#33 Dinamika Gula Dunia : Sepenggal Cerita Dari Bali

Assalamualaikum wr.wb,

Setiap tahun selalu saja ada event tentang gula di seantero benua di dunia. Yang paling banyak menyelenggarakan acara seminar atau workshop semacam ini adalah ISO (International Sugar Organization), suatu organisasi gula tingkat dunia yang bermarkas di London, Inggris. Tapi yang kali ini saya ikuti adalah acara yang diselenggarakan oleh IBC be-kerjasama dengan AGI (Asosisasi Gula Indonesia) yang diberi tajuk Asia International Sugar Conference dan diselenggarakan di kawasan ITDC Nusa Dua Bali.

Yang menarik dalam event ini menurut saya adalah mendengarkan cerita tentang industri gula di negara-negara tetangga terutama negara yang menjadi pemain utama dunia seperti Brazil, Thailand, India, Australia dan China. Seperti apakah tantangan yang dihadapi oleh komunitas pergulaan di negara mereka masing-masing? Dan apakah faktor yang mendukung bagi negara yang sukses memproduksi dan mengekspor gula ke seluruh penjuru dunia?

Karena kali ini diadakan di Indonesia tentu saja cukup besar porsi waktu yang disediakan untuk membahas situasi pergulaan di Indonesia. Tapi mengingat forum ini bersifat internasional dengan peserta juga dari kalangan trader gula, paparan yang disampaikan tentu tidak akan “telanjang” membuka semua permasalahan dan strategi pergulaan nasional kita. Yang diundang untuk berbicara dalam suatu panel diskusi dari Indonesia adalah saya, pak Djoni Sunarso dari Sugar Group, Pak Dr. Nur Iswanto dari PTPN X dan Pak Dr. Lilik dari P3GI.

Kembali lagi, yang penting dalam forum ini adalah bagaimana kita bisa mendengar dan belajar dari tetangga untuk kemudian kita pilih mana yang bisa kita adopsi di negara kita. Dari Pemerintah diwakili oleh pejabat dari Kementerian Perekonomian yang tentunya sangat  berkepentingan untuk menentukan kebijakan pergulaan yang multi dimensional.

Supaya saya tidak bercerita tentang angka-angka, lebih baik rasanya kalau saya kutip tampilan grafik-grafik yang penting dari para pembicara. Kita mulai dari data gula tingkat dunia.

Grafik 1.png

Grafik pertama bisa menunjukkan dimanakah posisi Indonesia sebagai produsen gula dibandingkan negara di dunia lainnya. Ternyata produsen terbesar adalah Brazil dengan jumlah di atas 35 juta ton, diikuti dengan India dengan angka disekitar 25 juta ton, sementara Indonesia hanya 2,5 juta ton; kalah dengan Thailand yang mencapai kisaran 10 juta ton. Grafik balok itu menunjukkan perkembangan dari tahun ke tahun sampai ke 2018 (forecast). Terlihat bahwa India naik signifikan dalam 2 tahun yang akan datang (2017 dan 2018) karena dalam 2 tahun terakhir ini India terkena dampak El Nino secara beruntun.

Bagaimana dengan gambaran produksi vs konsumsi dari tetangga terdekat kita Thailand dan Australia?

Grafik di bawah ini bisa bercerita banyak.

grafik 2.png

grafik 3.png

Ternyata tetangga ASEAN kita – Thailand – memproduksi gula hampir dua kali lipat dari pada tetangga kita yang selama ini di dunia pergulaan kita anggap sudah advance dalam teknologi yaitu Australia. Produksi Thailand sekitar 10 juta ton dengan konsumsi sekitar 3 juta ton sehingga surplus yang siap di lempar ke pasar ada 7 juta ton yang ternyata 25% diimpor oleh Indonesia. Sementara Australia hanya berproduksi sekitar 5 juta ton dengan konsumsi sekitar 1 juta ton. Lebih sedikit dari Thailand. Yang lebih hebat lagi di tahun ini Thailand sudah mengeluarkan ijin untuk berdirinya 25 pabrik baru lagi untuk mencapai target produksi gula dua kali lipat dari sekarang dalam 10 tahun mendatang.

Apa saja yang dilakukan Thailand? Dr. Kitti Choonhawong dari Thailand Society of Sugar Cane Technologist (TSSCT) punya cerita yang menurut saya sangat bisa ditiru oleh kita, masayarakat gula Indonesia sebagai bangsa serumpun.

Pertama, Thailand sekarang memfokuskan dirinya pada PG dengan kapasitas besar yaitu rata-rata lebih dari 20.000 tcd. PG terbesar saat ini berkapasitas 50.000 tcd, atau empat kali lipat dari PG Krebet Baru (KB I dan KB II digabung). Kegiatan penelitian dilakukan oleh Perguruan Tinggi. Jadi tidak ada lembaga riset khusus gula yang dimiliki oleh Thailand. Semua tebu juga berasal dari petani, tidak ada yang dimiliki oleh PG.

Upaya di bidang kultur teknis yang dilakukan juga sama dengan langkah kita di PG-PG Indonesia khususnya di Jawa. Dari langkah yang tergambar di potret di samping ini dapat terlihat bahwa mereka juga mengalami kelambatan masa tanam seperti kita. Demikian juga dengan kebutuhan air untuk irigasi, kebutuhan akan bahan organik dan kerapatan tanaman.

grafik 4.png

Pemerintah menyediakan kredit bunga rendah (soft loans) untuk kegiatan perbaikan budidaya tanaman, penggunaan mesin-mesin pertanian termasuk harvester dan juga kegiatan pengembangan industri hilir dari tebu.

Kredit tersebut disediakan oleh Bank of Agriculture & Cooperatives. Mungkin kalau di Indonesia seperti Bank Agro dan Bank Bukopin tetapi disubsidi oleh Pemerintah, atau semacam kredit KKPE. Jadi memang benar bahwa di negara tetangga, Pemerintah memproteksi dan membantu industri gulanya dalam berbagai bentuk sehingga bisa bersaing di pasar internasional.

grafik 5.png

Bagi Thailand, perkembangan industri gula mereka sekarang sudah memasuki tahap ke tiga jika dilihat dari business life cycle yang tergambar dalam kurva -S seperti dalam gambar.

Tahap pertama adalah tahap memproduksi gula dengan berbagai varian, mulai dari raw sugar, white sugar, refined sugar dan juga liquid sugar. Tahap kedua, yang sekarang sedang kita geluti adalah mengembangkan industri hilir berupa listrik, ethanol, pupuk dan pakan ternak.

Sekarang ini Thailand sudah memasuki tahap ketiga, yaitu mengembangkan bio plastik, bio kimia, yeast, aditif untuk makanan dan pakan, produk farmasi dan kosmetik.

Masih banyak lagi cerita menarik dari tetangga. Myanmar ternyata berperan ganda sebagai importir dan sekaligus eksportir gula. Kok bisa? Ya, ternyata banyak terjadi trading di sepanjang perbatasan Myanmar dengan China, baik legal maupun ilegal. Jumlahnyapun tidak sedikit. Hampir 1 juta ton per tahun.

Mauritius, negara pulau yang sangat kecil melakukan regrouping PG-nya (isu aktual di PG Jawa) dari 20 PG menjadi 4 PG, ternyata dalam waktu 20 tahun. Sekarang mereka menjadi eksportir yang handal ke Eropa.

Belum lagi Australia yang sudah menerapkan precision farming di segala bidang di sisi on farm-nya. Membosankan kalau diceritakan tapi akan menarik untuk dilihat kesana, asal jangan bertujuan wisata. Dont mix business with pleasure. Sedikit-sedikit boleh lah.

Ayo para gula mania RNI, kita kejar ketertinggalan kita. Semangat.

Semoga Allah SWT membimbing dan meridhoi upaya kita.

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta,   14 Nopember 2016.

Didik Prasetyo

# 32 HUT RNI 52 : Membangun Pondasi Korporasi Yang Kuat

Assalamualaikum wr.wb,

Minggu-minggu terakhir di bulan Oktober 2016 ini merupakan hari yang sarat dengan berbagai peristiwa di PT RNI, salah satunya adalah tanggal 12 Oktober yang menjadi hari paling istimewa bagi PT RNI. Tanggal 12 Oktober 2016 yang lalu, PT RNI yang terlahir dengan nama PT Perusahaan Perkembangan Ekonomi Nasional (PPEN) Rajawali Nusantara Indonesia telah genap berusia 52 tahun. sebuah usia yang cukup matang bagi seseorang untuk menjalani kehidupan karena sudah kenyang dengan asam garam dan pahit manisnya kehidupan.

Setelah sedikit pulih dari sakitnya dan mulai menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan baik dari sisi operasional maupun finansialnya, tahun 2016 ini, kembali PT RNI diterpa cobaan dan tantangan yang sangat berat terutama di bisnis gulanya. Musim kemarau yang ditunggu tidak kunjung datang karena hujan mengguyur terus menerus sepanjang tahun. Alhasil, panen tebu tersendat dan rendemen turun karena proses pembentukan gula di batang tebu terhambat. Bobot tebu cukup besar tapi lebih banyak isi air. Sudah bisa ditebak bahwa nanti hasil akhirnya tidak akan sebagus tahun sebelumnya. Ini terjadi tidak hanya di RNI, tapi di seluruh pabrik gula. Saya sudah bilang di CN 31 yang lalu, siapa yang inovatif dan kreatif, dialah yang akan bertahan.

Peristiwa penting lain yang mewarnai perjalanan hidup PT RNI di bulan Oktober 2016 adalah dimulainya kerjasama antara PT RNI dengan PT Waskita Karya Realty, memanfaatkan asset tanah PT RNI di Jl. MT Haryono Kav 12 – 13 Jakarta untuk dibangun gedung perkantoran dengan nama sementara RNI Office Park.  Peristiwa ini juga terjadi pada tanggal 12 Oktober 2016 dan  saya anggap inilah kado terindah bagi PT RNI dihari ulang tahunnya yang ke 52.

14568015_1343891592288270_3214345217744499041_n.jpg

Inilah awal pemanfaatan aset idle kita, yang tersebar sangat banyak,  mudah-mudahan bisa diikuti dengan kerjasama atas asset-asset PT RNI yang lain.

Ini pulalah wujud nyata sinergi BUMN  untuk meningkatkan nilai masing-masing perusahaan (value creation) dan dapat menjadi model bagi pola pengembangan aset-aset idle kita yang lain.

Dalam kerja sama pembangunan gedung perkantoran RNI Office Park tersebut, kelak, RNI akan memiliki 5 lantai di gedung yang sedang dibangun ini. Sisanya 12 lantai  akan dimiliki oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk.  Saya sungguh sangat berharap PT RNI benar-benar bisa bangkit melalui pengoptimalan asset-assetnya mengingat masih begitu banyak asset-asset PT RNI mulai di pusat kawasan bisnis di Jakarta, di Surabaya, Semarang, Cirebon sampai ke pelosok-pelosok desa yang bersinggungan dengan pabrik gula belum dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Sementara itu, di tahun 2016 ini, beberapa anak perusahaan juga sudah siap untuk berlari kencang. PT Rajawali Citramas – Pabrik karung plastik milik PT RNI – telah mengembangkan bisnisnya melalui kerja sama dengan PT Rajawali Tanjungsari Engineering yang juga mulai melakukan peningkatan kapasitas  produksi yang cukup besar dari 50 juta menjadi 80 juta lembar per tahun. Pemasaran produk didukung oleh program sinergi BUMN juga dengan Bulog dan PIHC, disamping  pasar reguler juga terus menerus digarap.

PT Mitra Kerinci merambah pasar ekspor ke luar negeri seperti Taiwan, Jepang dan kini bahkan sudah sampai ke Perancis. Akhir-akhir ini bahkan PT MK diundang untuk promosi gratis di pameran yang bertajuk SIAL (Salon Internasional de lalimentation). SIAL adalah trade fair terbesar di dunia di bidang Food Processing Industry yang diadakan di Paris yang diikuti 5.890 exhibitor dan disambangi 150.000 pengunjung. PT MK mendapat pendampingan dari CBI yaitu suatu lembaga di Kementerian Luar Negeri Belanda yang membimbing PT MK sejak tahun 2013 sampai lolos seleksi ikut pameran tersebut. Bravo untuk Likiers !

_s5c0157

PT Phapros di tengah kesibukannya  memindahkan pabrik ke lokasi yang baru juga menunjukkan peningkatan kinerja yang menggembirakan. Hasil penjualannya meningkat cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya.  Sementara kegiatan administrasinya bakal menempati Gedung  milik PT RNI yang terletak di jalan Kepodang Kawasan Kota Lama Semarang. Tantangan bagi Phapros adalah menyulap gedung tersebut menjadi indah sesuai dengan standarnya sebagai sebuah perusahaan farmasi.

PT Rajawali Nusindo harus menghadapi tantangan yang cukup besar dengan diberlakukannya e-catalog yang nota bene memotong supply chain dari pabrikan langsung ke konsumen. Oleh karena itu implementasi ISC harus cepat dijalankan untuk menggantikan fungsi intermediasi yang selama ini dijalankan oleh para agen principal dari luar negeri. Hal yang sama saya dengar cerita dari teman-teman PG yang harus mendatangkan barang (baca: membeli) dari luar negeri, begitu panjang mata rantai yang harus dilewati. Sebagai contoh pengadaan standar gilingan (mill cheek) yang harus diambil dari India, tidak kurang dari 5 vendor yang terlibat. Pertama, kita berhubungan dengan agen  di Indonesia. Rantai kedua, agen Indonesia berhubungan dengan trader dari India. Kemudian trader memesan kepada manufacturer yang mengorder workshop untuk melakukan machining. Manufacturer banyak yang berskala kecil kelas UKM. Kalau manufacturer-nya cukup canggih, dia punya workshop sendiri. Workshop juga banyak yang berskala rumah tangga. Sementara material logamnya dipesan dari foundry atau bengkel pengecoran yang kelasnya juga UKM. Kalau Nusindo bisa men-short cut rantai panjang tersebut dengan langsung menggandeng manufacturer besar sebagai principal-nya, yang menggarap assemby, machining, workshop sampai foundry dalam satu atap, niscaya akan banyak biaya yang bisa dihemat atau makin besar margin yang bisa didapat. karena sudah pasti HPP Gula PT RNI akan turun dengan drastis.

_s5c8653

Tantangan terberat masih dihadapi PT Mitra Ogan. Direksi baru harus melangkah dengan lebih fokus dan bekerja berdasarkan skala prioritas terutama pada areal-areal yang produktif. Beban yang dipikul sudah terlalu berat untuk dapat diselesaikan secara cepat. Dukungan para karyawan dalam suasana kerja yang kondusif sangat diperlukan ketika perusahaan sedang sakit seperti saat ini.

Masih banyak anak perusahaaan lainnya yang tidak bisa saya tuliskan disini karena saya melihat persoalannya sedikit banyak mirip dengan anak perusahaan yang lain seperti PT GIEB sama dengan PT Rajawali Nusindo hanya saya minta lebih fokus lagi mengendalikan piutang dan persediaannya. Lalu PT Laras Astra Kartika atau PT Laskar, agar fokus pada pembenahan internal bila perlu di tambah pasokan TBSnya dari pihak III agar kapasitas pengolahan PKS nya lebih optimal.

Inilah saatnya bagi kita semua untuk merapatkan barisan dan meningkatkan soliditas agar dicapai hasil yang lebih baik.

Penataan internal juga semakin gencar. Sebagai upaya untuk meningkatkan  tata kelola perusahaan yang baik  (GCG), anak-anak perusahaan sudah melengkapi organ perseroan di sisi Komisaris dengan Komita-komite yang dianggap diperlukan. Dengan demikian, pengawasan atas jalannya perusahaan akan semakin baik.

Disamping GCG, pondasi lainnya yang harus melandasi langkah  RNI di setiap pilar bisnisnya ke depan (agro-industry, perdagangan, farmasi dan properti) adalah : corporate culture, sistem & struktur dan SOP.

Budaya PINTER sudah saya perkenalkan secara luas, yaitu : Profesional, Integritas, Teamwork, Excellent dan Respect. Penerapan PINTER dalam pekerjaan sehari-hari niscaya akan menghasilkan etos kerja yang baik.

Dalam praktek keseharian, mewujudkan salah satu etos kerja yang baik, saya mengajak seluruh karyawan untuk lebih meningkatkan kepedulian, mulai dari diri kita sendiri, mulai saat ini dan mulai dari hal yang paling kecil  seperti selalu menjaga kebersihan lingkungan kantor, menjaga kondisi lingkungan kerja agar selalu kondusif  serta siap menolong rekan yang kesulitan tanpa harus menunggu perintah.

Internalisasi corporate culture tidak cukup hanya dengan doktrin dan panduan saja. Lebih dari itu, yang saya anggap penting adalah mencari role model untuk dapat dijadikan contoh dan teladan bagi lingkungannya.

HUT PT RNI kali ini memang dirayakan dengan sangat sederhana, cukup dengan potong tumpeng dan ceramah agama. Saya lanjutkan juga tradisi memberikan penghargaan kepada karyawan teladan, purna karya, yubileum dan ibadah haji. Namun tahun ini agak berbeda karena saya juga berikan hadiah khusus kepada mereka yang paling banyak datang terlambat dan paling banyak tidak masuk kerja. Hadiahnya pasti akan sangat bermanfaat karena kepada mereka saya beri jam wekker.

14691092_1343931255617637_4025999844706184373_n.jpg

Selain GCG dan Corporate Culture, SOP yang menjadi pondasi dalam setiap proses bisnis telah dicoba untuk dibedah di Yogya dengan bantuan LPP. Kali ini yang digarap adalah SOP Pabrik Gula. Saya sangat mengapresiasi keseriusan para peserta diskusi kelompok ini yang tetap bersemangat walaupun bekerja dalam suasana weekend. Ada 4 kelompok diskusi yang membahas topik-topik Budidaya Tanaman, Tebang Muat Angkut, Instalasi dan Pabrikasi. Ternyata sudah cukup banyak bahan yang dimiliki oleh masing-masing PG. Hanya saja SOP itu pada umumnya dibuat untuk kondisi normal saja. Saya minta agar dibuat pula SOP jika terjadi kondisi ekstrim, misalnya banyak hujan (seperti tahun ini) atau sebaliknya musim kering. Sebenarnya teman-teman PG sudah tahu langkah yang harus dilakukan, hanya belum di-SOP-kan. Saya yakin jika SOP ini lengkap maka siapapun yang menjalankan, apakah karyawan baru atau karyawan termutasi cukup mengikuti pedoman yang sudah ada, ujungnya akan menghasilkan keragaan yang sama. Jadi tidak perlu ada kekawatiran bagi karyawan atau atasannya kalau dimutasi ke unit lain.

Akhirnya, saya selalu mengingatkan motto kita semua dalam bekerja yaitu KERJA KERAS, KERJA CERDAS dan KERJA IKHLAS. Kalau ketiganya sudah kita jalankan secara total, selebihnya kita berserah diri kepada kehendak-Nya, maka jiwa raga kita akan tenang dan selanjutnya bisa tidur nyenyak.

Marilah kita jadikan HUT RNI yang ke 52 ini menjadi momen bagi kita untuk meneguhkan ketiga moto kerja tadi dilandasi dengan soliditas diantara seluruh keluarga RNI untuk mencapai kinerja terbaik di bidang masing-masing.

Dirgahayu RNI

Semoga kerja kita ini juga diterima sebagai ibadah dan memperoleh berkah Allah SWT . Amiin.

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta,   20 Oktober 2016.

Didik Prasetyo

# 31 : Tantangan Giling 2016 : Semangat saja tidak cukup, perlu kreatif dan inovatif.

 

Assalamualaikum wr.wb,

Sebagai orang yang tidak lahir dan dibesarkan di gula, saya selalu bersemangat untuk menggandeng kan masyarakat gula – minimal di lingkungan RNI – dengan masyarakat non-gula dengan harapan bisa memecahkan kebuntuan-kebuntuan yang dialami kalangan pergulaan kita.

 
Ternyata, banyak sekali pemikiran out of the box yang selama ini tidak terbayangkan bahwa itu bisa diterapkan di lingkungan pergulaan sebagai trigger untuk membawa perubahan yang lebih luas. Dan hal itu bisa ditemui di segala sisi, baik di sisi on farm maupun off farm, bukan hanya di level teknis, tetapi juga di tingkat kebijakan.
Beberapa Business meeting yang saya lakukan dengan investor, baik dalam maupun luar negeri, BUMN maupun swasta memunculkan ide-ide baru untuk memaksimalkan utilisasi pabrik yang hanya terpakai 100-150 hari per tahun. Juga utilisasi lahan-lahan HGU untuk bisa ditanami dengan tanaman non-tebu sebagai sumber energi.Dan di luar dugaan, ternyata BUMN Energi juga bisa kita ajak untuk ikut memikirkan dan memberikan solusi dengan menyediakan energi alternatif yang bisa membuat PG lebih fleksibel dalam menggunakan maupun menghasilkan bahan bakar.

 
Ide dan pemikiran tersebut saya lemparkan dalam forum-forum teknis, baik di internal RNI maupun dalam forum organisasi profesi seperti IKAGI. Salah satunya di forum IKAGI Cabang DKI – Jabar yang menggelar acara Seminar dan Pameran di Cirebon tanggal 29 September 2016 yang lalu.

ceo3

Dalam situasi bisnis gula yang penuh turbulensi seperti tahun ini, menggali dan mendengar dari sana sini seperti melalui forum IKAGI, untuk mencari cara bagaimana agar industri gula tetap survive dan berdaya saing adalah sangat penting.

 
Paling tidak, ada 3 faktor yang menjadi penyebab turbulensi tersebut. Pertama, terjadinya anomali iklim di tahun ini. Musim kemarau yang basah menyebabkan rendemen tidak bisa naik seperti tahun-tahun yang normal, bahkan biaya tebang-muat-angkut menjadi sangat mahal karena kondisi medan yang basah. Kedua, bagi PG yang ada di Jawa Timur khususnya, tahun ini ditandai dengan persaingan untuk mendapatkan bahan baku yang ketat dengan beroperasinya PG baru yang berkapasitas besar yang katanya lebih efisien ditengah-tengah wilayah historis. Rebutan tebu untuk mendapatkan bahan baku antar PG tidak dapat dihindari. Persaingan harga bahan baku tebu yang tidak sehat dan tidak masuk akal juga terjadi. Sedangkan faktor ketiga menimpa PG BUMN, yaitu kewajiban untuk menjual gula ke Bulog dengan harga yang telah ditentukan sebagai bagian dari tugas BUMN untuk membantu Pemerintah mengendalikan harga.

 
Dengan sudah ditambah gula eks PG BUMN ini saja, penguasaan Bulog paling banter hanya 20% dari total produksi gula GKP nasional. Apalagi bila dihitung juga gula ex PG rafinasi, sudah pasti jumlah gula BUMN dibawah 10% dari total produksi gula nasional GKP dan GKR. Dengan penguasaan pasar sekecil itu, saya kira Bulog perlu mengerahkan seluruh ilmu dan kemampuan distribusinya agar bisa melaksanakan misinya untuk mengendalikan harga gula.

 
Lalu siapa yang unggul dalam persaingan pada situasi yang seperti ini? Tentu saja mereka yang efisien, inovatif dan kreatif serta tidak dibebani kewajiban macam-macam yang lebih berpeluang untuk menjadi pemenang. Yang kalah… Ya tutup…Sayonara….
Anomali iklim berupa kemarau basah yang ditandai hujan terus menerus sepanjang tahun menyebabkan rata-rata rendemen drop 20 – 25% dari tahun 2015. Hanya 4 PG yang penurunannya tidak sampai 10%, yaitu PG Cinta Manis (4,5%), PG Camming (5,5%), PG Bone (7,5%) dan PG Sindanglaut (7,6%). Tentu saja saya cukup bangga karena keluarga RNI ada yang masuk dalam daftar PG yang cukup tangguh tersebut yaitu PG Sindanglaut.

ceo2

Melihat perjalanan rendemen yang tidak menggembirakan ini, tidak ada cara lain untuk memperoleh jumlah gula bagian PG sesuai target, berarti harus menggiling tebu lebih banyak lagi.

 
Ada 3 kunci sukses yang harus dipegang apabila kita akan bersaing dalam perolehan tebu. Pertama adalah harga beli tebu. Harga beli tebu akan sangat ditentukan oleh efisiensi dan kapasitas pabrik. Makin efisien maka gula yang dihasilkan akan semakin tinggi, berarti harga beli tebu berani tinggi.

 

Semakin besar kapasitas kita maka peluang untuk bisa menambah tebu semakin besar. Kedua adalah momentum. Apabila kita mengandalkan asumsi bahwa tebu akan datang dengan sendirinya pada saat nanti rendemen tinggi, ada dua resiko yang akan dihadapi. Tebu sudah habis karena dimakan PG yang lain karena mereka pasti punya pemikiran yang sama yakni mengejar jumlah gula yang bisa dihasilkan karena mengharapkan kenaikan rendemen ibarat menunggu “godot” yang tak kunjung tiba. Ketiga adalah faktor pengawasan dan pengendalian. Jika tebu kita peroleh dengan memberikan perlakuan khusus, maka harus kita pastikan bahwa perlakuan tersebut tepat sasaran. Penggunaan IT sangat membantu untuk digunakan sebagai instrumen pengawasan yang handal.

 

ceo1

Tidak ada cara spesifik untuk masing-masing PG yang bisa diajarkan untuk bersaing dalam memperoleh tebu tersebut. It’s a matter of entrepreneurship. Ini benar-benar permainan bisnis yang didasari pada perhitungan yang cermat, cara yang kreatif dan inovatif, berani ambil resiko dibarengi dengan penguasaan lapangan yang kuat. Jadi semangat saja tidak cukup.

 
Strategi yang menghasilkan sukses di masa lalu tidak bisa selalu manjur untuk digunakan pada tahun berikutnya karena kondisi selalu berubah. Oleh karena itu kita tidak boleh terlena dalam comfort zone. Sekali lagi inovasi dan kreativitas harus selalu diasah. Semangat harus selalu dibarengi dengan kerja keras dan kerja cerdas.
Di wilayah Jawa Timur misalnya. Tahun yang lalu PG swasta di Lamongan belum beroperasi penuh. Tahun ini sudah beroperasi dan harus mencari tebu dari mana-mana karena kapasitas yang sangat besar, sehingga kadang-kadang masuk ke wilayah historical PG yang sudah berdiri terlebih dahulu. Sialnya sebagian besar PG yang berdekatan dengan PG tersebut adalah PG milik BUMN baik milik PTPN X, PTPN XI maupun milik group PT RNI. Tentu saja kalau kita berdiam diri saja, pasti akan berkurang jumlah tebu yang bisa kita GILING tahun ini. Adanya gangguan terhadap keseimbangan jumlah bahan baku yang menjadi andalan selama ini pasti juga akan menyebabkan pergeseran-pergeseran wilayah pertarungan baru. Semua ini perlu dicermati dan diantisipasi. Kuncinya petugas kita harus bekerja keras melakukan pengamatan dan inventarisasi di lapangan hari demi hari supaya jangan sampai kita kecolongan.

 
Di Jawa Barat, walaupun tidak ada PG baru yang beroperasi mengambil tebu disana, tetapi bahan baku sudah berkurang banyak karena luas areal menurun sampai 2000 ha. Tebu-tebu di wilayah tidak bertuan dapat dijadikan alternatif sumber tebu baru. Namun demikian perlu diikuti dengan pengawasan yang ketat karena tebu yang berasal dari tempat yang jauh rawan untuk ditumpangi oleh tebu-tebu dari dalam wilayah.
Sepertinya upaya untuk capacity building di industri gula ini tidak ada habis-habisnya. Selalu muncul tantangan dan masalah baru di setiap simpul proses bisnis yang ada, baik simpul di bidang pengembangan yang akan berujung pada penurunan HPP, juga di simpul peningkatan produktivitas dan kualitas serta tentu saja simpul efisiensi.
Banyaknya simpul-simpul yang harus dibenahi di proses bisnis gula ini bukan hanya yang bersifat makro saja, tetapi juga simpul-simpul yang bersifat teknis di lapangan.
Kalau kita jalan-jalan ke PG, pasti masih akan kita temui tebangan yang kotor, tanaman yang tidak tumbuh, air yang tergenang dan sebagainya.

 
Saya tergelitik untuk tahu lebih mendalam, seperti apakah sistem manajemen yang diterapkan dalam bekerja di setiap PG? Apakah sudah ada standardnya? Apakah semua pelaksana sudah memahaminya?

 
Saya bisa bayangkan betapa rumitnya bekerja melibatkan ribuan orang dengan latar belakang dan status pekerja yang berbeda, dengan latar belakang budaya dan pendidikan yang beragam. Satu-satunya cara adalah harus dengan membuat Good Agricultural Practices dengan tentunya menerapkan Precission Farming sebagai pedoman yang diterjemahkan dalam SOP di setiap tahap pekerjaan. Sepertinya kita perlu membuat standar untuk memproduksi gula, saya analogikan dengan pabrik obat dimana disana ada standar CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik), di gula bisa kita namakan CPGB (Cara Pembuatan Gula yang Baik).

 
Oleh karena itulah, dalam Minggu ini saya ajak teman-teman PG untuk berakhir pekan di Yogya. Kita duduk bersama untuk berdiskusi dipandu LPP menyusun pedoman tersebut. Pedoman CPGB ini akan kita jadikan basis bisnis gula agar tidak goyah diterpa turbulensi musim, kebijakan maupun teknologi.

ceo4
Jalan yang harus dilalui masih panjang. Sebagus-bagusnya pedoman dibuat, kunci keberhasilannya adalah pada SDM yang menjalankan dan sistem pengawasan serta tindaklanjut atas pelaksanaan pedoman tersebut. Oleh karena itu, pengelolaan SDM di tingkat pelaksana juga harus terus diperbaiki, terutama bagaimana caranya agar pekerja dapat menjadi bagian dan menyatu dengan manajemen. Itu akan menjadi topik berikutnya dalam diskusi-diskusi untuk peningkatan capacity buiding kita di bidang pergulaan.

 
Menjadi anggota IKAGI, menjadi pelaku bisnis di industri gula harus bersiap menghadapi never ending story karena begitu luasnya area of improvement. Begitu seringnya muncul kebijakan baru. Begitu tereksposenya industri ini terhadap perubahan bisnis, baik skala nasional maupun internasional.

 
Percayalah, semangat saja tidak cukup. Kreatif, inovatif, adaptif bila perlu harus punya ide gila agar tetap survive di industri yang sangat menarik ini baik teknis maupun non teknisnya.

 
Semoga Allah SWT selalu membimbing kita semuanya. Amiin.

 
Wassalamualaikum wr.wb.

 
Yogyakarta, 9 Oktober 2016.

 
Didik Prasetyo

# 30 e-commerce : Jangan Gagal bila masuk bisnis digital (RNI masuki era bisnis dot.com)

Assalamualaikum wr.wb,

Tanggal 19 September 2016 yang lalu menjadi hari yang bersejarah bagi RNI. Di hari itu, RNI melakukan peluncuran awal atau soft launching market place-nya yang diberi nama pasarprodukbumn.com. Mulai saat itu RNI mulai masuk dalam bisnis e-commerce atau bisnis digital.

foto.PNG

Peluncuran itu dilakukan dalam acara BUMN Marketeers Club yang ke 46 yang dipandu oleh “Suhu”- nya Marketing Indonesia Bapak Hermawan Kertajaya (HK). Di dunia internasional sendiri, Pak HK yang berlogat Suroboyoan sangat kental ini sudah sangat diakui dan bahkan dinobatkan sebagai “Marketing Guru”, sejajar dengan Philip Kotler yang legendaris itu.

Diceritakan oleh pak HK bahwa RI 1 termasuk tokoh yang sangat concern dan sangat sadar akan aspek marketing dalam segala hal sampai ke tingkat bernegara.  Oleh sebab itulah oleh komunitas marketing Indonesia beliau dinobatkan sebagai tokoh Marketing of The Year pada tahun 2010.

Saya sangat bangga ketika me-soft launching produk yang murni karya anak bangsa ini lahir dari keluarga RNI karena memasuki bisnis digital perlu keberanian yang luar biasa kalau ngga dibilang “nekat”. Persaingan dalam bisnis ini begitu luar biasa ketat, era caplok-mencaplok antar perusahaan e-commerce (Lazada sudah dibeli oleh Alibaba) dan meminjam istilah Pak Hermawan, juga sudah terjadi “money burning” atau banting-bantingan harga sampai merugi diantara mereka.

Tentu sangat membanggakan, disamping juga sangat berat tanggungjawabnya bagi rekan-rekan pengasuh e-commerce RNI untuk tetap melanjutkan perputaran roda bisnis on line ini agar jangan sampai berhenti di launching saja. Bila perlu ~”meminjam istilah mas Yodhia Antariksa”~ teman-teman harus sangat inovatif dan kreatif sekaligus harus berani membunuh produk inovasinya tersebut sebelum dibunuh pesaing. “creative destruction” istilahnya.

DSC_0348.JPG

Pokoknya tetap harus keep moving ! Oleh karena itu saya bertekad, dengan tetap mencermati perkembangan bisnis dunia maya, maka Soft Launching Ecommerce pasarprodukbumn.com ini akan saya kawal dan saya lanjutkan terus karena ini merupakan bagian dari program perbaikan bisnis yang sudah ditetapkan dalam GBHN-nya RNI.

GBHN RNI tentu saja bukan harga mati untuk diubah, sebagaimana saat ini RNI masih mempertahankan konglomerasi yang sewaktu-waktu dapat diubah untuk disesuaikan dengan Road Map Kementerian BUMN.

Mengapa tekad saya sedemikian besar?

Dewasa ini kita pasti sudah melihat dan mengamati bahkan mungkin mengalami sendiri bagaimana perkembangan teknologi informasi atau bisnis digital telah menjungkirbalikkan pola pikir kita dengan tumbangnya berbagai raksasa dunia usaha yang selama ini kita kenal. Siapa yang mengira bahwa Fuji Film yang begitu menggurita akan tumbang oleh teknologi digital yang tidak memerlukan lagi kamar gelap, larutan developer dan kertas negative film? Juga produk kamera yang canggih milik Kodak, Canon, Nikon akan disalip oleh kamera HP dengan megapixel yang high quality tetapi berharga murah dan sangat handy?

Apa kabarnya dengan para Samurai elektronik seperti Sony, Panasonic, Toshiba, Sanyo, Sharp? Satu kata saja untuk mereka sama “TUMBANG”. Where’s my Nokia?

Benar kata pak HK. Now every one is a photographer, everyone is a reporter, even now eveyone is a movie maker!

Sesunguhnya potensi pasar digital Indonesia memang sangat besar dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia, yaitu 259 juta jiwa, dimana 50%-nya berusia dibawah 30 tahun. Pengguna aktif internet di Indonesia mencapai 88.1 juta jiwa, dan hampir semuanya adalah aktivis media social. Jumlah koneksi mobile internet telah mencapai 326.3 juta jiwa atau melebihi dari jumlah penduduk, yang artinya bahwa satu jiwa penduduk bisa memiliki lebih dari 1 (satu) buah mobile phone yang terkoneksi dengan jaringan internet. Dari jumlah tersebut diperkirakan 10%-nya yang berbelanja secara online (Online Shopers). Jumlah ini masih jauh dibandingkan dengan Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam dan Malaysia yang mencapai 60 – 80% total populasi penduduknya.

Bisa anda bayangkan berapa nilai pasar yang masih terbuka !

DSC_0423.JPG

Selain itu, hasil survey menyatakan bahwa perilaku belanja masyarakat Indonesia saat ini: 40% melakukan browsing dulu sebelum belanja dan 51%-nya lebih menyukai melakukan kunjungan langsung ke toko. Dengan menjamurnya situs belanja online, perilaku belanja masyarakat Indonesia ini akan berubah drastis. Sedikitnya ada 4 hal yang menjadi alasan kenapa orang mau berbelanja secara online. Pertama mudah, tinggal klik transaksi sudah bisa dilakukan. Kedua, hemat, baik waktu maupun biaya terutama biaya ikutannya, karena nggak perlu ngajak teman sambil mampir ngopi-ngopi. Selain itu aman dan nyaman karena kita kita sudah punya Cyber Law melalui UU ITE dan bisa belanja kapan saja. Jangan lupa juga bahwa belanja tanpa face to face ketemu si penjual juga membuat permintaan beberapa jenis barang “tertentu” naik. Mas Azrul, Manager OTC Phapros memberikan testimoni bahwa penjualan X-gra naik 30%! Sayangnya, Pak Sufi dari MRB belum punya cerita bagaimana hasil penjualan produk utamanya ! “Kondom….”.

Dalam situs pasarprodukbumn.com ini juga disediakan platform market place berupa toko online yang dikelola secara mandiri oleh BUMN, para principal yang produk2nya didistribusikan oleh PT Rajawali Nusindo dan UMKM mitra. Para mitra  dapat melakukan pemuktahiran  (updating) harga dan persediaan, mengunggah foto produk hingga melakukan program promo secara mandiri. Dan keseluruhan transaksi dalam situs ini juga dilengkapi dengan Proses Bisnis terkini. Itulah sebabnya pengelola situs ini nantinya adalah PT Rajawali Nusindo salah satu anak perusahaan PT RNI yang bergerak di bidang trading dan distribusi.

DSC_0444.JPG

Alhamdulilah, melalui meeting koordinasi yang panjang, sekitar 24 BUMN bersedia bergabung dalam situs pasarprodukbumn.com. ini. Para member ini terdiri dari berbagai sektor industri, seperti dari sektor farmasi (PT Indofarma Tbk), sektor pertanian (PT Pupuk Indonesia Holding Company, Perum BULOG dan PT sang Hyang Seri), industri perkebunan dan kehutanan (PTPN VIII, Perhutani, RNI), industri maritim (PT PAL), industri penerbangan (Garuda dan Citilink), industri migas hingga industri perbankan (BNI, BRI dan Mandiri).

Sejalan dengan kebijakan pemegang saham, situs ini tetap akan disinergikan dengan situs blanja.com yang dimiliki oleh PT Telkom.  Bedanya, bahwa situs pasarprodukbumn.com ini 100% milik PT RNI, jadi murni karya anak bangsa, tidak ada pemegang saham lain disini.

Masih banyak yang harus dibenahi. Saya sangat menghargai saran dan kritik yang datang dari hadirin. Kritik Ibu Dirut PT Sarinah (Persero) mengenai nama yang kurang “menjual”, yang dibenarkan juga oleh Pak HK menjadi masukan ke depan yang sangat berharga. Juga masukan dari Pak HK agar kita fokus kepada para potential buyer online, sangat berharga sekali. Menurut beliau mereka adalah kaum muda (youth), wanita (woman) dan netizen.

Welcome to era bisnis dot com.

Semoga Allah SWT selalu meridhoi langkah-langkah kita dalam memajukan perusahaan, negara dan peradaban. Amiin.

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta, 22 September 2016.

Didik Prasetyo

CEO Notes # 29 Farmasi : From Unpad Unveiling The Future

Assalamualaikum wr.wb,

Di era Pemerintahan Orde Lama, bagi yang mengalami, pasti mengenal jargon sandang-pangan-papan. Ukuran kesejahteraan masyarakat secara sederhana dirumuskan dalam kriteria murah sandang, murah pangan, murah papan. Artinya mudah dan murah mencari bahan makanan (pangan), pakaian (sandang) dan perumahan (papan). Sampai ada sebuah bank yang menyediakan kredit perumahan dinamakan Bank PAPAN SEJAHTERA, meskipun kita tahu bersama bahwa akhir bank tersebut ternyata sama sekali tidak “sejahtera”.

Bergeser ke Era Milenium sekarang ini, jargon itu mengalami perubahan. Rupanya papan dan sandang dianggap tidak terlalu prioritas lagi. Seiring dengan bertambahnya penduduk yang berkembang secara deret ukur, pangan yang berkembang secara deret hitung tetap menjadi kebutuhan utama. Industri semakin berkembang untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakat dan angka harapan hidup meningkat karena standard kesehatan yang terus naik. Berubahlah standard kehidupan masyarakat (modern) ini, yaitu cukup pangan, cukup bahan bakar dan listrik serta badan sehat dan umur panjang, sehingga jargonnya menjadi : pangan, energi dan kesehatan. Artinya, bisnis masa depan yang menjanjikan akan terletak di ketiga bidang tersebut.

 
RNI siap untuk menceburkan diri lebih dalam lagi di ketiga-tiganya karena modal dasarnya kita sudah punya. Bisnis Gula, CPO dan teh mau divariasi cara apapun tetap merupakan bagian dari pangan dan ini sudah digeluti oleh PT RNI sejak lahir, Energi sudah dimulai oleh PT Mitra Kerinci dengan Proyek PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro) yang dibangun dengan memanfaatkan aliran sungai yang membentang melewati kebun teh PT Mitra Kerinci. Saat ini, untuk tahap pertama akan dibangun PLTMH dengan kapasitas 15,6 MW dari potensinya yang diperkirakan sebesar 56 MW. Biomassa dari kebun tebu (bagas) dan sawit (tankos) sangat melimpah sehingga PLTBS juga tinggal dibangun saja untuk menjadi sumber energi yang handal. Farmasi dan alat kesehatan yang selama ini seakan-akan berjalan sendiri di RNI Group ternyata setelah saya dalami berpotensi untuk menjadi pilar penopang yang handal bagi bisnis PT RNI group.

 
Saya mulai meng-explore lebih dalam tentang bisnis farmasi ini ketika tanggal 15 September 2016 yang lalu, Universitas Padjajaran Bandung dalam rangkaian Dies Natalisnya yang ke 59 mengundang RNI untuk berbicara dalam kegiatan yang bertajuk : Seminar Pentahelix Kemandirian Bahan Baku Farmasi.

 
Saya sangat sepakat dengan judul yang diusung ini karena isu kemandirian ini benar-benar isu yang aktual di banyak bidang. Ketika mengajar di SMA N I Cepu, para siswa sudah saya provokasi agar melihat banyaknya peluang untuk berkarya demi negeri ini (bahasa patriotiknya) karena kita belum mandiri di pangan dan energi. Beras, gula, kedele, jagung, daging dan minyak masih harus kita impor. Bahasa dagangnya : peluang bisnis terbuka lebar.

 
Eh, ternyata di farmasi lebih-lebih lagi. (Ngomong dagangnya, berarti peluang bisnis farmasi ke depan sangat prospektif).

 
Dengan jumlah penduduk terbanyak di ASEAN, dan tingkat kesehatan yang relatif rendah, jangan heran bahwa kita menjadi pasar terbesar bagi farmasi di kawasan ini yaitu US $ 9,4 milliar pada tahun 2018 nanti. Dan kita menjadi TOP 20 GLOBAL RANKING . No.1, 2 dan 3 adalah USA, China dan Jepang. Negara Asia lain yang masuk TOP 20 ini adalah India dan Korea Selatan.

Orasi Unpad.jpg
Menjadi anggota komunitas gula (dan terpilih menjadi Ketua IKAGI), dengan impor gula yang mencapai 50-60% dari kebutuhan saja sudah membuat saya prihatin. Ternyata di farmasi, bahan baku obatnya lebih dari 90% masih import ! Bahan yang gampang seperti garam dan gula farmasi juga masih impor. Kebutuhan garam farmasi (pharmaceutical grade) dan aneka pangan bahkan 100% masih impor dari Jerman, China, Australia, Selandia Baru dan India.

 
Itulah sebabnya, di sesi tanya jawab ada mahasiswa peserta seminar yang melontarkan pertanyaan kritis : kemana saja industri farmasi Indonesia selama ini ? Pertanyaan yang kelak juga harus dijawab sang mahasiswa dimanapun nanti dia bekerja karena dia adalah mahasiswa farmasi.

Kimia Farma yang bekerja sama dengan PT Garam mempunyai tugas memenuhi kebutuhan garam farmasi bercerita panjang lebar mengenai kendala yang dihadapi, terutama dari sisi ketersediaan garam dalam negeri itu sendiri.

 
Saya juga menyampaikan masalah yang dihadapi dalam memproduksi gula farmasi. Tugas membuat gula farmasi saya bebankan kepada PG Subang yang sudah menggunakan proses DRK (Defekasi Remelt Karbonatasi) sehingga sudah mampu menghasilkan gula premium (Icumsa 80-100). Secara teknis, menghasilkan gula farmasi dengan Icumsa di bawah 45 sebenarnya sudah mampu untuk dilakukan oleh teman-teman dari PG Subang di bawah komando GM Pak Adang Sukendar yang nota bene adalah mantan Kepala Pabrikasi di PG Krebet Baru II. Gula Farmasi made in PG Subang yang akan menjadi gula farmasi pertama di dalam negeri yang berasal dari gula tebu ini sudah lolos uji dari test laboratorium Phapros sebagai calon pengguna dan uji oleh pihak independen dari laboratorium BBIA (Balai Besar Industri Agro) di Bogor. Masalah pokoknya untuk go commercial adalah pada pemilihan teknologi mana yang paling murah dan mudah agar gula farmasi yang dihasilkan ini nanti profitable.

 
Program pembuatan garam dan gula farmasi ini masuk dalam cluster chemical dalam strategi industri farmasi nasional. Cluster yang lain yaitu : vaccine, natural dan bio-pharmaceutical.

 
Untuk bahan baku obat kimia, pasar dunia saat ini dikuasai oleh China dan India yang sudah sangat dominan, terutama untuk pasar bahan aktif (API=Active Pharmaceutical Ingredients) yang kebutuhannya sangat tinggi seperti paracetamol, obat diabet, kolesterol, darah tinggi dll. Dominasi dua negera tersebut sudah sedemikian kuatnya sampai Eropa dan Amerikapun sudah keok, apalagi negara-negara kecil seperti Indonesia.
Untuk vaccine (vaksin), semuanya sudah dikerjakan oleh BUMN Farmasi PT Bio Farma yang lingkup tugasnya bukan hanya memenuhi kebutuhan vaksin dalam negeri saja tapi bahkan harus men-supply kebutuhan seluruh negara ASEAN karena dialah satu-satunya produsen vaksin di kawasan ini.

 
Obat yang berbahan baku natural seperti herbal harapannya akan menjadi comparative advantage bagi industri farmasi Indonesia. Kita sudah sering mendengar bahwa ekstrak daun seledri dikombinasi dengan ekstrak kumis kucing bisa dipakai untuk anti hipertensi, ekstrak temulawak digabung dengan ekstrak daun sambung nyawa untuk anti kolesterol dan berbagai tanaman lainnya, disamping juga zat-zat aktif yang ada di biota-biota laut seperti mikroba simbion karanglaut yang sedang diteliti Phapros bersama Undip.

 
Pengembangan obat-obatan berbasis herbal menjadi lahan penelitian yang terbuka untuk bisa dikerjasamakan dengan Perguruan-perguruan Tinggi yang ada.

 
Cluster yang bisa menjadi revolusi di bidang farmasi adalah bio-pharmaceutical, dimana di dalamnya termasuk temuan yang saat ini menjadi trending topic di farmasi yaitu stem cell. Saya benar-benar tertarik dengan stem cell ini setelah saya diprovokasi oleh mas Agus Phapros melalui emailnya ke saya tentang peluang bisnis stem cell. Ijin saya share ya mas….
Dari berbagai sumber bacaan, googling dan obrolan yang pernah saya ketahui, stem cell atau yang di kedokteran dikenal dengan sel punca akan benar-benar menjadi pengobatan masa depan menggantikan obat kimia.

 
Pemahaman saya tentu saja sangat terbatas utuk bisa menjelaskan secara panjang lebar mengenai hal ini, tetapi secara singkat dapat saya share pemahaman saya secara awam yaitu ;
– stem cell merupakan sel yang bisa berkembang atau direproduksi menjadi berbagai macam sel sehingga bisa meregenerasi sel yang rusak atau tua;
– stem cell bisa diambil dari organ tubuh, yang awam ketahui misalnya dari ari-ari atau plasenta
– stem cell sudah bisa disimpan di laboratorium (dan sudah ada yang diijinkan untuk menyediakan pelayanannya).
– stem cell sudah bisa digunakan dalam terapi/pengobatan meskipun baru terbatas di 11 rumah sakit di Indonesia yang diijinkan melayaninya
Apabila riset stem cell ini semakin maju, maka pengobatan stem cell akan dapat go commercial dan bisa merubah peta pengobatan konvensional misalnya :
– Penderita diabetes tidak perlu lagi suntik insulin karena insulin bisa meregenerasi sendiri dengan pengobatan stem cell – Penderita luka (luka bakar, patah tulang, dll) dapat sembuh dengan regenerasi melalui terapi stem cell- Penderita katarak tidak perlu lagi dioperasi- Pemasangan ring atau by pass jantung dapat diganti dengan terapi stem cell

Bahkan dengan stem cell juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit degeneratif (penuaan). Sel yang tua menjadi muda. Di dunia kecantikan tentu sangat diidamkan para ibu, kulit yang menua, keriput, kendor bisa menjadi muda, kenceng dan kinclong. Saya jadi ingat film Elysium yang dibintangi oleh Matt Damon dimana ada anak yang sakit cukup parah cukup dimasukkan dalam tabung dan sekeluarnya dari tabung semua penyakitnya telah sembuh.
Disamping sisi positif temuannya secara teknis, sepertinya revolusi ini juga bakal menyisakan PR untuk para cendekiawan, ulama dan Pemerintah yaitu batasan-batasan dari segi etika, budaya dan agama. Tapi saya yakin bahwa Pemerintah sudah sangat berhati-hati dalam hal ini, terbukti dari regulasi-regulasi yang dibuat terkait stem cell ini mulai dari penyimpanan, riset dan pelayanannya. Tidak sembarang pihak boleh melakukan pengelolaan stem cell dengan bebas.

 
Sebagai businessman, saya sangat berharap Phapros bersama PG bersiap-siap untuk menangkap peluang besar ini mulai dari yang sederhana seperti membuat gula farmasi yang benar-benar lolos uji dari semua kriteria, menggarap obat-obatan natural base pharmacy (seperti herbal) sampai ke farmasi yang advance seperti halnya stem cell.

MoU.jpg
Untuk bisa menggarap semuanya, kita tidak bisa sendiri. Bekerjasama dengan Perguruan Tinggi sebagaimana sekarang sudah berjalan dengan UGM, Undip, IPB dan Unpad harus semakin ditingkatkan di masa-masa yang akan datang. Di hari itu, peningkatan kerjasama dengan Unpad ditandai dengan MOU antara saya dengan Rektor Unpad yang kemudian diikuti dengan Business Meeting sesi awal untuk menggali bidang kerja sama yang lebih luas antara RNI dengan 16 Fakultas di Unpad. Selanjutnya akan diadakan pertemuan antar tim teknis dari kedua belah pihak. Acara itu menjadi penutup kegiatan saya meng-explore dunia farmasi bersama Unpad sekaligus memantapkan keyakinan saya akan besarnya peluang bisnis farmasi di masa depan.

 
Anda semua terutama generasi muda, harus bersiap-siap bahwa di masa depan pangan, energi dan sehat saja masih belum cukup. Kelak harus ditambah sehat, bugar, powerful dan kinclong…
Semoga Allah SWT selalu membimbing kita semua agar selalu melewati jalan yang benar. Amiin.

 
Wassalamualaikum wr.wb.

 
Jakarta, 16 September 2016.

 
Didik Prasetyo

 

 

 

 

# 28 IBDex 2016 : Provokasi Untuk RNI Menyongsong Holding BUMN

Assalamualaikum wr.wb,

Semangat untuk menjadikan BUMN menjadi agent of change dan agent of development yang tidak hanya mementingkan keuntungan semata benar-benar dipompakan puooll oleh Ibu Menteri Rini M. Soemarno. Untuk mewujudkan semuanya ini maka BUMN harus menjadi kekuatan besar dan berdaya saing tinggi yang mempunyai leverage atau daya tawar yang kuat bagi mitra, bagi pesaing, bagi perbankan dan semua stake holder terkait.

DSC_0413.JPG

Gelora ini tercermin ketika pekan yang lalu Kementerian BUMN menggelar perhelatan besar yang mengusung title IBDex yaitu singkatan dari Indonesian Business and Development Expo 2016. Tempatnyapun mengambil gedung terbaik dan paling bergengsi di seluruh negeri saat ini yaitu JCC (Jakarta Convention Center). Convention Hall terbesar  yang memiliki Plenary Room berkapasitas 5.000 tempat duduk, balai sidang seluas lebih dari 3.900 m²  dan memiliki 13 ruangan pertemuan dengan berbagai ukuran.  JCC juga tercatat menjadi panggung konser artis-artis dunia seperti Mariah Carey, Diana Krall, Enrique Iglesias, Janet Jackson, George Benson and Al Jarreau dan tidak ketinggalan artis Indonesia seperti 3 Diva (Krisdayanti, Titi DJ dan Ruth Sahanaya). Pantas saja kalau disana sepiring Nasi Goreng dibanderol dengan harga Rp. 70.000 !

Lantas apakah hubungannya dengan masa depan RNI ?

Mari kita lihat kegiatan apa saja yang diusung dalam IBDex ini. Selain pameran yang diikuti oleh seluruh BUMN, juga diikuti oleh beberapa perusahaan BUMD dan mitra binaan BUMN; IBDex juga menggelar Konferensi Internasional, Minister Lecture oleh Menteri BUMN, Business Matching, BUMN career opportunity dan PKBL Pitching. Dalam Seminar Internasional antara lain dihadirkan pembicara dari Temasek Holding Singapura dan Khazanah Holding dari Malaysia yang tentu saja menceritakan bagaimana peran dan kontribusi Holding di negeri jiran tersebut dan sedikit cerita tentang pengelolaannya.

Materi ceramah Ibu Menteri sendiri juga banyak berbicara mengenai arah Holding BUMN di masa depan dan kriteria SDM yang akan dipersiapkan untuk mengisi kepemimpinan di BUMN yang akan datang.

DSC_0441.JPG

Itulah sebabnya saya mengajak semua calon-calon pimpinan masa depan RNI Group, mulai dari para Group Head di RNI Holding dan seluruh Direksi Anak Perusahaan PT RNI Group, baik yang besar maupun yang kecil; yang senior maupun yang junior. Saya cukup senang karena disamping Pak Agus Siswanto, Pak Warsito juga saya lihat ada Pak Yosdian  dari Mitra Kerinci dan Pak Wahyu Sakti Priyonggo dari Laskar. Di tangan merekalah antara lain nanti masa depan RNI akan ditentukan. Oleh karena itu sudah selayaknyalah mereka mendengar sendiri langsung dari sumber pertamanya yaitu Menteri BUMN RI kemana perusahaan BUMN ini nanti akan dibawa.

Saya juga secara terbuka menulis disini agar visi ke depan BUMN dikenali oleh para pejabat sampai 2 level di bawah Direksi RNI (GM, Kabid, Kabag) bahkan juga seluruh lapisan karyawan yang punya potensi menjadi pimpinan RNI masa depan.

Salah satu poin penting yang akan menjadi catatan bagi BUMN di masa depan adalah bahwa Pemerintah tidak akan menyuntikkan tambahan modal terus menerus melalui PMN (Penyertaan Modal Negara). Tahun 2017 nanti Penambahan PMN sudah akan dihentikan oleh Pemerintah. Disisi lain, BUMN diharapkan semakin berperan menjadi penyangga perekonomian nasional terutama dalam menghadapi perlambatan ekonomi global.

DSC_0437.JPG

Ibu Menteri mengatakan bahwa kalau saat ini hanya ada 1 perusahaan BUMN yang masuk Fortune 500 (yaitu Pertamina), maka pada tahun 2019 minimal sudah harus ada 7 perusahaan yang menyusul Pertamina. Di dalam RPJMN 2015-2019 bahkan diperjelas bahwa kalau diukur dengan peringkat 2000 perusahaan terbaik versi Forbes, tahun 2015 dari 5 perusahaan harus menjadi 19 perusahaan di tahun 2019. Sementara itu kontribusi terhadap penerimaan negara harus naik dari Rp. 211 Triliun (2015) menjadi Rp. 635 Triliun (2015) dengan tingkat Service Level Agreement mencapai 94-100%.

Ada 4 strategi yang akan dijalankan untuk mencapai sasaran tersebut yang dikenal dengan 4 strategic pillars, yaitu : 1) Sinergi antar BUMN, 2) Hilirisasi dan kandungan lokal, 3) Pembangunan Ekonomi daerah terpadu, 4) Kemandirian keuangan dan penciptaan nilai.

Bagi teman-teman yang berminat untuk mendalami isi masing-masing strategi silakan anda browsing sendiri di internet, nisacaya informasinya lebih lengkap dan rinci. Siapa tahu ini akan menjadi start up bagi anda untuk mencapai karier yang lebih tinggi di lingkungan BUMN (dimanapun).

DSC_0453.JPG

Apa relevansinya dengan keberadaan RNI saat ini ?

Salah satu implikasi dari strategi sinergi BUMN tadi adalah akan dikonsolidasikannya BUMN-BUMN yang sejenis dalam satu Holding Sektoral BUMN.

Ada 7 sektoral Holding yang sedang direncanakan untuk dibentuk dalam waktu dekat, yaitu : 1) Energi, 2) Pertambangan, 3) Jalan Tol, 4) Jasa Keuangan, 5) Perumahan, 6) Pangan dan 7) Maritim.

Kira-kira RNI akan berada dimana? Tentu saja, analisis rasionalnya kita sudah harus bersiap-siap untuk saling berpisah dengan sesama “sister company” karena bisnis RNI terdiri dari bermacam-macam bidang. Perkebunan bersama PTPN bisa kita prediksi akan masuk dalam Sektor Holding Perkebunan atau Holding Pangan. Untuk bidang yang lain kita berharap masih akan dibentuk holding sektoral lainnya seperti Holding Farmasi (untuk menjadi rumah baru bagi Phapros) dan Holding Logistik (rumah bagi Nusindo dan perusahaan trading lainnya).

Kemanapun insan RNI nanti akan dibawa, saya berharap semua sudah mempersiapkan diri dengan kompetensinya masing-masing sehingga akan tetap menjadi Super Human ditempat yang baru nanti karena mewarisi Genetic Super yang sudah dipersiapkan beberapa tahun ini. Lagi pula, pengalaman berada dalam pengelolaan model Holding BUMN merupakan keunggulan komparatif yang sudah dimiliki SDM RNI dibandingkan SDM BUMN lain karena sejak lahirnya RNI adalah holding company.

Dalam mempersiapkan calon-calon pimpinan BUMN ke depan, Kementerian BUMN juga sudah membangun Executive Development System (EDS) yaitu dengan membuat Talent Pool yang berasal dari perusahaan-perusahaan BUMN yang kemudian diseleksi dan dikembangkan melalui ELP (Executive Leadership Program) untuk selanjutnya ditempatkan sebagai pimpinan-pimpinan BUMN sesuai kompetensinya.

Ada 3 tujuan yang ingin dicapai dari ELP ini yaitu; 1) Meningkatkan Kualitas Kepemimpinan, 2) Membangun Pola Pikir Sinergi, 3) Meningkatkan Daya Saing BUMN. Dengan terbangunnya insan pimpinan BUMN hasil ELP tadi maka transformasi BUMN Holding akan dapat dicapai berdasarkan nilai-nilai BUMN yang diinginkan yaitu : Sinergy, Sustainability, Integrity, Strong National Commitment dan Global Mindset.

DSC_0478.JPG

Kelak ditangan para eksekutif hasil ELP inilah Holding Company BUMN republik ini bisa melesat menjajari posisi tetangganya yang sekarang sudah berada beberapa langkah di depan kita. Temasek misalnya,  perusahaan yang mendefinisikan dirinya : “owned but not directed by Singapore Government” ini dengan nilai portfolionya saat ini mencapai S$ 242 juta (kira-kira 2.420 Triliun Rupiah)  mampu memberikan deviden kepada pemegang saham (Pemerintah Singapore) sebesar S$ 8 miliar (kira-kira setara dengan 80 triliun rupiah). Temasek juga mampu memberikan returrn rata-rata dalam 40 tahun sebesar 15% kepada para investornya. Saat ini, mereka masih dipercaya berhutang kepada investor (lewat obligasi) yang jatuh temponya nanti di tahun 2050. Portfolio investasinya juga tersebar di seluruh dunia : 40% di Asia (di luar Singapura), 29% Singapura, 27% di US, Eropa, Australia, New Zealand dan 4% di Amerika Latin, Afrika, Timur Tengah.

Berbeda dengan Temasek yang sama sekali tidak ada campur tangan Pemerintah, Khazanah di Malaysia dipimpin oleh 10 anggota Direksi yang terdiri dari pejabat Pemerintah maupun kaum profesional dan bertindak sebagai Chairman adalah Perdana Menteri. Saat ini dijabat oleh Najib Razak yang sekaligus juga merangkap sebagai Menteri Keuangan di Kabinet Malaysia.

Portfolio investasi Khazanah pada tahun 2015 mencapai RM 150,2 miliar atau kira-kira 900 triliun rupiah. Laba yang dicapai sekitar RM 1,2 miliar atau kira-kira setara 7,5 triliun rupiah. Khazanah tidak mengelola bisnis perkebunan dan oil & gas.

Saya yakin bahwa BUMN Holding Sektoral, apalagi kalau kelak semua digabung menjadi Super Holding akan bisa menjadi lebih besar dari pada Temasek dan Khazanah. Kata kuncinya adalah sinergi untuk bersama-sama menciptakan value creation sebagaimana dicanangkan dalam visi BUMN.

DSC_0399.JPG

Dalam kunjungan ke stand-stand pameran, potensi sinergi juga dideteksi oleh Ibu Menteri di stand RNI. Seharusnya produksi teh yang terintegrasi bisa dilakukan bersama-sama antara PT Mitra Kerinci dan PTPN lainnya sehingga bisa dicapai efisiensi baik dalam produksi maupun pemasaran.

Semoga hal-hal kecil terebut bisa benar-benar memprovokasi teman-teman RNI, khususnya bagi mereka yang masih menggenggam masa depan yang panjang.

Semoga Allah SWT selalu membimbing kita semuanya. Amiin.

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta,  September 2016.

Didik Prasetyo

# 27 Kembali ke Cepu : BUMN Mengajar

Assalamualaikum wr.wb,

Minggu yang lalu menjadi pekan yang sibuk bagi saya berada di luar kota seminggu penuh. Di awali dengan pembukaan BMDP Non-Agro di LPP Yogyakarta yang merupakan BMDP Angkatan XXX bagi RNI, pada hari Senin tanggal 29 Agustus, diakhiri dengan puncak kegiatan pekan itu yaitu BUMN Mengajar di SMA Negeri I Cepu, Jawa Tengah.

Di tengah-tengahnya pada hari Selasa 30 Agustus saya menghadiri undangan Direktur Utama PTPN X untuk mengikuti acara soft  launching kartu tani di PG Tjoekir, Jombang – Jawa Timur. Alhamdulillah acara soft launching Kartu Tani untuk petani tebu berjalan dengan lancar dan sangat baik. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan dan HEBAT  bagi teman-teman BUMN Gula bisa menerbitkan kartu tani tersebut dimulai dari PTPN X.  Membanggakan dan HEBAT saya katakan karena teman-teman BUMN Gula saat ini sudah sangat terbuka dan berani jujur seperti semboyan KPK “Berani Jujur itu HEBAT”. Mengapa?  Karena dengan adanya kartu tani di tiap-tiap PG Milik BUMN akan terlihat areal tanaman tebu yang sebenarnya sehingga areal yang mungkin selama ini tercatat dua kali di PG yang berbeda tidak akan terjadi lagi.  Tumpang tindih areal Tebu Rakyat tidak akan terjadi lagi.  Bagi Direksi ini akan sangat memudahkan kontrol terhadap kinerja pegawai lapangan termasuk mengetahui asal usul bahan baku tebu yang nota bene akan lebih mudah koordinasinya bila timbul masalah antar PG karena pada dasarnya hubungan Direksi BUMN Gula saat ini baik PTPN atau RNI sudah sangat baik. Persoalan di lapangan akan jauh lebih mudah diatasi dan dikomunikasikan tanpa harus saling merugikan satu sama lain. Dalam acara tersebut alhamdulillah saya ketemu teman satu kampung saya saat masih di Cepu yakni mas Nugroho Christijanto Dirut PT Petrokimia Gresik. Alhasil pertemuan tersebut menjadi ajang reuni yang hangat sekaligus bisa langsung mencari peluang untuk saling sinergi antara RNI group dengan Petrokimia Gresik. Maklum satu kampung….

14203164_10208715580581594_5327965724528064192_n.jpg

Dari PG Tjoekir Jombang saya kembali ke Yogya menggunakan KA sambil menikmati hasil reformasi PT KAI yang terlihat dari kondisi stasiun dan KA yang sangat apik dan bersih, untuk mengikuti acara bersama AGI – IKAGI – LPP yang mengambil topik “High Level Sugar Policy Discussion”. Acara ini mengundang para pejabat kunci Pemerintah seperti para Deputy terkait di Kemenko Perekonomian, K-BUMN, Dirjen Perkebunan, APTRI, para praktisi dan pemerhati gula. Sekaligus diakhir acara juga dilakukan pengukuhan Pengurus Pusat IKAGI dan menyusun rencana kerja jangka pendek IKAGI.

Dari Yogya kemudian saya lanjut ke Cepu yang merupakan acara terakhir di pekan itu. Disamping mengajar, saya juga bertemu dengan Wakil Bupati Blora untuk menjajaki kemungkinan kerja sama dengan Pemda yang saat ini banyak menjadi incaran relokasi industri dari kota-kota besar yang mulai terasa mahal, terutama adalah dari upah, harga tanah maupun kondisi sosial budaya yang relatif masih sangat favourable bagi investor.

Dengan sifat perjalanan yang wira-wiri kesana kemari dari kota besar ke kota kecil seperti tadi maka saya harus memanfaatkan berbagai moda angkutan yang ada mulai dari pesawat baling-baling, mobil sampai kereta api. Bagusnya, jalan yang dilewati sudah beraspal mulus, bahkan keluar dari Ngawi masuk wilayah Bojonegoro jalannya sangat lebar. Kereta api juga sekarang luar biasa tepat waktu. Bad news-nya, masih ada di beberapa segmen jalan yang mengalami kemacetan karena padatnya lalu lintas.

Acara Direksi Mengajar di SMA Negeri I Cepu tentu saja merupakan momen yang sangat luar biasa bagi saya. Dari SMA inilah saya lulus di tahun 1987 dan bersama 12 orang lainnya yang dipanggil oleh IPB lewat PMDK melanjutkan belajar sampai lulus dan mengabdi menjadi PNS di Departemen Keuangan pada waktu itu.

Ya. Itulah pilihan yang telah saya ambil karena sebenarnya waktu itu atas dorongan Bapak saya yang berprofesi sebagai prajurit TNI AL, saya juga mendaftar sebagai calon taruna AKABRI dan  sudah menjalani tahap akhir serta sudah bersiap berangkat ke Magelang.

Hanya satu yang menjadi keberatan saya untuk memilih menjadi taruna saat itu  yaitu saya sangat sayang dengan rambut saya dan tidak mau dicukur gundul ! Jadi akhirnya saya memilih berangkat ke Bogor dari pada ke Magelang. Memang itulah takdir Tuhan. Kalau jadi masuk Akabri bisa saja sangat lain jalan hidup saya…..

 Oleh karena itu, saya sangat berterimakasih kepada sekolah ini. Kepada guru-gurunya, kepada gedungnya, laboratoriumnya, semuanya. Saya sangat ingin agar sekolah ini seterusnya juga menghasilkan alumni yang sukses, yang jauh lebih baik dari saya. Untuk itulah saya merasa wajib untuk memberikan motivasi, menyuntik siswa dengan semangat juang dan semangat belajar yang tidak mengenal lelah.

Sejumlah lebih dari 300 siswa menyambut dengan antusias materi yang disampaikan oleh “kakak kelas” mereka ini. Termasuk dalam tanya jawab yang berlangsung dengan sangat dinamis dan segar.

14183780_10205471969119129_4462997735383702882_n.jpg

Saya bentangkan di depan para siswa ini tantangan dan peluang yang dihadapi Indonesia sekarang ini. Indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam : energi, pertanian, perkebunan, pertambangan, peternakan, dlsb. Tetapi sumberdaya alam itu belum di-explore secara maksimal. Akibatnya kita masih banyak melakukan  impor barang-barang yang seharusnya bisa disediakan di dalam negeri : beras, gula, jagung, kedele, daging bahkan minyak juga. Taraf hidup masyarakat juga relatif masih rendah, salah satu indikasi misalnya terbatasnya rumah tangga yang belum dialiri listrik dimana saat ini jumlahnya masih mencapai 12.000 desa.

Belum lagi dari sisi pendapatan per kapita. Menurut data dari World Bank tahun 2014 Indonesia baru mencapai USD 3.475. Jauh dibandingkan dengan Swiss yang mencapai USD 84.748 ; Singapura USD 55.182 ; Jepang USD 38.633.

Padahal kita tahu, negara-negara tersebut adalah negara yang tidak punya sumberdaya alam sama sekali. Tetapi Swiss, misalnya bisa menjadi pembuat coklat terbaik di dunia padahal tidak punya perkebunan coklat. Singapura menjadi pusat perdagangan terbesar di Asia bahkan mungkin dunia karena fasilitas logistiknya yang luar biasa. Demikian juga Jepang, walaupun tidak punya minyak tetapi tumbuh menjadi negara industri yang sangat maju.

China yang tadinya kelasnya sama dengan Indonesia, yang terbebani dengan jumlah penduduk lebih dari 1 milyar, sekarang sudah tumbuh sangat pesat dengan pendapatan per kapita mencapai USD 91.376 …. Ini tentunya berkat dari kerja keras dan karakter sumberdaya manusia yang dimilikinya.

Pada saatnya, ilmu yang berupa hard competence yang dibutuhkan untuk membangun secara fisik bangsa ini akan terus mereka dapatkan di bangku sekolah ini hingga perguruan tinggi bahkan seterusnya di masyarakat luas. Namun hard competence tersebut tidak cukup untuk membawa bangsa ini mengejar ketertinggalannya, diperlukan pendidikan yang membangun karakter, pendidikan yang mampu mencetak pemenang “The Winner” bagi generasi mudanya. Kerja keras pasti, integritas jelas, punya visi dan misi yang besar sangat perlu, hormat kepada orang lain dan taat pada aturan baik formal maupun non formal penting, dan religius harus. Indonesia butuh orang-orang yang tidak hanya cerdas secara intelektualnya tapi juga cerdas emosionalnya dan spiritualnya. Saya pikir sudah saatnya orientasi pendidikan di Indonesia tidak bisa lagi mengasah otak kiri secara berlebihan tapi juga harus diimbangi dengan otak kanan yang terlatih pula sehingga generasi yang diciptakan selain cerdas juga santun dan religius.

Saya yakin bahwa prinsip itu bersifat universal, tidak berlaku untuk anak SMA saja tetapi juga applicable buat kita yang sudah bekerja, bahkan yang sudah senior sekalipun. Oleh karena itu saya berharap sharing saya ini ada manfaatnya untuk para pembaca secara luas.

14141860_10205471970559165_557379255826733475_n.jpg

Sebagai wujud commitment saya untuk membantu meningkatkan kemampuan para siswa ini terutama dalam sisi moral dan motivasi maka saya memberikan bantuan berupa buku-buku bacaan yang lebih banyak membangun karakter positip yang berisi ajaran tentang motivasi atau kisah sukses para tokoh-tokoh terkenal yang bisa menjadi teladan bagi semuanya. Di akhir sesi mengajar, saya juga sampaikan bahwa PT RNI menyediakan beasiswa untuk 25 orang siswa SMA Negeri I Cepu yang kriterianya akan ditentukan oleh sekolah.

Ujung-ujungnya kita harus berterimakasih kepada program BUMN Hadir Untuk Negeri dimana di dalamnya terdapat BUMN Mengajar disamping program-program bantuan lainnya. Program ini memberikan perhatian yang sangat besar kepada peningkatan SDM. Program SMN (Siswa Mengenal Nusantara) yang berupa pengiriman pelajar antar propinsi yang dibiayai oleh BUMN sangat besar manfaatnya bagi para siswa untuk mengenal tanah airnya, budayanya dan nilai-nilai kehidupan sosialnya.

Untuk itu pula, saya berkomitmen untuk memberikan prioritas kepada program pengembangan SDM di lingkungan RNI Group, seperti halnya BMDP Angkatan XXX di LPP Yogyakarta. Disana berkumpul peserta dari bermacam-macam daerah, anak perusahaan dan latar belakang bisnis yang berbeda. Ada yang dari Holding, Nusindo, Phapros dan juga Tanjungsari. Dari segi usia dan masa kerja juga sangat beragam. Ada yang masih Staf junior, ada yang sudah menjabat Kepala Cabang berkali-kali. Maklum saja karena program BMDP ini pernah terhenti selama 3 tahun sehingga ada beberapa Staf walaupun jabatannya terus melaju tetapi tertinggal dalam pelatihan jabatan.

14089229_10210486636061734_1958550054826252361_n.jpg

Khusus untuk Saudara Jimmy Faoziduhu Zega Kepala Cabang Rajawali Nusindo Jayapura, bolehlah ini menjadi BMDP Plus bagi dia, yaitu BMDP plus berwisata. Kapan lagi bisa ke Jawa kalau tidak karena pendidikan. Masa mau up country sampai ke Yogyakarta ? Untuk kali ini, asal tidak berpengaruh terhadap pencapaian omset, bolehlah diatur bagi peserta luar pulau berwisata ke Borobudur di sela-sela liburan BMDP.  Sebagaimana staf dari Jawa juga selalu “memanfaatkan” situasi untuk berwisata menengok obyek-obyek daerah yang menarik. Dengan syarat, tidak mengganggu pekerjaan !

Demikianlah, jika semua kegiatan kita diawali dengan niat yang baik dengan hati yang gembira, saya yakin hasilnya akan positif bagi semuanya.

Semoga Allah SWT selalu membimbing kita semuanya. Amiin.

Wassalamualaikum wr.wb.

Jakarta,   5 September 2016.

 

Didik Prasetyo