# 40 Menatap 2017 Tahun penuh optimisme (Dari Merdeka Selatan ke Klenteng Sam Poo Khong)

Assalamualaikum wr.wb,
Setelah tahun 2016 ditutup dengan segala dinamika, suka duka yang mengharu-biru sampai membikin “baper” beberapa rekan-rekan di lapangan, naah saat ini adalah waktunya menatap ke depan, menghadapi tahun 2017 yang penuh optimisme dan harapan untuk bangkit untuk meraih kejayaan RNI lagi dalam suasana yang harmonis.
Parade persiapan menuju 2017 ini kalau saya tulis lengkap akan panjang banget karena kalau bicara secara formal, sesuai UU PT, dimulai sejak disahkannya RKAP PT RNI tahun 2017 dalam RUPS yang – alhamdulillah – dapat diselenggarakan pada tanggal 10 Januari 2017 yang lalu. Namun proses menuju kesitunya yang woooww, berbulan-bulan sejak Oktober 2016. Mondar mandir Merdeka Selatan – Mega Kuningan (maksud saya dari kantor RNI ke kantor Kementerian BUMN). Belum lagi proses yang melibatkan anak perusahaan. Melewati diskusi yang berbusa-busa, rapat berpindah-pindah tempat, lembur yang tidak mengenal hari libur, menghabiskan kopi bercangkir-cangkir, teh bergelas-gelas, air putih bergalon-galon dan nasi bungkus berkotak-kotak atau nasi kotak berbungkus-bungkus (?)….bukan kampanye lho…
Pasca RUPS-nya pun tidak kalah heboh. Untuk mengejar tenggat waktu 30 hari setelah 31 Desember 2016, saya segera kumpulkan semua anak perusahaan untuk menyelenggarakan RUPS RKAP 2017 di masing-masing anak perusahaan kecuali PT Phapros dan PT GIEB yang ditetapkan oleh Komisaris karena ada pemegang sahamnya cukup banyak meskipun kecil-kecil.
RUPSnyapun terpaksa saya bagi dua karena harus berbagi dengan kegiatan lainnya sehingga tidak mungkin dilakukan sekaligus di satu tempat. Jadilah waktu itu sebagian di Surabaya, khusus untuk wilayah Timur dan sebagian di Jakarta untuk wilayah Barat. Kali ini “penduduk” Holding yang mengalah harus kesana kemari.

16708410_10212670595185990_7122806431404385876_n.jpg
RUPS RKAP 2017 anak-anak perusahaan kali ini juga diwarnai hal baru. Beberapa Direksi adalah pejabat baru yang saya angkat dalam rangka penyegaran. Salah satunya adalah Sdr. Gigih Mulyonoto Kacab. Nusindo Mataram yang baru 1 minggu menjadi Direktur PT RTE tapi sudah harus ketemu saya di RUPS. Belum cukup waktu untuk mendalami materi yang sangat berbeda dengan tugas sebelumnya. Biasa bermain di perdagangan, farmasi dan alkes, sekarang harus banting setir jadi manufacturer kulit dan karung plastik. Belum banyak teman yang bisa diajak diskusi dan juga belum punya jaringan di Holding. Tugas kita semua untuk membantu Pak Gigih ini. Tenaga muda yang bersemangat, tetapi juga sangat humble, sampai menyampaikan presentasinya di RUPS juga sambil berdiri. Mantaap.
Setelah RUPS Anak berlalu, Dewan Komisaris meminta dilakukan pendalaman RKAP. Kali ini dilakukan di Semarang dengan memanggil “The Big Five” RNI, yaitu Nusindo, Phapros, RW I, RW II dan Mitra Ogan. Jadi kali ini bertebaranlah tiket dari Jakarta, Palembang, Surabaya dan Cirebon (?). Peribahasa mengatakan : Asam di gunung, garam di laut, bertemu di …. Klentheng Sam Poo Khong. Maksud saya, disebelahnya hehehe……

16730435_10212670595786005_1058824400799086450_n.jpg
Dengan parade persiapan yang panjang itu, saya sangat yakin bahwa sasaran RKAP 2017 Insya Allah akan dapat dicapai. Apalagi saya merasa bahwa apa yang saya canangkan untuk dijalankan di seluruh RNI Group juga sudah “ön the right track” jika mengacu pada harapan, aspirasi, pembekalan dan arahan para pemangku kepentingan BUMN.
Apa saja yang bisa memperkuat keyakinan saya tersebut? Saya akan share sedikit.
Pertama, arahan langsung dari RI I ketika mengikuti acara pembukaan ELP (Executive Leadership Program) di Istana Negara. Setidaknya ada 5 poin arahan beliau yang disampaikan kepada para Direksi BUMN untuk dipedomani dalam menjalankan perusahaan milik negara ini. Pertama, kita harus tetap optimis karena Indonesia termasuk dalam 3 besar negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi tertinggi bersama China dan India. Angin optimisme ini juga sudah berhembus di RNI dari hasil 2016, sebagaimana saya tulis di CEO Notes sebelum-sebelum ini. Harapan saya, semangat insan RNI akan semakin terpompa dengan tiupan dari pimpinan nasional.
Kedua, tinggalkan zona nyaman dan selalu berpikir out of the box. Tahun ini saya terapkan betul dengan merotasi teman-teman yang semula mengelola perusahaan yang untung ke perusahaan yang sedang penuh tantangan. Juga cross-border antar pilar dari trading ke agro atau sebaliknya. Pendek kata, saya “obrak-abrik” tapi dengan niat baik demi untuk kemajuan semuanya. Mungkin bulan-bulan ini adalah bulan dengan gelombang mutasi pegawai PT RNI group yang paling besar.
Ketiga, sudah saatnya kita masuk ke era digitalisasi untuk menambah daya saing. RNI mempunyai tekad yang sama, bahkan sudah masuk ke RKAP. Saya tinggal tunggu janji realisasi digital mapping, penggunaan sistem geotagging, aplikasi sistem SAUP, Si Raja, dsb. untuk akurasi sistem informasi dan pengendalian biaya. Juga di Nusindo, mau tidak mau, kalau ingin memancing ikan kakap yaitu menggaet prinsipal besar, sistem IT yang memungkinkan diperolehnya data secara real time sudah merupakan keniscayaan. Ayo, sistem Tell Access yang sudah direncanakan harus segera jalan. Lewat Android pihak terkait sudah bisa melihat data stok untuk selanjutnya dapat ditransaksikan.

16730574_10212670594465972_8715380422027218737_n.jpg
Keempat, kehadiran perusahaan harus dirasakan oleh masyarakat sekitar. Misi ini juga sudah saya lekatkan di semua pimpinan unit. Mereka harus bisa bersosialisasi dengan lingkungannya, terlebih lagi dalam membina hubungan dengan ulama, tokoh masyarakat dan warga sekitar. Syukur-syukur kalau bisa menampung tenaga kerja lokal dalam setiap proyek yang sedang dibangun, tanpa harus meninggalkan profesionalisme.
Kelima adalah menjalankan prinsip-prinsip GCG dalam mengelola perusahaan. Di RNI Group, score GCG sudah menjadi KPI Direksi dan Komisaris Anak Perusahaan

.
Selain Presiden, ada juga bekal dari Bu Rini – Menteri BUMN. Prinsipnya adalah sinergi. Beliau sangat menginginkan terbentuknya Indonesia Incorporated yang dalam lingkup tanggung jawab beliau dipertajam menjadi BUMN Incorporated. Semua BUMN harus saling bersinergi, saling memanfaatkan produk dan layanan satu sama lain sehingga tercipta nilai tambah yang terkonsolidasi di seluruh BUMN. Dalam lingkup tugas saya menjadi RNI Incorporated. Salah satunya adalah dengan konsep ISC yang terus menerus diperbaiki agar sinergi benar-benar terjadi, jangan sampai sinergi ini menjadi joke : sini benar-benar rugi.…
Untuk lebih lengkapnya lagi juga ada bekal mengenai perspektif perekonomian Indonesia yang disampaikan oleh Menteri Keuangan. Sudah jelas kalau yang bicara Menkeu tentang optimisme kondisi keuangan, kita pasti mengamininya. Menurut beliau ada tiga bidang dimana pasar menilai positif terhadap Indonesia. Pertama, di bidang fundamental ekonomi, kita termasuk kategori sehat dengan pertumbuhan menjanjikan dan investasi semakin meningkat.

16729040_10212670594305968_8390992653110437905_n.jpg
Kedua, di bidang SDA & SDM, kita juga memiliki keunggulan. Populasi kita terbesar ke-4 di dunia dengan kategori growing middle income class. Kita juga negara demokrasi ke-3 terbesar di dunia dengan stabilitas politik yang tinggi dan memiliki sumber daya alam melimpah.
Ketiga, bidang komitmen reformasi, kita dikenal melakukan secara konsisten reformasi struktural, reformasi fiskal dengan didukung APBN yang lebih kredibel dan produktif.
Keempat, persepsi investor makin membaik sejalan dengan kebijakan yang mendukung Ease of Doing Business, yang ditandai juga dengan diraihnya kategori Investment grade dari Moody’s & Fitch, penerbitan surat utang pemerintah yang selalu diminati dan penilaian positif dari institusi iternasional (IMF, ADB, dll).
Ibarat mau bertempur, kondisi makro tersebut bagaikan indikator medan pertempuran yang sudah cukup bersih dari jebakan ranjau-ranjau. Ibarat main golf seperti kondisi course yang tidak banyak bunker dan kolam. Menang atau tidaknya lebih tergantung kepada kita. Apakah pukulan kita sudah benar-benar sesuai keinginan baik jarak maupun arahnya, tidak slice atau terlalu nge-hook apalagi sampai grounded.
Lebih-lebih lagi, tahun ini ada isyarat dari BMKG bahwa perjalanan iklim bakal normal lagi. Tidak ada lagi La Nina yang menghantui, yang membuat kita babak belur di tengah basah kuyupnya hujan, yang membuat rendemen turun hampir 30%.

Oleh karena itu, walaupun pemegang saham sudah menyetujui target laba sebalum pajak konsolidasi RNI tahun 2017 sebesar Rp.193 miliar, saya masih belum puas dan berusaha lebih besar dari itu.
Saya kumpulkan lagi seluruh anak perusahaan. Saya stretching out goals mereka dengan menyusun TOP (target operasional). Kembali lagi semua saya ajak duduk di Phapros. Kenapa Semarang? Wisata kulinernya mak nyus bener…

16730446_10212670595626001_7009066450821894258_n.jpg
Pak Jolly dan Pak Ferry tenaga baru di Rajawali II harus lari lebih kencang dengan fokus pada pengendalian biaya. Pak Natsir, Pak Sigit dan Pak Fikri, ayo pertahankan terus prestasi laba yang sudah dicapai bulan-bulan ini.
Para GH dan teman-teman di Hoding, ayo bantu Pak Gigih supaya lebih gigih lagi mengawal RTE dengan bisnis barunya. Tapi jangan lupa benahi semua carut marut administrasi yang masih terjadi di beberapa anak perusahaan. Di MRB, di GIEB, di Laskar dan dimanapun juga.
Prinsipnya, kita dorong yang besar dan kuat untuk berlari semakin kencang. Kita bantu dan kita lindungi yang masih lemah dan kurang untuk bisa bangkit menyusul rekan-rekannya yang sudah di depan.
Dengan berjuang bahu-membahu, bekerja sama, saling menolong, hand in hand, shoulder to shoulder, Insya Allah tidak ada pekerjaan yang berat.
Sebagai makhluk yang lemah, jangan lupa, senantiasa memohon ridho Allah. Semoga diberi kemudahan dan keselamatan. Amiin.
Selamat bekerja, menterjemahkan arahan dari Merdeka Selatan turun menjadi target operasional di Sam Poo Khong menyongsong tahun 2017 dengan penuh optimisme dan semangat yang tinggi.
Wassalamualaikum wr.wb.
Jakarta, 15 Februari 2017.
Didik Prasetyo

# 39 Social Gathering : Energizing power karyawan

Assalamualaikum wr.wb,

Beberapa minggu saya banyak berkeliling ke wilayah kerja para Anak Perusahaan, setelah dari Jember awal bulan kemarin selain untuk memonitor beberapa kegiatan yang sudah direncanakan juga menghadiri berbagai acara yang melibatkan seluruh karyawan anak perusahaan dan atau keluarganya. Saya menyebutnya “social gathering” karena ragamnya ada banyak sekali di lingkungan RNI Group. Ada yang diikuti karyawan saja, rame-rame karyawan dengan keluarga atau bahkan ada juga yang melibatkan mitra kerja, semisal dengan petani. Ada yang resmi, lengkap dengan parade pidato, setengah resmi dan ada yang santai langsung nyanyi-nyanyi. Intinya kumpul-kumpul bersama yang merupakan blending antara kegiatan kerja dengan bungkus suasana sosial atau bisa sebaliknya, acara sosial yang dimanfaatkan untuk kepentingan pekerjaan. semua itu intinya dikerjakan secara serius tapi santai.

Bagi saya, SDM dan lingkungan di sekitarnya dapat disinergikan semaksimal mungkin untuk mencapai sasaran perusahaan. Kenapa saya bilang begitu? Karena kalau tidak kita kenali, kalau tidak kita kelola dengan baik, kalau tidak kita tangani dengan hati-hati, bisa menjadi sumber malapetaka, tapi sebaliknya bisa menjadi sumber mega-power yang sangat besar kalau kita benar dan tepat mengelolanya. Nah, saya tidak ingin yang pertama, SDM disingkat menjadi = Sumber Dari Malapetaka, tetapi SDM = Sumber Dari Mega-power.

Mau tidak mau, suka tidak suka, keluarga adalah lingkungan terdekat yang paling berpengaruh terhadap karyawan, sampai terbawa ke pekerjaan. Jangankan bekerja. Anda main tenis, main bola, main badminton atau main apapun kalau pikiran bercabang ke rumah pasti susah untuk menang. Teman pairing saya main golf selalu saya olok-olok kalau pukulannya kanan-kiri nggak karuan : Pasti lagi ada masalah keluarga nih yee……..hehehe.

Teori Adam Smith, seorang ekonom jaman baheula menyatakan bahwa karyawan adalah faktor produksi sudah nggak laku lagi di paradigma manajemen modern. Mereka adalah Human Resources, Sumber Daya Manusia (SDM). Sekarang sudah meningkat lagi menjadi Human Capital. Teori Human capital memandang manusia sebagai aset atau modal.

Saya mendukung penuh kegiatan social gathering ini dilakukan di seluruh RNI Group, terutama family gathering yang melibatkan seluruh keluarga. Tentu saja harus dikemas dengan cerdas agar event yang diadakan tidak hanya sekedar hura-hura, nyanyi-nyanyi atau bagi-bagi door prize yang sering dicap miring oleh sebagian kalangan buang-buang duit. Disinilah momen bagi karyawan untuk melakukan balancing antara rutinitas kerja dengan rekreasi sehat bersama keluarga. Lebih dari itu, ini juga merupakan momen bagi karyawan untuk energizing lagi power-nya yang sudah low-bat karena tekanan kerja yang terus menerus. Keluarga menjadi sumber tenaga dan sumber energi positip bagi seluruh karyawan.

Pemikiran saya untuk mendukung kegiatan semacam ini, yang intinya merangkul karyawan bersama istri dan keluarganya bak gayung bersambut, direspon dengan sangat cepat oleh ibu-ibu di Holding yang dikomandani Ibu Dirut – istri saya sendiri. Berbagai macam paket hiburan dan ketrampilan di-create untuk diadu dengan ibu-ibu di daerah. Saya lihat ada tim task force ibu-ibu di Holding yang bergantian dibawa tour ke anak-anak perusahaan untuk menggairahkan suasana dalam acara keakraban bersama sebagai keluarga besar RNI Group.

16473033_10212597698883628_8236696820985252914_n.jpg

Alhasil, bapak-bapaknya harus ikhlas kalau jadi lebih sering makan Indomie rebus atau beli nasi padang gara-gara nggak ada yang masak di rumah. Demi RNI…hehehe !

Ternyata kedatangan Ibu-ibu Direksi Pusat (tentu saja ini istilah salah kaprah karena tidak semuanya istri Direktur) sangat memacu dan memicu semangat ibu-ibu di daerah untuk menunjukkan karya terbaiknya, entah itu hiburan atau makanan atau kreatifitas yang lain. Saya berharap agar di setiap unit memperluas cakupan kegiatan sosial ini. Tidak hanya Ibu Direktur, Ibu GM, Ibu Staf tetapi ke semua lapisan dengan – sekali lagi – bentuk aktivitas yang dikemas dengan cerdas dan tepat sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pendek kata, keluarga di semua lapisan karyawan harus dapat disentuh, harus dapat dirangkul agar keluarga juga merasakan bahwa mereka adalah bagian dari perusahaan. Harapannya, mereka akan mendorong suami atau isteri yang bekerja di kantor menjadi lebih produktif dan lebih kreatif. Hanya saya memberikan persyaratan kalau ibu-ibu lagi bikin acara di kantor maupun kunjungan ke anak-anak perusahaan, Pertama, tidak boleh membebani dan ngrepotin anak perusahaan, kedua harus manut dan bersedia diatur panitia jangan bikin agenda sendiri, ketiga harus ada manfaat yang didapat, keempat, harus selalu kompak ngga boleh merasa penting sendiri, dan yang paling utama harus selalu “Happy” alias senang ngga boleh nambah beban bapak-bapaknya dan terakhir tidak boleh ada paksaan alias sukarela.

Bulan yang lalu, ibu-ibu RNI holding yang tergabung dalam IIKK berkunjung ke PG Candi Baru, disamping disambut nyanyi, tari, goyang Dangdut, musik Kolintang Ibu-ibu, dipamerkan pula hasil-hasil kreatifitas ibu-ibu dalam membuat kerajinan seperti tas, bunga, tempat tissue dll. Ternyata cukup banyak bakat entrepreneur diantara ibu-ibu ini. Kreatif ! Jadi, para bapak jangan sampai kalah inovatif dan kreatif sama ibunya.

Acara gathering yang merupakan puncak dan unggulan group adalah RNI Award. Tentu saja tidak mungkin bagi saya untuk mengumpulkan seluruh karyawan RNI Group dan keluarganya di satu tempat. Disamping biayanya sangat besar mungkin perlu tempat berkapasitas stadion untuk menampungnya. Hanya karyawan terpilih dari semua anak perusahaan saja yang saya undang untuk hadir, yaitu mereka-mereka yang mendapatkan predikat terbaik di bidang masing-masing.

16427663_10212597703123734_8162005853397985396_n.jpg

Acara ini luar biasa karena yang datang bisa saja karyawan dari pelosok nun jauh disana, tetapi dia merupakan karyawan terbaik di bidangnya. Tidak jarang si karyawan belum pernah naik pesawat terbang. Atau terheran-heran kenapa di daerahnya banyak sungai tetapi tidak ada jembatan, sementara di Jakarta walaupun tidak ada sungai tapi banyak jembatan ! Apalagi saat ada yang cerita dengan terheran-heran saat nunggu di lift ngga berani masuk karena waktu ada orang yang masuk ternyata pas pintu terbuka lagi yang keluar orangnya beda.

Di kantor PT RNI sendiri, juga dilakukan dua-duanya, family gathering maupun employee gathering. Family gathering melibatkan seluruh keluarga sehingga lebih banyak berisi fun game segala usia. Employee gathering diikuti karyawan dengan game yang lebih tematik, misalnya bertemakan sosialisasi budaya perusahaan. Panitia ditantang untuk membuat game yang menarik karena orang Jakarta sudah terlalu sering melihat tontonan yang atraktif di mall-mall atau dunia fantasi.

Acara yang diadakan sebenarnya tidak harus selalu mahal. Biaya yang dikeluarkan bisa sangat fleksibel tergantung keuangan perusahaan. Acara bisa di-adjust menyesuaikan anggaran. Kalau keuangan tipis, cukup rekreasi ke lokasi wisata terdekat, tanpa nginap, makan nasi boks, hiburan dari kita untuk kita saja. Tidak ada artis, tidak ada EO, MC juga bisa dirangkap oleh Panitia. Sebaliknya, kalau perusahaan mampu bisa dibuat agak keren, misalnya menyeberang pulau, pakai EO, artis, banyak door prize, menginap dan makan di hotel. Dalam hal ini saya anggap semua Direksi Anak Perusahaan cukup wise untuk memilih kapan harus keren dan kapan harus prihatin. Bisa juga dengan disiasati diadakan setiap 2 tahun sekali agar terkumpul cukup dana untuk bisa berwisata agak jauh. Bahkan tidak jarang dengan sukarela karyawan juga menabung agar bisa sharing pembiayaan kalau anggaran terbatas. Untuk kebersamaan, apa yang tidak mungkin?
National gathering di Phapros dan Nusindo yang pasti adalah ajang untuk menyusun rencana operasional yang sering disebut TOP (Target Operasional). Mulai dari level supervisor sampai Kepala Cabang atau Manager semua berkumpul untuk menyusun target masing-masing yang sasarannya harus lebih tinggi dari RKAP yang sudah disahkan. Acara ini juga ajang untuk memberikan award kepada karyawan yang berprestasi mulai dari level terbawah. Di akhir acara, diumumkan juga mutasi-mutasi para pejabat struktural internal.

16427457_10212597701843702_3433039653827997370_n.jpg

Jadi ada yang menangis gembira tapi ada juga yang menangis sedih sepulang dari acara.
Salah satu acara family gathering yang cukup heboh yang saya hadiri adalah di PT PG Rajawali I. Tahun yang lalu saya juga hadir di acara ini di Bali. Tahun ini diadakan di Hotel Singhasari Batu, Malang. Tidak kurang dari 600 orang terlibat. Mereka adalah seluruh karyawan Staf dan keluarganya, yaitu dari Kantor Direksi Surabaya, PG Krebet Baru dan PG Rejo Agung Baru. Acara lebih banyak diisi dari kita untuk kita, sehingga sangat terasa sekali keakrabannya karena mereka bukan cuma penonton tetapi juga terlibat sebagai pemain. Bahkan Pak Dirut, Pak GM, Bu GM ikut turun menjadi artis pemain Ludruk (operete Jawa Timuran). Dan hebatnya, para artis-artis lokal ini mampu mengajak para undangan untuk ikut turun bernyanyi, bergoyang dan berjoget sampai ngos-ngosan.

Dari Kantor Direksi PT PG Rajawali 1 menyajikan Ludruk yang mengambil topik tentang SDM yang lucu, penuh dengan sindiran dan mengundang tawa. PG Krebet Baru mengambil topik serius menceritakan perjuangan PG menghadapi tantangan anomali yang luar biasa meskipun berakhir dengan happy ending. Judulnya saja bombastis : Joyo Jayaning PG Krebet Baru. Sementara PG Rejo Agung yang berkultur Mataraman mengambil tema klasik berlatar belakang mitos pertanian Jawa yaitu Dewi Sri. Dewi yang merupakan lambang kesuburan di Jawa ini diculik oleh raksasa, namun pada akhirnya Sang Dewi dapat direbut kembali oleh satria sakti yang diperagakan oleh Bu GM Nina Trisnawati. Luar biasa hebohnya !

16427482_10212597699563645_2961675736066360178_n.jpg

Acara yang dress code-nya bertemakan cowboy itu berakhir tepat tengah malam. Sebagai simbol apresiasi saya kepada PT Rajawali I di bawah kepemimpinan Pak Gede, saya memberikan topi koboi saya yang saya peroleh saat saya kunjungan ke salah satu ranch peternakan sapi terbesar di Australia kepada Pak Gede.

Semoga tahun depan kita akan lebih jaya lagi, sehingga nanti dapat hadir dengan Ludruk berjudul Joyo Jayaning PT RNI.

Marilah kita tutup panggung hiburan kita untuk kembali bekerja demi kejayaan kita bersama.
Semoga Allah SWT membimbing dan meridhoi upaya kita.

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta, 7 Februari 2017.

Didik Prasetyo

# 38 Sekilas 2016 : Yang Kinclong Dan Yang Redup bagian kedua

Assalamualaikum wr.wb,

Selamat pagi teman-teman semua, pagi ini sambil menikmati penerbangan Garuda dari Jakarta ke Surabaya menemani pak Deputi menemui Gubernur Jatim sebelum lanjut ke Mandalika Lombok, saya ingin melanjutkan cerita saya CN 38 yang baru saja saya posting.

Di bagian pertama saya sudah bercerita tentang jatuh bangunnya PT PG Rajawali 1 dan PT PG Candi Baru menjaga kinerja perusahaan supaya tetep biru real biru tanpa rekayasa, PT Phapros dengan para Phaprosersnya dan PT Rajawali Nusindo yang lagi menggebu-gebu dan tancap gas menggapai pertumbuhan yang tidak lagi linear namun harus melompat katak. Biasanya kecepatan pertumbuhan hanya sedikit diatas rata-rata industri, namun sekarang saya minta digenjot 3 – 5 kali lipatnya. Alhamdulillah 2016 kemarin sudah dibuktikan.

GGMmitrakerinci2-10.jpg

Selanjutnya saya ingin bercerita anak perusahaan perkebunan RNI yang juga penuh talenta seperti PT Mitra Kerinci yang dipimpin tenaga muda, yaitu Sdr.Yosdian Adi Pramono (MT Angkatan VII Agro tahun 2006) bersama para Likiers, disamping mencapai prestasi yang mengesankan dengan keberhasilannya menghilangkan raport merah, saya lihat juga terus berkembang dengan dinamika yang tinggi di segala lini manajemen. Tahun 2016 ini laba PT Mitra Kerinci mencapai lebih dari Rp 2 milyar, naik dari tahun 2015 yang masih menderita kerugian lebih dari Rp 6 milyar. Kecil sih, tapi bagi Likiers ini merupakan pencapaian yang luar biasa. Dengan areal kebun teh seluas 1.481 ha dan areal efektifnya seluas 1.050 ha, produktivitas teh kering 3,6 ton/ha merupakan produktivitas tertinggi secara nasional yang rata-rata masih di bawah 2 ton/ha. Kalau saya perhatikan, PT Mitra Kerinci sekarang menjadi anak perusahaan yang memiliki aspek bisnis terlengkap yang semuanya memiliki tantangan masing-masing. Kualitas teh yang dihasilkan masih perlu ditingkatkan terus karena selain smokey akibat menggunakan kayu bakar sebagai pemanasnya juga masuh tingginya unsur antraquinon sehingga ditolak di pasar Amerika. Saya sudah minta mereka menggantinya dengan gas oleh karenanya beberapa waktu yang lalu saya sudah pertemukan mereka dengan teman-teman dari PT Gagas Energi (anak perusahaan PGN). Di aspek pemasaran juga menghadapi dinamika yang menantang karena PT Mitra Kerinci disamping menjual teh sebagai komoditas juga sudah mulai berani memasuki pasar retail dengan memasang brand Liki Tea. Saya berharap mudah-mudahan dengan keberanian untuk berpromosi di berbagai pameran dalam dan luar negeri, Sdr.Yosdian bisa segera memetik hasilnya dari pilar teh retailnya ini. Selain itu kacang Macadamia yang banyak tumbuh di Kebun Mitra Kerinci saya minta ditangani lebih serius agar bisa dibudidayakan secara komersial bukan hanya sebagai oleh-oleh tamu yang berkunjung ke Liki. Lebih hebat lagi, PT Mitra Kerinci juga sudah melakukan aksi korporasi dengan membentuk anak perusahaan bekerjasama dengan anak perusahaan BUMN PT Brantas Abipraya dengan bisnis membangun pembangkit listrik mini hidro berkekuatan 15,6 MW. Dengan potensi yang sangat lengkap tersebut saya tantang Sdr. Yosdian untuk bisa menghasilkan laba rata-rata diatas Rp 30 milyar pertahun, agar akumulasi rugi yang diderita PT Mitra Kerinci yang sampai saat ini mencapai Rp 139 mikyar lebih bisa ditutup dalam waktu 5 – 7 tahun saja. Kalau rata-rata labanya hanya sebesar Rp 2 milyar pertahun, lebih dari 60 tahun kemudian ekuitas PT Mitra Kerinci baru positip. Saya tidak bisa menunggu selama itu …. ayoo Likiers kerahkan semua kreativitas untuk menyambut tantangan ini…

16266182_10212486098413686_716370906708285560_n.jpg

Cerita yang mengharubiru juga terjadi di anak perusahaan RNI yang lain yaitu PT Mitra Ogan, sejak nahkodanya saya ganti dengan Pak Natsir alumni PTPN 7 bulan September 2016 lalu, didukung pak Sigit dari PTPN 3 dan pak Fikri jebolan Head Keuangan PT RNI, PT Mitra Ogan seolah-olah bangun dari mimpi dan berlari kencang mengejar Saudara-saudara tirinya yakni PTPN sawit. TBS yang tadinya hanya masuk 150 – 200 ton/hari meloncat menjadi 700 – 800 ton lebih per hari. Mereka bahkan akan mengejar di 1.000. – 1.500 ton/hari di tahun 2017 ini. 2 unit PKS yang tadinya hanya beroperasi satu unit dengan kapasitas separohnya, November 2016 lalu sudah beroperasi full semuanya, gaji karyawan yang tadinya hanya dibayar 65% dan sempat kami didemo dan dilaporkan kepada pemegang saham Kementerian BUMN, Desember 2016 yang lalu sudah dibayar full 100%. Meskipun masih menderita kerugian sebesar Rp 85 milyar ditahun 2016 ini, namun ruginya sudah lebih kecil dibandingkan prediksi saya waktu itu yang saya perkirakan mencapai Rp 130 milyar lebih. Yang paling spektakuler adalah bulan Desember 2016, perusahaan membukukan laba Rp 10 milyar lebih. 20 jempol saya berikan kepada pak Natsir dan para Oganers….he he he. Semangat kerja Oganers sudah mulai nampak, iklim kompetisi yang baik sudah terbit, perbaikan di sana sini sudah mulai muncul hasilnya, jalan sudah gagah dan tidak tertunduk malu kalau ketemu tetangga. Alhamdulillah, syukur saya yang ke tiga….ayoo Oganers jaga semangat tunjukkan bawa anda semua bisa membawa Mitra Ogan meraih kejayaannya kembali. You all can get the greatest and the glory…

Berlanjut ke PT Rajawali Tanjungsari yang saat saya masuk RNI tahun 2015 di vonis mati oleh manajemen yang lama. Saat ini sedang mencoba menambah portofolio bisnisnya tidak hanya sebatas penyamakan kulit namun juga akan memproduksi karung plastik. Secara bertahap kinerjanya juga sudah mulai membaik meskipun belum berhasil membuang dalam kurungnya, tetapi penurunan kerugiannya sudah sangat signifikan. Awal tahun 2017 lalu saya memutuskan untuk mengestafetkan pimpinan Tanjungsari ke Sdr.Gigih Mulyonoto – Kepala Cabang Mataram PT Rajawali Nusindo seorang tenaga muda juga ex MT Angkatan II Non-Agro tahun 2005. Sementara Sdr. Ferry Priyadi Yustono yang saya anggap cukup berhasil mengangkat kinerja PT Rajawali Tanjungsari, saya terjunkan untuk membenahi PT Rajawali II di bidang keuangan mendampingi Pak Audry Jolly Lapian, Direktur Produksi PT Rajawali I yang saya percaya menjadi Direktur Utama PT Rajawali II.

IMG_9932a.jpg

Memang tidak semuanya bisa kinclong tahun ini. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk memoles lagi kinerja anak perusahaan yang warnanya masih redup atau tadinya kinclong sekarang meredup seperti PT Rajawali Citramass, PT PG Rajawali II, PT Mitra Rajawali Banjaran dan PT Laskar. Banyak hal yang mesti saya pelototin dan saya cerewetin mungkin supaya mereka-mereka mulai seirama atau bisa mengikuti kecepatan laju kendaraan RNI yang sedang saya kemudikan. Kalau tidak bisa mengikuti ya mohon maaf silakan tinggal ditempat, saya akan mencari orang yang mau mengikuti kecepatan kendaraan tersebut.

Saya menemukan bahwa kunci keberhasilan utama dalam mengangkat kinerja yang sedang menurun adalah kebersamaan antara pimpinan dan karyawan. Pimpinan yang berempati dengan keprihatinan seluruh karyawan akan mendapat dukungan respon yang positif dari para karyawan. Apalagi jika pimpinan itu juga piawai dalam mengajak dan memotivasi karyawannya. Kelebihan di jaman teknologi informasi berupa komunikasi dengan menggunakan berbagai media seperti WA, FB, Path, IG, dsb dapat menjadi sarana yang ampuh dalam berkomunikasi untuk mengajak dan membangkitkan semangat rekan sekerja dan anak buah.

16174765_10212486098973700_4358094757010412098_n.jpg

Mari kita tutup lembaran 2016 ini dengan mensyukuri semua yang sudah kita dapat dan menggunakan pengalaman di 2016 ini, baik ataupun jelek sebagai bekal menatap ke depan menghadapi tanttangan di 2017.

Berjuang dengan berbuat sebaik-baiknya dengan senantiasa memohon ridho Allah.

Selamat bekerja.

Wassalamualaikum wr.wb.

Surabaya, 26 Januari 2017.

Didik Prasetyo

# 38 Sekilas 2016 : Yang Kinclong Dan Yang Redup bagian pertama.

Assalamualaikum wr.wb,
Tahun 2016 masih belum lama kita tinggalkan dan mumpung masih anget-angetnya sekaligus menyiapkan RKAP 2017, baik untuk Holding maupun dengan seluruh anak perusahaan, maka saya perlu bercerita kejadian tahun 2016, sebelum saya mulai melangkah di awal tahun 2017 ini.

 

Beberapa kejadian tahun 2016 seperti tantangan yang dihadapi, faktor-faktor ekternal dan internal serta kebijakan-kebijakan tahun 2016 yang sudah diambil maupun dihadapi sangat berat dan ibarat naik roller coaster, seringkali membuat jantung berdegup sangat kencang dan senewen menunggu hasilnya, terutama di sektor agro, wa bil khusus lagi di bidang industri gula karena banyaknya kebijakan baru di sektor pergulaan ini disamping Fenomena La Nina.
Menurut data series yang dikumpulkan rekan-rekan PG fenomena ini terjadi setiap 3 tahun atau dikenal dengan nama siklus 3 tahunan, 2016-2013-2010. Tanpa bermaksud mencari kambing hitam, kalau sudah menghadapi situasi berbasah-basah sepanjang tahun seperti ini, semua unit menderita. Tebangan tebu berantakan karena harus sering berpindah mencari petak kebun yang kering, akibatnya keprasan tebu juga amburadul, komposisi umur tebu menjadi tidak karuan. Kondisi di dalam kebun rusak karena dipakai off-road truk pengangkut tebu yang harus terseok-seok ditarik traktor. Kalau angkutan truk sudah nggak bisa masuk kebun, apaboleh buat, off roader yang sebenarnya harus diturunkan, yaitu motor trail tapi dipakai untuk menggendong tebu di belakang dan di atas tangki bensin di depan. Apalagi kalau kebun tebu sudah berubah menjadi danau, mau tidak mau tebu giling harus diikutkan flying fox seperti anak-anak saya kalau lagi out bound pengennya hanya ikut flying fox. Menyenangkan kalau untuk kita, tapi kecut kalau untuk tebu. Kebun sudah seperti kubangan kerbau yang sedang mabuk. Jangan tanya berapa ongkos yang harus dikeluarkan untuk menebang dan mengangkut tebu pada kondisi seperti ini.

16299156_10212483891878524_42954197019886795_n.jpg

Penderitaan di bagian prosessing juga tidak kalah berat karena nira yang diolah sudah seperti lumpur sehingga sering merusak peralatan yang ada. Yang terberat adalah turunnya rendemen atau kandungan gula yang dapat mencapai 20-30% dari kondisi iklim normal. Biaya semua naik tetapi pendapatan malah turun. Apalagi kualitasnya.. mumet!!.
Syukur alhamdulilah meskipun harus menghadapi kondisi yang sangat berat PT PG Rajawali I yang merupakan tulang punggung RNI pada tahun ini masih membukukan laba sebelum pajak yang sangat signifikan meskipun masih unaudit, bahkan hasil saya menguping kiri kanan memastikan RW I masih tetap memegang rekor sebagai perusahaan gula dengan laba tertinggi di Jawa, yaitu di atas Rp 171 milyar lebih. Memang turun dibanding tahun lalu yang mencapai diatasRp 220 Milyar karena jumlah gulanya turun drastis. Salut dan apresiasi yang tinggi untuk Pak Gede – Dirut PT PG Rajawali I dengan seluruh jajarannya karena telah berupaya maksimal melakukan pengendalian biaya dan pemenuhan tebu giling sedemikian rupa sehingga masih mampu mempertahankan laba sebelum pajak tidak sampai anjlok meskipun gula milik PGnya harus dijual seluruhnya ke BULOG dengan harga yang sudah dipatok. Seandainya harganya tidak dipatok…..laba PT PG Rajawali I pasti makin menjulang.

16142385_10212484042802297_4795479879895017452_n.jpg

PT PG Candi Baru Sidoarjo salah satu anak perusahaan gula PT RNI dengan kapasitas yang hanya 2.500 TCD (ton cane per day) pun masih bisa menjaga labanya, tahun 2016 ini PT PG Candi Baru membukukan laba sebelum pajak Rp 3 milyar lebih. Alhamdulillah meskipun katanya tidak punya areal sendiri namun masih bisa laba, bandingkan dengan PG di sekitarnya…????

Namun sayang torehan prestasi gemilang dari PT PG Rajawali I dan PT PG Candi Baru ini tidak diikuti oleh Perusahaan Gula saudaranya yakni PT PG Rajawali 2 Cirebon yang masih menderita kerugian mencapai Rp 64 milyar lebih. Banyak hal yang mesti saya benahi di Cirebon ini.

16142229_10212483889798472_2807759882622608_n.jpg

Syukur yang kedua adalah karena penurunan di agro justru ditutup oleh melesatnya kinerja non-agro yang luar biasa. PT Phapros yang biasanya meraup laba 2 digit, tahun ini untuk pertama kalinya mampu melesatkan labanya menjadi 3 digit. Selamat untuk Bu Emmy Barokah dan para Phaprosers.

 

Secara nasional, industri farmasi hanya tumbuh 3,9%, tetapi Phapros mampu mencapai pertumbuhan sampai 17%. Jauh diatas rata-rata industrinya. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada pendapatan toll-in manufacturing atau maklon yang mencapai 93%, diikuti oleh penjualan obat jual bebas (OTC) sebesar 24%. Sedangkan dari sisi portofolio pendapatan maka kontribusi penjualan obat generik masih yang tertinggi yaitu sebesar 49%, diikuti obat ethical sebesar 26%, obat OTC sebesar 16% dan pendapatan dari Toll In dan lain-lain sebesar 9%.

GGMpaphros2-6.jpg

Pencapaian kinerja 2016 yang menawan ini juga tidak lepas dari strategi jitu yang dilakukan oleh Phapros. Saya ngga berani membuka strategi yang diterapkan bu Emmy Barokah karena itu rahasia dapurnya. Bravo bu Emmy, apresiasi yang tinggi untuk para Phaprosers ya..
Pencapaian kinerja tahun 2016 baik dari sisi keuangan dan non keuangan yang kinclong, saya pesankan agar para Phaprosers tidak berpuas diri. Medan kompetisi tahun 2017 lebih menantang, kita semua harus bekerja lebih keras, lebih cerdas dan lebih ikhlas.

 

PT Rajawali Nusindo, meskipun masih terus bersih-bersih dari lemak peninggalan era sebelumnya, laba sebelum pajak tahun ini mencapai 2,5 kali lipat dari tahun lalu. Peningkatan yang luar biasa terjadi pada pilar bisnis marketing yang tumbuh hampir 70% terhadap tahun sebelumnya. Saking optimisnya baru saja mereka mengadakan pertemuan nasional di Bandung dengan tag line 1 Trillion…penjualannya harus mencapai Rp 1 triliun tahun ini TOP MARKOTOP…Di sisi lain, Nusindo juga banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan bisnis rintisan di wilayah perbatasan yang merupakan penugasan dari negara seperti di Pulau Natuna dan Tahuna wilayah Kepulauan Sangihe-Talaud yang berbatasan dengan Philipina. Di kedua daerah tersebut Nusindo bertugas untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam jumlah yang cukup dan menjaga stock di sana agar harganya tidak jauh berbeda dengan harga di Pulau Jawa. Kegiatan ini dikerjakan secara keroyokan bersama BUMN lain yaitu PELNI dan MTI (anak perusahaan Pelindo II) dengan program Tol Laut Nusantara sebagai wujud nyata sinergi BUMN, Hadir Untuk Negeri.

16298767_10154974862838599_8638446362319277348_n.jpg

Dalam hal per-sembako-an di Jawa, Nusindo bahkan sudah jadi langganan tetap berbagai lembaga dan instansi yang mengadakan bazaar sembako murah, baik perusahaan BUMN, Kementerian, bahkan sampai istana. Disamping sudah teruji biayanya murah, Nusindo juga punya ilmu gerak cepat mampu menyiapkan ratusan ribu paket dalam waktu 2 x 24 jam.

 

Semua adalah hasil kerja keras tim Nusindo di bawah komando Pak Yono. Mudah-mudahan tahun depan (2017) akan lebih joss lagi.
Anak perusahaan lain yang sudah memperlihatkan hasil transformasi dan turn around nya adalah Mitra Kerinci, Mitra Ogan dan Tanjungsari ingin saya ceritakan di bagian ke dua dari CEO Notes 38 ini.Jadi teman-teman semua saya akhiri dulu ya cerita saya, sudah malam, saya mesti tidur karena besok harus ikut Executive Leadership Program pagi-pagi.
Wassalamualaikum wr.wb.
Jakarta, 24 Januari 2017.
Didik Prasetyo

 

# 37 Nusindo Cabang Jember Kantor Baru Berharap Penuh dengan Berkah

Assalamualaikum wr.wb,

Minggu-minggu lalu ketika saya luncurkan CEO Notes #37 ini adalah minggu yang sangat padat. Jadwal rapat, traveling dan appointment bisnis dengan mitra atau calon mitra harus diatur dengan sebaik-baiknya agar tidak bentrok. Meeting-meeting Lunch, Breakfast, Dinner, semua termanfaatkan for the sake of the company, katanya…hehehe.

Undangan-undangan penting yang serba last minute tetapi dari instansi atau lembaga yang berwibawa tetap harus di nomorsatukan. Acara internal boleh dibatalkan meskipun membuat tuan rumah acara menjadi kalangkabut. Apaboleh buat. Alhasil, jadwal RUPS Anak-anak perusahaan yang harus kejar tayang di bulan Januari ini terpaksa selalu di-ubah-ubah untuk penyesuaian. Saya juga harus melewatkan Acara National Meeting Phapros yang sebenarnya sangat ingin saya hadiri. Saya ingin ikut merasakan bagaimana top manajemen Phapros menggelorakan semangat seluruh Phaprosers mengejar target penjualan tahun ini yang dicanangkan harus mencapai IDR One Trillion !

Sepadat apapun jadwal saya, sejak awal saya sudah committed bahwa pada tanggal 19 Januari 2017 saya akan ke Jember. Tanggal itu merupakan hari yang bersejarah bagi Nusindo karena pada tanggal itu Nusindo meresmikan kantor baru Cabang Jember. Saya sempat berpikir, ke Jember naik apa ya yang bisa cepat? Semula tidak terbayang ada penerbangan reguler Surabaya-Jember. Garuda lagi. Jadilah saya dan rombongan yang cukup besar bersama 3 Direksi Holding dan Komisaris serta Direksi Nusindo terbang dengan ATR Garuda dan mendarat di Bandara Noto Hadinegoro (bagi yang belum tahu, itu nama Bandara di Jember) setelah menempuh penerbangan singkat, 30 menit.

16174904_10212458916974167_5643482850178069496_n.jpg

Sehari sebelum saya berangkat ke Jember, saya dikagetkan dengan telpon dari seorang tokoh pergulaan nasional yang berdomisili di Jember, yaitu Pak Haji Arum Sabil. Rupanya ada yang membisiki beliau bahwa RNI akan ada acara di Jember.

Di komunitas pergulaan nasional, Jember identik dengan Pak Arum Sabil, yang persisnya tinggal di desa Tanggul.

Mohon ijin Pak Arum, saya share ke publik mengenai kegiatan Bapak yang saya ketahui.

Beliau adalah pejuang petani tebu. Secara formal, beliau adalah Ketua Dewan Pembina APTRI (Asosisasi Petani Tebu Rakyat Indonesia) yaitu organisasi yang menjadi wadah petani tebu di tingkat Nasional. Namun demikian, pengaruhnya sebagai informal leader jauh lebih besar melampaui posisi formalnya. Kiprahnya dalam membela kepentingan petani tebu dan memperjuangkan keberadaan pabrik gula yang berbasis tanaman tebu sangat menggebu-gebu. Suaranya yang vokal dan berani membuat Pak Arum sering diundang dalam berbagai pertemuan, talk show atau seminar sebagai nara sumber atau pembicara. Tidak heran suara beliau sangat di dengar oleh para pemegang kebijakan di bidang pergulaan. Sudah tak terhitung berapa Menteri atau pejabat yang singgah di rumah beliau di Tanggul yang dikenal dengan Padepokan Arum Sabil.

Jadilah kemudian saya undang beliau untuk hadir di acara pembukaan tersebut. Dengan ketokohannya, saya yakin beliau dapat membantu Rajawali Nusindo berkiprah makin luas di Jember dan sekitarnya.

Kiprah Nusindo di Jember sebenarnya sudah cukup lama, yaitu ketika tahun 1998 beroperasi sebagai Depo Philips. Baru pada 1 Januari 2003 berubah menjadi Cabang penuh tetapi sarana kantornya masih sewa. Sejalan dengan makin mantapnya perkembangan bisnis, tahun 2013 mulai membeli lahan kosong 1500 m2. Akhirnya di tahun 2016 mulailah dibangun kantor dan gudang, persisnya tanggal 29 Agustus. Dalam waktu 125 hari, tepatnya 27 Desember 2016 semuanya selesai. Jadi peresmian tanggal 19 Januari 2017 ini termasuk benar-benar gress. Semua serba baru, termasuk furniture dan lemari-lemarinya.

Dengan kantor yang megah ini Jember harus siap melayani seluruh area yang terdiri dari Kab. Jember, Probolinggo, Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso dan Lumajang. Bukan hanya itu saja, Jember juga harus menambah isi pundi-pundinya dengan produk baru selain Phapros, Minyak Goreng Focus dan Mustika Ratu yang selama ini mendominasi omzet cabang. Saya yakin bahwa hal ini sangat mungkin untuk diakukan mengingat di 6 Kabupaten yang menjadi coverage Cabang Jember adalah sentra pertanian dan perkebunan yang sangat potensial di Jawa Timur.

Disana ada banyak pabrik gula dan kebun-kebun milik PTPN yang tentunya membutuhkan sarana produksi bagi kebun tebunya. Apalagi beberapa PG-nya memiliki areal HGU seperti Semboro, Jatiroto dan yang paling gres adalah Glenmore. Mereka sudah pasti memerlukan pupuk, herbisida dan berbagai obat-obatan lainnya. Belum lagi kebutuhan untuk pemeliharaan pabrik dan pengolahan dalam giling. Cabang Jember bisa meniru saudaranya yang sudah lebih dulu berkiprah di bidang kebutuhan pabrik gula seperti plat besi, pipa, rantai dan berbagai kemikalia (chemicals).

Kepada para tamu undangan yang hadir saya sampaikan bahwa PT Rajawali Nusindo yang merupakan induknya Cabang Jember ini bersama PT Phapros tahun ini prestasinya melesat luar biasa. Laba Nusindo bertumbuh 2,5 kali lipat dibanding tahun yang lalu, sedangkan PT Phapros untuk pertama kalinya memecahkan rekor mampu meraih laba 3 digit. Sementara itu, di industri gula walaupun terkena dampak anomali, PT Rajawali I yang beroperasi di Jawa Timur masih mampu menghasilkan laba Rp. 170 milyar, yang menurut informasi dari sumber yang sangat bisa dipercaya adalah merupakan perusahaan gula BUMN di Jawa dengan laba yang tertinggi. Alhamdulilah.

Ketika Pak Arum Sabil saya minta untuk menyampaikan sambutan, beliau langsung memperkenalkan yang hadir dari kedua belah pihak. Saya kira ini sangat penting untuk diketahui oleh semua masyarakat bahwa RNI adalah BUMN, bahwa Nusindo adalah anak perusahaan RNI yang berarti juga milik negara. Kalau tidak dijelaskan jangan-jangan kantor Cabang Nusindo Jember yang ada di tengah pemukiman dan bertetangga cukup dekat dengan Pondok Pesantren karena warna catnya serba hijau dikira Kantor Cabang salah satu Partai Politik…hehehe.

16195534_10212458917854189_5058142062485722723_n.jpg

Melalui perkenalan itu saya jadi tahu bahwa yang duduk satu meja dengan saya, yaitu Kiai Haji Muhidin Abdul Somad adalah salah satu ulama terpandang di wilayah Jember. Sehari-hari Pak Kiai adalah Rois Syuriah DPC NU wilayah Jember. Kiai Muhidin ini adalah tempat “jujugan” para tokoh-tokoh pimpinan yang sedang pusing, bahkan almarhum Gus Dur konon kabarnya kalau sedang pusing juga mencari Kiai Muhidin di Jember. Segera saya pesankan melalui Dirut Nusindo, Pak Sutiyono agar Cabang Jember membina hubungan sebaik-baiknya dengan kalangan pondok pesantren kalau ingin segera bisa “diakui” sebagai keluarga Jember. Dalam perbincangan dengan pak Kyai disampaikan pula bahwa pembangunan Kantor Baru tersebut menggunakan kontraktor lokal ditambah sebagian besar pegawai Nusindo Cabang Jember juga berasal dari Desa Antirogo tempat Kantor Cabang Jember berdomisili apalagi didoakan pula oleh Kyai Haji Muhidin. Saya menjadi sangat yakin bahwa pembukaan Kantor Baru ini akan penuh dengan berkah dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya….

16266199_10212458918454204_2016617936421658849_n.jpg

Saya juga diperkenalkan dengan Gus Misbach, seorang tokoh masyarakat yang memiliki jaringan sangat luas di Jember. Dari beliau saya tahu bahwa Pemerintah punya program untuk membuka 1000 outlet Warung Desa yang akan ditempatkan di tiap RW di seluruh Kabupaten. Warung ini akan menyediakan berbagai macam kebutuhan pokok untuk para warganya langsung di lokasi terdekat mereka. Tentu saja ini merupakan peluang bisnis yang menggiurkan bagi Nusindo Jember disamping sekaligus memberdayakan perekonomian desa di sekitarnya. Cabang ini akan menjadi cabang consumer goods yang kuat karena selain pemasok juga bertindak sebagai off taker produk-produk masyarakat sekitarnya.

Kantor dan gudang yang besar ini memang butuh banyak tambahan muatan kalau usahanya ingin meningkat. Jember harusnya menjadi Cabang Madya, sama seperti Madiun. Minimal Cabang Perdana seperti Purwokerto.

16265526_10212458917574182_7116059006629083658_n.jpg

Bisnis dari gula juga terbuka lebar. Penjualan gula yang selama ini sudah dijalankan oleh GIEB, Cabang Surabaya II bekerja sama dengan PT Candi Baru dan PT Rajawali I tentunya bisa dilakukan juga oleh Nusindo Cabang Jember, karena disekitar Wilayah kerjanya banyak Pabrik-pabrik Gula milik PTPN XI dan PTPN XII..

Di Jember juga ada perkebunan edamame 1300 ha yang merupakan diversifikasi PTPN X. Pengelolanya adalah PT Mitra Tani 27 yang berstatus anak perusahaan. Sebagaimana kita ketahui bahwa edamame adalah kedelai berkualitas tinggi yang sering kita temui di rumah makan Jepang. Perlu dicari bidang yang bisa disinergikan dengan perusahaan ini untuk menambah muatan bagi Cabang Jember.

16143061_10212458919294225_8833095979994468584_n.jpg

Acara hari itu ditutup dengan menanam pohon di Farm & City Forest milik Pak Arum Sabil. Beliau selalu mengajak para tamu pentingnya unuk menanam pohon. Termasuk saya dan para Direksi RNI yang ikut dalam rombongan saya juga diajak menanam pohon walaupun di tengah guyuran hujan. Demikianlah, walaupun perjalanan kembali dari Jember ke Surabaya sebenarnya sangat panjang, yaitu 6 jam dengan menggunakan bus, tapi bagi saya terasa singkat dan menyenangkan. Banyak hal yang didiskusikan, banyak peluang bisnis yang bisa dikembangkan. Kepala Cabang Jember saat ini, Bli Kadek Dwi Aryana akan sangat sibuk di hari-hari mendatang ini. Saya juga bertekad bahwa suatu ketika nanti, meniru lagunya Koes Plus : “Ke Jember aku kan kembali, walau apapun yang kan terjadi…”

Ayo Nusindo, semangat..semangat…isi muatan sebanyak-banyaknya kanvas dan gudang kita di Jember.

Semoga Allah SWT membimbing dan meridhoi upaya kita.

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta, 23 Januari 2017.

Didik Prasetyo

# 36 LBJ : Pesona di Habitat Komodo

Assalamualaikum wr.wb,

 
Tak terasa CEO Notes saya ini ternyata sudah yang ke 35, saya tulis dan share kepada temen2 saya di FB baik karyawan RNI Group maupun bukan, hampir semuanya adalah sharing mengenai kondisi perusahaan dengan segala dinamika, suka dan dukanya. CEO Notes saya nomor 1 – 20 telah dibukukan dan ini menambah semangat saya untuk menulis lagi supaya bisa dibukukan lagi supaya bisa saya share kepada teman-teman saya yang tidak maniak medaos seperti saya. Saya sering membaca komentar dan tanggapan dari kawan-kawan yang membaca CEO Notes ini terutama yang saya posting di FB. Supaya tidak selalu hadir dengan materi yang “berat”, kali ini saya akan berbagi cerita tentang liburan saya bersama-sama keluarga. Cerita yang mungkin sangat bernuansa personal dan sudah pernah saya share foto-fotonya saat update status FB saya.

 
Sudah lebih dari 1,5 tahun saya ditugaskan bu Menteri BUMN di PT RNI, dan selama 1,5 tahun itu baru kemarin saya mendapat kesempatan untuk berlibur bersama keluarga, ssssssttt itupun setelah istri dan anak-anak nangis bombay karena sudah hampir 3 tahun liburan bersama yang biasanya menjadi agenda tahunan tertunda karena kesibukan saya. Maaf ya mii dan anak2ku baru bisa berlibur kemarin.

 
Beruntung bahwa selama itu ada saja kegiatan dari KBUMN yang membuat saya harus berkeliling kesana kemari di seantero Nusantara sehingga sedikit banyak saya punya referensi tempat yang menarik untuk berlibur. Kebetulan Ibu Menteri mempunyai komitmen yang sangat tinggi untuk memajukan pariwisata di Indonesia. Hampir semua event penting terkait dengan HUT BUMN selalu dilaksanakan di lokasi tujuan wisata dengan maksud selain untuk mengakrabkan para Direksi BUMN juga untuk ikut mempromosikan daerah tersebut. Disamping itu juga dilakukan program-program di seluruh pelosok negeri dengan tujuan menggerakkan kehidupan perekonomian setempat. Sebut saja misalnya kegiatan BUMN Hadir Untuk Negeri yang juga pernah saya share dalam CEO Notes yang lalu.

 
Alhasil saya jadi bisa mengenal Mamuju, Danau Toba, Manado dengan Bunakennya yang tersohor itu dan yang terakhir adalah Labuan Bajo (LBJ) ketika di bulan Oktober ada perayaan Ulang Tahun Bank Mandiri, PLN dan RNI sendiri. Saya sangat terkesan dengan view di perairan Flores tersebut, disamping tentu saja pulau yang sangat terkenal karena dihuni oleh satwa yang tergolong binatang purba seangkatan dengan Dinosaurus, yaitu Komodo. Ternyata cukup banyak obyek wisata yang bisa dikunjungi di lokasi tersebut. Dengan pengaturan yang rapi dan sarana transportasi yang bagus jadilah waktu itu acara kerja di Labuan Bajo menjadi wisata kerja yang menyenangkan. Itulah sebabnya saya sempatkan untuk mengambil cuti dan ajak seluruh keluarga untuk pergi kesana di awal tahun sekaligus memanfaatkan liburan anak sekolah.

 

LBJ2.jpg
Labuan Bajo adalah kota terbesar terdekat yang menjadi base point untuk lokasi wisata sekitar. Sekarang sudah ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Labuan Bajo yang dilayani Garuda dengan pesawat jet kecil berpenumpang sekitar 120 orang. Perjalanan di tempuh dalam waktu 2 jam.

 
Walaupun kotanya kecil tetapi bandaranya sangat bagus. Bangunannya baru dan dibentuk seperti miniaturnya Terminal 3 Ultimate Soekarno Hatta. Turun dari pesawat, para penumpang yang pada umumnya wisatawan langsung banyak yang foto. Maklum saja, nama Komodo tentu sangat spesial dan dapat menjadi kebanggaan kalau dipamerkan ke sanak saudara dan kenalan. Hotel dan restauran cukup banyak di Labuan Bajo. Infonya dapat kita peroleh lewat internet untuk memilih mana yang pas dengan selera maupun ukuran kantong kita. Pada umumnya hotel dan restoran berlokasi di bibir pantai, terutama di teluk-teluk yang dikelilingi pulau kecil sehingga view-nya sangat bagus.

 
Dalam perjalanan ke hotel tempat saya dan keluarga menginap yakni Hotel Sylvia kami melewati bukit yang dikenal dengan nama Bukit Cinta. Dari ketinggian di bukit itu kita bisa melihat view pulau-pulau yang ada di sekitar yang ternyata sangat indah. Di Labuan Bajo kita juga bisa menikmati Sunset atau Sunrise, tetapi sayang sore hari itu udara tidak terlalu bersahabat karena tertutup awan mendung sehingga matahari tidak terlihat.

LBJ5.jpg
Sarana hotel dan restoran sebenarnya sangat memadai. Hotel mempunyai fasilitas airport transfer, swimming pool, sun bathing, dan lain-lain layaknya hotel berbintang. Lokasi dan sarana Restoran juga bagus. Ada yang di ujung dermaga, ada yang di bukit di atas pantai, dengan pilihan menu yang sangat beragam. Banyak pemilik restoran ini adalah orang-orang asing dari Italia, Perancis yang rupanya sudah mencium aroma potensi bisnis wisata yang menggiurkan di masa mendatang.

 
Sayang sekali pelayanannya masih di bawah standar terutama dari segi kecepatan. Order in room-dining di hotel bisa sampai lebih dari 1 jam. Menunggu sajian makan di restoran juga bisa lebih dari satu jam.

 
Kekurangan lain adalah sarana jalan yang masih kurang bagus. Ada beberapa ruas jalan yang belum di hotmix padahal itu adalah satu-satunya akses menuju hotel. Public transport juga belum ada sehingga segala sesuatu harus carter.

LBJ4.jpg
Termasuk ketika mengunjungi obyek-obyek wisata disitu, mau tidak mau kita harus carter kapal. Obyek penting yang perlu dikunjungi pertama adalah Pulau Padar. Perlu 4 jam untuk sampai ke pulau itu kalau kita pakai kapal Pinishi dengan kecepatan 7 knots. Pemandangan di Pulau Padar benar-benar sangat indah tetapi perlu perjuangan berat untuk menikmatinya. View itu baru bisa dinikmati dari puncak bukit, tetapi untuk naik ke puncak tersebut perlu tenaga dan nafas kuat karena tanjakannya panjang dan tinggi. Saya salut dengan anak-anak karena mereka semua berhasil mencapai puncak.

 
Obyek berikut yang merupakan puncak acara kunjungan adalah menuju Pulau Komodo. Hanya ada dua pulau besar yang mejadi habitat Si Komo ini, yaitu pulau Komodo dan pulau Rinca dengan total populasi kira-kira 5000 ekor. Konon, Komodo hanya makan sekali dalam sebulan. Jadi kalau sudah pasti ketemu dengan Komodo kenyang, tidak perlu kuatir akan dimakan sama mereka. Apalagi di habitatnya ini, Si Komo lebih familiar makan rusa yang berkeliaran bebas dari pada makan manusia, he he he.

 
Dari pulau Komodo kami bergeser menuju Pantai Pink dengan obyek pemandangan bawah laut. Anak-anak sangat bersemangat sekali untuk melakukan snorkeling disana. Saking semangatnya berenang melihat ikan di laut yang masih perawan anak saya yang paling kecil sampai mengalami kram kakinya karena tidak menghiraukan rasa capek setelah paginya mendaki puncak Pulau Padar. Untung masih bisa saya susul meskipun saya juga harus mengalami kram juga saat menolong anak saya minggir ke pantai. Saat menjelang jam 17 saya ajak anak-anak balik ke kapal, hampir semuanya merajuk minta ditambah waktunya. Saya bilang “nanti kita snoorkeling lagi”. Serentak mereka menjawab “KAPAN??. Saya hanya tersenyum kecut tanpa menjawab sepatah katapun…..rasa bersalah nongol lagi….

 
Sebenarnya bulan-bulan ini bukan merupakan waktu yang tepat untuk berwisata laut disana karena ombak sedang cukup besar. Tetapi antusiasme kami mengalahkan kekawatiran itu karena pulau-pulau di sekitar Labuan Bajo lagi hijau royo-royo….

 
Disamping obyek di laut, Labuan Bajo juga punya obyek darat berupa gua stalagtit-stalagmit yang cukup besar dan indah. Gua itu yang diberi nama Batu Cermin, konon dulunya berada di bawah permukaan laut. Sampai sekarang bisa dilihat sisa-sisa fosil ikan purba yang menempel di dinding gua. Menuju ke gua kita akan melewati hutan bambu berduri yang terlihat sudah sangat tua. Pemandangan yang cukup unik yang tidak ada di tempat lain.

LBJ3.jpg
Setelah melihat obyek yang ada, saya berkeyakinan Labuan Bajo bakalan menjadi tujuan wisata yang sangat menarik bagi wisatawan, terutama mancanegara. Di belahan bumi manapun mereka tidak akan menemukan Komodo selain disini.

 
Bukan hanya Labuan Bajo, saya bisa membayangkan bahwa di seluruh Indonesia pasti banyak sekali view indah di seluruh nusantara yang bisa dijual sebagai obyek wisata. Indonesia mempunyai garis pantai sepanjang 99.000 km yang merupakan terpanjang ketiga di dunia setelah Kanada dan Uni-Eropa. Indonesia juga mempunyai 17.508 pulau yang pasti sangat eksotis pemandangannya. Kalau ada 1 persen saja yang bisa dikembangkan dan dijual sebagai obyek wisata, berari kita punya 175 lokasi.

 
Dengan pengalaman pengembangan Labuan Bajo, Raja Ampat, Gili Trawangan, Derawan, dll. saya kira akan muncul pantai-pantai lain yang mempunyai daya tarik tinggi bagi pariwisata. Pulau-pulau disekitar Flores sendiri sudah cukup banyak yang disewa dan dikembangkan sebagai resort untuk menampung dan sekaligus juga sebagai alternatif wisata baru bagi wisatawan yang potensinya luar biasa. Saya berkesempatan bertemu dengan seorang pengusaha asal Jakarta yang sedang mengembangkan usahanya dengan menyewa salah satu pulau disana. Luar biasa.

 
Kita tidak boleh kalah dengan Singapura yang mampu mengundang lebih dari 10 juta wisatawan per tahun dengan modal satu pulau saja. Devisa yang bisa dikumpulkan tiap tahun di Singapura bisa mencapai 8 milyar dollar.

 
Jangan lupa bahwa kita juga memiliki warisan budaya yang bisa dijual juga sebagai obyek wisata, misalnya Candi Borobudur, Candi Prambanan, Toraja, Minangkabau, Yogyakarta. Juga warisan budaya non-benda yang sudah diakui UNESCO : wayang, keris, batik, angklung, tari Saman dan Noken Papua serta masih banyak lagi.

 
Saya juga melihat bahwa potensi bisnis penunjang pariwisata ini bakal menjadi lahan subur bagi PT Rajawali Nusindo. Modal yang sudah dimiliki berupa cabang yang tersebar di seluruh propinsi bisa dimanfaatkan sebagai station awal dirintisnya pengembangan bisnis selanjutnya. Saya juga melihat modal di sisi SDM, khususnya banyaknya putra daerah yang umurnya masih muda juga bisa dibentuk menjadi ujung tombak yang handal di masa depan.

 
Demikian juga dengan Phapros dan MRB. Silakan digali sendiri masing-masing dimana produk-produknya bisa masuk ke dunia wisata. Yang jelas saya bisa merasakan bahwa saat para wisatawan terombang-ambing ombak di tengah laut yang bergolak pasti mereka membutuhkan produk Phapros. Apalagi saya pernah baca di media massa salah satu BUMN Perhubungan yakni ASDP dan Pelindo III telah investasi di sana.

 
Liburan sudah berakhir, saatnya kembali ke dunia nyata. Kembali bertemu pelanggan, berunding dengan mitra bisnis, membangun semangat para karyawan untuk terus berkarya dan berinovasi agar mampu terus berkompetisi. Mari kita awali tahun baru ini dengan semangat baru. Selamat bekerja.

 

Semoga Allah SWT membimbing dan meridhoi upaya kita.

 
Wassalamualaikum wr.wb.

 

 

Jakarta, 18 Januari 2017.

 
Didik Prasetyo

# 35 PMN Ex RDI : Kado Istimewa Akhir Tahun 2016

CEO Notes # 35 PMN Ex RDI : Kado Istimewa Akhir Tahun 2016

Assalamualaikum wr.wb,

Setelah cukup lama CEO Notes absen dari hadapan Teman-teman sekalian karena saya agak jenuh harus menerima berita-berita hoax…..(he he he) di awal tahun 2017 ini saya sempatkan lagi untuk sharing mengenai berbagai hal yang terkait dengan RNI. Pertama, tentunya saya mengucapkan Selamat Tahun Baru kepada Bapak-Ibu dan Saudara-saudara serta teman-teman semuanya. Semoga di tahun 2017 ini membawa banyak harapan baru dan kita diberikan kekuatan oleh Allah SWT mewujudkan harapan tersebut menjadi kenyataan demi untuk kemaslahatan kita bersama, keluarga besar RNI maupun lingkungan kita dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Harapan yang menjadi kenyataan itu juga terwujud di tahun 2016 dan merupakan kado yang istimewa bagi RNI. Menjelang tutup tahun 2016, benar-benar persis di hari terakhir bulan Desember, hanya beberapa jam sebelum pergantian tahun, Presiden RI menanda tangani Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor : 98 Tahun 2016 tanggal 31 Desember 2016, Tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara pada PT RNI. Di PP 98/2016 itu ditetapkan bahwa negara melakukan penambahan penyertaan modal sebesar Rp.675 Miliar kepada PT RNI melalui konversi hutang pokok RDI.. Kado ini menambah deretan terwujudnya rencana-rencana strategis PT RNI yang sudah sekian periode jabatan Direksi tidak terealisasi setelah terselesaikannya piutang tak tertagih dari permasalahan penempatan dana PT RNI di salah satu lembaga sekuritas dan optimalisasi aset RNI di MT Haryono. Alhamdulillah meskipun masih ada 2 permasalahan warisan yang masih harus diselesaikan oleh Direksi RNI saat ini. Langkah PT RNI sudah agak ringan apalagi permasalahan warisan tersebut dapat diselesaikan tahun ini maka saya yakin PT RNI akan segera melesat kinerjanya.Persetujuan penambahan PMN ini benar-benar merupakan starting point dari sebuah era baru bagi PT RNI memasuki tahapan yang penuh harapan untuk maju sekaligus ending dari perjalanan panjang yang sangat melegakan di akhir tahun 2016. Perjuangan untuk merestrukturisasi hutang RDI bagi RNI adalah sebuah perjalanan yang sangat-sangat panjang melewati berbagai pasang-surut, lika-liku, jatuh-bangun, sport jantung, suka duka di berbagai era Kepemerintahan Indonesia.

Apa itu RDI (Rekening Dana Investasi)? Dalam pengertian awam, RDI adalah dana investasi yang disediakan Pemerintah dalam rangka pembiayaan kegiatan-kegiatan pembangunan. Sebagai kepanjangan tangan Pemerintah, dibentuk unit-unit usaha Pemerintah yang selanjutnya menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Oleh karena itu kemudian banyak BUMN yang menerima pinjaman dari RDI ini karena pembangunan disamping sarana fisik juga bisa diartikan luas.

RNI sendiri di masa lalu dalam rangka menunjang kegiatan pembangunan Pemerintah secara luas menerima cukup banyak pinjaman RDI, antara lain pada waktu RNI mendapatkan penugasan untuk menyehatkan PTP XIV yang sekarang menjadi PT PG Rajawali II (RDI-213 dan RDI-218). Ketika RNI melakukan pembangunan MBAU di Cilangkap dan mendapatkan tanah di eks MBAU Pancoran melalui ruilslag, RNI juga mendapatkan bantuan Pemerintah melalui pinjaman RDI (RDI-265 dan RDI-302).Di masa krismon 1998, ketika RNI membantu Pemerintah di bidang kesehataan, RNI juga mendapatkan pinjaman dari RDI, yaitu RDI-330 yang dikenal dengan RDI BBO (Bahan Baku Obat).RDI yang dianggap masih lancar adalah yang digunakan untuk menyehatkan PT Nagamanis Plantation (RDI 324) yang tidak disetujui untuk direstrukturisasi.Disamping itu juga masih ada RDI yang kecil dan bisa segera dilunasi, misalnya RDI untuk pengadaan obat Inpres di Phapros dan RDI untuk rehabilitasi pabrik PT Mitra Rajawali Banjaran.Ketika rencana bisnis tidak dapat berjalan sesuai yang diharapkan, maka mulailah RDI menjadi beban yang cukup berat bagi RNI.

Di setiap era Direksi baru, pejabatnya harus bersiap “berselimut RDI” di dalam tidurnya. Hubungan RNI dengan RDI ini menjadi seperti benci tapi rindu yang di tahun 2016 akhir, lagunya berubah menjadi “Kau yang memulai, Aku yang mengakhiri”.Mengapa penambahan PMN diperlukan BUMN Karena BUMN sebagai tangan kedua dalam mencapai tujuan pembangunan nasional maka Penambahan Penyertaan Modal Negara ini diperlukan agar BUMN bisa meleverage kemampuan keuangannya menjadi 2 – 3 kali lipat dari dana PMN yang diterimanya dan ini bisa digunakan untuk membangun infrastuktur jauh lebih banyak dibandingkan kalau langsung menggunakan APBN. Untuk BUMN Yang menerima PMN Non Cash (biasanya BUMN Dhuafa) maka struktur keuangannya akan menjadi jauh lebih baik lagi sehingga bisa leluasa menjalankan bisnisnya tanpa membebani negara terus menerus. berbentuk tunai.

Sebagaimana kita ketahui bahwa RNI juga telah melakukan DEC (Debt to Equity Conversion) terhadap piutangnya di anak-anak perusahaannya seperti di PT Rajawali II, PT Mitra Kerinci, PT Rajawali. Citra Mass, PT Mitra Rajawali Banjaran,PT Rajawali Nusindo dan PT Rajawali Tanjung Sari Enggineering. Barangkali ini berkah dari Allah SWT karena PT RNI sudah menambah modalnya di anak-anak perusahaan agar struktur permodalan anak-anak perusahaan tersebut menjadi jauh lebih kuat. maka negara sebagai pemegang saham PT RNI membalas dengan mengabulkan usulan penambahan PMN ini .

Grafik kebijakan mengenai PMN juga naik turun sesuai dengan arah politik perekonomian Pemerintah. Di suatu masa pernah dicanangkan bahwa Pemerintah akan stop tidak akan pernah lagi memberikan PMN untuk BUMN. Kita pernah mendengar waktu itu bahwa PMN diberikan kepada BUMN yang strategis tapi dalam kondisi kritis, contohnya adalah PMN kepada PT Merpati Nusantara Airlines dan kepada PT Dirgantara Indonesia (DI) dan masih banyak lagi.

 

Namun demikian, arah kebjakan ini kemudian berubah yang tercermin dalam APBN 2015. Pemerintah mulai menempatkan BUMN sebagai tangan kedua untuk mencapai tujuan pembangunan nasional sehingga membuka lagi kemungkinan penambahan PMN dibeberapa BUMN, termasuk RNI. Itulah dimulainya perjuangan untuk memperoleh PMN konversi hutang RDI.

Dalam APBN-P 2015 jumlah PMN merupakan yang terbanyak jika dibandingkan tahun sebelumnya. Pemberian PMN dalam jumlah besar ini menunjukkan komitmen Pemerintah dalam melakukan efisiensi anggaran sekaligus meningkatkan belanja produksi. BUMN diharapkan mampu meningkatkan perannya sebagai agent of development yang berperan aktif dalam mendukung program prioritas nasional.

 

Kebijakan ini kemudian berlanjut di tahun anggaran 2016. Alokasi PMN kepada BUMN digunakan untuk investasi sekaligus memperkuat permodalan agar BUMN mampu mendukung program prioritas nasional (Nawacita). Program prioritas nasional yang didukung oleh BUMN antara lain mendukung kedaulatan pangan, pembangunan infrastruktur dan konektivitas, pembangunan maritim, industri pertahanan dan keamanan, serta kemandirian ekonomi nasional. Ada 23 BUMN yang diusulkan untuk mendapatkan PMN pada tahun anggaran 2016, termasuk PT RNI salah satunya. Bagi RNI, proses ini bukan saja panjang tetapi juga sangat berliku. Seperti orang berjalan, meskipun kalau ditarik garis lurus jaraknya pendek, tetapi jalannya berkelak-kelok, banyak lampu merah, apalagi lalu lintasnya macet, alhasil nggak bisa cepet sampai di tujuan. Sebagaimana pernah saya tulis di CEO Notes sebelumnya, optimisme akan berhasilnya PMN ini sudah menggumpal di dada ketika palang pintu penyaring yang paling ketat yaitu Komisi VI dan Badan Anggaran DPR sudah bisa lewati. Proses sebelum sampai ke DPR ini juga sangat amat panjang karena harus melalui Kementerian BUMN, Keuangan dan Bapenas. Persyaratan yang harus dilengkapi juga cukup banyak. Kajian konsultan, pembuatan RPKP (Rencana Perbaikan Kinerja Perusahaan) dan semua dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Masalahnya tidak selesai di penyusunan saja tetapi juga harus bolak-bolak dikonsultasikan sebelum menghasilkan kelengkapan final yang bisa diterima dan memenuhi syarat.Pukulan terberat adalah ketika secara keseluruhan DPR tidak menyetujui PMN kepada BUMN dalam RABN TA 2016. Tentu saja ini masalah nasional dan ini merupakan keputusan politik yang berdampak bukan hanya kepada RNI saja. Kesempatan untuk memperoleh PMN harus menunggu APBN-P (Perubahan) 2016.

Walaupun demikian, tim RDI RNI dibawah komando Pak Adit – Direktur Keuangan PT RNI terus bekerja, baik berkonsultasi dengan pemegang saham, Kementerian Keuangan maupun dengan terus melengkapi dokumen yang diminta.Harapan muncul kembali ketika DPR menyetujui pemberian PMN kepada BUMN dalam RAPBN-P 2016. Angin politik segar kembali berhembus untuk BUMN. Kerja keras harus dimulai lagi. RPKP harus diperbaiki dan diperlengkap lagi. Tim Pak Adit harus melotot lagi melihat angka-angka di belakang komputer. Adrenalin sudah mulai makin naik ketika semua bahan yang disiapkan mulai dibahas dalam Rapat Pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara pada PT RNI dan juga membahas draft Kajian Bersama Penambahan Penyertaan Modal Negara pada PT RNI antara Kementerian Hukum & HAM, Kementerian Keuangan, PT RNI, Kementerian BUMN, Kementerian Sekretariat Negara dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Rapat dilaksanakan di Gedung Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum & HAM. Sudah semakin serius, karena berarti semua pihak mendukung terbitnya PP untuk RNI dan sudah langsung melibatkan diri dalam penyusunan RPP.Puncak semakin dekat ketika terbit surat persetujuan Menteri Keuangan Nomor : S-1169/MK.05/2016 tanggal 29 Desember 2016, yang intinya memberikan persetujuan penyelesaian piutang Negara pada PT RNI. Artinya, RNI sudah lulus ujian skripsi, tapi belum sah kalau belum ada ijasah.Tanggal 31 Desember 2016, Pak Jokowi – Presiden kita menandatangani PP. Sah.

Pada kesempatan ini saya apresiasi dan terimakasih kepada Tim RDI PT RNI dibawah komando Pak Adit, atas kerja keras yang sudah dilakukan. Kepada Pak Najib, Bu Emi, Pak Warsim, Pak Benny, Pak Halimi, Pak Romi, jakaran Sekertaris Korporasi dan semua Karyawan PT RNI yang sudah bekerja keras dan tidak bisa saya sebutkan satu persatu termasuk Pak Rahmat Hidayat, terimakasih kepada anda semua.

Jangan lupa, PMN ini juga merupakan tantangan besar bagi kita karena kita dituntut berkinerja lebih baik lagi sebagaimana sudah kita janjikan dalam RPKP.Mari kita rapatkan barisan, bergandeng tangan, bahu membahu, bekerjasama secara total untuk mencapai sasaran yang sudah ditetapkan.Semoga Allah SWT membimbing dan meridhoi upaya kita.

Amiin.Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta, 11 Januari 2017.

Didik Prasetyo