CEO Notes  # 55 RUPS Phapros  2017:  Moving Forward To Infinity War….

Assalamualaikum wr.wb,

Ibarat pengelana padang pasir, setelah mengalami perjalanan panjang yang penuh dengan liku-liku dalam safarinya yang kadang dihadang badai atau perompak gurun kejam, sekarang saatnya berlabuh di oase dan menghitung semua hasil keuntungan dagang, membagi dengan para sekutunya dan kembali menata kafilahnya agar perjalanan berikutnya lebih lancar dan aman. Demikian pula PT Phapros Tbk, salah satu anak perusahaan RNI yang sudah berstatus public company disamping PT GIEB, pada tanggal 26 April 2018 menyelenggarakan RUPS Tahunannya di Semarang.

31400958_1896924943663112_3972366701936244587_n.jpg

Meskipun tidak pakai perayaan belly dance atau tari perut, tapi nuansa RUPS kali ini penuh dengan kegembiraan. Bayangkan saja, dividen yang dibagi adalah 70% dari laba bersih perusahaan, meningkat 20% dibandingkan tahun yang lalu atau secara nominal dividen yang dibagikan sebesar adalah Rp. 87,7 miliar . Bagi anda yang punya saham Phapros, EPS (earning per share) yang menggambarkan keuntungan per lembar saham juga naik dari Rp. 500 menjadi Rp. 750. Bagi yang tidak punya, silakan menelan ludah saja.…

Diawali dengan paduan suara PT Phapros yang mengalunkan lagu “Jaran Goyang” dengan lemah lembut sehingga tidak sampai “mengguncang” para pemegang saham yang hadir, RUPS dihadiri oleh 80,51% suara sah. Sangat sah termasuk untuk kuorum RUPS LB yang memang dipersyaratkan untuk mengambil beberapa keputusan strategis kali ini, antara lain adalah agenda menambah modal dasar perseroan melalui HMETD (Hak untuk Memesan Efek Terlebih Dahulu) sebagai ancang-ancang untuk IPO yang rencananya akan dilaksanakan tahun depan.

Saya sebagai wakil PT RNI yang memiliki 95 juta lebih lembar saham atau 56,77% dari total saham 168 juta lembar alias sebagai pemegang saham pengendali merasa sangat pantas untuk mengusulkan kepada RUPS agar membagi kegembiraan kepada seluruh  pemegang saham dengan membagi dividen 70% tersebut. Betapa tidak. Angka-angka kinerja perseroan yang disampaikan oleh Direktur Utama PT Phapros Ibu Barokah Sri Utami – pemenang award Best CEO RNI Group – yang juga sudah sangat valid karena sudah audited menunjukkan kinerja luar biasa. Laba perseroan meningkat 44% dari Rp. 87 Milyar tahun lalu ke Rp. 125 Miliar. Sementara omsetnya juga tumbuh 23% atau naik dari Rp. 816 Miliar menjadi Rp. 1 Triliun lebih. Pertumbuhan kinerja Phapros ini jauh di atas rata-rata pertumbuhan industri farmasi nasional yang justru minus 2%.

30073643_1896924973663109_5002846378564541641_o.jpg

Walaupun sudah menunjukkan kinerja yang luar biasa, Direksi Phapros juga tidak bisa enak-enakan karena para pemegang sahamnya juga selalu kritis, terutama pemegang saham yang merupakan para  mantan pejabat di Phapros, khususnya di bidang keuangan. Piutang kepada distributor adalah salah satu yang selalu disoroti agar selalu bisa ditekan seminimal mungkin. Padahal jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya sudah jauh lebih baik karena saya sebagai Komisaris Utama sekaligus pemegang saham di Rajawali Nusindo yang menjadi distributor tunggal PT Phapros sudah mendorong mereka agar mengambil pendanaan melalui skema distributor financing dalam upaya memenuhi kewajibannya kepada Phapros. Maklum saja, para pemegang ini tentunya ingin agar perseroan mendapatkan laba dan membagi dividen sebesar-besarnya.

Sebagai pemegang saham pengendali, saya justru lebih berkepentingan agar PT Phapros ini tumbuh semakin besar ke depan. Kalau dibandingkan dengan perusahaan farmasi milik BUMN lainnya, Phapros memang memiliki keunggulan Net Profit Margin terbaik sebesar 12,2 % tetapi dari segi sales, masih dibawah Indo Farma, apalagi Kimia Farma penjualannya mencapai lebih dari Rp. 6 Triliun. Oleh karenanya, melalui RUPS ini saya masukkan beberapa agenda strategis agar perseroan semakin berlari kencang ke depan yang pengambilan keputusannya melalui RUPS LB.

Pertama adalah perluasan bidang usaha. Semula perseroan bergerak di bidang usaha yang terkait dengan obat-obatan dan alat kesehatan, sekarang akan ditambahkan dengan kosmetika dan makanan dan atau minuman. Rupanya walaupun selama ini untuk kedua bidang usaha tersebut meskipun sepintas barangnya sama, yaitu sama-sama benda yang diminum atau dioles, tetapi karena peruntukkannya berbeda diperlukan ijin tersendiri untuk pengusahaannya. Kelak, jika anak perusahaan RNI Group ingin mengembangkan industrinya ke arah bidang tersebut baik berbasis teh atau tebu atau sawit, akan semakin terbuka untuk bersinergi dengan Phapros.

31357579_10156709086653287_8127442033846517760_n.jpg

Dengan rencana pengembangan bisnis ke depan, perseroan memanfaatkan peluang right issue untuk menambah modal perseroan yang ditawarkan terlebih dulu kepada para pemegang saham sebelum ditawarkan kepada publik. Melalui mekanisme ini, perseroan akan medapatkan dana murah karena tidak ada kewajiban untuk membayar bunga dan pokok. Indikasi saham yang akan dilepas adalah 207 juta lembar dengan perolehan dana sekitar Rp. 500 milyar. Disamping untuk pengembangan bisnis, dana tersebut juga digunakan peningkatan fasilitas produksi existing, untuk modal kerja dan pelunasan pinjaman.

Yang terakhir dalam agenda RUPS LB ini adalah line up team yang akan terjun ke medan “pertempuran” tahun 2018. Walaupun 2 Direksi sudah habis masa jabatannya di tahun ini, tetapi dengan memperhatikan pencapaian kinerja yang luar biasa dan kekompakan dalam kerja sama tim, saya mengusulkan untuk mengangkat lagi keduanya dalam jabatannya sebagai anggota Direksi untuk masa jabatan 5 tahun ke depan. Dont change the winning team, kata para pakar manajemen. Dengan melihat kinerja Direksi selama 5 tahun terakhir, usulan saya secara aklamasi di terima oleh RUPS sehingga saya tidak perlu melakukan bongkar pasang tim untuk membawa Phapros melanjutkan perjalanannya ke depan.

Untuk memperkuat pengawasan, saya mengusulkan penambahan satu orang Komisaris Independen sehingga jumlah Komisaris mejadi 4 orang dimana 2 orang diantaranya adalah Komisaris Independen (50% dari jumlah Komisaris yang ada). Atas usulan tersebut semua pemegang saham juga menyetujui dengan aklamasi.

Dengan terpilihnya tim baru Phapros ini, 4 Direksi dan 4 Komisaris, saya berharap Phapros benar-benar Moving Forward To The Next Level.

Bukan hanya keberhasilan dalam menambah pundi-pundinya, Phapros juga menunjukkan tanggungjawab sosial lingkungannya yang tinggi dengan meraih predikat PROPER HIJAU.  Artinya dalam menjalankan praktek bisnisnya, perseroan juga sangat memperhatikan prinsip ekonomi hijau yang mencakup efisiensi dalam penggunaan energi, konservasi air, perlindungan keanekaragaman hayati dan penurunan emisi. Capaian Phapros dalam menghijaukan lingkungannya juga sudah mendapat tempat di masyarakat kota Semarang. Hutan mangrove yang dibangun melalui program Bina Lingkungannya sekarang sudah menjadi icon baru bagi kota Semarang. Sebuah Mangrove Park sudah muncul sebagai sebuah edutainment, termasuk untuk muda-mudi yang haus ilmu dan haus hiburan..

Konservasi energi bukan hanya masalah Phapros, unit-unit manufacturing RNI yang lain juga saya tekankan untuk terus berlomba mencari inovasi dalam penghematan energi ini. Pabrik gula, pabrik sawit, pabrik teh sampai kulit dan plastik semuanya adalah pelahap energi yang cukup berat. Pabrik gula sekelas Krebet Baru menghabiskan lebih dari Rp.5 Milyar untuk bayar PLN, sementara Jatitujuh lebih dari Rp. 2 Milyar. Belum termasuk nilai ampas yang kalau dikonversi dalam rupiah bisa mencapai Rp. 100 Milyar! Demikian juga dengan air. Apalagi unit manufacturing yang membutuhkan air bersih seperti farmasi dan air pengisi boiler di PG, biaya water treatment plant juga bisa miliar.

DSC_0594.JPG

Khusus Phapros, langkah maju dalam upaya mengurangi emisi juga sudah dilakukan dengan memasang green chiller. Dalam kesempatan lain akan saya ceritakan mengenai chiller non-CFC ini yang dikenal ramah lingkungan karena tidak merusak lapisan OZON.

Ternyata, tantangan demi tantangan akan selalu menghadang kita di depan. Efektif dengan mencapai target saja tidak cukup, kita harus paling efisien. Tapi efisien saja juga tidak cukup, kita harus secure atau aman.

Dengan demikian seperti digambarkan The Avenger, Next Level kita berikutnya mungkin adalah Infinity War……

So, be prepare for the next level, otherwise game will be over shortly..

May God bless RNI and all of us.

 

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta, 7 Mei 2018.

Didik Prasetyo

Iklan

CEO Notes # 54 RNI Award 2018: Perhelatan Akbar selera Piala Oscar

Assalamualaikum wr.wb,

Tanggal 5-6 April 2018 yang lalu baru saja diselenggarakan RNI Award 2018, kalau tidak salah yang kesebelas kalinya. Selama 3 tahun masa pengabdian saya, ini adalah kali yang kedua. Pertama adalah tahun 2016 di Semarang. Time flashing, begitu cepat waktu berlalu.

DSC_0681

Acaranya kali ini cukup banyak, padat dan heboh….bak malam anugerah piala Oscar. Dari segi tempat saja, ada 3 venues yang harus disamperi para peserta yang satu sama lain terpisah cukup jauh sehingga panitia harus meyediakan bus sebagai alat transfer peserta. Belum lagi dari sisi rangkaian acaranya yang sudah harus dimulai tanggal 3 April dengan penjurian para peserta Lomba Inovasi. Itupun sudah diseleksi dari 80 menjadi 20 peserta yang masuk ke penjurian akhir.

Saya memang menggabungkan acara awarding ini dengan festival inovasi. Awarding bertujuan untuk memberikan apresiasi kepada mereka yang berprestasi, baik individu maupun perusahaan, mulai tingkat mandor, supervisor sampai CEO! Untuk perusahaan diberikan mulai dari unit usaha, perusahaan dengan kinerja operasional terbaik, kinerja keuangan terbaik dan tentu saja the best overall akan menjadi the best subsidiary company. Kali ini juga saya setuju untuk memilih The Best CEO sebagai the man behind the gun yang sebenarnya menjadi pemegang kendali perusahaan terbaik itu. Mengingat yang terpilih sebagai The Best CEO di Anak Perusahaan RNI Group adalah Dirut PT Phapros Tbk, Ibu Barokah Sri Utami, jadi tepatnya beliau adalah the lady behind all performance

Inovasi sama pentingnya dengan menghasilkan kinerja terbaik untuk saat sekarang. Jika kinerja adalah untuk makan dan tumbuh saat ini, inovasi adalah untuk kepentingan masa depan. Sustainability.

DSC_0808

Saya dikritisi oleh Dr. Yanuar Nugroho Deputy II Kepala Staf Kepresidenan yang hadir di acara Gala Dinner, bahwa motto saya change or die masih bisa dijembatani dengan motto yang lebih optimistis Innovate or Die………

Anak perusahaan yang dinilai unggul dalam menerapkan bahkan membudayakan inovasi juga saya tempatkan pemberian apresiasinya di puncak acara yaitu malam Gala Dinner bersama dengan pemenang utama. Para inovator juga diberi kesempatan memaparkan hasil karyanya dalam eksibisi di lokasi penjurian sehingga semua yang hadir bisa ikut melihat dan mungkin menirunya untuk bisa di-copy atau duplikasi agar bisa diterapkan ditempatnya.

Jadilah rangkaian festival inovasi menjadi ajang yang paling menyita waktu panjang sebelum sampai mendapatkan best of the best dari para kandidat yang diajukan.

Setelah melihat eksibisi inovasi yang digelar di Spring Club Royal Ballroom, peserta kemudian mengikuti Executive Sharing session dengan Moderator Tina Talissa, dulu anchor acara Talk Show yang sangat terkenal di salah satu TV berita.

Sengaja saya adakan acara ini sebagai media untuk pencerahan bagi kawan-kawan di RNI terutama para generasi muda dan para pimpinan perusahaan. Saya hadirkan dua pembicara yang merupakan CEO BUMN yang berhasil membuat transformasi besar bagi perusahaannya. Salah satunya yaitu Pak Suyoto dari Djakarta Lloyd. Perusahaan pelayaran ini mengalami up-down yang sangat dramatis. Berawal dari perusahaan besar dengan ratusan kapal dan ribuan karyawan kemudian terpuruk dengan hanya tinggal memiliki 1 kapal dan 20 orang karyawan. Melalui sinergi BUMN dan memanfaatkan teknologi IT, secara perlahan Djakarta Lloyd bangkit kembali dan mulai mampu mengadakan kapal-kapal baru lagi seiring dengan meningkatnya bisnis logistik laut yang berkembang pesat. Jadi, berbeda dengan band asuhannya D’Lloyd, ternyata Djakarta Lloyd tidak hanya meratap 🎼 Apa Salah dan Dosaku 🎼 saja, tetapi langsung berusaha untuk bangkit memanfaatkan segala peluang yang ada. Salah satu nasihatnya yang sangat berkesan : Jangan merasa besar………

Pembicara kedua adalah Pak Tumiyana Dirut PT PP. Dari beliau ternyata ilmunya bukan sekedar masalah membangun bisnis properti saja tetapi juga ilmu membangun tim champion yang kuat, yaitu tenaga-tenaga muda yang punya cara berpikir out of the box yang banyak menghasilkan terobosan-terobosan dan inovasi baru bagi kemajuan perusahaan.

Setelah laporan keuangan selesai diaudit, hasilnya meyakinkan saya bahwa keluarga besar RNI “deserve” atas kemeriahan dan rasa syukur ini. Betapa tidak, laba setelah pajak tahun 2017 ditutup pada angka Rp. 353 Miliar meningkat cukup tajam dari tahun 2016 sebesar Rp. 247 Miliar. Di tengah gonjang-ganjing bisnis agro industri yang turbulensinya membuat semua pelaku harus mengencangkan ikat pinggang, alhamdulilah pilar farmasi & alkes dan trading & distribusi bisa tetap melesatkan RNI terbang ke awan sehingga overall pertumbuhan tetap terjaga.

Bukan hanya itu, tugas perusahaan BUMN sebagai agent of development juga dapat dilakukan dengan baik. Hal ini sudah saya ceritakan di Ceo Notes sebelumnya seperti berbagai kegitan BUMN Hadir Untuk Negeri, Tol Laut dan juga pembinaan petani melalui program kemitraan.

Dengan bekal itu semua, saya ingin mengajak RNI terbang lebih tinggi lagi melintasi batas negara sebagaimana saya canangkan dalam tema besar RNI Award kali ini, yaitu GO GLOBAL – “Wings to the world through innovation…”

DSC_0614

Visi untuk menjadikan RNI GO GLOBAL sebenarnya sudah mulai saya lempar diberbagai kesempatan, termasuk dalam Ceo Notes yang lalu. Berbagai langkah mengarah kesana juga sudah dijalankan dan sudah saya ceritakan seperti kunjungan-kunjungan Direksi ke Korea Selatan, Myanmar dan akhir-akhir ini ke Jepang. PT Phapros Tbk dan PT PG Rajawali I sudah berada dalam antrian di Kementerian BUMN untuk di-IPO-kan dan dikawal langsung oleh Tim Khusus di sana yang bertugas mencapai target yang ditetapkan dalam IPO tersebut.

Bukan hanya dari sisi bisnisnya, secara tata kelola, RNI juga semakin meningkat kualitasnya. Hal ini bisa dilihat dari score asesmen GCG nya yang meningkat dari GOOD menjadi VERY GOOD di tahun ini, bahkan penilaian hasil KPKU RNI meningkat dari Early Improvement menjadi Good Performance. Hal ini menambah keyakinan saya bahwa kita sudah siap untuk menjadi semakin transparan, akuntabel dan independen.

Dan bagi saya, inilah momen yang tepat untuk mencanangkan secara luas kepada seluruh jajaran RNI Group , bahwa seperti inilah nanti RNI akan saya bawa ke depan. Ini forum yang tepat karena disitu hadir seluruh Direksi anak-anak perusahaan, semua staf yang memgang jabatan strategis sampai dua level di bawah Direksi dan staf muda yang peduli dengan masa depan dengan terus berinovasi secara kreatif. Kepada rekan-rekan semua telah digelar red carpet oleh PT Rajawali Nusindo sebagai Host acara ini.

Mudah-mudahan sambil menikmati musik di mobil, kantor atau di kamar kost, esensi ajakan saya untuk terbang tinggi tidak terlupakan, seperti bait refrein mars Rajawali :

…..Rajawali Nusantara Indonesia,bergerak maju melayang menyibak awan, gagah berani berjuang menepas badai, Rajawali Nusantara Indonesia…………….

Semoga Allah SWT selalu membimbing dan meridhoi langkah kita dalam mengabdi kepada negara dan bangsa ini. Amiin.

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta, 11 April 2018.

Didik Prasetyo

CEO Notes # 53 Tantangan 2018 : Persiapan Menuju GO GLOBAL

Assalamualaikum wr.wb,

 
Ritual yang harus dijalani setiap awal tahun bagi suatu korporasi adalah RUPS RKAP. Di forum ini semua rencana yang akan dijalankan setahun ke depan dipaparkan di depan pemegang saham, baik rencana kerja, rencana anggaran maupun investasi (OPEX dan CAPEX) serta strategi pencapaiannya. Bagi saya, di tahun 2018 ini adalah the most excited RKAP yang harus saya jalankan. Banyak rencana dan target yang ingin kami capai, bukan hanya di angka-angka tetapi juga di rencana-rencana aksi korporasi yang akan membawa RNI mengalami metamorfosa dengan harapan menjadi jauh lebih baik dari yang sekarang. Saya merasa seperti Zizou menghadapi La Liga atau Piala Champion. Excited, challenging tapi masih achieveable. Melalui CEO Notes ini sekaligus saya beri kesempatan kepada anda para pembaca yang pasti merupakan stakeholder saya untuk mengintip serba sedikit isi perut kami untuk tahun 2018 ini. Mudah-mudah disini bisa berlaku falsafah rok mini, semakin minim, justru semakin banyak yang penasaran.

 
Betapa tidak. Di tahun 2018 ini target omzet RNI mencapai Rp 6,7 T naik Rp 1,6 T dari tahun 2017, asset juga meningkat menjadi Rp 20,4 T naik sangat signifikan dibandingkan tahun 2017 dan investasi melonjak menjadi Rp 4,5 T. Yang paling menarik lagi ditahun 2018 ini nanti adalah rencana listing di Bursa untuk PT Phapros Tbk. Selama ini status Tbk. nya PT Phapros masih malu-malu karena non-listed. Oleh karena itu tahun ini pula saya minta Direksi PT Phapros menyiapkan diri untuk memasuki dunia pasar modal dalam arti sesungguhnya. Mudah-mudahan tahun ini merupakan tahun yang tepat bagi Phapros untuk masuk bursa.

 
Setelah kunjungan perkenalan yang difasilitasi Pak Ito Sumardi Dubes Myanmar sebagaimana pernah saya tulis dalam CEO Notes # 50, tahap berikutnya Bu Emmy Barokah (Dirut PT Phapros Tbk), mesti menyiapkan diri menjadi atlit lari yang handal dan kuat karena harus lari marathon, start di Simongan – Semarang dan finish di Yangoon – Myanmar. Bersama dengan pak Lukman – Direktur Health Care PT Rajawali Nusindo, Bu Dirut ini balik lagi ke Myanmar ketemu Mr.Khin Maung Cho -Minister of Industry difasilitasi Pak Dubes RI lagi yang disambung dengan pertemuan-pertemuan berikutnya dengan para pejabat maupun kalangan industri. Myanmar sudah terbuka dengan investor luar melalui mekanisme PBP (Public Business Partnership) dan saat ini sudah ada perusahaan farmasi asing yang berinvestasi disana, Inggris dan India. Kalau Phapros bisa segera masuk, Indonesia bisa menjadi nomer tiga.

 

Pengadaan essential drug masih dengan tender terbuka internasional, bisa masuk dari negara mana saja sehingga dengan mekanisme ini kita bisa kalah bersaing dengan India dan Pakistan yang jaraknya dekat dan bahan bakunya mudah. Jadi, saya minta kepada PT Phapros untuk melihat secara jeli rencana pembangunan pabrik obat di sana serta menjajagi kemungkinan join venture dengan partner lokal yang sudah pengalaman dengan bisnis farmasi. Jeli karena untuk farmasi pasti lebih rumit persyaratannya. Masalah air, masalah limbah, masalah perijinan, sertifikasi, and so on, and so o
Berarti tantangan Phapros tahun ini, go public, go listed sekaligus go global.

 
PT Rajawali Nusindo, anak perusahaan RNI yang bergerak dibidang distribusi dan trading tahun 2017 lalu kehilangan mitranya yang cukup penting yakni Philips dan Mustika Ratu sehingga potensi omzetnya berkurang hampir mencapai setengah trilyun lebih. Namun dengan usaha yang all out dari semua lini, kehilangan itu bisa digantikan oleh principal-principal lainnya sehingga pada tahun yang sama omzetnya justru meningkat dari Rp 2,8 T menjadi Rp 3,5 T. Potensi untuk mendapatkan prinsipal baru dari luar negeri juga harus terus digali, termasuk bekerjasama mendistribusikan produk di luar negeri. Artinya, go global juga….Oleh karena itu saya senang-senang saja ketika Pak Yono – Dirut PT Rajawali Nusindo meminta persetujuan untuk mengadakan employee gathering dengan mengundang seluruh karyawan di seluruh cabang se Indonesia dari Aceh sampai Papua. Sepertinya ini never happened in the history of RNI Group mengumpulkan karyawan sampai 2000 orang sekaligus, sampai-sampai susah cari venue sehingga harus menggunakan lokasi JI Expo PRJ Kemayoran. Dengan jumlah peserta yang begitu menghebohkan tentu saja harus diimbangi dengan acara yang sepadan, apalagi para prinsipal besarnya juga diundang, mulai dress code sampai entertainment berkelas extravaganza….dengan mengundang artis ibu kota Once, Sazkia Gothik dan Kotak Band…..yang pasti heboh.

 
Ngga mau kalah dengan saudaranya, PT Phapros yang mencatat banyak achievement tahun 2017 lalu, diantaranya omzet sudah berhasil menembus batas psikologis di atas Rp. 1 T dengan laba sejak berdirinya tahun 1954 juga menampilkan extravaganza yang sama. Pada event tahunan National Meeting yang bertajuk : Tough & Strong Through The New Horizon dimana semua jajaran operasionalnya dari seluruh tanah air berkumpul, disamping dipompa dengan semangat tinggi oleh Komut Pak Yana Aditya agar mencapai outstanding performance dengan laba (Insya Allah – Amiin) Rp.200 Milyar di 2019, juga akan dihibur oleh artis beken yang lagunya lagi nge-hit sekarang dan menjadi trending topic “Bojo Galak” : Via Vallen….

 
PT Mitra Rajawali Banjaran baru saja menjajal mesin barunya untuk produksi Autodestruct syringe berkapasitas 46 juta pieces per tahun sinergi dengan saudaranya yakni PT Rajawali Nusindo dan sebentar lagi disusul pabrik implant tulang bersama saudaranya yang lain PT Phapros. Investasi mesin autodestruct syringe tersebut untuk memenuhi Kebutuhan program imunisasi yang sangat besar dan saat ini baru diperuntukkan bagi keperluan Dinas Kesehatan Kabupaten, Kota dan Kemenkes Pusat dan program KB di BKKBN. Ketika saya ikut delegasi Kementerian BUMN lanjut dengan keperluan PT RNI ke Korea Selatan, saya diperkenalkan dengan produk autodestruct syringe yang bermutu tinggi dan berminat untuk bekerjasama dengan RNI Group memperbesar kapasitas MRB untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan ekspor. Suatu tawaran yang perlu disambut baik karena mereka juga sudah punya pengalaman, sehingga kita bisa memanfaatkannya baik dari segi produksi maupun pemasaran terutama di luar negeri. Saya berharap partnership ini sudah dapat terealisir di tahun 2018.

 
Sementara untuk industri gula yang menjadi core competence di RNI, sedang saya persiapkan untuk hijrah ke luar Jawa secara bertahap. Di mata saya, Jawa sudah sulit dikembangkan untuk gula kecuali yang berbasis tebu rakyat dengan budaya menanam tebu yang kuat seperti Malang Selatan, Kediri atau Pati. Itupun PG harus melengkapi dengan industri hilir dengan mencari produk selain gula yang mempunyai nilai tambah yang tinggi. Kalau memang kita belum punya ilmunya, maka ibarat menuntut ilmu ke negeri Cina-pun, perlu kita lakukan. Tetangga kita Thailand sudah memasuki generasi ketiga dalam industri ini, mereka sudah fokus pada produksi hilirnya seperti bioplastik dan gula hanya side product saja, sementara kita masih saja beradu urat dan bersitegang bagaimana meningkatkan rendemen gula, produktivitas gula maupun menurunkan HPP dari Gula dan Tetes saja. Kalau semua PG di Indonesia memfokuskan diri pada industri hilir tebu bukan hanya memproduksi gula semata sebagai produk utamanya, Inshaa Allah persoalan gula nasional akan terselesaikan sendiri tanpa perlu campur tangan Pemerintah. Karena gula hanya hasil ikutan saja, produk utamanya adalah bioethanol, bioplastik, listrik, kolagit, alkohol dan lain-lain yang masih banyak turunan-turunannya.

 
Industri gula andalan RNI yaitu PT Rajawali I saya dorong juga untuk mencari sumber pendanaan non-bank yang lebih murah, baik obligasi, MTN bahkan menjajagi melalui IPO. Dengan bekal rating single A saya rasa akan mudah bagi mereka untuk mencarinya. Dengan dana murah tersebut, apalagi dalam jumlah besar, maka akan lebih leluasa dan harus lebih berani bagi PT PG Rajawali I untuk mengembangkan perusahaannya baik secara organik maupun anorganik.

 
Tapi ingat, untuk bisa meraih piala Champion, Real Madrid juga harus bongkar pasang pemain manakala dianggap ada yang sudah tidak seirama dengan permainan tim.So……Bersiaplah.

 
Wassalamualaikum wr.wb.

 
Surabaya, 31 Januari 2018.

 


Didik Prasetyo

CEO Notes # 52 Masih di awal 2018 : Layar Terkembang di Sungai Han Seoul Korea Selatan.

Assalamualaikum wr.wb,

 
Masih ingat tarian Gangnam style?

 
Gerakan dinamis yang diiringi musik yang bernada riang dengan judul Oppa Gangnam Style dan dinyanyikan oleh PSY atau Park Jae Sang itu sempat sangat populer di tahun-tahun 2012 – 2013. Hampir di setiap acara bersama perusahaan, kampung atau bahkan tingkat Kementerian selalu disuguhi tarian itu, seperti dulu pernah terjadi dengan tarian poco-poco yang sering dipolitisir sebagai langkah maju-mundur atau sekarang diganti dengan goyang Maumere. Ternyata setelah saya kemarin harus mondar-mandir dua kali Jakarta – Seoul dalam satu bulan, di tengah suhu terendah dalam musim dingin 30 tahun terakhir yang mencapai -20°C, baru saya tahu bahwa Gangnam mempunyai makna tersendiri. Kota Seoul di belah dua oleh sebuah Sungai besar yaitu sungai Han namanya. Di Selatan Sungai menjadi lambang daerah elite dan gedongan diberi nama Gangnam, sedangkan di utara sungai adalah lambang daerah yang lebih miskin yang bernama Gangbo, meskipun secara kasat mata susah juga untuk membedakannya saat ini. Mungkin seperti Menteng dan Depok. Sekarang sudah sama-sama padat dan ramai dengan pusat perbelanjaan dan pemukiman.

 
Kunjungan saya ke Korea kali kedua ini adalah dalam rangka mengikuti misi resmi dari Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian BUMN yang sedang bersemangat tinggi untuk menerapkan sistem Integrated Logistic System yang sangat sarat dengan penerapan teknologi digital. Sebagaimana sering kita lihat di tayangan TV bahwa Pemerintah sedang sangat getol untuk memperjuangkan agar harga barang-barang, khususnya kebutuhan pokok dan strategis seperti sembako, pupuk, semen dan BBM harus merata di seluruh tanah air mulai Sabang sampai Merauke. Tidak boleh ada lagi disparitas yang terlalu tinggi seperti harga semen yang di Jawa hanya Rp. 60 ribu per zak tapi di Papua bisa menjadi Rp. 2 juta per zak, atau minyak dari Rp. 8.000 menjadi Rp. 50.000 per liter. Saya bangga bahwa RNI sudah ikut terlibat dan berperan dalam program tersebut yaitu melalui PT Rajawali Nusindo dengan kegiatan Tol Lautnya di Natuna dan Sangihe Talaud sebagaimana pernah saya ceritakan dalam CEO Note yang lalu.

 

 

26734461_10215971584948671_869233933268386316_n.jpg

 

Integrated Logistic System baru dapat tercapai secara efektif dan efisien jika dilakukan secara terpadu melibatkan 3 komponen yaitu pengelolaan armada (fleet) angkutan, pergudangan (warehouse) dan teknologi informasi itu sendiri. Ukuran efektif adalah tidak terjadi disparitas harga dan kelangkaan barang, sedangkan efisien artinya biaya logistik atau distribusi bisa ditekan serendah mungkin dan barang dapat sampai ketangan konsumen secepat mungkin.

 
Mengapa BUMN sangat bersemangat dan berkepentingan untuk ikut berperan dalam program ini sampai harus jauh-jauh ke Korea untuk belajar mengenai hal ini? Kita bisa memaklumi karena produk-produk strategis seperti BBM, pupuk dan semen sebagian besar adalah produk BUMN. Demikian juga seperti armada angkutan, terutama kapal laut adalah milik BUMN. Pergudangan juga dimiliki oleh perusahaan BUMN, seperti BGR, Bulog dan gudang berpendingin pasti dimiliki juga oleh PT Perikanan Indonesia. Apalagi perangkat teknologi digital berjaringan luas yang bisa menjangkau seluruh Nusantara juga dikuasai pangsa pasarnya oleh grup BUMN. Telkom dan anak perusahaannya Telkomsel, baik dengan jaringan kabel maupun pulsa. PLN dan anak perusahaannya Icon Plus yang ternyata juga memiliki jaringan fibre optic yang ditumpangkan di jaringan listrik tegangan tinggi yang tentu saja menggurita sampai pelosok-pelosok termasuk yang susah dapat sinyal.

 
Dengan kekuatan sumberdaya BUMN seperti itu tentu sangat disayangkan apabila satu sama lain tidak disinergikan dalam satu sistem yang terintegrasi. Disini yang diperlukan bukan hanya kekuatan untuk berkoordinasi atau kecanggihan teknologi tetapi juga kecepatan berpacu dengan waktu karena pihak lain juga sudah melihat peluang bisnis ini. Pihak lain itu tidak punya barang, tidak punya armada, tidak punya warehouse, tidak punya jaringan komunikasi tapi punya inovasi dalam pemanfaatan teknologi digital. Siapa dia?…… GOJEK!

 
Melalui GOSEND, GOBOX, GOFOOD dan GO GO nya yang lain, perusahaan ini semakin melaju bukan hanya sebagai tukang ojek on line seperti yang kita kenal tapi sudah meraksasa menjadi perusahaan logistik dan distribusi online dan sebentar lagi akan menjadi raksasa keuangan karena melalui GOPAY akan mampu menghimpun dana masyarakat yang akan menggunakan jasanya tersebut. Dan pelayanannya itu dibandrol dengan harga yang jauuuuuh lebih murah sebagaimana pengalaman kita naik Gojek atau Gocar dibanding ojek atau taksi !

 
Tentunya pemegang saham melihat bahwa perusahaan BUMN kita memiliki semua potensi untuk menjadi raksasa di bidang logistik tersebut. Berapa banyak BUMN yang sekarang memiliki armada angkutan tapi dikelola sendiri-sendiri? Kalau semua armada yang dimiliki bisa dikelola bersama sehingga tidak ada armada yang berjalan dalam kondisi kosong tanpa muatan, berapa biaya yang bisa dihemat? Berapa banyak BUMN yang mempunyai gudang dalam keadaan separuh terisi atau bahkan kosong melompong, sementara BUMN yang lain harus menyewa di luar. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, semuanya bisa diintegrasikan. Dan masih banyak hal lagi yang bisa disinergikan sehingga semuanya bisa termanfaatkan dengan tingkat utilisasi yang tinggi.

 

26731047_10215971585228678_8551544428380721951_n.jpg

Sebenarnya dari diskusi dan berbincang-bincang dengan teman-teman dari BUMN yang ikut dalam rombongan ke Korea saya mendapat kesan bahwa rata-rata BUMN yang besar seperti Pertamina, PGN, PLN, Telkom , PT Pos dll . sudah mengarah ke penggunaan digitalisasi. Divisi IT mereka bahkan sudah berdiri menjadi anak perusahaan sendiri seperti Icon Plus di PLN atau PosLog di PT Pos.

 
Dalam skala yang lebih kecil saya juga melihat bahwa PT Rajawali Nusindo juga berpeluang menjadi perusahaan distribusi dan logistik yang besar. Saya yakin dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi digital saat ini, utilitas dari armada dan sarana yang ada pasti akan dapat dioptimalkan sehingga pelayanan pelanggan akan meningkat karena biaya lebih murah dan lebih cepat. Oleh sebab itulah saya ajak Direksi Nusindo untuk ikut dalam delegasi studi banding ke Korea (selatan) ini agar wawasan kelogistikannya bertambah sehingga kelak akan dapat mengembangkan perusahaan lebih optimal.

 
Dari perusahaan logistik Samsung yang bernama Cello, kita dapat mengenal bagaimana kegiatan tingkat dunia end to end service yang dikemas dalam Integrated Global Logistic Service ini dijalankan dengan memanfaatkan teknologi digital. Logistic Service mereka saat ini terpakai 70% adalah untuk melayani produk Samsung sedangkan sisanya untuk non-Samsung. Dari operation room mereka di head office dapat dipantau semua pergerakan armada di seluruh dunia yang mereka layani, baik melalui vessel (kapal laut), truk maupun pesawat. Manakala ada indikasi penyimpangan (irregularities) karena salah route ataupun hijacking atau keterlambatan, sistem akan segara bekerja untuk meminta cabang terdekat mengambil tindakan yang diperlukan. Demikian pula early warning bila ada gangguan, misalnya volcano, gempa bumi ataupun kerusuhan, maka sistem juga akan bekerja mencari alternatif route atau cara lain, sehingga pelayanan kepada pelanggan tidak terganggu.

 
Sesuai peran sebagai Holding, maka menurut saya RNI harus banyak bergerak di bidang pengembangan usaha untuk lebih membesarkan perusahaan baik di tingkat nasional maupun global. Kegiatan operasional sudah saya percayakan kepada Direktur anak-anak perusahaan yang semua saya yakini sangat mumpuni di bidang masing-masing. Saya mengikuti jalannya operasional di anak perusahaan melalui Direktorat Pengendalian Usaha yang sekaligus juga melakukan analisa manjemen resiko atas kegiatan yang akan berdampak secara corporate (group). Pengawasan rutin juga saya percayakan lewat teman-teman Direksi dan Group Head yang saya sebar dan tempatkan sebagai Komisaris di anak-anak perusahaan. Saya harus lebih banyak melihat dan menengok kiri kanan untuk melihat peluang bisnis untuk membesarkan perusahaan, baik di dalam maupun di luar negeri, baik untuk bisnis eksisting maupun bisnis baru.
Properti, sebagaimana pernah saya sampaikan juga termasuk bisnis masa depan bagi RNI Group. Disamping asetnya yang tersebar di segala penjuru yang kebanyakan idle, saya juga melihat bahwa beberapa bisnis RNI sudah tidak akan mungkin dikembangkan dalam jangka panjang di pulau Jawa yang semakin padat. Disamping tekanan demografi, saya lihat alih fungsi lahan juga tidak terhindarkan. Dalam waktu yang bersamaan saya lakukan dua hal. Mencari alternatif lahan di luar Jawa untuk merelokasi bisnis di Jawa dan mencari investor untuk melakukan perubahan pemanfaatan lahan. Suatu langkah yang sangat awal, ibarat anak kecil baru turun ke tanah untuk belajar jalan. Kalau tidak dimulai, maka kita akan terninabobokkan terus dalam gendongan.

 
Oleh karena itu saya juga mengajak Pak Djoko Retnadi sebagai Direktur yang membawahi Manajemen Aset untuk memulai membuka hubungan dengan perusahaan-perusahaan besar yang berkemampuan dalam bidang asset development seperti Lotte, MDM, Hyundai, dll.

 
Dari perusahaan yang terkait dengan bisnis eksisting RNI seperti farmasi, alkes, trading dan alat suntik, saya berkesimpulan bahwa pada umumnya mereka sangat tertarik untuk bekerja sama dengan perusahaan BUMN. Kesimpulan saya yang lain adalah bahwa rata-rata mereka sudah mejadi pemain di tingkat global meskipun perusahaannya baru berdiri di akhir tahun 1990-an. Produk yang dihasilkan kebanyakan diekspor, bahkan mereka sudah bekerja sama dengan partnernya membangun industrinya di negara lain. Saya sangat berharap apabila kita bisa bekerjasama dengan mereka, maka kita juga akan terbawa menjadi perusahaan global atau paling tidak penjadi pemain di tingkat regional Asia.

 
Kalau direnungkan, sebenarnya Kemerdekaan Korea ini hanya berselisih dua hari dengan kemerdekaan kita, yaitu 15 Agustus 1945, tetapi dia bisa menjadi lebih maju padahal dia juga tidak memiliki sumberdaya alam. Ternyata kuncinya adalah di pembentukan karakter SDM nya. Meskipun Pemerintahnya berganti-ganti dalam waktu singkat namun pembangunannya terus berjalan. Karena itu pendidikan yang diterapkan di Korea memegang peran penting dalam membentuk karakter bangsanya. Mereka begitu bangganya menggunakan produk-produk nasionalnya. Sehingga jarang sekali kita melihat mobil buatan negara lain bersliweran di jalan-jalan raya Seoul hampir sebagian besar mobil produksi Korea yang memadati jalan-jalan di Seoul.

 
Di sisi lain, mereka juga tetap harus bersiaga perang dengan saudara dan tetangganya yaitu Korea Utara. Sedemikian siaganya sehingga bagi generasi muda Korea (Selatan), pada umur 20 tahun mereka harus mengikuti program wajib militer. Tanpa bisa ditawar. Tidak bisa diganti dengan uang atau diganti orang lain. Kalau ada yang mencoba menghindar, maka mereka akan menjadi warga yang tidak terhormat yang akan di “bully” di lingkungannya.

 
Sayangnya, meskipun saat ini sudah saya kembangkan layar di sungai Han yang membelah Seoul menjadi Gangnam region dan Gangbo Region, airnya masih beku karena suhu -20°C sehingga kapal belum bisa berlayar. Tunggu waktunya..

 
Selamat bekerja.

 
Wassalamualaikum wr.wb.

 
Seoul, 16 Januari 2018.

 
Didik Prasetyo

CEO Notes # 51 Wiwitan Petik 2018: From Leaf, with Love, for Life

Assalamualaikum wr.wb,

 
Kemeriahan pesta yang mengawali panen bukan hanya monopoli pabrik gula (PG) saja. Acara yang dinamai dan dimaknai berbeda di setiap daerah atau PG ini mempunyai sejarah yamg amat panjang, mungkin setua umur industri gula di Indonesia. Tetapi di industri teh yang hampir sama tuanya dengan gula, sama-sama sudah ada sejak Gubernur Jenderal Van den Bosch yang terkenal dengan “cultuurstelsel” alias tanam paksa, meskipun ada juga selamatan ala kadarnya di kebun yang akan mulai dipanen, kadar hebohnya tidak seperti selamatan giling di PG. Itulah mungkin sebabnya, ketika di Kebun Teh Liki dirintis oleh Pak Agung Murdanoto – Direktur Pengembangan Usaha dan Investasi PT RNI semasa masih menjabat sebagai Direktur PT Mitra Kerinci – suatu tradisi sederhana perayaan yang diberi nama Wiwitan Petik, dilanjutkan oleh penggantinya, sampai sekarang sudah keempat kalinya. Semakin lama, semakin tahun, semakin semarak sebagaimana saudara tuanya di pabrik gula. Apalagi, penggantinya adalah Pak Yosdian yang berasal dari keluarga pabrik gula dan dibesarkan di lingkungan pabrik gula sehingga tahu benar bahwa acara semacam itu sangat efektif untuk media komunikasi dan konsolidasi banyak hal. Karyawan dan keluarga akan terlibat secara aktif. Masyarakat sekitar juga akan memperoleh hiburan gratis. Suatu hal yang sangat didambakan bagi masyarakat daerah terpencil yang mungkin haus hiburan. Ketika kehadirannya semakin sangat dirasakan oleh lingkungan sekitar, maka Pemerintah Daerah juga mulai menaruh perhatian. Pejabat yang datang semakin tinggi tingkatnya. Dari semula Wali Nagari atau tingkat kelurahan ke Muspika dan sekarang meningkat Muspida. Lebih lebih ketika dicanangkan oleh pak Bupati bahwa Wiwitan Petik akan diagendakan sebagai acara wisata budaya maka keberadaannya sudah semakin penting. Sebuah tradisi baru telah dibangun.

 

Kanan-kekiri Dirut RNI Didik Prasetyo Anggota DPRD Sumbar Zigo Ralanda Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria  Ketua DPRD Solsel Sidiq Ilyas lakukan po.JPG

Isi acaranya sendiri memang sarat dengan budaya. Mulai petugas penerima tamu di meja registrasi, pemain musik yang berada di atas panggung dan tentu saja para penarinya berpakaian adat Minangkabau yang sangat meriah dengan mahkota di kepala dan baju bersulam berkerlap-kerlip indah. Yang laki-laki bercelana panjang di lilit sarung dan bertutup kepala model atap rumah gadang. Tentu saja penampilan yang atraktif menjadi obyek selfie teman-teman yang saya bawa dari Jakarta. Acara diawali dengan persembahan tari-tarian Sumatera Barat yang dibawakan dengan apik oleh karyawati kebun dilanjutkan dengan persembahan sekapur sirih yang harus dikunyah oleh para tamu VIP. Bersama dengan Pak Bupati, Ketua DPRD, Kajari, Kapolres, sayapun menerima kehormatan tersebut. Dari raut mukanya waktu mengunyah, saya dapat melihat bahwa Pak Kajari dan Pak Kapolres ini bukan orang Sumatera Barat !

 
Dalam sambutannya pak Bupati – menyiratkan bahwa keberadaan PT Mitra Kerinci di Kabupaten Solok Selatan ini sangat diperhitungkan, bahkan menjadi icon bagi daerah tersebut. Dengan fasih pak Bupati bisa menyebut bahwa teh di Kebun Liki ini adalah kategori “single origin” yang sangat spesifik dan tidak terdapat di daerah lain. English Breakfast Tea yang terkenalpun isinya adalah teh Mitra Kerinci. Apalagi ditambah oleh pak Ketua DPRD Kabupaten Solok Selatan bahwa PT Mitra Kerinci juga menjadi bagian tak terpisahkan dari Kabupaten yang baru ini karena MK ikut mendorong proses kelahirannya pada waktu itu. Untuk menguatkan keeratan Pemda dengan teh, kalau di tempat lain acara ngopi pagi di sebut Coffee Morning, di Solok Selatan diganti menjadi Tea Morning.

 

Dirut RNI Didik Prasetyo dan Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria menerima sirih dan kapur sebagai bentuk ucapan selamat datang dalam tarian Pasambah.JPG

Lokasi Kebun Liki yang terletak di desa Sungai Lambai, Kecamatan Lubuk Gadang-Sangir ini memang mempunyai eksotisme tersendiri. Letaknya persis di kaki Gunung Kerinci berdampingan dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang merupakan area konservasi hutan hujan tropis (tropical rain forest) menjamin bahwa produk tehnya masih murni alami. Air yang digunakan adalah murni dari mata air gunung yang terkonservasi, bebas polusi. Itulah salah satu sebab kenapa tehnya dikategorikan “single origin”….

 
Produk yang dihasilkan adalah Teh Hijau maupun Teh Hitam dengan berbagai kualitas dan berbagai varian, ekspor maupun lokal. Ekspor dilakukan sampai Taiwan, Pakistan dan Timur Tengah. Varian produk dijual dalam bentuk bulk, teh seduh, teh celup maupun teh kemasan. Kualitas mulai dari Broken Mix (low grade) sampai Orange Pekoe 1 yang high quality. Penjualan dilakukan melalui trader, packer maupun retailer. Semua pipe line distribusi yang ada di pasar dimanfaatkan semuanya. Saya memaklumi kenapa kita harus main keroyokan dalam pemasaran dan distribusi ini karena pasar bagi produk teh dengan berbagai varian ini adalah “a very huge market”. Di seluruh pelosok dunia dimanapun tidak ada orang yang tidak minum teh. Di setiap acara, entah hajatan, dinas atau wisata atau perjalanan, pertanyaannya pasti : “tea or coffee”? Coca cola atau Pepsi yang begitu raksasa saja biasanya cuma sebagai minuman alternatif tambahan dalam berbagai peristiwa. Jadi saya yakin bahwa : “Tea will be lasting forever along with your life !”

 
Dengan keyakinan itulah maka ketika awal saya mendalami kondisi PT Mitra Kerinci ternyata begitu terseok-seok karena menanggung beban hutang, sebagai pemegang saham, saya lakukan berbagai langkah restrukturisasi keuangan. Dengan mempertimbangkan prospek bisnis ke depan yang cerah, sebagian hutang kepada Pemegang Saham, saya DEC (Debt to Equity Conversion) sehingga perusahaan menjadi lebih sehat, bunga lebih ringan dan perusahaan menjadi lebih lincah dalam berbisnis. Langkah-langkah operasional bisnis selebihnya saya serahkan kepada Pak Yosdian, tenaga muda yang masih enerjik ex MT (Management Trainee) yang pertama saya percaya menjadi Direktur Anak Perusahaan. Saya lihat bahwa semua lini operasi sudah digarap serentak. Di sektor produksi, sisi on farm dan off farm dibenahi. Penetrasi pasar juga dilakukan dengan agresif, baik melalui sinergi antar BUMN maupun sampai ke pasar luar negeri. Networking dan partnership dengan mitra yang sudah berpengalaman juga dilakukan. Produk-produk yang berpotensi mempunyai value spesifik seperti white tea semakin diintensifkan. Saat ini, teh yang disajikan diseluruh gerai Hotel Indonesia Group berasal dari Liki. Mungkin dengan bantuan pak Yana Aditya – DK PT RNI, PT Mitra Kerinci bisa menambah pasarnya ke jaringan Hotel Sahid….

 

 
Pada kesempatan acara kemarin saya juga minta Dir PU Pak Elka untuk mengintrodusir pemanfaatan Tools berbasis Teknologi Informasi yaitu Sistem Analisa Usahan Per Blok (SAUB). Dengan sistem ini maka progres pekerjaan di kebun akan selalu di-superimpose dengan pengajuan pembiayaan sehingga lebih memastikan bahwa semua biaya yang diajukan adalah benar-benar sudah selesai dikerjakan di kebun. Ujung-ujungnya saya berharap HPP akan turun sehingga produk teh Kebun Liki akan lebih kompetitif di pasar. Dijaman NOW seperti sekarang, hanya dengan berbekal GPS dan sistem Android yang ada di Smart Phone maka teknologi yang canggih sudah bisa kita genggam.
Lokasi alam pegunungan di kaki gunung Kerinci juga menyimpan potensi bisnis lain. Di tengah kebun mengalir sungai Lambai dan sungai Belangir. Di beberapa tempat sungai tersebut menciptakan air terjun yang potensial untuk berbagai penggunaan. Air terjun Tansi Ampek (yang artinya bertingkat empat) berpotensi menjadi obyek wisata yang sangat indah dan eksotis. Pertemuan kedua sungai (Lambai dan Belangir), berdasarkan kajian konsultan ternyata berpotensi menghasilkan PLTA 15,6 MW !

 
Sayapun meminta Dir PUI pak Agung untuk menjajaki lebih jauh peluang bisnis tersebut. Alhamdulilah proses berjalan terus dan terbukti banyak investor yang tertarik untuk berpartner menggarap proyek tersebut. Saya minta MK menggandeng BUMN atau anak perusahaan BUMN yang paham mengenai energi dalam kerangka sinergi sebagai partner. Jadilah anak perusahaan (bagi RNI adalah cucu) PT Liki Energi yang merupakan join venture antara PT Mitra Kerinci (55%) dan PT Brantas Energi yang merupakan anak perusahaan BUMN PT Brantas Abipraya (45%). Kelahiran proyek baru ini tinggal menunggu waktu karena ibarat kandungan sekarang sudah hamil tua. Penyusunan Amdal sudah hampir rampung yang akan segera diikuti dengan PPA (Power Purchase Agreement) dengan PLN dan setelah itu konstruksi akan mulai jalan, diawali dengan ground breaking.

 
Menurut Pak Bupati, area Kab. Solok Selatan juga menghasilkan emas yang saat ini ditambang oleh rakyat dengan teknologi sederhana. Saat ini semua penambangan rakyat sedang ditertibkan karena sedang menunggu investor yang akan mengusahakan penambangan tersebut dengan teknologi industri yang lebih maju. Kalau di sekitar kebun Liki juga ada potensi itu, benar-benar kejadian : “we are sitting in the gold mine” dlm arti sebenarnya!. Semoga holding BUMN Tambang bisa melirik potensi tersebut agar potensi Kabupaten Solok Selatan bisa tergali semua…

 

Dirut RNI Didik Prasetyo (kedua dari kiri) menikmati Teh Liki bersama (dari kanan kekiri) Ketua DPRD Solok Selatan Sidiq Ilyas dan Bupati Solok Sel.JPG

Jika kelak Kab. Solok Selatan semakin berkembang, tentunya kebun Liki juga akan terdampak. Sebuah Masjid Agung yang megah akan di bangun di area kebun yang terletak di pinggir jalan utama Padang – Jambi yang melintasi Kayu Aro. Perjalanan jauh menuju kebun pasti akan lebih menyenangkan. Walaupun perjalanan Padang – Liki sekarang juga sudah lancar dibandingkan 2 – 3 tahun yang lalu. Perbaikan jalan sudah selesai, termasuk membereskan sisa longsoran dan banjir. Udara sangat sejuk seperti di daerah sub tropis. Minum kopi di area danau Kembar ditemani pisang goreng terasa sangat nikmat. Danau kembar ini yang terdiri dari Danau Atas dan Danau Bawah sangat berpeluang menjadi lokasi wisata yang tidak kalah dengan Danau Batur di Bali. Pak Agung yang ahli kuliner sudah memandu dengan menyiapkan “wish list” yang “worthed” untuk dikunjungi : Bakso Tiara, Bakso Agung, Indomie Anak Rantau, Sate Soto Palo Pantai Cermin, Dendeng Batokok Mintuo, Baluik Sungai Kalo…. dan masih beberapa lagi yang saya nggak hafal. Sayang perut ini terbatas jadi tidak semua bisa dicoba…
Teh sebagaimana juga kopi menempati ruang sendiri-sendiri di peradaban manusia.

 
From Leaf, with Love, for Life…

 
May God Always Bless Us..

 
Wassalamualaikum wr.wb.

 
Jakarta, 9 Januari 2018.

 
Didik Prasetyo

CEO Notes # 50 Desember 2017: Waktunya menyalip di tikungan terakhir… 

Assalamualaikum wr.wb,

 
Banyak sekali cara atau agenda bagi perorangan atau lembaga untuk menandai tutup bukunya di akhir tahun. Ada yang mengisinya dengan kaleidoskop seperti yang kita lihat di tv-tv. Sementara ada pula yang mengisinya dengan perenungan atau kontemplasi, meskipun tidak harus bertapa di gunung-gunung. Ada pula yang membuat resolusi, seperti yang banyak kita lihat di FB, IG maupun tweeter. Kelakuannya selama setahun kebelakang direnungkan dan dievaluasi kemudian sebuah tekad yang baru untuk memperbaiki diri ke depan dicanangkan yang niatnya nanti akan dimulai persis ketika lonceng berdentang dua belas kali di tanggal 31 Desember. Dilihat dari pertunjukan yang ditampilkan juga bermacam-macam. Ada yang tidak peduli kiri-kanan, yang penting tetap kerja, kerja dan kerja. Tujuannya : kejar target. Mencapai target akhir tahun selagi bisa jualan, selagi para pembeli masih belum beramai-ramai ambil cuti untuk liburan. Ada pula yang sibuk menghabiskan anggaran supaya anggaran tahun depan tidak dipotong. Alhasil, munculah berbagai kegiatan Raker, Rakor, sosialisasi, Forum Group Discussion, diseminasi, seminar, workshop, lokakarya atau apa saja namanya. Ada juga yang tetap “cool” dengan santai mengalokasikan waktu yang sangat berharga bersama keluarga ini untuk piknik akhir tahun. Mumpung anak-anak yang kos di luar kota bisa kumpul, mumpung banyak promo dan mumpung banyak tanggal merah beruntun. Seperti yang saya lakukan saat ini mumpung ada kesempatan, saya ambil cuti setelah lebih dari 3 tahun ngga pernah mengambil cuti untuk liburan bersama keluarga. Namun sebelum saya meninggalkan pekerjaan beberapa hal yang mesti dilakukan oleh masing-masing Direksi untuk PT RNI telah saya diskusikan bersama khususnya terkait dengan evaluasi kinerja tahun 2017 dan penetapan target tahun 2018 maupun pengembangan PT RNI kedepan.

 
Sudah sering saya katakan bahwa di PT RNI ada 3 anak perusahaan yang saat ini menjadi andalan karena kinerjanya yang secara konsisten bagus, yaitu PT Phapros Tbk, PT Rajawali Nusindo dan PT Rajawali I. Kepada ketiganya saya sangat berharap agar segera bermetamorfosa dari rajawali kecil menjadi mega rajawali yang terbang tinggi menjadi petarung yang tidak hanya bermain di kandang sendiri saja tetapi juga menjadi pendekar yang malang melintang disegani kawan dan lawan di luar kandang. Dari pesilat lokal yang tadinya hanya mengandalkan jurus Cimande dan Cikalong berbekal golok pemecah batok kelapa menjadi seorang “lihiap” atau “musashi” yang mahir memainkan pedang, tombak dan samurai.

 
Rupanya obsesi yang sama dirasakan oleh kolega saya para Direksi yang lain. Dalam beberapa perbincangan dengan Direksi maupun jajaran pejabat di PT RNI, saya sering mengutip ucapan yang sering saya dengar waktu saya masih staf di KBUMN dari mantan atasan saya waktu itu pak Sahat Sinaga bahwa mengelola BUMN itu ibarat “We Are Sitting in The Gold Mine”. Begitu besar potensi PT RNI Group untuk menjadi perusahan dunia yang sampai saat ini belum tergali dengan optimal. Para Direksi sudah sama frekwensinya dengan saya sehingga mereka gerah dan galau layaknya pelatih bola yang nonton dari pinggir lapangan menyaksikan pemainnya ngga nge”gol” in. Perusahaan bagus-bagus ini dengan potensi sumberdaya yang sangat besar kok hanya seperti pemain yang jago sekali men “juggling” bola di tempat tetapi tidak segera lari mendribble bola untuk menambah gol dan menaikkan peringkat di klasemen. Walhasil, nilai jualnya dan penopang bisnisnya juga nggak naik-naik.

 
Pak Agung yang menjadi pemain gelandang penyerang, selama setahun ini sudah sibuk lari kesana kemari mencari obyek untuk pengembangan baik di induk maupun di anak perusahaan seperti sedang bermain Champion Manager di Play Station IV. Pergaulannya dalam mencari peluang bisnis sudah tidak mengenal suku bangsa, ras, dan agama. Tamunya beragam warga mulai dari Australia, Jepang, Korea, Taiwan, India atau beragam profesi mulai pekebun, peternak, pedagang dan tentu saja para penanam modal. Bahkan akhir Januari atau Februari 2018 nanti beliau saya minta untuk pergi ke Jepang untuk mengakselerasi kerjasama RNI dengan Toyota. Kegiatan lain yang dikaji untuk dikembangkan juga bermacam-macam, mulai dari pengelolaan (tentu saja) tebu, kelapa sawit, stevia, bawang putih, ayam, sapi sampai bisnis kekinian : e-commerce…dan masih banyak lagi. Oleh karena itu saya meminta agar Direktorat Pengembangan dan Investasi segera punya struktur organisasi R & D yang menaungi semua riset-riset yang sudah ada di anak perusahaan seperti di PT PG Rajawali I, PT PG Rajawali II, PT Mitra Kerinci dan PT Phapros Tbk agar ide-ide tersebut ada yang ngawal.Jaringan yang dimanfaatkan juga saya lihat sangat banyak, alumni IPB, alumni Jepang, alumni SMA, tetangga, teman FB, Instagram, tweeter, teman sekampung disamping pejabat resmi di bidang masing-masing. Inilah sebuah contoh betapa pentingnya yang namanya networking itu. Tanpa diduga tanpa dinyana, kadang-kadang dari networking yang kelihatannya sepele itu kita berjodoh untuk dipertemukan dengan rejeki.! Apalagi sekarang ditambah kreasi beliau yang ikutan nge-vlog seperti Presiden kita, tak ayal lagi ini akan menjadi media promo gratisan tanpa harus roadshow keliling mencari investor yang menghabiskan banyak waktu dbiaya.

 
Pak Yana Aditya pun meskipun Direktur Keuangan (DK) yang biasanya duduk manis sambil mengatur keluar masuk dana dan memelototi angka-angka kinerja keuangan perusahaan serta berkomunikasi dengan para bankir maupun investor, dalam kapasitasnya sebagai Komut PT Phapros Tbk akhir tahun ini terpaksa keluar dari sarangnya dan turun gunung membawa Direksi PT Phapros Tbk dan pasukannya mencari padang perburuan baru sampai ke…….. Myanmar !

 
Tidak perlu saya ceritakan lengkap kegiatan bisnis yang dikembangkan PT Phapros Tbk disana, tetapi kisah yang menarik adalah laporan pak DK tentang Myanmar itu sendiri dan tentu saja dengan para tokoh bisnisnya. Negara berpenduduk 60 juta itu rupanya saat ini sedang berada dalam situasi transisi dari junta militer menuju demokrasi. Kurang lebih seperti Indonesia di awal Era Reformasi. Peran penggerak perekonomian secara perlahan tapi pasti sudah mulai dilimpahkan dari negara (militer) ke swasta. Dan sebagaimana terjadi dalam berbagai musim bisnis, ketika hujan turun tidak merata, maka swasta itupun direpresentasikan oleh para elit yang memang sudah membina hubungan baik sejak lama dengan kekuasaan.

 

Alhamdulillah atas bantuan Dubes Myanmar – Pak Ito Sumardi rombongan PT RNI dapat bertemu dengan para tokoh-tokoh berpengaruh, diantaranya adalah Dr. Zaw Wi Min yang merupakan President UMFCCI, semacam Kadin di Indonesia, Dr. Mya Han yang berbisnis segala bidang mulai dari logistik, farmasi, properti sampai komunikasi, Dr. Win Si Thu sang calon partner pemilik raksasa farmasi Myanmar sekaligus juga Ketua GP Farmasi disana, yang istrinya bersekolah SD di Jalan Agus Salim Jakarta. Madame Win ini tinggal selama tiga tahun di Jakarta ketika ayahnya, seorang Jenderal ditugaskan menjadi Duta Besar di Indonesia. Katanya, dengan lancar beliau masih bisa berhitung mulai satu sampai sepuluh. Sama seperti Barrack Obama yang masih hafal dengan sate-bakso-enaak.

 
Penghormatan para tokoh terhadap kedatangan rombongan PT RNI ini juga dilaporkan sangat luar biasa. Mereka menggunakan pakaian adat Myanmar, yaitu..pakai sarung! Kemeja atasnya pakai baju ber-rompi atau batik tulis tetapi bawahnya bersarung yang umumnya bermotif kotak-kotak lembut. Tidak heran katanya perusahaan sarung Indonesia cap Gajah Duduk pernah sukses berjualan sarung di Myanmar. Bisnis tidak berlanjut karena ketika volume ditingkatkan ternyata penjualan tidak lancar lagi. Tetapi ada potensi untuk berjualan “sarung” yang lain. Menurut statistik ternyata Myanmar adalah negara dengan pengidap HIV AIDS nomer dua terbesar didunia. Disinilah peluang bagi “sarung”nya PT Mitra Banjaran anak perusahaan PT RNI yang memproduksi kondom.

 

Sementara itu, Pak DPU- Pak Elka Wahyudi yang mewakili saya karena tiba-tiba saya dijadwalkan ikut dalam delegasi bisnis ke Korea bersama rombongan KBUMN dan BUMN lainnya meskipun tertunda juga membawa banyak oleh-oleh dari Thailand.
Thailand yang sudah menjadi Harimau Gula di Asia dengan produksi mencapai 12 juta ton gula setahun tampaknya memang tidak akan terkejar oleh Indonesia yang masih tertatih-tatih di angka dua koma sekian juta ton setahun. Namun saat ini mereka sedang galau dengan penyakit “white leaf disease” yang berjangkit di daratan Asia (Alhamdulilah tidak termasuk Indonesia) sehingga dengan bersemangat membuka diri untuk bekerjasama dengan para peneliti lembaga riset se-Asia untuk mencari jalan memberantas penyakit tersebut. Disamping menawarkan kerjasama riset, Thailand juga unjuk gigi industri hilir gulanya yang memang juga sudah sangat advance dibanding dengan kita. Bio-ethanol yang dihasilkan sudah tidak lagi dari molasses (tetes tebu) tetapi dari bagasse (ampas tebu). Kalau negara kita masih kerepotan dengan limbah plastik sehingga pernah ada kebijakan tas plastik “berbayar” untuk membatasi penggunaannya maka Thailand sudah bisa menghasilkan bio-plastik dengan bahan baku dari ampas tebu yang ramah lingkungan. Saya bayangkan kalau teknologi ini sudah bisa kita adopsi, maka ampas kita mungkin akan tidak lagi dibakar untuk menghasilkan uap. Dan masih banyak lagi cerita peluang bisnis industri hilir yang sebaiknya saya diskusikan dulu dengan teman-teman di cafe sambil ngopi di awal Tahun Baru nanti.

 

Pak DSDM dan Aset Manajemen – Pak Djoko Retnadi yang punya tugas berat untuk menyiapkan SDM para generasi mileneal sekarang ini yang akan menjadi pelaku utama perubahan di masa depan. Sistem dan iklim baru untuk menghadirkan situasi kondusif bagi tumbuh kembangnya inovasi terus diciptakan. Mulai dari mengidentifikasi bidang kompetensi SDM-nya, sarana kerjanya, merubah kurikulum pelatihan jabatannya sampai sistem imbalan kerjanya. Beruntung BUMN mempunyai Forum Human Capital yang bisa dipakai sebagai sumber tukar kawruh antar pengelola SDM untuk lebih mempercepat lahirnya para genetik super kita.Tidak hanya itu beliau juga sibuk memetakan aset-aset PT RNI group yang sangat potensial untuk dioptimalkan baik disinergikan antar anak perusahaan maupun dengan BUMN lainnya termasuk investor. Saya sudah wanti-wanti kepada beliau bahwa optimalisasi asset idle ini nanti akan menjadi salah satu pilar pendongkrak kinerja RNI yang sangat penting.

 
Jadi ibarat GP Formula One, menjelang akhir tahun ini menjadi momentum penting untuk tancap gas dan menyalip di tikungan terakhir agar di racing berikutnya kita masih pada posisi yang menguntungkan untuk akhirnya meraih piala dan naik panggung pada akhir pertunjukan. Amiin.

 
Selamat Tahun Baru 2018. Semoga tahun 2018 jauh lebih baik dari tahun 2017. Selamat berlibur. Salam dari negeri ginseng.

 

Wassalamualaikum wr.wb.

 
Seoul, 31 Desember 2017.

 
Didik Prasetyo

CEO Notes # 49 Metamorfosa di 3 Nopember 2017 : Dirgahayu PT Rajawali I

Assalamualaikum wr.wb,

 
Kalau saya membolak-balik history in the past dari RNI Group, selalu ada hikmah dan pelajaran dari perjalanan panjang perusahaan ini. Baik itu dari sisi bisnis, budaya dan juga politik. Dari sisi bisnis tentu saja sudah banyak perubahannya karena hanya berawal dari perusahaan yang berdagang hasil bumi sekarang menggurita sampai memiliki bisnis kondom dan alat suntik yang pasti sulit untuk dihubung-hubungkan, hehehe….

 
Dari sisi budaya juga pasti sangat kontras perubahannya karena dulu adalah perusahaaan non-pribumi, sekarang menjadi perusahaan plat merah. Belum lagi dari sisi politik. Sejak Oei Tiong Ham mendirikan Oei Tiong Ham Concern (OTHC) bahkan jauh sebelum itu ketika kakeknya yang bernama Oei Tjie Sien bermigrasi dari Fujian – Cina ke Indonesia, perusahaan ini sudah mengalami pasang surut melalui berbagai jaman : penjajahan Belanda, Jepang, Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi yang pimpinannya berganti-ganti puluhan kali.

 
Salah satu tempat terpenting yang menjadi pusat kendali bisnis waktu itu adalah Surabaya, tepatnya di Jalan Undaan Kulon 57-59, disamping markas besarnya di Semarang yang kemudian dipindahkan ke Singapura. Gedung kantor yang sekarang dinyatakan oleh Pemkot Surabaya sebagai cagar budaya menjadi saksi sejarah metamorfosa dan transformasi dari berbagai kegiatan bisnis OTHC atau RNI. Metamorfosa terakhir menjadi PT PG Rajawali I sekarang ini yang tetap di UK 57-59 Surabaya ini.

 
Barangkali tidak ada anak perusahaan RNI Group yang pernah mengalami metamorfosa sebanyak PT PG Rajawali I. Seperti kupu-kupu yang mengalami fase menjadi ulat dan kepompong sebelum bisa terbang menjadi kupu-kupu yang indah.

CEO1.jpg

Pada tanggal 3 Nopember 2017 kemarin, mereka merayakan HUT-nya yang ke 63. Lebih tepat dikatakan merayakan tonggak sejarah fase metamorfosanya karena agak aneh kalau itu dihitung sejak lahir. Usianya menjadi lebih tua dari induknya, PT PPEN Rajawali Nusantara Indonesia yang pada tanggal 12 Oktober 2017 yang lalu baru merayakan hari jadinya yang ke 53. Bisa jadi yang terjadi adalah anaknya sudah dewasa, kenapa bisa begitu? Seperti yang saya baca dalam kisah berikut ini.

 
Cikal Bakal PT PG Rajawali I berawal dari tahun 1894 dengan didirikannya Pabrik Gula Rejo Agung yang dikenal dengan N.V. (Naamloze Vennootschap) Pakkies Pabrik Gula Rejo Agung yang berlokasi di Madiun. N.V Pakkies Pabrik Gula Rejo Agung merupakan salah satu anak perusahaan N.V. Handel MT. Kian Gwan. Kalau mau dihitung sejak saat itu maka PT Rajawali I ini ukurannya mungkin sudah termasuk perusahaan “purbakala” …he he he N.V. Handel MT. Kian Gwan kemudian berubah menjadi Oei Tiong Ham Concern (OTHC), dan melakukan ekspansi dengan membeli N.V. Pabrik Gula Krebet Baru yang didirikan pada tahun 1906. Kemudian pada tahun 1961, seluruh perusahaan OTHC dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia. Operasional perusahaan selanjutnya dilaksanakan oleh Menteri Keuangan yang pada waktu itu mempunyai nama agak panjang yaitu Menteri Urusan Pendapatan, Pembiayaan dan Pengawasan (P3). Meneer Oei ini sangat dikenal berpikiran maju pada jamannya. Pabrik gulanya sudah mengadopsi teknologi dari Jerman. PG Rejo Agung Baru mengadopsi teknologi mengolah gula premium dengan teknologi double karbonatasi.

 
Tanggal 3 Nopember dianggap sebagai tonggak yang bersejarah karena pada tanggal itulah, PT PG Krebet Baru terdaftar di Kementerian Hukum RI pada tahun 1954. Inilah sebabnya mengapa unit usahanya menjadi lebih tua dari induknya. Pada tahun 1975 didirikanlah PT Imaco (Industrial Management Company) yang menjadi pengelola manajemen bagi unit-unit usaha Eks OTHC yang lain, seperti PG Krebet Baru, PG Rejo Agung Baru, bahkan juga PT Phapros.

Di masa itu juga dilakukan ekspansi bisnis dengan membangun PG Krebet Baru II pada tahun 1976 dengan kontraktor dari Inggris (United Kingdom).

 
Pada tanggal 15 Oktober 1996, PT PG Rejo Agung Baru merger dengan PT PG Krebet Baru dan menghasilkan satu New-Co dengan nama PT PG Rajawali I.

 
Itulah pertama kali muncul nama PT PG Rajawali I yang memang rumahnya tetap di UK. Bukan United Kingdom, tapi Undaan Kulon !

 
Kiprah PT PG Rajawali I juga kemudian tidak kalah lincahnya. Dalam rangka melebarkan sayap bisnisnya, perseroan mengakuisisi PT Kebun Grati Agung pada tahun 1997. Tujuannya adalah bersinergi dengan PG Candi Baru yang sudah diambil alih oleh PT RNI agar bahan bakunya dapat dipenuhi. Juga pernah mengakuisisi PT Mitra Nusantara untuk memanfaatkan kelebihan ampas di PG Rejo Agung untuk dibuat menjadi particle board, dan satu pabrik pakan ternak dari pucuk tebu di Malang bernama PT Pucuk Rosan Jaya.

 
Memang bisa diperdebatkan, kapan kelahiran sebenarnya dari perusahaan ini. Sama seperti kupu-kupu yang mengalami metamorfosa, apakah mau dihitung sejak keluar telur atau ketika berubah menjadi larva atau sejak kepompong berubah terakhir menjadi kupu-kupu? Sepertinya ini akan menjadi pekerjaan rumah saya bersama teman-teman dari legal untuk membenahinya.

 
Mengapa demikian?
Ternyata, hari jadi ini menjadi penting ketika teman-teman Direksi anak perusahaan ini bisa memaknai dan mengisi perayaannya ini sebagai momen introspeksi, momen kontemplasi, momen untuk evaluasi diri untuk kemudian memperbaharui langkah maju ke depan. Ketika momen penting tersebut dilakukan pada saat perayaan hari jadi, mau tidak mau gaungnya akan dirasakan oleh seluruh jajaran manajemen. Bahkan juga sampai pemegang saham.

CEO2.jpg

Ketika saya diundang ke Rajawali I untuk merayakan hari jadi tersebut, Pak Gede Meivera – Direktur Utama bersama Pak Sagita Haryadin – Direktur Keuangan mengumpulkan seluruh jajarannya 1 level di bawah Direksi dan memaparkan kinerja yang telah dicapainya dalam giling tahun ini dan rencana-rencana pengembangan ke depan.

 
Saya bersyukur dan mengapresiasi kinerja yang telah dicapai karena berdasarkan data yang diambil dari Kementerian BUMN, sampai saat ini rendemen PG Rajawali I masih memegang rekor tertinggi dibandingkan saudara-saudaranya sesama perusahaan gula pelat merah. Bahkan rata-rata seluruh RNI juga terangkat dan tetap menduduki posisi teratas. Walaupun masih ada satu dua PG yang masih menyelesaikan gilingnya namun sampai saat ini rendemen PG Krebet Baru masih bertahan di atas rata-rata sehingga diharapkan posisi ini akan bertahan sampai akhir giling. Memang sudah diprediksi bahwa target jumlah tebu tidak akan tercapai karena bobot tebu menurun 15% hingga 30% sedangkan rendemen juga sedikit dibawah target anggaran sehingga total produksi gula juga akan turun. Namun diharapkan pencapaian laba akan dapat dicapai sesuai anggaran karena penurunan produksi tersebut diimbangi dengan penurunan biaya. Menurut data AGI, prognosa nasional gula juga akan turun dari estimasi 2,6 juta ton menjadi 2,1 juta dengan penyebab yang sama.

CEO3.jpg
Satu hal yang membesarkan hati ketika Direksi RW I secara bergantian memaparkan rencana pengembangan ke depan, ternyata mereka dapat menangkap dan menterjemahkan visi saya ke depan yang selalu saya komunikasikan melalui CEO Notes. Ancaman tapi sekaligus juga peluang yang besar bagi industry berbasis tebu telah coba diexplore dengan memanfaatkan tenaga-tenaga muda yang cerdas dan bersemangat tinggi. Perpaduan dari MT dua generasi sangat diperlukan. MT yang satu adalah para Management Trainee yang masih fresh graduate atau generasi millenial dengan penguasaan teknologi informasi yang canggih dan MT yang lain adalah “Manajemen Tuwek”yang berbekal pengalaman dan semangat tinggi.

 
Saya berharap agar di anak perusahaan yang lain juga dilakukan seperti itu. Memadukan tenaga muda dan tenaga senior yang berpengalaman untuk menyongsong hari depan yang penuh tantangan. Dengan demikian warisan bisnis yang sudah mencapai hitungan abad ini akan tetap bisa kita pertahankan untuk menghidupi anak cucu dan memberikan kontribusi ikut mensejahterakan bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dirgahayu PT PG Rajawali I.

 
Selamat bekerja untuk semuanya.

 
Semoga Allah SWT meridhoi kita semua. Amiin YRA.

 
Wassalamualaikum wr.wb.

 
Jakarta, 6 Nopember 2017.

 
Didik Prasetyo