sasarannya harus lebih tinggi dari RKAP yang sudah disahkan. Acara ini juga ajang untuk memberikan award kepada karyawan yang berprestasi mulai dari level terbawah. Di akhir acara, diumumkan juga mutasi-mutasi para pejabat struktural internal.

16427457_10212597701843702_3433039653827997370_n.jpg

Jadi ada yang menangis gembira tapi ada juga yang menangis sedih sepulang dari acara.
Salah satu acara family gathering yang cukup heboh yang saya hadiri adalah di PT PG Rajawali I. Tahun yang lalu saya juga hadir di acara ini di Bali. Tahun ini diadakan di Hotel Singhasari Batu, Malang. Tidak kurang dari 600 orang terlibat. Mereka adalah seluruh karyawan Staf dan keluarganya, yaitu dari Kantor Direksi Surabaya, PG Krebet Baru dan PG Rejo Agung Baru. Acara lebih banyak diisi dari kita untuk kita, sehingga sangat terasa sekali keakrabannya karena mereka bukan cuma penonton tetapi juga terlibat sebagai pemain. Bahkan Pak Dirut, Pak GM, Bu GM ikut turun menjadi artis pemain Ludruk (operete Jawa Timuran). Dan hebatnya, para artis-artis lokal ini mampu mengajak para undangan untuk ikut turun bernyanyi, bergoyang dan berjoget sampai ngos-ngosan.

Dari Kantor Direksi PT PG Rajawali 1 menyajikan Ludruk yang mengambil topik tentang SDM yang lucu, penuh dengan sindiran dan mengundang tawa. PG Krebet Baru mengambil topik serius menceritakan perjuangan PG menghadapi tantangan anomali yang luar biasa meskipun berakhir dengan happy ending. Judulnya saja bombastis : Joyo Jayaning PG Krebet Baru. Sementara PG Rejo Agung yang berkultur Mataraman mengambil tema klasik berlatar belakang mitos pertanian Jawa yaitu Dewi Sri. Dewi yang merupakan lambang kesuburan di Jawa ini diculik oleh raksasa, namun pada akhirnya Sang Dewi dapat direbut kembali oleh satria sakti yang diperagakan oleh Bu GM Nina Trisnawati. Luar biasa hebohnya !

16427482_10212597699563645_2961675736066360178_n.jpg

Acara yang dress code-nya bertemakan cowboy itu berakhir tepat tengah malam. Sebagai simbol apresiasi saya kepada PT Rajawali I di bawah kepemimpinan Pak Gede, saya memberikan topi koboi saya yang saya peroleh saat saya kunjungan ke salah satu ranch peternakan sapi terbesar di Australia kepada Pak Gede.

Semoga tahun depan kita akan lebih jaya lagi, sehingga nanti dapat hadir dengan Ludruk berjudul Joyo Jayaning PT RNI.

Marilah kita tutup panggung hiburan kita untuk kembali bekerja demi kejayaan kita bersama.
Semoga Allah SWT membimbing dan meridhoi upaya kita.

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta, 7 Februari 2017.

Didik Prasetyo

# 38 Sekilas 2016 : Yang Kinclong Dan Yang Redup bagian kedua

Assalamualaikum wr.wb,

Selamat pagi teman-teman semua, pagi ini sambil menikmati penerbangan Garuda dari Jakarta ke Surabaya menemani pak Deputi menemui Gubernur Jatim sebelum lanjut ke Mandalika Lombok, saya ingin melanjutkan cerita saya CN 38 yang baru saja saya posting.

Di bagian pertama saya sudah bercerita tentang jatuh bangunnya PT PG Rajawali 1 dan PT PG Candi Baru menjaga kinerja perusahaan supaya tetep biru real biru tanpa rekayasa, PT Phapros dengan para Phaprosersnya dan PT Rajawali Nusindo yang lagi menggebu-gebu dan tancap gas menggapai pertumbuhan yang tidak lagi linear namun harus melompat katak. Biasanya kecepatan pertumbuhan hanya sedikit diatas rata-rata industri, namun sekarang saya minta digenjot 3 – 5 kali lipatnya. Alhamdulillah 2016 kemarin sudah dibuktikan.

GGMmitrakerinci2-10.jpg

Selanjutnya saya ingin bercerita anak perusahaan perkebunan RNI yang juga penuh talenta seperti PT Mitra Kerinci yang dipimpin tenaga muda, yaitu Sdr.Yosdian Adi Pramono (MT Angkatan VII Agro tahun 2006) bersama para Likiers, disamping mencapai prestasi yang mengesankan dengan keberhasilannya menghilangkan raport merah, saya lihat juga terus berkembang dengan dinamika yang tinggi di segala lini manajemen. Tahun 2016 ini laba PT Mitra Kerinci mencapai lebih dari Rp 2 milyar, naik dari tahun 2015 yang masih menderita kerugian lebih dari Rp 6 milyar. Kecil sih, tapi bagi Likiers ini merupakan pencapaian yang luar biasa. Dengan areal kebun teh seluas 1.481 ha dan areal efektifnya seluas 1.050 ha, produktivitas teh kering 3,6 ton/ha merupakan produktivitas tertinggi secara nasional yang rata-rata masih di bawah 2 ton/ha. Kalau saya perhatikan, PT Mitra Kerinci sekarang menjadi anak perusahaan yang memiliki aspek bisnis terlengkap yang semuanya memiliki tantangan masing-masing. Kualitas teh yang dihasilkan masih perlu ditingkatkan terus karena selain smokey akibat menggunakan kayu bakar sebagai pemanasnya juga masuh tingginya unsur antraquinon sehingga ditolak di pasar Amerika. Saya sudah minta mereka menggantinya dengan gas oleh karenanya beberapa waktu yang lalu saya sudah pertemukan mereka dengan teman-teman dari PT Gagas Energi (anak perusahaan PGN). Di aspek pemasaran juga menghadapi dinamika yang menantang karena PT Mitra Kerinci disamping menjual teh sebagai komoditas juga sudah mulai berani memasuki pasar retail dengan memasang brand Liki Tea. Saya berharap mudah-mudahan dengan keberanian untuk berpromosi di berbagai pameran dalam dan luar negeri, Sdr.Yosdian bisa segera memetik hasilnya dari pilar teh retailnya ini. Selain itu kacang Macadamia yang banyak tumbuh di Kebun Mitra Kerinci saya minta ditangani lebih serius agar bisa dibudidayakan secara komersial bukan hanya sebagai oleh-oleh tamu yang berkunjung ke Liki. Lebih hebat lagi, PT Mitra Kerinci juga sudah melakukan aksi korporasi dengan membentuk anak perusahaan bekerjasama dengan anak perusahaan BUMN PT Brantas Abipraya dengan bisnis membangun pembangkit listrik mini hidro berkekuatan 15,6 MW. Dengan potensi yang sangat lengkap tersebut saya tantang Sdr. Yosdian untuk bisa menghasilkan laba rata-rata diatas Rp 30 milyar pertahun, agar akumulasi rugi yang diderita PT Mitra Kerinci yang sampai saat ini mencapai Rp 139 mikyar lebih bisa ditutup dalam waktu 5 – 7 tahun saja. Kalau rata-rata labanya hanya sebesar Rp 2 milyar pertahun, lebih dari 60 tahun kemudian ekuitas PT Mitra Kerinci baru positip. Saya tidak bisa menunggu selama itu …. ayoo Likiers kerahkan semua kreativitas untuk menyambut tantangan ini…

16266182_10212486098413686_716370906708285560_n.jpg

Cerita yang mengharubiru juga terjadi di anak perusahaan RNI yang lain yaitu PT Mitra Ogan, sejak nahkodanya saya ganti dengan Pak Natsir alumni PTPN 7 bulan September 2016 lalu, didukung pak Sigit dari PTPN 3 dan pak Fikri jebolan Head Keuangan PT RNI, PT Mitra Ogan seolah-olah bangun dari mimpi dan berlari kencang mengejar Saudara-saudara tirinya yakni PTPN sawit. TBS yang tadinya hanya masuk 150 – 200 ton/hari meloncat menjadi 700 – 800 ton lebih per hari. Mereka bahkan akan mengejar di 1.000. – 1.500 ton/hari di tahun 2017 ini. 2 unit PKS yang tadinya hanya beroperasi satu unit dengan kapasitas separohnya, November 2016 lalu sudah beroperasi full semuanya, gaji karyawan yang tadinya hanya dibayar 65% dan sempat kami didemo dan dilaporkan kepada pemegang saham Kementerian BUMN, Desember 2016 yang lalu sudah dibayar full 100%. Meskipun masih menderita kerugian sebesar Rp 85 milyar ditahun 2016 ini, namun ruginya sudah lebih kecil dibandingkan prediksi saya waktu itu yang saya perkirakan mencapai Rp 130 milyar lebih. Yang paling spektakuler adalah bulan Desember 2016, perusahaan membukukan laba Rp 10 milyar lebih. 20 jempol saya berikan kepada pak Natsir dan para Oganers….he he he. Semangat kerja Oganers sudah mulai nampak, iklim kompetisi yang baik sudah terbit, perbaikan di sana sini sudah mulai muncul hasilnya, jalan sudah gagah dan tidak tertunduk malu kalau ketemu tetangga. Alhamdulillah, syukur saya yang ke tiga….ayoo Oganers jaga semangat tunjukkan bawa anda semua bisa membawa Mitra Ogan meraih kejayaannya kembali. You all can get the greatest and the glory…

Berlanjut ke PT Rajawali Tanjungsari yang saat saya masuk RNI tahun 2015 di vonis mati oleh manajemen yang lama. Saat ini sedang mencoba menambah portofolio bisnisnya tidak hanya sebatas penyamakan kulit namun juga akan memproduksi karung plastik. Secara bertahap kinerjanya juga sudah mulai membaik meskipun belum berhasil membuang dalam kurungnya, tetapi penurunan kerugiannya sudah sangat signifikan. Awal tahun 2017 lalu saya memutuskan untuk mengestafetkan pimpinan Tanjungsari ke Sdr.Gigih Mulyonoto – Kepala Cabang Mataram PT Rajawali Nusindo seorang tenaga muda juga ex MT Angkatan II Non-Agro tahun 2005. Sementara Sdr. Ferry Priyadi Yustono yang saya anggap cukup berhasil mengangkat kinerja PT Rajawali Tanjungsari, saya terjunkan untuk membenahi PT Rajawali II di bidang keuangan mendampingi Pak Audry Jolly Lapian, Direktur Produksi PT Rajawali I yang saya percaya menjadi Direktur Utama PT Rajawali II.

IMG_9932a.jpg

Memang tidak semuanya bisa kinclong tahun ini. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk memoles lagi kinerja anak perusahaan yang warnanya masih redup atau tadinya kinclong sekarang meredup seperti PT Rajawali Citramass, PT PG Rajawali II, PT Mitra Rajawali Banjaran dan PT Laskar. Banyak hal yang mesti saya pelototin dan saya cerewetin mungkin supaya mereka-mereka mulai seirama atau bisa mengikuti kecepatan laju kendaraan RNI yang sedang saya kemudikan. Kalau tidak bisa mengikuti ya mohon maaf silakan tinggal ditempat, saya akan mencari orang yang mau mengikuti kecepatan kendaraan tersebut.

Saya menemukan bahwa kunci keberhasilan utama dalam mengangkat kinerja yang sedang menurun adalah kebersamaan antara pimpinan dan karyawan. Pimpinan yang berempati dengan keprihatinan seluruh karyawan akan mendapat dukungan respon yang positif dari para karyawan. Apalagi jika pimpinan itu juga piawai dalam mengajak dan memotivasi karyawannya. Kelebihan di jaman teknologi informasi berupa komunikasi dengan menggunakan berbagai media seperti WA, FB, Path, IG, dsb dapat menjadi sarana yang ampuh dalam berkomunikasi untuk mengajak dan membangkitkan semangat rekan sekerja dan anak buah.

16174765_10212486098973700_4358094757010412098_n.jpg

Mari kita tutup lembaran 2016 ini dengan mensyukuri semua yang sudah kita dapat dan menggunakan pengalaman di 2016 ini, baik ataupun jelek sebagai bekal menatap ke depan menghadapi tanttangan di 2017.

Berjuang dengan berbuat sebaik-baiknya dengan senantiasa memohon ridho Allah.

Selamat bekerja.

Wassalamualaikum wr.wb.

Surabaya, 26 Januari 2017.

Didik Prasetyo